Agar Anak Berpikir Kritis

Agar Anak Berpikir Kritis

Agar Anak Berpikir Kritis apa yang mesti saya lakukan sebagai seorang ibu? Kenapa saya ingin anak-anak saya tumbuh menjadi anak yang memiliki pola pikir kritis? Sebenarnya, keinginan ini berawal dari diriku sendiri yang cenderung plegmatis dan sering ragu menyuarakan pendapatku.

Saya sadari, kekurangan saya itu hasil pola Pendidikan orangtua. Saya tidak ingin menyalahkan orangtua saya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa pola Pendidikan tertentu membentuk kepribadian seseorang juga. Saya ingin, anak-anak saya bisa mandiri dan berpikir kritis. Mampu melihat sebuah persoalan dengan sudut pandang yang logis dan kritis sehingga mampu melihat persoalan dan memiliki cara penyelesaian dari persoalan yang dikiritisi.

Berpikir kritis itu menurut saya bukan asal mengktirik sesuatu tapi melihat persoalan dengan sudut pandang yang tajam. Pastinya, setelah itu punya cara untuk menyelesaikannya. Jadi bukan asal omdo.

Anak-anak memang kritis. Mereka sering mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya sebagai orangtua. Kadang, pertanyaannya nyeleneh dan bikin pusing. Menurut artikel yang pernah saya baca, anak yang bertanya itu bagus. Namun, seringkali karena kekurangan saya sebagai orangtua membuat tanpa sadar saya sendiri yang menumbangkan benih-benih mereka untuk memiliki pola pikir kritis. Padahal, saya dulu pernah mengalami hal yang sama dan menjadikan saya pribadi yang kurang kritis jika melihat persoalan.

Oleh karenanya, agar anak berpikir kritis, saya memang mesti membenahi diri saya terlebih dahulu. Bukan tiba-tiba saya jadi orang yang bisa berpikir kritis. Tapi, saat ini usaha yang saya lakukan adalah menghapus sampah-sampah emosi negatif yang tanpa saya sadar selama ini terkungkung di bawah alam sadar saya. Apa hubungannya membuang sampah emosi dengan mengajarkan anak berpikir kritis.

Baca Juga: First LIne of Regenesis: Find Your True Colour

Baca Juga: Label Negatif

Di beberapa artikel yang saya baca, agar anak berpikir kritis kita sebagai orangtua memberi kesempatan kepada anak untuk bertanya. Sebenarnya tanpa diberi kesempatan pun, anak akan selalu bertanya. Bagi anak-anak, orangtua terutama ibu adalah sumber pengetahuan. Bagi mereka, ibu itu serbatahu. Hal-hal baru yang mereka temukan pasti akan mereka tanyakan pada ibu. Pertama kali melihat gajah, mereka pasti penasaran dengan kehidupan sang gajah, apa makanannya? Di mana tinggalnya?

Kadang-kadang pertanyaan-pertanyaan anak-anak terdengar sepele dan terdengar membosankan. Sehingga, tanpa sadar kita menciptakan judgement atau penghakiman. Kita melabeli anak kita cerewet sebagai pengalihan ketidakmampuan kita sebagai orangtua menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak. Alih-alih anak mampu berpikr kritis, yang terjadi anak malah malas bertanya karena sudah mendapatkan penghakiman. Tanpa kita sadar, penghakiman itu akan terkurung di dalam pikiran alam bawah sadar anak. Oleh karenanya, dalam proses agar anak berpikir kritis, saya pun melakukan pembersihan diri dari sampah-sampah emosi negatif.

Selama ini kita hidup dengan penghakiman. Tidak ada yang suka dengan penghakiman, namun kita hidup penghakiman. Penghakiman muncul dari orang terdekat kita, misalnya orangtua, kakak, adik, kakek, nenek, suami, istri, anak, dan orang-orang terdekat kita lainnya. Penghakiman bagaikan hubungan timbal balik, kita memberikan penghakiman pada pihak lain, kita juga dihakimi. Sehingga, siklusnya muter terus dalam kehidupan kita. Akan sangat merugikan diri kit ajika penghakiman dibiarkan terkunci dalam tubuh kita.

Bagaimana cara kita menghadapi penghakiman?

“Kamu nakal!” teriak seorang ibu pada anaknya. Sang anak yang sudah mendapatkan penghakiman sebagai anak nakal, seringkali di bawah alam sadarnya menerima penghakiman tersebut. “Iya, saya nakal, makanya saya mau acak-acak mainan ini,” Setelah besar, si anak sudah bisa menolak penghakiman. “Saya bukan anak nakal, saya akan buktikan bahwa saya bukan anak nakal.”

Apakah penghakiman itu diterima atau ditolak? Penghakiman jika diterima akan mengendap di bawah alam sadar kita. Penghakiman jika ditolak pun sebenarnya sebuah bukti bahwa kita membenarkan penghakiman tersebut. Lalu harus bagaimana? Sebaiknya kita memang belajar selalu sadar dan waspada terhadap segala bentuk penghakiman, baik itu dikemas secara halus maupun dalam bahasa yang kasar. Jika kita sadar dengan bentuk penghakiman, kita bisa meresponnya dengan bijaksana, tidak menerima atau menolak penghakiman.

Apakah berpikir kritis itu sama dengan penghakiman?

Tentu saja sangat jauh berbeda. Berpikir kritis itu mampu melihat persoalan yang seringkali tidak muncul di permukaan dengan cara yang logis. Dalam berpikir kritis pun biasanya tidak hanya mengkritisi tapi mampu memberikan solusi atas persoalan yang dikritisi. Berbeda dengan penghakiman yang seperti menjatuhkan palu hakim pada seseorang tanpa melihat persoalan secara kritis dan logis.

Saya pun baru sekarang melakukan penghapusan judgement dalam tubuh. Sering banyak lupa dan tidak sadarnya. Tapi ini proses yang saya lalui agar anak berpikir kritis. Setelah melakukan proses clearing, saya merasa lebih mawas diri sebelum memberikan komentar pada anak. Lebih sabra saat anak-anak mengajukan pertanyaan. Jikalau saya tidak mampu menjawabnya, saya akan jujur pada mereka bahwa saya belum tahu jawabannya. Nanti akan dicari dulu jawaban yang tepat. Bukan menunda memberi jawaban tapi memang melakukan pencarian terhadap jawaban yang tepat.

Setelah saya melakukan proses clearing, perlahan anak-anak pun berkurang rewelnya. Mereka pun lebih kompak satu sama lain. Saya pun bisa fokus pada hal-hal lain yang bisa saya lakukan. Proses yang saya lakukan tentunya masih panjang, dan belum tahu hasilnya akan bagaimana. Saya hanya bisa berusaha agar kehidupan saya dan anak-anak lebih baik lagi. Mereka tumbuh jadi anak-anak yang mampu berpikir kritis, tepat dalam melihat persoalan, dan tumbuh dengan baik.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

28 Responses

  1. justru dengan anak berpikir kritis, anak jadi lebih siap memecahkan masalah ya mbak 🙂 sulit loh mengaak anak berpikir kritis tuh

  2. nurulrahma says:

    Yap, penting bgt melatih dan mengkondisikan anak utk berpikir kritis.
    Bismillah, semoga ALLAH mudahkan perjalann kita sbg ortu ya

  3. ha iya teh, aku kurang sabar kalau jawab pertanyaan anak, kesannya pengen cepet aja gtu, padahal nnti jiwa kritisny bisa hilang ya

  4. Anak-anak, apalagi anak-anak sekarang ini banyak yang kritis loh berpikirnya. Kelihatan dari sedari kecil, banyak pertanyaan yang diajukan, pengin tahu ini itu, dan kadang bikin ortu bingung mau jawab bagaimana ya hahaha. Kalau ortu menyuruh anaknya diam, secara tidak langsung memang bisa membuat anak enggan untuk bertanya dan bisa ‘mematikan’ cara berpikir kritis mereka.

  5. Arda Sitepu says:

    Saya beberapa kali melakukan penghakiman secara tidak langsung pada anak mbak, kadang marah dan sebagainya. Dari sini saya juga belajar bagaimana seharusnya memperlakukan anak dengan baik dan bijak agar mereka tetap menghargai dirinya dan berpikir kritis serta positif.

  6. Anak saya dari kecil sampai sekarang sudah besar-besar, mereka itu rajin bertanya. Memang kadang menanyakan hal yang sepele, tapi tetap harus kita jawab ya …

  7. nchie hanie says:

    Hahhaa, pertanyaan anak2 tuh kadang out of the box, diluar nalar dan jawabnya bikin mati kutuu kita emaknyaa.

  8. Lily Kanaya says:

    Anak saya dirumah juga gitu mba, kadang2 googling dulu baru rangkai kalimat yang pas, yang bisa menjawab keingin tahuannya

  9. Masih harus banyak belajar nih untuk berpikir kritis dan juga menanamkan kebiasaan berpikir kritis sama anak2. Mencoba untuk nggak sembarangan melakukan penghakiman juga. Jujur nggak mudah buatku, tapi demi kebaikan anak2 di masa depan harus tetap berusaha.

  10. Ida Tahmidah says:

    Iya tentang berpikir kritis ini saya anyak melakukan kesalahan nih waktu mereka kecil2 jadinya aku juga nulis tentang ini biar tidak terulang pada para mahmud….

  11. maya rumi says:

    anak sering bertanya itu termasuk kritis yah mba, aq pun masih terus belajar untuk bisa menanggapi setiap pertanyaan anak yang ajaib banget kadang gak terpikir oleh kita sama sekali dia akan menanyakannya yah mba, semoga kita selalu diberi kesabaran untuk menanggapi ke kritisan anak kita yah mba

  12. Sekarang Memang mulai digalakkan target pembelajaran 4C mbak salah satunya critical thinking, sebagai tuntutan zaman.

    Anak anak sebagai generasi masa depan harus mrmiliki 4 Kemampuan itu agar bisa bertahan Dan berkompetisi di dunia modern

    • Oh ya jadi kepikiran juga, sebenernya pendampingan agar anak berpikir kritis juga perlu dilakukan secara intensif dari sejak usia dini. Karena tahapan belajar itu bukan dimulai pada usia 7 tahun, tapi justru harus dilakukan sejak anak usia dini.

  13. Mba Rani makasih banyak, aku belajar banyak padamu nih eheheh soalnya ilmu mendidik nanti kalau punya anak masih cetek. Dengan membaca langsung pengalamanmu jadi ada gambaran.

  14. Linimasaade says:

    Saat masih kecil pun harus di ajarkan berpikir kritis ya mbak agar kedepannya bisa mandiri dalam memecahkan masalah sendiri.

  15. Leyla Hana says:

    Memang pertanyaan anak-anak Itu sering susah dijawab yaa. Kalau susah, aku suruh tanya bapaknya aja hehe

  16. Lidya says:

    Anak memang selalu kritis gak habis-habisnya dengan pertanyaan ya. AKu sampai bilang kaya wartawan kalau tanay nyambung 😀

  17. Makasih sharingnya mbak. Saya harus belajar lagi nih, harus melakukan proses clearing. Supaya bisa menjadi orangtua yang mampu mengakomodir si anak yang berpikir kritis.

  18. Dewi Natalia says:

    thanks mba untuk sharingnya. Aku sbg guru perlu juga ilmu seperti ini supaya murid2ku bisa berpikir kritis.

  19. lendyagasshi says:

    Brpikir kritis ini memang gak bisa instan yaa, teh..
    Semua berproses dan semoga orangtua tidak salah saat memberi stimulasi. Agar anak benar bisa berpikir kritis, taktis dan solutif.

  20. cicifera says:

    ya Allah teh, kya diingetin aku tuh baca tulisan ini. aku masih menunda memberi jawaban kalo anak bertanya 🙁 dengan alasan pekerjaan domestik yang lagi tanggung diselesaikan, hiks. nuhun teh. eh btw apa kabar? huhu kangen! sehat selalu ya teh..

  21. Uniek Kaswarganti says:

    Anak-anak akan berkembang daya kritisinya jika kita tidak mematikan kesempatan mereka untuk mendapatkannya. Salah satu caranya ya tidak lelah untuk menjawab apa yang mereka ingin tahu.

  22. Siska Dwyta says:

    Tulisan ini mencerahkan sekali Mbak terutama buat orang tua seperti saya yang juga baru belajar untuk membantu anak berpikir kritis sejak dini

  23. gina says:

    susah-susah gampang emang mendidik anak, sbgai orang tua kudu sabar dan perbanyak pengetahuan. Jaga emosi klo anak byk nanya…kan anak blm tau apa-apa, basiclly

  24. Zia says:

    Makasih udah sharing ya teh Rany. Beneran ya mendidik anak ini bukan hal yang mudah tapi kita sebagai orang tua harus bisa belajar terus parenting secara langsung. Bentuk-bentuk kayak labelling atau judging ini juga beberapa orang ngga sadar udah melakukan itu ke anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *