Berkebun, Salah Satu Cara Mendekatkan Diri dengan Alam

Berkebun, Salah Satu Cara Mendekatkan Diri dengan Alam

Berkebun, Salah Satu Cara Mendekatkan Diri dengan Alam. Tinggal di salah satu daerah terpadat di Kota Bandung, membuat saya dan anak-anak hampir jarang menjumpai tanaman dan tanah. Depan rumah sudah ditembok, begitu pun dengan jalanan gang. Keluar dari gang sudah terhampar jalanan beraspal. Tinggal di kota juga membuat saya jarang berolahraga, sekadar berjalan kaki pun agak jauh pun jarang. Bepergian pasti menggunakan kendaraan motor. Ke mana-mana selalu menggunakan alas kaki. Sehingga hampir tidak pernah menginjak tanah secara langsung.

Setelah tinggal di Sukabumi, saya menjumpai banyak tanah lapang dan kebun. Apakah saya langsung bisa berinteraksi dengan alam? Jawabannya tentu saja tidak. Hampir 5 bulan tinggal di sini, saya masih melakukan kebiasaan lama. Tanah kosong milik kami pun terbengkalai. Rumput-rumput menjulang tinggi. Rasanya malas mendekatinya. Padahal dulu alm. Bapak rajin membersihkan sebdang tanah milik saya tersebut. Ternyata sepeninggal Bapak, saya malas merawatnya bahkan menanaminya.

pohon jambu

pohon jambu

Suami berinisiatif membeli beberapa pohon untuk ditanam. Namun karena kesibukannya bekerja, tanaman tersebut pun tidak semua ditanam. Tanah kosong itu pun masih terbengkalai. Baru dua bulan terakhir ini, saya dengan suami berinisiatif untuk mulai merawat tanah tersebut dan menanaminya dengan beragam pohon buah-buahan dan tanaman palawija.

Memang diperlukan kerja otot untuk melakukannya. Kami yang tidak biasa melakukannya pun gagap ketika harus mencangkul tanah dan membersihkan rerumputan. Namun, akhirnya kami berhasil membersihkan tanah tersebut dan menjadikannya kebun yang layak untuk dinikmati pemandangannya. Sekarang kami memang baru menanamnya, pohon-pohon pun masih kecil. Tanaman palawija seperti singkong masih berupa tongkat yang ditancapkan, pohon bayam masih setinggi kepalan tangan, namun kami yakin nanti akan memetik hasilnya.

kebun kecil kami

kebun kecil kami

Sekarang tugas saya untuk merawat semua tanaman tersebut, menyiramnya setiap hari dan memberinya pupuk. Kegiatan tersebut ternyata saya sukai bahkan anak-anak selalu turut serta turun ke kebun, tanpa saya rencanakan ternyata anak-anak pun menyukai kegiatan berkebun dan lebih dekat dengan alam.

Teknik Grounding atau Earthing

Saat tinggal di Bandung, saya sering mengalami sulit tidur. Saya pun pernah mengalami stres karena beragam persoalan yang dihadapi. Beberapa cara pernah saya lakukan untuk mengatasinya. Alhamdulillah bisa teratasi, namun ternyata masih belum cukup. Rasa gelisah masih menghinggapi perasaan dan mengganggu aktivitas.

Baca Juga: HAppines Managemen Satu Langkah Menciptakan Kebahagiaan

Lalu, saya mendengar tentang teknik grounding yaitu salah satu teknik menyerap energi  di bumi dengan cara kontak langsung dengan bumi, misalnya saja dengan berjalan tanpa alas kaki. Tujuannya untuk menyerap energi yang dihasilkan bumi dalam bentuk elektron negatif. Elektron bebas menjadi antioksidan alami yang dapat menetrasilir radikal bebas di dalam tubuh manusia. Radikal bebas didapatkan dari aktivitas kita dengan alat-alat elekrtonik seperti gawai (ponsel pintar, komputer jinjing, saklar listrik, televisi, dll). Radikal bebas tersebut bisa mengakibatkan peradangan di tubuh dan gangguan kesehatan. Salah satunya penyakit sulit tidur, gangguan fungsi ginjal, kanker, jantung, dll. Saat kita bersentuhan langsung dengan tanah, tubuh kita yang bersifat sebagai penghantar listrik akan menyerap elektron bebas yang dihasilkan bumi.

Baca Juga: Stres? Ikut Program Regenis, Yuk!

berkebun 1

Setelah mendengar tekning earthing tersebut, saya tertarik untuk melakukannya. Namun, saya masih merasa aneh dan kurang percaya diri jika harus jalan-jalan ke sana ke mari tanpa alas kaki. Lalu, setelah saya rajin melakukan aktivitas di kebun seperti menyiram tanaman, membersihkan rumput, dan memberi pupuk, tanpa sadar saya selalu kontak langsung dengan tanah. Bahkan, sesekali saya pun melepaskan alas kaki. Saya pun mendapatkan hasil positif dari kegiatan tersebut, rasanya saya merasa lebih bahagia, tidur pun lebih nyenyak, dan rasanya lebih segar bisa melihat pemandangan hijau setiap hari.

Manfaat Berkebun Pada Anak

berkebun 2

Jika dulu saya dan anak-anak hanya melihat tembok dan aspal, bermain pun di ruang tertutup, kini anak-anak bisa berinteraksi dengan alam dan bermain di ruang terbuka. Saya pun merasakan manfaat berkebun bagi anak-anak. Mereka tampak lebih senang bisa berinteraksi dengan tanaman. Tanpa segan mereka bermain dengan tanah dan tanaman. Da beberapa manfaat yang saya rasakan saat melakukan aktivitas berkebun bersama anak-anak.

Baca Juga: Pesona Pantai Pelabuhan Ratu

  1. Anak-anak menjadi tahu beberapa jenis pohon dan tanaman. Mereka jadi tahu bagaimana bentuk pohon durian kesukaan mereka.
  2. Menumbuhkan sikap sabar karena mereka jadi tahu untuk mendapatkan buah mangga, buah durian, atau buah jambu, mereka harus menanam dan merawat pohon tersebut dengan baik.
  3. Menumbuhkan sikap mencintai alam. Sekarang anak-anak tahu betapa pentingnya air bagi tanaman dan alam. Mereka pun tahu bahwa membuang sampah sembarangan bisa membuat tanah menjadi sakit dan pohon-pohon pun tidak mau tumbuh dengan baik.
  4. Aktivitas fisik mereka meningkat saat membantu saya di kebun. Mereka suka ikut menyiram tanaman dan membantu membuang rumput di sekitar tanaman.
  5. Bermain di ruang terbuka. Alangkah bahagianya anak-anak saat bebas bermain di ruang terbuka, menikmati cahaya matahari pagi yang menyegarkan badan dan udara segar yang menyehatkan. Anak-anak pun tampaknya lebih sehat dan nafsu makannya bertambah.
  6. Menyerap Vitamin D secara langsung dan menguatkan tulang mereka pada masa pertumbuhannya, walaupun kulit mereka menjadi lebih legam karena sering terpapar sinar matahari langsung.

Untuk saat ini saya dan anak-anak sedang menikmati aktivitas berkebun. Kami masih dalam tahap merawat tanaman hingga semua pohon itu bisa tumbuh besar dan berbuah lebat. Memang masih membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk bisa menikmati hasilnya, namun saya sekarang senang karena anak-anak bisa mengetahui suatu proses dan usaha untuk mendapatkan hasil yang baik. Kami bisa menikmati hasil dari berkebun dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Yang pasti kami menikmati prosesnya. Saya pun senang karena berkebun menjadi salah satu cara mendekatkan diri dengan alam.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

58 Responses

  1. susie ncuss says:

    kalau aku sendiri, 2 telapak kaki harus banget bersentuhan dengan tanah minimal seminggu sekali.
    maklum kalau di luar rumah pasti pakai kaos kaki, jadi jarang banget kaki ini nempel tanah.
    Aku gak percaya sih sama energi yin dan yang, tapi aku merasa kalau lagi nyeker itu stress di kepala terasa hilang begitu aja. PIkiran terasa segarrrr.. hehehe

  2. Setuju, gardening is awesome, apa yang kita tanam itulah yang kita tuai, asik.

  3. Aku mah udah 2 tahun belakangan berkebun, alhamdulilah udah sering panen pisang, pepaya, rambutan dan jeruk. Berkebun sama io juga jadi aktivitas yang menyenangkan

  4. April Hamsa says:

    Wuah senengnya punya kebun. Jd inget masa kecilku, ortu jg punya kebun, sebelum akhirnya pas aku kelas 5 SD kebunku jd bangunan haha. Pdhl dulu suka jg ikutan ibu nanem2 apa gtu, trus kemping2an di kebun. Moga2 jg punya rmh yg ada kebunnya kelak, spy anak2 tau berkebun, klo skrng minimal siram2 tanaman di taman aja deh haha

  5. bahagia banget liat teteh makin produktif banget

  6. zefy says:

    senangnya ya lihat anak-anak menanam sambil belajar dan bermain seperti itu, kalau aku kan cucu petani jadi waktu di tempat kakek sering sekali tanam-menanam seperti ini, aku suka banget

  7. ulya says:

    Seru ya kalo main di tanah dan kebun kaya gitu. Tapi aku suka sedih kalo ada tanah masuk ke kuku. Susah ngilanginnya

  8. Adi Pradana says:

    Saya juga sedang menanamkan cinta alam pada anak dengan berkebun. Dan anak lanang paling suka nyiram2 tanaman….

  9. Okti Li says:

    Yee Fathan rajin ya… Kalau Fahmi sejak bisa jalan emang sudah hidup di kampung. Mau bisa jalan saja dia mah tiap pagi diibunkeun di galengan. Hahaha…

    Alhamdulillah beruntung kami teh atuh ya, bisa injak tanah kapan saja secara di rumah masih ada yang blm diplester. Sisi rumah tanah sawah. Kebun teh di pinggir kamar. Jadi kalau buka jendela bukan bunga2 yg harum kaya orang orang kaya, tapi pepelakan cabe, tomat sama sosin yang ada.

    Haha… Ayo gabung sama Indonesia Berkebun Teh, share di sana pengalamannya

    Jadi sekarang mah jadi urang Sukabumi gitu?

  10. Elva Susanti says:

    Berkebun menjadi hal yang menyenangkan kl saya mbak, soalnya benar2 ada proses di dalamnya yang jika saatnya nnti hati gembira karena bisa menikmati hasilnya

  11. lendyagasshi says:

    Senangnya berkebuun..
    Aku pun jadi teringat Babe rahimahullah yang kalau di rumah, gak bisa diam. Selalu mencari aktivitas agar bergerak. Meskipun rumah sudah di tutup semen semua, tapi Babe dan Ibu selalu punya stok karungan tanah, pupuk dan pot.

    Dan sejak Babe meninggal, yang mengurus taman hanya Ibu.
    Ibu pun tidak terlalu kuat berlama-lama di luar rumah.

    Seddih…

  12. Ruli retno says:

    Teknik grounding ini semacam back to nature gitu ya mba. Dan melepas semua kepenatan di dunia digital. Teknik yg tidak sulit di terapkan dan bagus jg buat anak ya

  13. Saya pernah ikut kelas berkebun, memang earthing dijelaskan memberikan efek baik bagi kita, ada perasaan yang berbeda saat kaki menyentuh tanah.

    Kegiatan berkebun memang kegiatan yang menyenangkan dan melatih diri juga untuk sabar dan mencintai alam.

  14. Uwien Budi says:

    Dulu waktu tinggal di rumah kayu yang tanahnya luas, aku suka banget berkebun. Sekarang, rumah gak ada halamannya jadi enggak berkebun sama sekali.
    Bener banget, teh. Berkebun tuh bikin sehat dan bahagia.

  15. Waah teh ngerasain banget yang teteh alami. Tapi saya belum coba teknik grounding dan earthing itu, jadi ilmu baru. Makasih ya, Teh. InsyaAllah dicoba iya rasanya berkebun itu jadi punya ‘teman’ ya, Teh.. dan seneng liat perkembangannya dari hari ke hari. Love tulisannya teteh❤️

  16. Rindang says:

    Pasti banyak perbedaan yg mbak Rani temukan setelah pindah dr kota ke desa. Bgmna pun khidupan di pinggir kota selalu lebih nyaman drpd di pusat kota. Lahan2 luas yg ditanami tumbuhan itu adlh anugerah yg tak terbilang bg penatnya mental kita setelah melakukan rutinitas harian.

  17. Jiah says:

    Aku juga dikit2 ngajarin berkebun sama ponakan. Cuma akhir2 ini blm ada niat lagi untuk nanam. Padahal beberapa biji sudah siap

  18. Dengan berkebun biasanya kita akan hobi merawat dan biasanya akan terus menambah koleksi tanaman.

  19. Dian Safitri says:

    Senang sekali bisa berkebun. Dulu waktu mamaku masih punya rumah di Sukabumi aku pun suka banget main-main di kebun. Terus abis itu metik sayuran sendiri deh

  20. Ya Allah, surga banget itu Mbak punya pekarangan nganggur gitu. Itu kalau bapak saya yang punya, langsung deh ditanami macem-macem. Hihihi.
    Selamat menikmati rutinitas berkebun yang menyenangkan, Mbak 🙂

  21. Marfa says:

    Kangen berkebun atau ngalam gitu, hihi kalau aktifitas di luar kayagitu 3 jam aja rasanya lamaaaa banget sedangkan kalo main gadgetbmaaah nggak kerasa

  22. Seruu, asik punya kebun ya. Jadi bisa berkebun bersama anak

  23. retno says:

    wah baru tahu manfaat tidak memakai alas kaki. Dulu pernah baca, melepas alas kaki bermanfaat untuk kesehatan jantung aja sih. Anak-anakku masih sering bermain tanpa alas kaki, jadi sekarang gak usah dilarang-larang lagi kalau begitu…

  24. Oky Maulana says:

    impian banget punya tempat tinggal yg ada kebunnya, tapi gituuuu sik, rasanya agak gimana gitu harga tanah di jakarta yg agak luas hahaha

  25. Susierna says:

    Aku juga suka banget berkebun, Mbak. Bikin hati ayem dan tak mudah meledak. makin kalem dan makin sehat. Alhamdulillah.

    Senang si kecil rajin membantu. Dia jadi belajar secara langsung dari alam dan ibu yangsangat dicintainya

  26. Gita sarrah says:

    Ho teh rani skrg udh pndah ke sukabumi ya..aku baru tau ish….stlh tau manfaatnya aku jd trtarik pgn nyobain teknik grounding/earthing. Cobain bsk ah..tfs

  27. Energi yin dan yang,teori keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos. Nice info,teh 🙂

  28. Aku juga lagi belajar berkebun, Teh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *