Buku Lagi … Buku Lagi …

Buku Lagi … Buku Lagi … Itu ucapan mama pada saya kalau saya habis membeli buku. Tapi itu dulu saat saya masih single dan belum punya duo F yang menggemaskan.

 

Sejak kapan suka membaca?

Saya punya kisah unik dengan kebiasaan membaca. Dimulai dari saat saya sama sekali belum bisa membaca dan tidak ada yang mengajarinya. Saya bisa membaca karena sering mendengar bibi saya membaca nyaring majalah. Tiba-tiba saja saya mampu memahami huruf-huruf yang berendengan. Voilaaa… sejak itu saya suka membaca. Tapi pada saat saya masih kecil, saya kekurangan bahan bacaan. Jadi, buku yang saya baca paling buku pelajaran dan buku-buku di perpustakaan sekolah.

Saat SMP, saya sering menyisihkan uang jajan untuk membeli majalah dan komik. Saya pun jadi anggota tempat peminjaman buku dan komik.

 

Saya sempat mengalami masa malas membaca saat SMU. Rasanya minat baca saya berkurang. Lalu saat kuliah saya memaksakan diri untuk membaca buku. Alhamdulillah rasa suka saya terhadap buku kembali hadir. Hingga akhirnya saya bekerja di sebuah penerbitan dan mampu belanja buku.

 

Ya …. saya sering menghabiskan uang gaji saya untuk membeli buku. Jika ada pameran buku yang menawarkan diskon, saya pasti akan memborong. Impian saya punya perpustakaan sendiri. Saya menyimpan buku-buku kesayangan di rak buku. Sengaja membeli rak buku yang besar untuk menyimpan koleksi saya.

 

Buku, dulu, dan kini

Dulu, buku menjadi teman saya saat sedih, saat senang. Saya lebih senang menghabiskan waktu membaca buku daripada kumpul bersama teman-teman. Rasanya buku menjadi teman setia. Buku pun memenuhi rasa ingin tahu saya. Namun, ternyata saya mendapat jodoh seseorang yang kurang suka dengan buku. Seseorang yang memiliki kepribadian yang berkebalikan dengan saya. Jika saya seorang introvert maka dia adalah seorang ekstrovert sejati yang suka berada di keramaian.

 

Lambat laun, saya pun mulai mengurangi intensitas pertemuan dengan buku. Lalu, setelah menikah, kami pun sempat ber[indah-pindah kontrakan, dari kontrakan yang sedang hingga kecil. Setiap pindah kontrakan, agak repot juga membereskannya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menitipkan koleksi buku saya di rumah orangtua. Sedih juga sih harus berpisah dengan buku. Berkardus-kardus buku dititipkan di rumah orangtua.

 

Selama di Bandung, saya masih membeli dan menimbun buku. Walaupun tidak sebanyak dulu. Hingga akhirnya, sekarang saya pindah ke rumah orangtua di Sukabumi. Saya pun berniat membereskan koleksi buku saya yang disimpan di gudang. Alangkah sedihnya hati saya saat ternyata sebagian besar buku-buku saya rusak. Kebanyakan karena dimakan tikus, ada juga yang rusak karena kena bocor. Hiks… sedih banget.

 

Walaupun saya sempat menyelamatkan sebagian kecil koleksi saya. Alhamdulillah buku bacaan anak-anak masih sebagian masih sempat diselamatkan. Dulu memang rajin mengoleksi buku bacaan anak-anak dengan tujuan sebagai bekal kalau saya punya anak. Walaupun ternyata sebagian besar tidak bisa saya berikan kepada anak-anak karena kondisinya yang rusak.

 

Sekarang saya belum punya rak khusus untuk menyimpan koleksi buku saya. Tapi saya bercita-cita akan kembali menghidupkan impian saya punya perpustakaan sendiri untuk menyimpan koleksi buku saya.

 

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *