Anak-Anak Era Digital

Jangankan gadget yang canggih, menonton televisi saja satu pekan sekali.

Itulah pengalaman masa kecil saya. Zaman saya kecil dulu, media hiburan sangat terbatas. Waktu itu yang ada hanya televisi dan radio. Kedua media itulah yang menjadi andalan hiburan bagi saya dan mungkin anak-anak lainnya. Bahkan, waktu itu televisi hanya menyiarkan satu stasiun televisi yaitu stasiun televisi milik pemerintah. Acar-acaranya pun sangat terbatas. Saya bisa menikmati acara televisi hanya pada akhir pekan. Akhir pekan, saya diperbolehkan menonton televisi sampai larut malam.

Selain televisi, saya juga sangat menyukai acara-acara radio. Acara favorit saya yaitu dongeng dan sandiwara radio. Rasanya, sangat seru sekali mendengarkan dongeng-dongeng yang seru. Game masih sangat terbatas dan harganya pun tidak terjangkau.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak di era digital ini? Wow, anak-anak sekarang dari lahir sudah dikelilingi gadget-gadget canggih sehingga mereka sudah fasih menggunakan teknologi. Jangan heran, jika melihat seorang anak usia balita udah jagoan pencet-pencet handphone bahkan main game di handphone. Jangan kaget juga, jika lihat anak kecil udah jago browsing bahkan download game di laptop atau komputer. Atau, jika lihat anak SD udah nenteng-nenteng tablet. Wow … luar biasa, bukan?

Ya, begitulah fenomena yang terjadi sekarang? Lalu, apa yang mesti dilakukan orang tua? Apakah harus merasa was-was dengan kondisi tersebut dan melarang anak-anaknya menggunakan teknologi? Rasanya hal itu bukanlah langkah yang terlalu tepat untuk dilakukan.

Menurut sebuah artikel di majalah keluarga, orang tua tidak bisa mencegah atau melarang anak-anaknya betgadget ria. Namun, orang tua harus mampu menyeimbangkan diri dengan perkembangan teknologi yang ada. Selain itu, teknologi juga memberi banyak nilai positif. Teknologi memiliki daya tarik untuk menstimulasi potensi anak dan membuat anak tetap sibuk dan aktif. Tetapi, teknologi juga bisa jadi bumerang bagi perkembangan anak, yaitu ketika teknologi memerangkap anak menjadi kecanduan, ketergantungan, terasing dari lingkungan dan memupuk perasaan depresi akibat teknologi.

Teknologi sama seperti pisau, jika tidak pandai menggunakannya akan berakibat fatal. Namun, jika sudah ahli maka akan banyak hal positif yang dihasilkan. Nah, sebagai orang tua mungkin sebaiknya menuntun anak-anak bagaimana menggunakan teknologi secara sehat.

sumber foto http://mymacaroni.wordpress.com

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

6 Responses

  1. Bukik says:

    hehehe bener banget
    Damai ketika 3,5 tahun yang ngajarin neneknya menggunakan hp, ngajarin mamanya menggunakan bb.
    Kita nonton film serial setiap seminggu sekali. Damai ketika 4,5 tahun langsung searching di youtube semua serial shaun the sheep. Gak pakai nunggu besok

  2. Betul sekali….coba deh peratiin anak-anak yang diajak nemenin ibunya ke mall….semuanya sibuk BBM -an..parahnya lagi ibunya pun sibuk BBM-an, lalu untuk apa kebersamaan…huaah….btw, nice posting and salam kenal:)

  3. dalam penggunaan teknologi oleh anak-anak, tetap harus ada pantauan dan bimbingan orang tua dan komunikasi dua arah adalah kuncinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *