20 Langkah Salah Mendidik Anak (Bagian Satu)

20 Langkah Salah Mendidik Anak (Bagian Satu)

20 Langjah Salah Mendidik Anak. Sebenarnya saya sudah lama tidak membaca buku bertema parenting dengan alasan membaca buku dan kenyataan yang dialami sehari-hari itu jauh berbeda.  Bahkan, saya suka males ikutan seminar bertema parenting karena sering merasa ditaboki saat mendengar pembicara membeberkan permasalahan dalam mendidik anak. Ya, biasanya saat mengikuti seminar, saya akan langsung dihinggapi rasa bersalah karena memang memang melakukan banyak kesalahan dalam mendidik anak-anak.  Lalu membuat tekad untuk tidak mengulanginya lagi, tapi setelah sampai di rumah, entah kenapa lupa dengan semua materi yang didengar di acara seminar. Semua materi menguap begitu saja, saya pun kembali bertanduk saat merasa kesal dengan tingkah polah anak-anak, terutama si sulung.

Lalu, setelah saya resign dari kantor, saya punya banyak waktu unyel-unyelan dengan anak-anak. Sedikitnya saya jadi bisa memahami kenapa tingkah polah anak-anak sering menjengkelkan. Mereka memang sedang dalam tahap membutuhkan perhatian penuh. Sayangnya, saya sering tidak punya banyak waktu memberi perhatian. Saat pagi pasti sudah sibuk dengan persiapan berangkat ke kantor dan ke sekllah. Sore hari, saat badan sangat penat, sepulang dari kantor, inginnya istirahat. Kenyataanya, setiap pagi dan sore, anak-anak sering melakukan keributan, dan sayangnya saya tidak punya waktu, tenaga untuk memberi perhatian, sehingga yang muncul adalah emosi-emosi kejengkelan dan kemarahan. Setidaknya sekarang saya bisa memahami hal tersebut.

Di antara waktu leyeh-leyeh da unyel-unyelan bersama anak-anak itulah, saya melihat buku ini tergeletak begitu saja di rak. Buku karya Muhammad Rasyid Dimas dan diterjemahkan olehTate Qomarudin, Lc ini, sudah lama saya beli. Seingat saya membeli buku ini sebelum punya anak-anak. Buku terbitan tahun 2005 yang diterbitkan oleh penerbit Syaamil ini baru saya baca sebagian sekarang. Ternyata butuh 11 tahun buku ini menunggu dibuka dan dibaca sang pembeli. Ternyata,  isi buku ini masih relevan lho dibaca saat ini. Isinya banyak membuat saya berpikir tentang kesalaha-kesalahan yang sudah saya lakukan selama ini. Apa saja sih kesalahan yang biasa dilakukan orangtua saat mendidik anak?

  1. Memaksakan kewajiban tanpa memberi pemahaman

“Cepat pakai baju”

“Cepat makan”

“Duduk yang baik”

“Cepet mandi”

Saat masih bekerja, setiap pagi saya mengatakan hal tersebut kepada anak-anak. Kata-kata yang diucapkan dengan nada tinggi. Hal itu saya lakukan karena waktu yang mepet dan mesti cepat-cepat berangkat ke kantor. Apakah perintah-perintah itu langsung mendapat respon positif dari anak-anak. Tentu saja tidak. Yang ada, saya mesti ‘perang’ dulu agar mereka bisa nurut. Ah, ternyata cara seperti itu memang salah. Buktinya, sekarang kalau pagi saya nggak lagi menyuruh mereka mandi cepat, makan cepat, dan perintah-perintah seperti itu karena memang sekarang nggak harus uru-uru berangkat ke kantor. Hasilnya, mereka makan sendiri, mandi sendiri tanpa harus disuruh-suruh.

  1. Menyikapi perilaku anak hanya dengan satu pola

Satu pendidikan pola yang dimaksud adalah oragtua yang selalu melontarkan kata-kata keras padahal perilaku anak sudah berubah menjadi baik. Atau juga sebaliknya, selalu memuji dan menyanjung anak padahal anak sedangberbuat keburukan, misalnya mengganggu temannya. Jadi orangtua mesti proporsional saat mendidik anak, tidak melulu mengkritik dan tidak melulu menyanjung.

  1. Enggan menerapkan disiplin

Anak membutuhkan disiplin sebagaimana ia membutuhkan kasih sayang. Penerapan disiplin adalah mengajarkan anak agar mampu mengendalikan diri dan berperilaku baik. Anak membutuhkan keduanya. Jika mendapatkan disipln dan kasih sayang, anak belajarmenghormati diri sendiri dan sekaligus mengendalikannya.

Ada beberapa penyebab orangtua enggan menerapka disiplin pada anak, antara lain sebagai berikut:

  1. Orangtua berputus asa dan kehilangan harapan dalam mengubah perilaku anak.
  2. Orangtua tidak mampu menentang keburukan anak karena mereka takut kehilangan cinta. Ia takut mendengar kalimat-kalimat seperti, “Aku membencimu”, “Akum au punya ibu baru”, dan lain-lain
  3. Lemahnya tekad, vitalitas, dan kemampuan orang tua yang diakibatkan oleh suatu penyakit membuat penyakit membuat mereka jauh dari situasi dan khidupan anak-anak. Orangtua jugatidak kuasa menghalangi perbuatan sia-sia anak-anak.
  4. Orangtua menahan diri dari dari melakukan counter terhadap keburukan anak karena si anak suka marah dan bersifat reaktuf.
  5. Orangtua sibuk dengan masalah suami istri sehingga melupakan pengawasan perilaku anak.
  6. Tidak menggunakan siasat napas panjang saat menyikapi kesalahan anak

Kesalahan pada anak adalah hal yang lumrah. Tidak ada anak yang tidak melakukan kesalahan karena anak memang sedang melewati fase-fase perkembangan secara bertahap. Anak-anak melakukan eksplorasi terhadap alam, meniru dunia orang dewasa dengan segala kebaikan dan keburukan. Anak-anak selalu mencoba hal baru dan belum mampu memaham kebenaran dan nilai-nilai lainnya. Selayaknyalah orangtua tidak mudah terpancing emosi dan mampu menahan amarah sebelum melepaskan emosi marah pada anak-anak. Saya akui, dulu saya mudah sekali terpancing emosi, mungkin karena capek dan waktu yang mepet. Sekarang sudah lebih bisa memahami anak-anak dan tidak mudah terpancing emosi dengan perilaku mereka yang menjengkelkan.

  1. Tidak berupaya mengetahui motif anak berbuat salah

Ada beberapa motif dan alasan yang mendorong anak melakukan kesalahan. Hal itu karena orangtua tidak mengetahui dan tidak mampu memahaminya sehingga menyikapi kesalahan-kesalahan itu dengan cara yag tepat. Salah satu yang menjadi penyebab adalah ketidakmampuan orangtua menerima anak seutuhnya. Ketidakmamuan orangtua menerima segela kelebihan dan kekurangan anak akan menambah perilaku si anak semakin buruk. Orangtua sebaiknya menerika anaknya seperti apa adanya dan meperlakukan mereka sesuai dengan kemampuan mereka.

  1. Selalu menerima syarat yang diajukan oleh anak

Menerima syarat yang diajukan anak agar ia mendapat imbalan atas segala sesuatu yang memang harus dilakukannya atau ditinggalkannya merupakan cara yang kkeliru. Cara tersebut akan membuat anak tidak mau melakukan kewajiban dan meninggalkan hal-hal buruk kecuali jika mendapat imbalan. Yang penting adalah memisahkan secara tegas antara menunaikan suatu tugas dengan pemberlauan syarat.

  1. Berlebihan dalam berjanji kepada anak

Tidak boleh memberikan imbalan kepada anak-anak untuk perbuatan yang memang merupakan kewajibannya. Cara seperti itu akan membuatnya menjadi orang yang pragmatis dan materialistic. Ia tidak akan melaksanakan sesuatu kecuali jika ada imbalannya. Contoh, “Kalau kamu rajin sekolah akan mendapat hadiah smartphone terbaru,”.

  1. Menghukum anak atas perbuatan baiknya

Masih banyak orangtua pelit memberikan pujian kepada anaknya yang menampilkan perilakubaik. Salah satu dalihnya karena kesibukan bekerja sehari-hari sehingga tidak punya waktu memerhatikan perilaku anak-anaknya.

  1. Tidak menghukum perilaku buruk anak

Salah satu langkah salah dalam mendidik anak adalam membiarkan perilaku buruk anak dan tidak adanya upaya untuk menghentikannya. Sikap pantang memberikan hukuman, baik fisik maupun hukuman lainnya terhadap kesalahan yang dilakukan anak merupakan kesalahan besar.

  1. Memberikan isyarat negatif

Jika orangtua mengatakan, “Kamu anak jelek,”,”Kamu anak nakal,” si anak akan menganggap ungkapan itu sebagai gambaran sebenarnya tentang dirinya. Kemudian, anak akan merasa benar jika melakukan sesuatu yang sesuai dengan julukan yang disandangnya. Oleh karenanya sebaiknya orangtua selalu menggunakan isyarat positif terhadap anak. Sebaiknya juga tidak membicarakan hal-hal negatif anak kepada orang lain, karena si anak sesungguhnya mendengarkan percakapan orangtua mereka.

 

Baru 10 langkah saja saya sudah merasa melakukan semua kesalahan tersebut. Namun buku ini menggambarkan dengan jelas dan contoh-contohnya nyata. Saya pun selaku orangtua merasa masih punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Masih ada 10 langkah salah mendidik anak lainnya yang akan dibahas pada postingan berikutnya.

 

Keterangan buku:

20 Langkah Salah dalam Medidik Anak

Edisi Arab: Syiasat Tarbawiyyah Khathiah

Penerbit: Dar Ibn HAzm, Beirut Libanon

Oleh: Muhammada Rasyid Dimas

Penerjemah: Tate Qomarudin, Lc.

Penerbit PT Syaamil Cipta Media

Cetakan pertama 2005

Cetakan keempat 2007

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

56 Responses

  1. didik anak susah-susah gampang, tapi jangan sampai mengekang mereka untuk bekreasi.

  2. Mendidik anak buat saya sih bebas, ga terpaku sama buku atau apapun yang penting ibu dan anak bahagia, bebas dalam artian benar hehe

  3. Semoga suatu waktu nanti bisa jadi ibu dan orang tua yang baik dan mendidik serta bahagia

  4. Sebagai New Mom, tulisan ini sangat berguna Teh, makasih ya

  5. ruziana says:

    banyak banget ya yg harus diperbaiki sbg ortu
    saya juga..
    kadang sy merasa terlalu longgar dengan anak
    tp klu dikerasin dia lebih keras
    kadang capek sendiri..apalagi sbg ibu bekerja waktu sgt kurang untuk berdebat dgn anak

  6. Masirwin says:

    Wah ilmu baru buat bekal nanti ketika jadi orang tua

  7. Jadi orangtua tugas yang butuh banget kesabaran y mba, aku memang blm merasakan jadi orangtua, dan nanti saat jadi orangtua semoga aku bisa menyikapi anak2 dengan bijak.

  8. Tarry Kitty says:

    No 1 hampir setiap pagi saya lakukan sejak si adek lahir. Sebenarnya waktu sudah di perhitungkan tapi kadang si adek ga bisa diajak kompromi, jadinya kakak yang di cepet2in. 🙂

    No 2-10 pernah saya lakukan juga. Harus banyak2 belajar jadi orang tua yang baik ya mbak

  9. zefy says:

    tantangan jadi orang tua ya mbak, harus benar-benar memperhatikan dampak yang didapat dari tingkah laku kita. Semoga kita semua bisa jadi orang tua yang baik untuk anak-anak, aamiin.

  10. harus di catet ini mbak, biar jadi pedoman mendidik anak,, sekarang banyak orang tua saking sibuk nya, asal main kasih gadget, selesai, “asal dia diem ga rewel”.

  11. Ajen says:

    Wah, terima kasihh
    Ini menjadi pelajaran buat akuu nantinyaaa jika jadi orangtuaa

  12. Jiah says:

    Berlebihan janji, aku lagi ngurangi itu sama ponakanku. Aku sering diminta janji ini itu, pdhal yg diminta lumayan berat. Dikit2 kupahamkan dia agar berusaha dulu kalau mau apa2. Bukunya menarik nih Mbak

  13. Rindang says:

    Kalau baca dari cerita mbak Rani kelihatan ya kalau mental seorang ibu pekerja dan full time mom itu beda. Semoga kita bisa mempraktikkan pelajaran2 ini agar tak memberatkan anak dalam masa pendidikan.

  14. keseringan sih orang tua enggan marah atau kasihan kepada anak yang udah berbuat salah gitu sehingga sikap itu yang salah seharusnya klo anak salah ajarkan baik baik kenapa bisa salah hal yang ia lakukan. ajarkan selagi masih dini sang anak biar besarnya nanti ajaran kita kena kepada anak

  15. Aku bookmark ya, Teh.
    Biar bisa aku baca buat ngingetin diri

  16. Susindra says:

    Waah… Kebalikan dengan saya yang sedang giat membuat parenting class untuk para ibu.

    Semangat belajar kembali ya Mbak. Menurut saya, belajar parenting adalah investasi yang tak lekang oleh waktu. MasyaAllah

  17. Berhubung anak sudah sangat kritis zaman now jadi semua arahan, bimbingan dan nasehat harus dijelaskan why, do and dont kaya buzzer yang harus dapet briefing dulu sebelum melaksanakan tugas hehehe

  18. lendyagasshi says:

    Aahhaaa…iyaa teteh..

    Haturnuhun sudah diingatkan.

    Kadang menyessaaal sekali kalau habis marahin anak karena mereka bersalah (di mata orang dewasa).

    Padahal..
    Manusia mana yang ga pernah bersalah kan yaa, teh?

    Hikkkz~

  19. semangat teh untuk didik anak-anak, materinya bermanfaat banget buat aku juga nanti kalau jadi orang tua.. Amiin

  20. putu ayu says:

    aduuuh ini kok aku banyak salahnya yaa ehehhhe

  21. Rina Darma says:

    Aku masih kurang banget soal disiplin ini. Terlalu toleran tapi ga mau juga menyesal nanti tapi kalau anak nangis misal dibiasakan mandi pagi jd ga tega lagi… jd fleksibel bget akunya. .. jd ibu emg harus byk belajar spy terus diingatkan ya, teh

  22. bekel rara buat punya anak nanti dan buat sekarang ngurusin ponakan nih, makasih teteh sharingnya, ilmu baru buat rara 🙂

  23. Ida Tahmidah says:

    Bagaimana pun mengetahui teori itu penting, soal praktek dikembalikan kepada kenyamanan masiIng-masing ya teh 🙂

  24. Arni says:

    Waduh rasanya seperti ditampar bolak balik baca 10 perilaku salah ini
    Rasanya kok sebagian besar pernah saya lakukan huhuhu
    Makasi artikelnya mbak, saya banyak belajar

  25. Setuju. Sebagai orangtua harus tidak mengenal kata “menyerah” buat membentuk karakter anak menjadi lebih baik.

  26. April Hamsa says:

    Duh aku masih suka merintah2 anak kalau pas buru2. Kadang dah dijelasin tapi kyknya sabarku kyrang panjang.
    Jd penasaran bukunya, ntr gugling kali bisa beli onlen makasih 🙂

  27. Wah mesti diresapi nih kalau nanti punya anak

  28. Aku kerja di rumah tapi kadang masih teriak-teriak. Masih suka ngomong dengan nada tinggi. :((
    Duh sedih kalau ingat kejadian seperti “singa” ini
    Kudu lebih sabar dan telaten menghadapi anak-anak

  29. wahyu says:

    wah keren nih,,tips bermanfaat sekali kk

Leave a Reply to rani yulianty Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *