Datuk Maringgih: Penjahat atau Pahlawan?

Dalam salah satu sesi perkuliahan, saya bersama teman-teman ditugaskan untuk membahas karya sastra zaman Balai Pustaka. Salah satu karya sastra yang lahir pada zaman itu dan sampai saat ini masih jadi pembahasan adalah novel Siti Nurbaya. Pastinya sudah pada tahu, khan dengan kisah novel ini. Sehingga saking terkenalnya, novel karya Marah Rusli ini dianggap kisah nyata dan konon kabarnya ada kuburan Siti Nurbaya yang sering didatangi para peziarah.

Oke, kita lanjut diskusi saya bersama teman-teman di kelas Sastra. Kisah Siti Nurbaya memang sangat terkenal sehingga muncul istilah Zaman Siti Nurbaya. Bahkan, novel ini pun sukses saat diangkat ke layar kaca. Masyarakat mengenal novel Siti Nurbaya ini sebagai novel percintaan anak muda zaman dahulu yang dihalangi oleh perjodohan Siti Nurbaya dengan Datuk Maringgih, seorang saudagar kaya. Masyarakat simpati dengan kisah kasih taksampainya Siti Nurbaya dan kekasihnya Samsul Bachrie. Siti Nurbaya dan Samsul Bachrie muncul sebagai tokoh protagonist dan Datuk Maringgih muncul sebagai tokoh antagonis yang dibenci oleh masyarakat. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, ada banyak hal menarik mengenai ketiga sosok sentral dalam novel tersebut.

Di bagian awal novel, digambarkan karakteristik Siti Nurbaya sebagai gadis yang cantik. Kulitnya putih, hidung mancung, dan rambut hitam yang tebal. Lalu, digambarkan juga Samsulbahri dilihat, orang menyangka Samsulbahri merupakan anak Belanda. Tampak sekali bahwa secara fisik Samsulbahri digambarkan sebagai anak tampan yang mirip dengan anak orang Belanda, dan cara berpakaian yang mirip dengan Belanda. Di pihak lain, Datuk Maringgih digambarkan sebagai laki-laki tua yang sudah beristri banyak. Dia berpakaian ala saudagar pribumi lainnya.

Plot cerita seakan-akan berpihak kepada tokoh protagonis. Plot cerita berhasil menarik simpati pembaca kepada dua tokoh saling mencinta yang terpisahkan karena ketamakan Datuk Maringgih. Alur cerita menggambarkan Siti Nurbaya terpaksa menikah dengan Datuk Maringgih karena ayahnya berhutang kepada Datuk Maringgih. Samsulbahri pun patah hati karena kematian Siti Nurbaya. Sehingga dia mengubur cita-citanya menjadi dokter dan beralih menjadi tentara Belanda. Kemdudian, dia ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk menumpas pemberontakan di Kota Padang. Pemberontakan itu dipimpin oleh Datuk Maringgih yang menentang penarikan pajak besar oleh pemerintah Belanda kepada para saudagar di Padang. Samsulbahri berhasil menembak mati Datuk Maringgih. Di lain pihak, sebelum mati, Datuk Maringgih berhasil membacok kepala Samsulbahri. Dia pun meninggal di rumah sakit.

Novel ini terbit pertama kali tahun 1922, yaitu masa penjajahan Belanda. Sehingga setiap novel yang terbit harus melalui sensor dari pihak Belanda dan baru bisa diterbitkan melalui penerbitan milik pemerintah Belanda, yaitu Balai Pustaka. Tentu saja, isi dari novel-novel yang terbit di Balai Pustaka harus sesuai dengan persyaratan dari pihak Belanda, yaitu temanya tentu saja tidak boleh membangkitkan semangat perjuangan.

Jika ditelaah lebih dalam, sesungguhnya novel ini menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia. Namun, novel ini dibungkus oleh kisah percintaan yang kuat antara Siti Nurbaya dan Samsulbahri. Pembaca sejak awal diajak untuk mengidentifikasi Datuk Maringgih sebagai tokoh antagonis yang memisahkan Samsulbahri dan Siti Nurbaya tidak berpihak kepada Datuk Maringgih tapi malah berpihak kepada Samsulbahri yang nyata-nyata digambarkan sangat kebelanda-belandaan. Sehingga pembaca lebih mengenal kisah kasih taksampai antara keduanya.

Pengarang menyisipkan unsur perjuangan lewat tokoh Datuk Maringgih yang memimpin pemberontakan terhadap Belanda. Ada pesan terselubung dari novel ini yang tidak banyak disebutkan oleh pembaca yaitu pesan perjuangan rakyat. Kepiawaian pengaranglah yang membuat pesan tersebut samar dan tidak terbaca oleh pemerintah Belanda dan pembaca umumnya. Lalu, siapakah sesungguhnya yang pahlawan?

*Tulisan ini berdasarkan hasil diskusi kelas di jurusan Sastra Kontemporer

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. riski says:

    wah mantap.kisak siti nurbaya dan datuk maringgih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *