Gadget di Tangan 3 Generasi, Inilah Yang Terjadi!

Gadget di Tangan 3 Generasi, Inilah Yang Terjadi!

Gadget di Tangan 3 Generasi, Inilah Yang Terjadi! Ini menjadi judul artikel kali ini karena saya ingin menceritakan bagaimana perkembangan gadget di keluarga dan lingkungan saya.

Bapak dan Gadget

Almarhum bapak seorang bendahara di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri  di Sukabumi. Sebagai seorang PNS, hari-hari bapak ditemani oleh mesin tik di kantornya sebagai alat untuk menuliskan beragam laporan. Bapak pun memiliki mesin tik di rumah yang digunakan untuk membuat diktat. Saya pun memulai hobi menulis dari mesin tik kepunyaan Bapak.

Percayalah, saya pernahmenggunakan mesin tik seperti ini (sumber foto: pixabay)

Percayalah, saya pernahmenggunakan
mesin tik seperti ini (sumber foto: pixabay)

Saat saya menginjak SMP, komputer dengan sistem DOS sudah mulai dikenal. Lalu, saat SMU, perkembangan teknologi kmputer semakin berkembang. Komputer pun sudah mulai masuk ke kantor-kantor dan sekolah-sekolah untuk menjadi alat yang membantu menyelesaikan pekerjan secara lebih efektif dan efisien.

Zaman SMP, bawa-bawa disket seperti ini untuk praktek komputer (sumber foto: pixabay)

Zaman SMP, bawa-bawa disket seperti ini untuk praktek komputer (sumber foto: pixabay)

Pada saat itu, bapak menolak dengan alasan tidak bisa dan tidak biasa membuat laporan di komputer. Namun, ternyata pendirian itu tidak bisa dipegang terus karena dorongan penggunaan komputer semakin massif, bapak pun belajar menggunakan komputer. Bapak pun mulai lihai mengoperasikan sistem windows dan sederet fitur-fiturnya yang memudahkan Bapak dalam membuat laporan pekerjaannya. Bahkan, Bapak pun membeli laptop yang bisa dibawa ke mana pun pergi.

Salut sama alm. Bapak yang mau pindah ke laptop (sumber: pixabay)

Salut sama alm. Bapak yang mau pindah ke laptop (sumber: pixabay)

Saat handphone mulai dikenal, bapak berprinsip gunakan saja telepon rumah, masih bisa kok. Tapi ternyata pendiriannya tersebut kembali diuji, Bapak pun tergoda membeli handphone dari zaman hp sejuta umat yaitu Nokia, sampai HP Android made China yang mumpuni. Tanpa disadari, gadget sudah menjadi keseharian aktivitas Bapak. Padahal dulu Bapak menolaknya.

Mamah dengan Ponsel Pintar

Lain halnya dengan Bapak, sebagai ibu rumah tangga, Mamah tidak terlalu memedulikan kecanggihan gadget. Bagi mamah, asalkan bisa menerima telpon dari anak-anak dan cucunya sudah cukup. Mamah pun lebih suka menelpon daripada menulis sms. Menurut mamah, menulis sms itu hurufnya kecil-kecil, kurang keliatan.

Perkembangan telepon pintar semakin canggih, sekarang banyak aplikasi video call yang memudahkan mamah untuk bisa video call dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Mamah pun memiliki dan menggunakan HP Android untuk video call.

Baca Juga: Terobosan CBN Digital Nation Bagi Masa Depan Masyarakat Digital Indonesia

Saya dan Gadget

Saya ingat betul saat pertama kali membeli ponsel itu saat masih duduk di bangku kuliah, semester akhir. Saat itu, saya akan KKN di Subang. Lalu, saya pun menjebol tabungan untuk membeli ponsel, alasannya agar saya bisa menelpon keluarga di Sukabumi. Hahaha …kenyataannya saat itu di sana sangat miskin sinyal. Mau nelpon mesti naik-naik ke atap rumah penduduk. Intinya ponsel Sony Ericsson model flip warna ungu yang saya bawa tidak berfungsi sama sekali.Tapi cukup mampu menaikkan gengsi saya sebagai mahasiswa. Hahahaha…jadi punya ponsel bukan butuh tapi gengsi. Lalu, mulailah pindah ke ponsel sejuta umat Nokia yang saat itu udah bisa kirim MMS (berasa paling keren sedunia deh pegang hp yang bisa kirim MMS).

HP kebanggan zaman dulu (sumber: pixabay)

HP kebanggan zaman dulu (sumber: pixabay)

Waktu terus melaju dan perkembangan ponsel pintar pun luar biasa cepat. Sekarang sudah bukan zamannya lagi kirim MMS tapi bisa kirim gambar bergerak, ikon imut nankeren, video, dan banyak hal lainnya. Sistem operasi pada ponsel pintar pun terus berkembang dan tentunya semakin memudahkan pemakainya. Bahkan sistem operasi HP Android pun terus berkembang dan memudahkan pemakainya.

Baca Juga: Blanja.com Adakan Promo Tiket Garuda yang Sangat Menarik untuk Liburan Akhir Tahun Anda

Fathan dan Gadget

Fathan dan anak-anak seusianya merupakan generasi milenial, yang sejak brojol sudah disuguhi teknologi digital. Baru lahir langsung difoto dan fotonya diposting di media sosial. Sejak mulai belajar merangkak sudah mulai rebut-rebut ponsel yang dipegang emaknya. Memasuki usia balita sudah ikut-ikutan teman sebayanya main games di ponsel.  Sudah memasuki usia sekolah sudah mulai suka nonton youtube. Emaknya mesti selalu awas dengan apa yang ditontonnya.

Kelakuan bayi zaman now (sumber: pixabay)

Kelakuan bayi zaman now (sumber: pixabay)

Fathan anteng main games di ipad

Fathan anteng main games di ipad

 

Hari gini, ponsel pintar sudah menjadi teman keseharian setiap orang. Bahkan, kalau pergi ketinggalan ponsel pintar, bisa galau seharian. Emak-emak nggak konsentrasi mikirin kira-kira ada update info terbaru di grup. Bapaknya galau karena nggak bisa eksis di medsos. Oalaaah, saat ini kalau ada launching gadget terbaru bisa ngalah-ngalahin antre sembako, maaak. Itulah fenomenanya. Gadget sudah menjadi candu bagi pemakainya. Jika tidak ada gadget rasanya seperti ada yang hilang. Bahkan, ada lho, kasus kecanduan gadget.

Mendekatkan yang Jauh dan Menjauhkan yang Dekat

Perkembangan teknologi digital memang sangat pesat. Kehadiran media sosial  membuat dunia bulat menjadi datar (pegimana sih maksudnya, yah artinya jarak sudah bukan lagi jadi halangan atas hubungan jarak jauh, eaaaa… ). Sehingga siapa pun yang ada di belahan mana pun bisa berkomunikasi dengan orang yang berjarak ribuan km, asalkan ada sinyal internet. Sehingga, wajarlah jika kehadiran teknologi digital tersebut memang sangat membantu manusia untuk merasa dekat satu sama lain dan terhubung melalui alat yang disebut gadget. Oleh karenanya, gadget merupakan alat yang diciptakan untuk mempermudah hidup kita.

Sibuk dengan gadget masing-masing (sumber: pixabay)

Sibuk dengan gadget masing-masing (sumber: pixabay)

Pernahkah melihat pemandangan dengan situasi seperti ini, keluarga makan bersama di ruang tengah, namun masing-masing sibuk dengan gadget yang dipegang masing-masing. Sang ayah sibuk chating dengan orang yang nunjauh di sana, sang ibu sibuk bermedia sosial memamerkan perkembangan anaknya, sementara sang anak sendiri sibuk nonton di Youtube. Sebuah pemandangan yang dianggap biasa. Namun, dampaknya bisa menjadi luar biasa. Satu sama lain dalam keluarga tidak dekat, masing memiliki dunianya, jaraknya dekat tapi terasa jauh. Mungkin hal tersebut terjadi di lingkungan keluarga kita sendiri. Saya tidak menutupinya bahwa hal tersebut sering terjadi apalagi jika saya sedang melakukan pekerjaan di laptop dan agar tidak terganggu, saya ‘terpaksa’meminjamkan ipad pada si sulung.Duh, kalau inget kelakuan kayak begitu, rasanya menyesal banget.Tapi kok yah malah diulangi terus. (Ealaaah, curhaat!)

Baca Juga: Website Blanja Jual Tiket Garuda dengan Proses yang Mudah dan Cepat

Lain lagi situasinya saat beberapa orang berkumpul di acara, lalu acara tersebut mengadakan acara live tweet, otomatis setiap yang hadir sibuk dengan gadget masing-masing untuk bercuit-cuit di media sosial. Para hadirin bisa saling tag, saling komentar, saling rituit di dunia maya, tanpa sadar bahwa mereka yang saling berinteraksi di dunia maya ternyata duduk di sebelah. Pernah mengalami peristiwa seperti itu? Saya pernah bahkan sering, hehehe…

Teknologi digital yang disematkan ke dalam gadget memang begitu luar biasa pengaruhnya.Perkembangannya yang pesat tanpa sadar sudah mengubah pola perilaku masyarakat. Masyarakat yang sebelumnya bersilaturahim di dunia nyata, sekarang bisa saling bersilaturahim dan berinteraksi di dunia maya. Pengumpulan dana untuk beragam kegiatan sosial yang mulanya dikelola oleh kepanitian daerah kini bisa dikelola secara nasional secara daring. Bahkan, banyak kasus terjadi, jika sebuah ‘kisah’ yang membutuhkan donasi mencuat di dunia maya dan menjadi viral akan mengumpulkan donasi yang begitu cepat dengan jumlah yang banyak. Beda halnya kalau keliling kampung, belum tentu dana yang dibutuhkan terkumpul secara cepat dan tentunya bikin hayati lelah jika ada penolakan.

Dengan kehadiran gadget dengan segala teknologinya membuat seakan dunia berada dalam genggaman. Mau hiburan tinggal buka aplikasi di gadget, mau cari teman tinggal buka media sosial, ingin bekerja, ingin sekadar membuang kebosanan pun tinggal buka gadget. Itulah kehidupan zaman milenial, berkat pekembangan gadget yang luar biasa membuat siapa pun terhubung satu sama lain melalui gadget. Kita pun bisa mengabadikan setiap momen yang kita lihat, rasakan, dan alami dengan menggunakan gadget. Itulah cerita saya tentang perkembangan gadget di lingkungan keluarga dan gadget di tangan 3 generasi.

 

 

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

66 Responses

  1. Hai mba Rani,
    Jadi ingat jaman kuiah semua urusan ada di disket. Hahhaa
    Tapi jaman skarang memindahkan data amat sangat mudah ya mba

  2. Dian Radiata says:

    Jadi inget waktu sidang jaman kuliah dulu masih pake disket. Bahan presentasi sidang kusimpan di disket. Sampe kampus disketnya error. Rusak. Terpaksa ujian sidang gak pake presentasi. Sampe keringat dingin njelasin panjang lebar tanpa materi ke dosen penguji.. Untung lulus. Hahaha

  3. April Hamsa says:

    Orang tuaku tipe2 yang gak terlalu update kecanggihan gadget mbak. Katanya mbuh bingung haha.
    Kalau anak2 zaman now bahkan yg masih bayi mah udah tertarik banget, meski aku selalu berusaha jauhin, gak boleh main sendiri kalau tanpa pengawasan.
    Wkwkwkw itu disket zaman SD-SMP banget ya. Trus pas perta kali punya flashdisk rasanya dah mewah gtu, apalagi yang bentuknya unyu2 😀

  4. iih gue banget nih cerita. Terutama perilaku kids zaman now. Anak saya jg beuh sudah mahir searching di google, apa2 nyari di yutub. Kalau bapaknya pulang kantor, yang ditanyain malah hape, mau pinjem, mau lihat ninjago di yutub. Duuhh. Tapi ya emang begitulah, setiap anak/manusia terlahir di zamannya, kita tdk bisa menghindar dari apa yg ada di zamannya. Mendidik anak pun harus sesuai zamannya, tinggal bagaimana kita sebagai ortu mampu membimbingnya

  5. Eni Rahayu says:

    Yang sampai sekarang gak mau pakai gadged adalah mama mertua, duh keukeuh banget deh beliau. katanya gak ada manfaat malah menghabiskan waktu aja,saluuut.. Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh, setuju banget…

  6. Katerina says:

    Kami sekeluarga pengguna gadget yang aktif. Kadarnya saja yang beda2. Suami lebih tinggi intensitasnya, saya nomor dua, dan anak2 tak sampai seperempat dari durasi pemakaian kami. Dunia dalam genggaman asal pandai pegang kendali, bukan malah dikendalikan gadget

  7. wkwkwkwk….kalo cerita aku, kadang karunya liat papah-mamah yang suka susah pegang gawai. si papah juga suka geleng-geleng liat cucunya udah jago bener mainin benda canggih kotak2 itu, hihihi…. hadeuh, dunia oh dunia….

  8. Sandra says:

    Bener banget, ku kasian sama cucu yang diasuh nenek pakai gawai huhu

  9. Aku suka di komplen sama mama yang ga pake gadget, jadi kalau di rumah sesekali ngecek hapenya. Yang parah waktu itu pernah liat mamud sibuk selfie, anaknya guling-guling ngamuk di lantai. sad 🙁

  10. ini nih mama papa ku lagi tersihir gadget.. apdet statuuuss mluluu sebel. Jadi gak pernah ngobrol berdua gara2 sibuk sama dunia baru nya masing masing

  11. susie ncuss says:

    bener teh,
    kalau ibuku di kampung pegang hape ya cuman buat sms atau nelpon dan nerima telpon anak-saudara.
    kalau buat kita mah, hape itu seperti dunia kecil yang kadang mengalihkan mata dan pikiran kita

  12. Suka mikir dong teh, jamannya anak-anak aku nanti teknologi gimana ya.. Pasti udh canggih pisan. Semoga sanggup beli update-an gadget sesuai jaman..

    Aku pas sekolah SMK masih sempet bahas disket ditugas semester dong teh. Hihi.
    Btw jadi inget hp Nokia pisang aku jaman dulu ih kangen hahaha

  13. Kita banget ya teh rasanya. Anak dan gadget emang agak susah dipisahkan, lagi usaha nih aku ge biar iioo ga ketagihan kalau sesekali kan gpp, kita juga tertolong *eh gimana >,<

  14. Zia says:

    Al-fatihah untuk Alm. Bapak.

    Ngomongin gadget sama banget ini mah kaya cerita aku. Hehe waaah itu hp nokia jadul kita samaaaa. Sampe sekarang kalo ada kyknya masih bisa dipake.

    PR aku nih batasin Vito sama gadget. Huhu

  15. Eka says:

    Jadi nostalgia masa lalu jaman saya pun mencet2 tuts mesin tik. Anak jaman now mana ngerti ya hehe… Malah ponakan saya sempat terheran2 waktu lihat mesin tik. Katanya, hebat ya ada komputer udah langsung ada printernya. Wkwkwk…

  16. unggulcenter says:

    gambarnya ga ada yang personal nih wkwkwkwk #protes hehe nyari gambar Fathan 😀 😀 eh bayi botak muncul. Ampir salah krn judulnya Fathan gambarnya bayi botak

  17. ladubkanblog says:

    sama mbaaak… dulu bapakku kalau mengerjakan laporan juga pakai mesin ketik, pernah malem malem denger mesin ketiknya bunyi, padahal bapakku nggak lagi lembur…entahlah.
    Aku pertama kali pake hape juga sonny ericson flip warna ungu hiohihiihi

  18. sebenernya serem juga sih semakin berkembangnya zaman teknologi semakin kita mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat apalagi kalo lagi nongkrong pasti sibuk dengan gadgetnya masing masing mana asik kaya gitu dan kirain si fathan main aov biar anak kekinian gitu mba hehe awas kecanduan game di bukan usianya bahaya mba.

  19. Menurutku, gadget itu ada banyak sekali dampaknya, baik itu positif maupun negatifnya. Kalo kataku, lebih baik anak-anak jangan diberi gadget dulu. Suka kasian sama anak sekarang yang main gadget mulu. Dulu kayaknya aku pas kecil tuh masih main lari-larian, petak umpet, sekarang mainnya main di gadget. Tapi, bingung juga, kalo gak diberi itu nanti anak-anak kita ketinggalan zaman. Bimbang memang. 😀

    Btw, kayaknya seru, ya, menulis di mesin TIK. GAUL gitu. SALAM UPIL GAUL! 😀

  20. zefy says:

    hehhehee..lucu lihat adek kecil yang sudah belajar pegang laptop. kalau pemandangan orang kumpul berdekatan tapi sibuk masing-masing mah sekarang bisa dilihat dimana-mana mbak, sedih sih, tapi kenyataan memang

  21. Nova Violita says:

    Berasa banget perubahan zaman.. waktu SMA aja dulu aku ga kebayang bakalan Megangin laptop n smartphone.. awal Ama aja dulu pernah kursus komputer dengan sistem ws dan dos

    Ga tau 20 tahun ke depan..kali semua sistem robot..

  22. amanda desty says:

    aku belajar mengetik juga awalnya dengan mesin tik kuno seperti di gambar itu hehe karena dulu sering ikut ayah ke kantor dan dipinjami kursi lengkap dengan mesin tik nya supaya gak bosen :p

    memang sekarang perkembangan digital makin maju dan gadget bisa menjauhkan yang dekat bisa juga mendekatkan yang jauh. tinggal bagaimana kitanya yang harus bijak dalam menghadapi, menyikapi dan menggunakannya ya mbak.

  23. ada plus minusnya sih memang ya dengan adanya gadget. its okey ketika kita bisa membatasi

  24. ulya says:

    Aku masih ingat saat dulu nganterin ibuk ke wartel buat telpon bapak yang di luar negeri. Berlanjut ke beli hp sejuta umat yang mahal banget waktu itu, pulsanya diisi sebulan sekali pakai kartu voucher. Bisanya cuma telpon sama sms aja.

    Lha sekarang…
    Duuuhh
    Beda banget!

  25. Ruziana says:

    Hiks terjadi dgn saya
    Dulu sebelum ada gadget keren gini saya selalu bawa buku kemana mana
    Jika ada waktu luang sy baca buku
    Sekarang malah sibuk dgn gadget

  26. Bela says:

    Semua bisa lebih mudah dengan gadget.
    Sering merasa bete sih kalo lagi butuh temen buat diajak ngobrol, ehh ternyata dia asyik sama gadgetnya. Yaudah lah ya.
    Akhirnya ujung”nya aku main gadget juga hahahaha

  27. Jadi inget sama ibu saya. Yang gak begitu perhatian sama kecanggihan handphone. Yang penting bisa terima telepon, gitu katanya. Tapi sekarang ada WA yang bisa ngirim video dan gambar-gambar, beliau jadi tertarik. Soalnya bisa lihat tingkah laku cucu-cucunya via WhatsApp. Akhirnya sekarang minta handphone yang lebih canggih, supaya bisa download WA hihihi…

  28. Fania surya says:

    Kalau bicara soal HP nih. Jd inget ponakan2ku yg msh kecil. Kalau ortunya hbs pulang kerja nih langsung minta mainan hp dan hp baru akan selesai kl sdh baterai habis. Ya ampun anak jaman now ya kayaknya udah kecanduan. Bertamu ke saudaranya pun jg begitu. Meski kumpul tp masing2 pegang hp dan gak ada perbincangan. Hadeh

  29. lendyagasshi says:

    Zaman memang sudah berubah. Dan semoga kita dituntun mendidik anak amanah Allah ini dengan adab dan ilmu yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh.

    In syaa Allah.
    Gadget bermanfaat jika digunakan dengan bijak.

  30. wah kayaknya bukan orang tuaku nich, bapak ibuku itu gaul abizzz. Mama aja main game online asyekk bangettt, bapakku kalau online juga seneng bangettt

  31. Oky Maulana says:

    Hahahahaha ponakan aku masih seringnya ngajak maen ke lapangan daripada di gadget, padahal om nya males ke lapangan, soalnya panas :p

  32. Mahadewi says:

    Ngajarin orangtua saya mengenai HP ini adalah salah satu PEER terberat. Tapi sebagai milenials awal, saya juga ngerasain gap nih sama generasi 2010-an, yaitu mengenai penggunaan APPS, kadang mereka tahu apa yang kita gak tau. Sampe sekarang saya gak paham gimana caranya pake musically wkwkwk

  33. Timo says:

    Haha ya ampun hape sony ericsson yg flip pun pernah kugunakan sblm berganti ke nokia. Hmm taun brp tuh ya 😀

  34. mahadewi says:

    Mbak aku udah nulis komen tiga kali wkwkw, pas aku enter eh katanya duplicate, dan lupa enggak di-copy.
    GAP gadget I mean perbedaan gadget di tangan generasi satu dan lainnya memang merepotkan, dulu saya lelah banget rasanya mengajari orangtua pakai gadget. Sekarang, saya gak paham2 bagaimana caranya pakai aplikasi kekiniaan yang sedang super hits. Saya gak ngerti pakai Musically wkwkw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *