Antara Bersyukur, Syukuran, Traktiran, dan Todongan

Acara makan-makan gratis selalu seru, apalagi kalau yang traktir ikhlas

Acara makan-makan gratis selalu seru, apalagi kalau yang traktir ikhlasmakan

Mau sedikit cerita tentang sesuatu yang pernah mengganjal di hati. Ceritanya edisi curcol di bulan Ramadhan, hahahaaa…
Suatu saat, saya menulis status di facebook tentang rasa syukur saya yang tidak terasa sudah 10 tahun pas bekerja di perusahaan tempat saya bekerja. Beberapa respon dari teman-teman kantor muncul. Rata-rata mengungkapkan rasa syukurnya juga, ada yang sebulan lagi 10 tahun, ada yang sudah 7 tahun, 6 tahun, 3 tahun, setahun, dll. Nah, tiba-tiba munul komen dari seorang ‘senior’ yang komentar ‘makan-makan,”. Langsung komentar tersebut memancing komentar-komentar serupa.

Awalnya sih saya abaikan sambil ngeles. Tapi lama-lama kesel juga, karena si ‘senior’ itu seakan-akan mendesak harus ada acara makan-makan. Lalu, saya balas kurang lebih begini,”Alhamdulillah setiap hari saya bersyukur, dan rasa syukur tidak harus identik dengan makan-makan, khan?” Eh, mendapat jawaban dari saya seperti itu, beliau tetap ngeyel. Sehingga memancing komentar lain yangmenyebutkan bahwa harusnya beliau yang ngajak makan-makan karena beliau lebih senior. Akhirnya, saya bilang begini,”Saya nggak pernah nulis status bahwa saya sedang syukuran, saya hanya sedang bersyukur? Kalau punya rezeki lebih insya Allah, jika ada yang ingin berbagi silakan,”. Dengan membalas komentar tersebut, saya anggap case closed. Saya abaikan juga komentar-komentar di bawahnya.
Pernah mengalami kejadian seperti itu? Merasa ditodong untuk mentraktir teman-teman padahal kondisi keuangan kita sedang kurang sehat? Yah, seringkali teman atau rekan menodong minta traktiran saat kita menuliskan status mengenai perayaan sesuatu. Padahal, kita hanya ingin mengungkapkan rasa syukur. Walaupun todongan tersebut disampaikan dengan nada bercanda namun tanpa disadari itu adalah beban bagi yang ditodong. Mungkin, duluuuuu sekali, saya pun suka iseng begitu. Namun, kemudian saya sadar bahwa hal tersebut bisa membebani orang yang diminta traktiran. Kejadian serupa sering menimpa teman yang mengungkapkan rasa syukurnya karena hari itu dia berulang tahun. Daan, tebak, akan selalu ada komentar minta traktiran, hehehe …
Saat seorang teman menulis status di media sosial mengenai rasa syukurnya terhadap sesuatu, baik ulang tahun, anniversary, dan lain-lain, saya selalu berusaha ikut mendoakan yang teman tersebut. Saya selalu menulis komentar ‘barakallah blabla…” dengan tujuan semoga Allah selalu memberi barokah kepadanya. Karena saya faham betul, seseorang menulis status di media sosial mengenai rasa syukurnya mungkin hanya ingin berbagi kebahagian bukan ingin mentraktir.
Kejadian serupa tapi taksama juga sering menimpa teman yang memposting hasil masakannya. Sering muncul komentar minta dikirim hasil kreasi masakannya walaupun dengan nada bercanda tapi rasanya mengganggu juga. Sampai suatu saat saya membaca status dari seorang teman yang menulis di media sosial media, “Maaf ya saya memasak untuk keluarga dan memposting kreasi masakan hanya untuk share, jika ada yang minta resepnya silakan, tapi saya tidak membagi-bagikan hasil masakan saya,”. Hehehe… kayaknya teman tersebut udah kesel karena sering ditodong untuk membagi hasil masakannya.
Ya, dalam kehidupan sehari-hari mentraktir adalah hal biasa. Sebagian orang ada yang suka mentraktir teman-teman satu sekolah, satu geng, satu kantor untuk mengungkapkan rasa senangnya karena mendapat rezeki. Namun, bukankah tidak setiap orang sedang dalam kondisi memiliki rezeki lebih. Saat seseorang berulang tahun, belum tentu dia sedang punya uang. Apalagi kalau hari lahirnya jatuh saat akhir bulan. Hikss..masa harus ngutang dulu biar bisa traktir orang-orang. Lagipula, mungkin walaupun punya rezeki lebih tapi dana tersebut sudah dialokasikan untuk kebutuhan lain, misalnya bayar cicilan, membeli kebutuhan yang penting, dll. Toh, saat dibalikkan ke si penodong untuk mentraktir, beliau pun ngeles kalau uangnya udah tersedot untuk cicilan rumah. Hehehe…sama-sama punya kebutuhan yang penting, khan.
So, saya sarankan, jika memang punya rezeki lebih dan ingin berbagi ya silakan. Tapi kita juga jangan menodong seseorang untuk minta traktiran makan-makan. Memang sih makan-makan gratis itu enak, tapi khan harus lihat-lihat situasi, jika orang yang ditodong keberatan janganlah tetap ngeyel. Hehehe… cuma mau nulis gitu aja, selamat ibadah puasa bagi yang sedang menjalankannya.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

15 Responses

  1. fandhy says:

    Haha kalo menurutku sih anggap saja traktiran sebagai ajangbentuk syukur atas karunia-NYA atau nggak kalo pun nggak rela, anggap aja sebagai ajang sedekah 😀

  2. Ihwan says:

    Itulah sebabnya kenapa tanggal lahir sengaja sya sembunyikan di FB sebab udah sering dapat todongan traktiran hi3
    Emang ada kok orang yang semangat banget nodong orang lain traktiran, eh pas giliran dia ultah sok diam or sok bego wekekeke.

  3. Nah lhoooo…
    Itu mah nodong nya meuni niat gitu yah Raaan…
    mana senior mu pulak hehehe…

    Iya siih..kadang kita suka risih kalo dapet komentar kayak gitu yaaah..
    Aku mah suka dibecandain aja siih 🙂

  4. ahmad says:

    saya tahu siapa si senior itu hehehe

  5. Ratusya says:

    Kadang nodong minta traktir ada yg menganggap sebagai basa basi doang.
    Aku pernah pun temen kerja yg seneng banget nodong traktiran kalo ada yg ultah, eh giliran dia ultah sama sekali ga mau ngeluruk apa2. Huahahaha

  6. Ratusya says:

    Ngeluarin apa2.
    Sorry typonya parah. Sering ganti sendiri 😐

  7. Ahhh… ini tulisan gue banget. Suka gimanaaaa.. gitu, kalau setiap terbit buku baru atau menang lomba blog ditodong traktiran. Mereka nggak tahu sih, effort yg udah dilakukan. Dan juga nggak tahu bahwa terkadang uang royalti atau hadiah yang nggak seberapa itu, terkadang benar-benar sangat berarti buat kita untuk hal yg jauh lebih penting.

  8. irma oktaviani says:

    banyak yg ngalamin hal yg saa ya ternyata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *