Ada Kisah dalam Antologi Puisi Lentera

Ada Kisah dalam Antologi Puisi Lentera

Ada Kisah dalam Antologi Puisi Lentera. Jujur, jika disodori sebuah puisi, saya langsung gagap. Walaupn dulu saya kuliah mengambil jurusan sastra, tapi saya tidak pernah melirik puisi untuk kajian yang saya lakukan. Saya lebih suka memilih karya sastra prosa seperti cerpen, novel, dan naskah drama. Entahlah, bagi saya sebuah puisi adalah sekumpulan kata yang membuat saya mengerutkan kening dengan sejuta interpretasi tanpa saya faham mana interpretasi yang tepat. Begitu pun dengan sejumlah teori pembedah puisi tidak pernah saya mampu memegangnya dengan benar.

Saya penyuka kisah, entah itu kisah dongeng, cerita rakyat, cerpen, bahkan sejarah. Bagi saya, kisah lebih memikat untuk saya jelajahi kedalamannya. Sehingga saya jarang sekali berinteraksi dengan puisi. Namun, anggapan saya tersebut luruh saat membuka halaman pertama Antologi Puisi karya Krismarliyanti. Mari simak puisi pertama di antologi puisi ini.

Namaku Kartinah

Namaku Kartinah, lahir di dusun kecil di pinggir pantai.

Nafasku deburan ombak dan angin laut. Aku selalu bermuka-muka dengan gelombang

Batinku karang langkahku laut pasang.

 

Tapi aku bukan serpihan buih yang membuncah dan sekali pandang hilang.

Aku pun bukan puting beliung mengoyak nyiur miring.

 

Aku Kartinah, lahir di dusun kecil di pinggir pantai.

Tangis riak ombak dan peluhku seasin air laut

 

Namaku Kartinah, perempuan dusun, hari-hariku bergelut melawan deras arus

Ayah menjadikanku seperti ikan yang selalu membawaku ke pangkalan

Menjadi rebutan pehaus fetus

 

Aku Karinah, riak ombak yang tak pernah kuasa saat tiba angin sakal

Memintal gelombang. Aku sampan oleng yang terhempas

Saat pelaut naik dan menjadikan tubuhku pemuas nafsu buas.

 

Namaku Kartinah yang tak pernah kuasa menolak kehendak palung naluriku.

 

Bait-bait puisi di atas mengisahkan tentang perempuan bernama Kartinah. Tanpa harus memboroskan kata dalam bentuk prosa, sebagai pembaca saya dapat membaca kisah Kartinah dengan gamblang. Interpretasi bisa beragam namun, kata –kata yang dijalin telah membuat pembaca mampu membahami kisah yang disajikan dalam puisi tersebut.

Penjelajahan saya tidak berhenti pada puisi pertama. Ternyata puisi-puisi berikutnya berupa renungan-renungan dari sang penyair yang memang menyajikan puisi dalam antologi Lentera ini sebagai renungan perjalanan hidup. Bagi penyair sendiri, Lentera merupakan bukti di mana manusia mencari dan bertarung untuk sebuah kenyamanan batin. Pergulatan ego dan norma yang kemudian membawanya pada pencerahan diri.

Di Ambang Gamang

Di pintu-Mu hidupku berdetak

Dengan hati gamang kutimang-timang bayang hitam batinku

Berbongkah-bongkah sudah terlempar keluh

Ke petang liang dosaku

 

Kucabik lembar nurani hingga hari berkenan

Terangi kelam jalan sesalku

Meski sesak berdesak di simpang tobat

Di ambang maut

 

Oh, kalbu yang piatu dihunjam taring kegamanganku tersendiri

Tak jua berlari, berlari hingga dosa-dusta ta teraba lagi

Kepada sunyi hati berbagi doa

Hidup abadi bermuka-muka penuh makna

 

Penyar tersendiri tidak hanya pandai merangkai kata dalam bentuk puisi namun juga pintar menjalin warna dalam sapuan kuas. Ya, Krismarliyanti, seorang penyair sekaligus pelukis sehingga dalam buku antalaogi Lentera ini pembaca juga bisa menikmati sapuan kuas hasil karya beliau. Antologi Lentera ini tidak sekadar dunia kata melainkan sebuah dunia kompleks berisi kata, warna, dan bentuk. Sehingga pembaca awam seperti saya bisa menemukan makna tersendiri dalam penjelajahan ini.

Mungkin bagi mahasiswa jurusan sastra dan atau penyuka sastra, atau sastrawan, nama Krismarliyanti berlum terlalu terdengar gaungnya. Namun, penyair sekaligus pelukis yang sudah menelurkan sebuah novel sejarah ini memiiliki potensi luar biasa untuk bisa menjadi bagian dunia sastra di Indonesia. Bagi saya sendiri, saya mampu menikmati jalinan kata yang terpadu indah dalam bait-bait puisi tersebut. Walaupun saya sendiri bukanlah seorang sastrawan dan bukan pula penikmati puisi. Saya hanya pembaca awam namun turut tenggelam dalam barisan kata yang membuat saya termenung sekaligus berpikir kembali tentang penjelajahan hidup ini.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

8 Responses

  1. Bagus puisinya. Saya juga mengartikannya berdasar interpretasi saya sendiri. Keren ya sekaligus pelukis

  2. Andi Nugraha says:

    Keren kalau kayak gini mah jadi pengen baca langsung bukunya..he

  3. Rindang says:

    Aku penikmat puisi. Membaca kedua puisi di atas rasanya dahagaku hilang, diksinya kaya maknanya dalam. Beruntung Mbak Rani bisa membaca keseluruhan isi bukunya.

  4. Dari semua karya fiksi, Blogger Eksis juga suka puisi. Dari kecil, aku suka menulis dan membacanya. Untuk kedua puisi di atas, aku suka yang berjudul “Diambang Gamang”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *