20 Langkah Salah Mendidik Anak (Bag.2)

20 Langkah Salah Mendidik Anak (Bag.2)

Setelah sekian purnama, baru kesampaian menuliskan lanjutan review buku 20 Langkah Salah Mendidik Anak. Gimana, sih? Ke mana aja? Nggak ke mana-mana, cuma di rumah. Ternyata di rumah itu lebih sibuk daripada sewaktu ngantor, sodara-sodara. Lho, kok malah curcol. Yeaap, dulu saat masih ngantor tuh masih sempat ketawa-ketiwi sama temen kantor, masih sempet leyeh-leyeh sendiri. Kalau di rumah, rasanya pekerjaan nggak ada habisnya. Baru buka laptop langsung diserbu anak-anak. Baru pegang hape langsung direbut. Jadi, maafkan yah kalau sekarang kembang kempis gini ngeblognya.

Baca Juga: 20 Langkah Salah Mendidik Anak (Bag. satu)

Yo wess, balik lagi ke judul di atas. Jadi ceritanya, serasa punya hutang karena belum selesaikan bagian duanya.  Di postingan pertama baru 10 langkah salah, dan berhubung ada perasaan nanggung gitu, dilanjut sajalah bagian duanya.

Sepuluh: Memberikan Isyarat Negatif

Jika kita mengatakan kepada anak, “Kamu anak yang jelek,” atau “Kamu anak yang nakal,” atau juga “Kamu anak tidak patuh,” si anak akan menganggap ungkapan itu sebagai gambaran sebenarnya tentang dirinya. Kemudian, ia akan merasa benar jika ia melakukan sesuatu yang sesuai dengan julukan yang disandangkan kepadanya dirinya. Oleh karenanya, sebaiknya kita selalu menggunakan isyarat-isyarat positif terhadap anak. Membicarakan kekurangan si anak pada orang lain dan si anak mendengar juga merupakan cara yang kurang tepat.

Sebelas: Membandingkan Seorang Anak dengan Anak Lainnya Secara Tidak Adil

Membandingkan anak dengan cara yang tidak adil ternyata dapat menghancurkan konsep diri si anak dan menangkap segala perbandingan itu secara negative. Perbandingan seperti itu akan menyakiti perasaan anak karena tidak dapat melakukan apa yang dapat dilakukan anak lain. Cara itu juga akan membuat anak patah semangat dan mungkin merasa terkucil.

Dua Belas: Memberlakukan Standar Ganda

Saat terjun ke dalam kehidupan, kondisi anak-anak dalam keadaan tidak tahu apa pun. Tugas pertama orang tua adalah mengajari mereka perilaku yang baik dan nilai-nilai dasar akhlak. Para orangtua perlu memperhatikan bahwa larangan atau perintah tidak berubah dengan berubahnya situasi. Nilai-nilai pendidikan harus baku dan tidak berubah-ubah.

Tiga Belas: Tidak Memenuhi Kebutuhan Kasih Sayang dan Cinta Anak

Di antara kesalahan yang biasa terjadi pada orangtua adalah anggapan bahwa rasa cinta identik dengan memenuhi kebutuhan fisik berupa pakaian, makanan, dan lain-lain. Padahal cinta hakiki yang tidak disadari kebanyakan orangtua adalah emosi dan pemahaman. Rasa cinta kepada anak akan membuatnya merasa aman dan tentram, membuatnya tumbuh secara alami dari seg psikologis, emosi dan bahkan intelektualitasnya, menjaganya dari kegoncangan jiwa, frustasi, dan rendah diri. Anak yang mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang lebih cenderung kepada patuh, kerja sama, dan disiplin.

Empat Belas: Tidak Memerhatikan Patokan-Patokan dalam Memberikan Sanksi Fisik

Agar hukuman bernilai adil, perlu dihindari hal-hal berikut:

  1. Memberikan hukuman kepada seorang anak sembari membiarkan anak-anak lain yang juga melakukan kesalahan yang sama.
  2. Menimpakan hukuman kepada anak yang tidak bersalah.
  3. Menghukum anak atas perilakunya yang keliru, lupa, atau terpaksa.
  4. Menghukum anak atas kesalahan yang menyebabkan ia merasakan sakit.
  5. Menghukum anak karena menghadapi masalah yang di luar kemampuannya.
  6. Tetap menghukum atau tidak meringankan hukuman anak sekalipun ia mengakui kesalahannya yang kecil.

Lima Belas: Tidak Memerhatikan Perbedaan Individual dalam Mendidik Anak

Setiap manusia memiliki perbedaan dalam segala sesuatu. Tidak ada dua orang yang dalam segala sesuatunya sama persis, sekalipun pada dua orang yang kembar. Oleh karenanya, cara mendidik setiap anak pun berbeda. Cara yang cocok untuk memperlakukan seorang anak belum tentu cocok untuk anak lainnya, terutama dalam urusan imbalan dan hukuman.Ada anak yang cukup dengan sorot mata tajam untuk menghentikan perbatan salahnya. NAmun ada juga yang tidak berhenti kecuali dengan hukuman yang keras. Ada yang harus dipuji dengan kata-kata lembut dan penuh kasih, ada juga yang ama sekalitidak bergeming walaupun sudah diiming-imingi penghargaan.

Enam Belas: Tidak Bertahap dalam Berinteraksi dengan Anak-Anak

Saat berinteraksi dengan anak-anak lakukan dengan bertahap karena memang pemahaman seorang itu tidak bisa sekaligus. Pada masa kanak-kanak lebh cocok untuk mendapat pujian dan sanjungan terhadap perilaku baiknya.

Tujuh Belas: Menghina, Melecehkan, dan Diskriminatif dalam Memperlakukan Anak

Ketika anak melakukan kesalahan, seringkali si anak mendapat julukan yang buruk sehingga sulit dilupakan oleh anak di kemudian hari. Julukan buruk itu bagaikan panah beracun yang menyebabkan labil dan lemahnya kepribadian anak.

Delapan Belas: Tidak Kompak dalam Cara Mendidik

Tidak adanya kekompakan antara kedua orang tuadalam melakukan strategi pendidikan akan membuat anak bingung dan mengalami guncangan dalam perilaku mereka. Oleh karena itu, jika orangtua  menginginkan anak-anaknya tumbuh secara baik dalam segi afeksi, hendaknya mengevaluasi sesuatu yang seharusnya dilakukan dalam merespon perilaku anak-anak. Orangtua harus meningkatkan kekompakan dan komunikasi satu sama lain, terutama dalam merespons perilaku sosial yang sensitive. Komunikasi antara orangtua dan anak dengan tujuan memperbaiki kesadarannya dan memperluas wawasannya tentang perilaku merupakan hal yang sangat penting. Seorang anak membutuhkan adanya komunikasi yangjelas dari ibu atau bapaknya.

Sembilan Belas: Tidak Melibatkan Anak dalam Membuat Aturan

Tidak melakukan komunikasi yang jelas dengan anak-anak merupakan kesalahan. Selama bisa, sebaiknya si anak mendapatkan motivasi untuk terlibat dalam membuat aturan tentang perilakunya atau aturan untuk meluruskan perilakunya. Jika terlibat dalam pembuatan aturan main, pada umumnya si anak akan berusaha untuk menghormati dan mematuhi aturan tersebut.

Dua Puluh: Bersikap Negatif dan Salah Terhadap Anak

Beberapa sikap negative dan salah yang sering dilakukan orangtua di antaranya;

  1. Sikap Otoriter

Sikap otoriter adalah sikap selalu menolak keinginan-keinginan anak dan menghalanginya dari melakukan perbuatan tertentu atau dari mewujudkan hasrat tertentu. Sikap otoriter juga berarti bersikap keras dalam memperlakukan anak dan membebani mereka dengan tugas-tugas yang berada di luar kemampuannya. Hal itu biasanya dilakukan dengan cara memerintah, melarang, tidak percaya, mencerca, dan menghukum.

  1. Perlindungan Berlebihan (Over Proteksi)

Yang termasuk pelindungan berlebihan adalah memanjakan, memenuhi segala sesuatu yang diinginkan anak, dan mencampuri segala kewajiban dan tanggung jawab si anak. Anak yang mendapat perlakukan seperti itu akan mengalami kesulitan pada masa mendatang.

  1. Mengabaikan dan Tidak Peduli

Ada sikap orangtua yang termasuk mengabaikan anak yaitu tidak mengarahkan anak, tidak membimbing anak, tidak memberikan motivasu, dan tidak memberikan imbalan atas perbuatan baik, dan tanpa hukuman atas perbuatan buruk.

  1. Memanjakan

Orangtua selalu mengikuti segala sesuatu yang diminta anak. Jika ada pemintaan atau keinginan yang tidak dapat dibenarkan makan selalu diganti dengan sesuatu yang lain. Semua orang selalu mematuhi kemauannya. Dengan kondisi seperi ini, anak menjadi terbiasa menerima tanpa pernah memberi, memerintah dan melarang tanpa tahu kewajiban dan tanggung jawab dirinya.

 

Itulah bagian kedua dari 20 Langkah Salah Mendidik Anak. Membaca buku ini seperti menerima tamparan keras untuk saya yang banyak keliru dalam mendidik anak. Apalagi seringkali emosi dn kurang sabar saat menghadapi anak-anak. Oleh karenanya, bagi saya penting membaca buku ini sebagai salah satu referensi dalam mendidik anak, mengingatkan kembali jika saya melakukan kekeliruan sebagai orangtua.

 

Deskripsi Buku

Judul: 20 Langkah Salah Mendidik Anak

Edisi Arab:Siyasat Tarbawiyyah Khathiah

Penerbit: Dar Ibn Hazm Beirut, Libanon

Oleh Muhammad Rasyid Dimas

Penerjemah: tate qomaruddin, LC.

Penerbit PT Syaamil Cipta Media

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

24 Responses

  1. Hmmm, begitu baca, saya langsung ingat dengan fakta di lapangan, yapp memang masih banyak orang tua yang masih salah mendidik anak, ga jarang mereka udah tau itu salah, cuma “ya sudah, masa bodoh”. TFS mbak, semoga semakin banyak yang baca, semakin banyak pula yang sadar akan cara mendidik anak yang benar itu gimana.

  2. zefy says:

    banyak hal yang harus diperhatikan ternyata saat mendidik anak ya mbak, bacaan bagus untuk calon orang tua kayak aku

  3. Terkadang secara tidak sadar kesalahan-kesalahan tersebut dilakukan dan berdampak kurang baik kepada anak. Memang tanggung jawabnya besar saat memiliki anak untuk mendidik dan menghadapi perilaku anak dengan baik.

  4. Fania surya says:

    Buku ini cocok sekali buat pasangan muda ataupun yang mau menikah jika ingin.punya anak. Tulisannya menyadarkan aku bahwa mendidik anak itu gampang-gampang susah ya.

  5. Rindang says:

    Dua poin yang paling aku setujui dari kesalahan mendidik anak ini, yaitu tidak kompak antar pasangan dalam metode mendidik anak sehingga membuat anak bingung. Selain itu tidak terbiasa mengkomunikasikan aturan yang dibuat juga akan membuat anak merasa ‘dimarjinalkan’ karena ia merasa tidak dilibatkan, tetapi malah dituntut ikut mentaati peraturan yang dibuat.

  6. Belajar jadi orang tua itu memang harus terus menerus. Perlu banyak membaca, ikut seminar parenting atau sekedar berbagi pengalaman dengan teman-teman. Salah satunya dengan membaca buku ini. Orang tua jadi lebih mengerti, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari ketika mendidik anak, ya …

  7. Kalau anak yang sering ditakut takuti masuk kemana mbak? Sering banget anak anak dibilangin… jangan nakal ya, nanti ditangkep polisi… atau ayo makan, kalau ngga makan nanti disuntik dokter. Duh! Kesian anaknya, kesian profesinya juga

  8. Kebanyakan orang tua terlalu sibuk bekerja alhasil anaknya pun tidak diurusin jadi kasihan melihatnua tidak diarahin sesuai denhan umurnh

  9. Jiah says:

    Aku walo blm punya anak ya tetep blajar mendidik anak. Banyak salah? Iya, namanya msh belajar. Sebisa mungkin tetep buat anak nyaman sama kita, tidak menghina mereka di depan umum. Dan kompak dlm mendidik itu PR banget

  10. Membaca fakta ini secara garis besar dan terus terang, sepertinya aku juga salah didik nih. Panjang deh ceritanya, entar jika perlu aku bukukan juga gapapa ini mah. Intinya, semoga kelak pas sudah punya anak, ga kayak gini aku didiknya. Amin!
    #INERSIA2020

  11. Ajen says:

    Aku suka deh bacaa seri ini..
    Bikin banyak belajar terutama untuk mebesarkan anakk
    Makasih Teh Ranii

  12. ruziana says:

    Tidak kompak dlm mendidik anak merupakan masalah sy nih.
    Kami beda banget pola asuhnya
    Saya meski “memanjakan” tp tegas.
    Ada aturan yg ttp hrs dipatuhi
    Klu suami longgar banget pd anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *