Bebaskan Kelompok Rentan dari Belitan Rokok

Bebaskan Kelompok Rentan dari Rokok

Bebaskan Kelompok Rentan dari Belitan Rokok. Tahun 1999, saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Bandung dan jalan-jalan ke salah satu mal yang saat itu paling ngehit di Bandung, saya dibuat terpukau dengan pemandangan seorang pelajar perempuan  memakai seragam putih biru sedang asyik mereka di area smoking di foodcourt. “Oh, mungkin di kota besar sudah biasa ya,  pelajar SMP jajan rokok,” pikir saya saat itu. Tahun terus berganti, pemandangan seperti itu seolah sudah biasa. Sekarang pelajar merokok tidak harus sembunyi-sembunyi tapi juga bisa asyik nongkrong di pinggir jalan tanpa takut ditegur orang dewasa. Lha mungkin orang dewasanya juga merokok, mungkin itu pikir mereka. Lagipula, membeli sebatang rokok itu sangat murah, sangat terjangkau oleh uang saku mereka.

Awalnya saya tidak mengkritik  orang dewasa yang merokok karena saya pikir orang dewasa sudah memiliki pertimbangan atas apa yang dilakukan. Orang dewasa pun sudah mampu membelanjakan uang rokok dari penghasilan mereka. Hingga kemudian, saya ingat keadian yang menimpa kakek saya. Beliau meninggal dalam kondisi paru-paru yang bolong-bolong. Penyebabnya tentu saja rokok.

Dulu saat masih kecil, saya suka risih jika berkunjung ke rumah kakek nenek dan mendapatkan asupan asap rokok. Untungnya keluarga inti saya yaitu Bapak dan Mamah tidak merokok, sehingga saya dan adik-adik saya sudah terbiasa dengan lingkungan keluarga yang bebas asap rokok. Saya pun ingin menduplikasi hal tersebut dan memiliki keluarga yang bebas asap rokok, alhamdulillah saya bertemu dengan suami yang tidak merokok.

Saya sering merasa miris jika mendapati seorang suami yang bebas mengepulkan asap rokoknya di rumah. Sementara istri dan anak-anaknya berada di sekitarnya dan menjadi perokok pasif. Seorang kepala keluarga yang merokok tentunya membahayakan keluarganya jika merokok di dalam rumah. Menjadi perokok pasif tuh efeknya sangat berbahaya bagi kesehatan. Kepala keluarga perokok aktif dan anak-anak perokok pasif merupakan bagian dari kelompok rentan. Kondisi tersebut  sepertinya biasa saja dan sering saya dapati di keluarga saya sendiri, misalnya keluarga  paman saya. Paman sebagai kepala keluarga selalu mendahulukan membeli rokok saat menerima gajian. Sebagai kakaknya, ibu saya sering mengingatkan kebiasaannya jika berkunjung ke rumanya. Namun, paman tidak pernah menggubrisnya. Padahal kondisi ekonominya sendiri tidak berkecukupan tapi beliau lebih mementingkan membelanjakan uangnya untuk rokok daripada hal lainnya. Ibu saya sering khawatir dengan kondisi anak-anak paman yang masih kecil dan terpapar asap rokok.

Pada acara Talkshow Ruang Publisk KBR Serial Rokok Harus Mahal  dengan tema “Jauhkan Kelompok Rentan dari Rokok” yang diadakan pada 14 Agustus 2018, saya pun mendapatkan wawasan lebih mendalam mengenai kondisi kekinian mengenai rokok. Narasumber acara bincang-bincang ini yaitu Dr. Abdillah Ahsan (Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI) dan Dr Arum Atmawikarta, MPH, (Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas).

Siapakah Kelompok Rentan Itu?

Kelompok rentan terbagi menjadi dua:

  1. Dari aspek kesehatan yaitu bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan yang menderita penyakit.
  2. Dari aspek lebih luas yaitu kelompok miskin, kelompok marjinal yang tinggal di daerah terpencil dan sulit.

Kelompok Rentan dan Rokok

Kelompok miskin yang menjadi bagian dari kelompok rentan ternyata memiliki membelanjakan sebagian besar penghasilannya untuk rokok. Bahkan pembelanjaan rokok urutannya kedua setelah beras. Berarti rokok sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kelompok rentan tersebut. Biaya pengeluaran untuk rokok mengalahkan biaya untuk pendidikan dan kesehatan. Sungguh kondisi yang memprihatinkan, bukan? Di sisi lain, kelompok rentan sangat membutuhkan biaya pendidikan dan kesehatan, bahkan pemerintah sampai turun tangan untuk mengatasinya. Namun, di sisi lain, mereka membuang-buang uang untuk membelanjakan rokok yang notabene bisa merusak kesehatan keluarga.

Menurut data dari Susenas, pengeluaran kelompok rentan untuk beras 22%, dan pengeluaran untuk rokok 12-17%, setelah itu pengeluaran pendidikan 3%, dan kesehtan 3%. Jaraknya jomplang sekali khan antara pengeluaran rokok dan pengeluaran biaya pendidikan dan kesehatan.  Kondisinya ini memperlihatkan betapa uang yang dibelanjakan untuk rokok telah memangkas jatah anak –anak untuk mendapatkan makanan yang menyehatkan dan memangkas jatah pendidikan yang layak. Bahkan kebiasaan mengonsumsi rokok sudah turun kepada anak-anak.

Menurut survei BPS, kategori anak yang termasuk kelompok rentan itu di bawah 15 tahun dan di atas 18 tahun. Menurut data survei BPS dengan indikator SDG’s atau Suistainable Development Goals, angka perokok akatif usia anak-anak di bawah 15 tahun terus meningkat setiap tahunnya. Itu menggambarkan betapa rokok mudah diperoleh anak-anak, sama mudahnya dengan membeli jajajan karena rokok dijual ketengan di warung dengan harga murah.

Menurut Pak Arum, kebiasaan merokok itu harus dicegah sejak anak-anak, dan dimulai dari keluarga. Kebiasaan anak-anak terpapar asap rokok dan melihat orangtuanya merokok tentunya membuat mereka meniru dan melakukannya. Bahkan, sejak mereka mengenal uang, mereka sudah terbiasa membelanjakan rokok. Bisa diawali dengan disuruh orangtuanya membeli rokok, lalu lama-lama membeli sendiri dan mencobanya sendiri. Sehingga sejak kecil sudah terbiasa dengan kebiasaan merokok dalam keluarga dan menduplikasinya. Kebiasaan merokok dalam keluarga akan terbawa terus hingga dewasa. Sehingga walaupun sudah mengetahui bahaya rokok dan melihat sendiri akibat rokok bagi kesehatan namun rokok tetap saja dikonsumsi karena sudah kecanduan.

Selain kebiasaan dalam keluarga, iklan rokok juga berkontribusi pada awarness rokok di benak masyarakat. Iklan rokok sering mencitrakan seseorang yang sukses, kuat, dan mampu mengalahkan tantangan dengan rokok. Hal tersebut tertanam kuat dalam benak masyarakat terutama remaja yang sedang dalam tahap pencarian jati diri. Iklan-iklan rokok sering mencitrakan seakan-akan dengan rokok, hidup seseorang akan berhasil dan sukses.

Pak Arum kembali berpendapat bahwa salah satu penyebab infiltrasi rokok terhadap kaum muda (baca: anak-anak di bawah umur) karena harga rokok yang sangat murah sekali. Menurut beliau, jika ingin menurunkan jumlah perokok bisa dengan cara menaikkan harga rokok 10%. Hal tersebut sudah dilakukan oleh negara-negara lain dan cukup berhasil. Peraturan yang ketat terhadap peredaran rokok pun bisa menurunkan jumlah rokok di pasaran secara signifikan. Berbeda sekali dengan kondisi saat ini, di mana rokok bisa ditemukan di warung mana saja dan dijual ketengan. Bahkan dijual di warung-warung dekat area sekolah dengan harga Rp 600-1000  . Tentu saja bisa dibeli dengan uang saku anak SD yang rata-rata Rp. 10.000

Mekanisme pengendalian harga rokok sudah terbukti di negara lain berhasil menurunkan rokok. Terutama di kelompok rentan, para peokok turun jumlahnya sekitar 16% dan pada kelompok kaya 7%. Hal tersebut membuktikan bahwa dengan menaikkan harga rokok berhasil mengurangi jumlah perokok.

Pak Abdillah berpendapat bahwa akses penjualan rokok seharusnya tidak sebebas sekarang. Bahkan harus melalui regulasi yang ketat seperti halnya alkohol karena rokokmengandung zat adiktif  yang bisa menyebabkan kecanduan. Sehingga pemerintah harus bisa tegas dalam hal pertumbuhan ekonomi yang dilandasi pada masyarakat yang sehat dan berkualitas. Pekerja yang perokok tentunya produktivitasnya lebih rendah darpada pekerja yang tidak merokok. Kemudian risiko penyakit yang dimiliki oleh perokok aktif tentunya lebih berat daripada bukan perokok.

Salah satu tantangan berat untuk membebaskan kelompk rentan dari belitan rokok tentunya adalah kebiasaan merokok yang sudah dicontohkan oleh para orangtua. Kadang orang yang muda faham akan bahaya rokok namun segan saat akan menegur para orangtua yang merokok

Menurut Pak Arum, untuk bisa mengendalikan rokok harus ada 3 kebijakan yang dilaksanakan di lapangan yaitu:

  1. Mencegah kondumsi rokok bagi yang belum merokok. Dalam kondisi ini tentunya anak-anak yang belum terpapar rokok.
  2. Memperkecil akses atau tempat-tempat di mana rokok bisa dibeli dengan mudah. Seperti di negara maju, rokok tidak dijual bebas melainkan di simpan di boks khusus dan ada keterangan hanya untuk usia 21 tahun. Jika ada pembeli, mesti ditanya dulu usianya.
  3. Membantu orang yang sudah kecanduan rokok. Tentu saja ini merupakan kerja berat karena akan sulit menghentikan kebiasaan merokok pada orang yang sudah kecanduan rokok. Namun ini harus selalu diupayakan agar penurunan jumlah rokok semakin signifikan dan tidak terus berkembang.

Menurut data survei, ternyata pengeluaran biaya untuk rokok setiiap bulannya bisa mencapai Rp 300.000 –Rp 450.000. Suatu jumlah yang lumayan khan jika dibelanjakan untuk kebutuhan lain, misalnya kebutuhan nutrisi untuk keluarga.

Talkshow ini juga menyoroti kebiasaan merokok pada kepala keluarga yang merugikan dirinya dan keluarganya. Kepala keluarga dalam kelompok miskin biasanya merokok di dalam rumah, padahal kebiasaan tersebut tentunya berdampak kurang baik bagi keluarganya. Bahkan tingkat kematian bayi pada keluarga yang kepala keluargaya merokok jauh lebih tinggi daripada pada keluarga  yang kepala keluarganya tidak merokok. Ada dua hal yang bisa dilakukan terkait hal ini yaitu menaikkan harga rokok dan terus gencar mengkampanyekan bahaya rokok bagi kesehatan keluarga. Bahkan menurut Pak Arum, kalau bisa, kelompok rentan yang mendapatkan bantuan pemerintah diharuskan berhenti merokok jika ingin mendapatkan bantuan.

Saya sendiri sebagai seorang ibu tentunya miris dengan kondisi ini. Walaupun keluarga kami tidak terpapar asap rokok secara langsung, namun tetap saja harga rokok yang murah dan mudah didapatkan di mana saja meresahkan saya. Pengaruh pergaulan di masa depan tidak bisa saya prediksi. Seketat apa pun peraturan dalam keluarga, pemgaruh dai luar bisa berpengaruh juga pada jiwa dan akal anak. Oleh karenanya saya mendukung kampanye rokok harus mahal dengan menyerukan

#Rokokharusmahal

#Rokok70ribu

#Rokokmemiskinkan

Agar kita semua bisa membantu keluarga miskin dan anak-anak berhenti membeli rokok. Saya dan teman-teman semua bisa menandatangi petisi #rokokharusmahal di Change.org. Itu merupakan salah satu tindakan nyata yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan masa depan anak-anak kita dari rokok.

 

 

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

54 Responses

  1. Rokok Harus Mahal!
    Saya setuju banget. Kakek saya dulu juga perokok yang kuat, masa tuanya sakit-sakitan dan yang kena paru-parunya. Pakdhe saya, Sepupu saya juga perokok. Sedih banget lihatnya.. Apalagi kalau mereka merokok dekat anak kecil… duh duh… ditegur enggak ngagas, dinasehatin hla saya ini anak kecil, mana mau dengar…

  2. Ety Abdoel says:

    Prihatin banget kalau pengeluaran rumahtangga sebagian malah terbuang percuma untuk rokok. Bahkan memberi resiko gamgguan kesehatan

  3. Elly Nurul says:

    Kenapa ya masih banyak orang yang suka merokok, padahal ngga ada manfaatnya dengan merokok bahkan sebaliknya.. boleh dibilang orang perokok itu golongan yang tidak bersyukur ya Mba.. diberikan tubuh yang bagus malah merusaknya dengan rokok huhu sebel.. semoga dengan rokok mahal jadi jera itu para perokok

  4. Ida Tahmidah says:

    Kalau sdh adict susah menghentikannya ya,, padahal sudah ada fatwa haram dari MUI, jadinya memang kudu mahal aar mereka para perokok paling tidak bisa mengurangi merokok 🙂

  5. SAya dukung banget nih kalau rokok harus mahal, jadi ga banyak orang beli

  6. Awan says:

    Setuju bangat saya jika rokok itu harus dimahalkan supaya orang-orang jadi mikir kalo mau membeli rokok. Dan memang sulit sih jika ingin membrantas rokok pada anak jika orangtuanya saja masih merokok.

  7. Dukung dong kalau rokok mahal, biar kapok tuh yang pada ngerokok.
    Akan mikir panjang kalau mau beli rokok

  8. iya sih… kesian juga perokok pasif dan orang orang yang terdampak langsung. Apalagi anak anak yang terpapar rokok dari orang tuanya setiap hari. duh! gimana masa depan mereka

  9. Utie adnu says:

    Setuju bngt rokok hrs mahal krn gk ada gunanya selain mnimbulkn bagi yg mnghisap dn org d sekitarny

  10. Okti Li says:

    Sedihnya di kampung saya para pecandu rokok justru kaum rentan kedua Teh. Mereka keluarga di bawah kemiskinan tapi sama rokok jago2. Tidak peduli anak kecil mereka dalam rumah yang sumpek ikut tercekoki nikotin yang mereka semburkan sendiri.

    Ya, rokok harus mahal…

  11. Elva Susanti says:

    Saya dukung jika rokok harus mahal, bila perlu harganya sampai 200 ribu. Kl kisaran 100 ribu ke bawah masih bisa dibeli merek si perokok aktif

  12. Resi says:

    Harus ada UU yg keras tegas melarang rokok ya

  13. lendyagasshi says:

    Seremnya…
    Paru bolong-bolong.

    Ya Allah…

    #RokokHarusMahal

  14. Aih. Ayahku perokok mbak. Padahal beliau guru biologi dan pernah jadi pembina UKS. Kurang paham apa coba soal rokok?

    Ya saya dan Ibu gak bisa berbuat apa2. Karena beliau kepala rumah tangga. Susah ditegur

    Jadinya kami cuma bisa pasrah. Hanya Allah yang bisa negur

  15. Ruli retno says:

    Aku setuju banget kalo rokok harus mahal. Aku adalah salah satu korban rokok,aku jadi perokok pasif sejak kecil karena di lingkunganku banyak perokok

  16. Sedih banget ya kadang, apalagi kalo ngeliat keluarga yang masih kekurangan untuk pangan tapi salah satu keluarga merokok. Buat aku pribadi, merokok itu sama kayak bakar uang.

    Bahkan edukasi ttg bahaya rokok uda sering digaungkan, bahkan perokokpun tau bahaya apa yang mengintainya, tapi kenapa masih ngrokok…

    Bingung aku tuuuh…

  17. Mar Diah says:

    saya mendukung banget rokok mahal. terlebih buat putung rokok sembarangan, liat kasus gili lawa tambah kesel lagi. parah! trus juga asapnya sangat menganggu. huft banget

  18. Semoga saja pemerintah mendengar jeritan ini ya… jadinya para perokok berkurang drastis deh kalau mahal hehe…

  19. Rokok memang harus mahal supaya yang merokok jera dgn harganya yg mahal mba dan juga seharusnya ngerokok itu ada tempatnya sih yy bener

  20. Rokok memang salah satu musuh untuk kesehatan, yapp saya paling setuju kalau mahalin aja harga rokok hahaha

  21. Kalau ada petisi, aku mau dong kasih dukungan. Selain dibuat mahal, gencarkan sosialisasi dilarang merokok di tempat/fasilitas umum. Kalau perlu ada satpol pp. Denda & tangkep yang masih langgar.

  22. tomi says:

    mana mba link petisinya, biar saya ikut tanda tangan.. di kampung juga ada gerakan bebas asap rokok nih..
    Bener nih harga rokok harus mahal biar yang ngerokok juga mikir²..

  23. April Hamsa says:

    Paling sedih kalau anak kurang nutrisis krn bapaknya lbh milih buat beli rokok ketimbang makanan bergizi buat anak. Jg sayang kalau ada anak sakit atau gk sekolah krn bapak/ ibunya lbh suka rokok 🙁
    Moga2 gak sekadar wacana ya harga rokok naik.

  24. Saya juga setuju dengan gerakan #RokokHarusMahal. Apalagi harga rokok yang murah itu membelit kelompok rentan sehingga mereka memang harus terbebaskan. Mari, kita selamatkan generasi bangsa agar mereka lebih MERDEKA!

  25. Rokok 100ribu sisan. Tapi kalau belinya dibagi-bagi batangan jadi murah lagi dong:(. Kalau cukai dinaikkan menurut Mbak gimana?

  26. Saya juga beci sama asap rokok. Apalagi kalau lagi diangkot dan tiba-tiba ada yang merokok, hadeuh.. Masih mau dimatikan kalau yang merokok anak muda atau udia 30an, nah yang kadang nggak taubdiri itu bapak-bapak yang udah tua. Kita pun negurnya takut nggak sopan.
    Aku tahunya yang merokok itu laki-laki, karena perempuan itu jarang banget, apalagi di kota kecil seperti Cianjur, pada waktu itu. Eh, kaget banget tiba-tiba seorang wanita masih muda dan cantik masuk smoking area, kemudian merokok nersama teman-temannya. Zaman emang udah berubah yah.. Tapi, kalau sekarang udah mulai terbiasa, bahkan kadang suka lihat mbak-mbak berjilbab merokok di rumah makan, padahal masih-masih muda gitu.

  27. Oky Maulana says:

    Pro kontra banget sih kalo udah urusan ini, mau gimanapun agak susah dilarang huhu akutu kesal!

  28. 300.000-450.000 bener banget tuh untuk belanja sayur sebulan… hemm.. emang ngerokok itu pemborosan juga sih. Tapi kalau udah ngerokok susah berhenti. huhuhu.. ih kesel2 gimana gitu kalau bahas urusan rokok 🙁 meski suamiku alhamdulillah enggak ngerokok sih..

  29. Swmoga bapak bapak bisa sadar ya Moms, apalagi kalau dirumah ada bayi dan anak anak. Kesian kalau terpapar setiap hari. bagusnya uangnya ditabung terus dibelanjain apa gitu. Lagpula nanti anaknya bisa nyontoh kebiasaan buruk bapaknya

  30. aku juga kalo udah ketemu sama yang lagi ngeroko di tempat umum suka kesel sendiri, bener banget rokok harus mahal nih

  31. Mildaini says:

    aku kuatir juga yang namanya perokok pasif , itu bikin terkena penyakit padahal kita ga merokok, ini benaran musibah yang ga terduga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *