Ibu-Ibu dan Motor Matic : Langit Biru Harapan Bagi Masa Depan Anak Cucu

Ibu-Ibu dan Motor Matic _ Langit Biru Harapan Bagi Masa Depan Anak Cucu

Ibu-Ibu dan Motor Matic : Langit Biru Warisan Bagi Masa Depan Anak Cucu. Suatu ketika saya mendapat notifikasi dari sebuah grup ibu-ibu. Seorang ibu yang usianya lebih tua daripada saya mengirim sebuah gambar. Gambar apakah itu? Ya, itu adalah gambar meme ibu-ibu dengan motor matic. Si pengirim gambar menertawakan dan mengejek meme tersebut. Dia melanjutkan kalau ibu-ibu pengguna motor matic suka sokgaya memakai kacamata hitam dan jaket kulit bagus sementara anak yang diboncengnya diabaikan keselamatannya. Anggota grup yang lain pun menanggapi dan ikut menertawakan meme tersebut. Saat membaca percakapan penuh ejekan tersebut, jujur, hati saya panas. Ya, saya adalah salah satu dari ibu-ibu pengguna motor matic.

sumber: https://www.yukepo.com

sumber: https://www.yukepo.com

Ingin rasanya membalas cacian tersebut dengan mengatakan, “Hei, tahu apa kalian, ibu-ibu yang hanya tinggal duduk manis diantar paksu (pak supir/pak suami) ke mana-mana karena enggan belajar menggunakan kendaraan sendiri. Tahu apa kalian bagaimana perjuangan seorang perempuan menjalankan kendaraan di jalanan yang penuh marabahaya,” (Hahaha, mulai deh lebay). Tapi sungguh hati saya panas mendapati kenyataan bahwa yang nyinyir kepada ibu-ibu pengguna motor matic adalah sesama perempuan. Rasanya saya ingin membalas, “Kenapa ibu-ibu pakai kacamata saat mengendarai motor, aduhaaai, debu jalanan itu sangat jahat dan jika masuk ke mata, bisa membuat celaka,”. Jari-jari saya sudah bersiap akan membalas semua ejekan tersebut. Beruntung suami menahannya hingga saya pun tidak jadi membalas. Namun dari pembahasan tersebut, saya jadi ingat kembali saat-saat sulit mengendarai motor sambil membawa balita.

Baca Juga: Apa yang Saya Lakukan Jika Saya Seorang Self Employee?

Saat Flek Terdapat dalam Paru-Parunya

Usianya baru 14 bulan saat itu. Tiba-tiba badannya panas tinggi. Kami pun panik dan membawanya ke UGD sebuah rs swasta di Bandung. Dokter langsung menyuruh kami supaya rawat inap. Lalu, dokter pun memvonis ada flek di paru-parunya. Sebagai seorang ibu, hati saya begitu pedih melihat sosoknya yang kecil begitu lemah karena sakit. Namun, dia tetap ceria saat dirawat di rs. Setelah rawat inap, dokter mengharuskan dia menjalani pengobatan selama 6 bulan.

Fathan-GenLangitBiru

Jujur, saya merasa bersalah dengan kondisinya. Sejak usia 8 bulan, setiap hari, pagi dan sore dia selalu digendong oleh saya mengendarai motor matic. Penyebabnya karena tidak ada pengasuh di rumah dan tidak ada orangtua atau sanak keluarga yang bisa dititipi. Terpaksa setiap hari saya menitipkannya di daycare dekat kantor tempat saya bekerja. Kepanasan, kehujanan, dan menghirup udara berpolusi merupakan salah satu penyebab munculnya flek di paru-parunya.

Flek yang terdapat di paru-parunya harus dibersihkan tapi tidak mungkin di sini, di Bandung, dengan kondisi seperti ini. Satu-satunya cara adalah dia harus berada di tempat yang udaranya bersih. Tapi, sanggupkah saya berpisah dengannya? Akhirnya demi kesembuhannya, saya pun harus rela berpisah dengannya.

Baca Juga: Saat Diare Datang Menyeang Interlac Probiotics – Healthy Tummy Happy Baby Jawabannya

Langit Biru Udara Bersih Warisan Untuk Masa Depannya

Saya tidak bisa menuduh begitu saja polusi udara yang parah sebagai penyebab sakitnya si sulung. Walaubagaimana pun saya berkontribusi dalam pengotoran udara dan membuat langit tidak biru lagi. Sebagai pengendara kendaraan bermotor, saya sudah ikut berkontribusi mengotori udara yang kita hirup bersama. Selama ini saya abai terhadap permasalahan tersebut, namun setelah mendapatkan musibah tersebut, saya pun sadar betapa pentingnya udara bersih bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Saat memandang langit, saya sadar, sudah lama sekali saya jarang melihat langit biru di kota ini. Jika ingin melihat langit biru yang bersih saya harus pulang kampung. Saya pun merindukannya.

sumber: www.pixabay.com

sumber: www.pixabay.com

Kerinduan terhadap lingkungan yang sehat dan udara yang bersih ternyata bukan hanya milik saya namun segenap entitas masyarakat termasuk Pertamina. BUMN yang bergerak di bidang pengolahan minyak bumi ini sangat peduli dengan isu lingkungan hidup. Sehingga, Pertamina pun merintis Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC). Pertamina sebagai perusahaan yang bergerak di industri bahan bakar minyak merasa turut bertanggung jawab terhadap masalah lingkungan hidup sehingga proyek ini diharapkan dapat ‘membirukan langit’ kembali. Sehingga Pertamina pun memproduksi bahan bakar yang ramah lingkungan.

Produk seperti apa yang ramah lingkungan itu? Melalui PLBC, Pertamina melakukan peningkatan spesifikasi gasoline dari RON 88 menjadi RON 92 yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini sudah dirintis sejak tahun 2015 dan mulai dijalankan pada akhir tahun 2018.

Proyek ini dinamakan Proyek ‘Langit Biru’ Cilacap karena Langit biru merupakan misi dari proyek ini untuk menjaga lingkungan tetap bebas polusi dan aman bagi kehidupan melalui kualitas BBM yang meningkat dan ramah lingkungan sehingga udara terjaga, lebih sehatdan bersig, sehingga langit pun tetap biru. Sehingga langit biru yang cerah menjadikan siapa pun yang memandang langit akan merasakan kecerahan dan optimisme hidup yang penuh harapan. Tentunya, demikian dengan saya hati resah dan mendongakkan kepala ke atas dan memandang langit biru rasanya harapan muncul seketika. Sebagai seorang ibu tentunya saya ingin kehidupan yang lebih cerah dan penuh harapan bagi anak-anak   saya. Pada nama proyek ini tersemat nama ‘Cilacap’ karena lokasi proyek ini di RU (Refinery Unit) IV Kilang Cilacap, Jawa Tengah.

sumber: https://kominfo.go.id

sumber: https://kominfo.go.id

Bahan bakar dengan kadar RON 92 dengan spesifikasi EURO IV akan dihasilkan di proyek ini 100%. RON merupakan kependekan dari research octane number atau disebut juga oktan. Semakin tinggi RON maka mesin bekerja lebih efisien dan gas yang keluar pun mengandung gas buang yang lebih sedikit. Pantas saja jika saya menggunakan bensin Pertamax yang memiliki RON 92, kepala saya tidak mual dan pusing. Berbeda jika saya menggunakan bahan bakar yang lebih rendah yaitu Premium dengan RON 88. Oleh karenanya, sudah sejak lama saya menggunakan bahan bakar Pertamax untuk mobilitas sehari-hari. Sayangnya, sebagai pengendara motor saya sering merasa mual dan pusing di jalanan saat kendaraan lain mengeluarkan gas dari kendaraannya. Mungkin bahan bakar yang dipakai kurang ramah lingkungan.

Baca Juga: Tabungan Tupi Segunung Membuatnya Untung

Penanaman Pohon Kembali

Pada sebuah proyek pembangunan merupakan sebuah hal yang wajar jika terjadi penebangan sejumlah pohon. Hal tersebut dilakukan untuk membersihkan lahan. Begitu pula yang dilakukan oleh Pertamina. Namun, BUMN ini tidak begitu saja menebang pohon tanpa memedulikannya. Pertamina berkomitmen untuk memelihara lingkungan dengan memproduksi bahan bakar berkualitas dan ramah lingkungan, Pertamina juga melakukan penanaman kembali pohon yang sudah ditebang. Pertamina melakukan pendataan dan penghitungan terhadap pohon-pohon yang ditebang dalam proyek ini. Kemudian dilakukan penanaman kembali pohon-pohon sehingga lingkungan tetap terjaga keseimbangannya.

sumber foto: ww.pixabay.com

sumber foto: ww.pixabay.com

Pertamina juga sangat peduli terhadap peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sehingga pada proyek ini, Pertamina mempekerjakan 2.000 tenaga kerja yang di antaranya adalah masyarakat Cilacap dan sekitarnya. Pohon-pohon yang sudah ditebang pun disumbangkan kepada msyarakat untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam rangka peningkatan kesejahteraan.

Sebagai warga masyarakat pengguna aktif bahan bakar, saya angkat jilbab topi terhadap apa yang sudah dilakukan oleh Pertamina. Saya pun ingin menjadi bagian dari Generasi Langit Biru yang turut bertanggung jawab menjaga lingkungan. Sebagai bagian dari generasi milenial yang terbiasa menggunakan internet tentunya bisa memanfaatkan internet untuk menyebarkan informasi penting tentang penjagaan lingkungan hidup. Apalagi sebagai seorang ibu saya bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak, agar mereka bisa merasakan masa depan yang cerah dengan lingkungan yang sehat. Apa yang kita lakukan hari ini tidak hanya bermanfaat untuk kita saat ini tapi bisa diwariskan bagi anak cucu kita kelak. Alangkah indahnya jika kelak anak cucu kita tetap bisa menikmati indahnya langit biru. Mari kita menjadi #GenLangitBiru untuk masa depan yang lebih baik.

 

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

44 Responses

  1. setuju mbak @Rani, berbeda dengan kaum bapak, kaum ibu memikul banyak “beban” ketika melaju mengendarai sepeda motor.

    Semoga langit kita kembali biru ya? Untuk masa depan anak-anak yang lebih baik, amin

  2. Saya selalu salut sama ibu-ibu yang bisa ngendarai motor sambil gendong anaknya. Apalagi jika ditambah bawa bawaan lain diboncengan belakang. Kadang jadi bahan bercermin antara saya dan suami kalau pas lagi di jalan terus melihat ibu-ibu yang mengendarai motor sambil gendong anak. “Begitu berat perjuangannya, kalau ditinggal di rumah nggak ada yang jaga, kalau di bawa kok ya kasihan juga. Dilema”
    Sampai sekarang saya belum berani mengendarai motor sambil gendong anak

  3. Ratusya says:

    Sbnrnya kdg bapak2 apalagi supir angkot lebih serampangan. Ga pake sen, tiba2 nikung.
    Gitu sih kalo paksu komplen liat ibu2 pake motor atau mobil. Hahaha

  4. Zia says:

    Luar biasa perjuangannya, Teh. Aku ikut sedih juga, ga terbayang anak kita sakit.

    Polusi memang salah satu dilema kita yah. Semoga mimpi bisa membirukan langit dan menghijaukan bumi bisa tercapai, warisan untuk anak cucu kita.

    Semangat selalu, Teh.

  5. Yati Rachmat says:

    First of all, bunda do’akan agar si kecil cepat pulih. Aamiin. Mbak Rani, dusamping memang pastinya setiap umat mengharap langit bisa tetap tetap biru cerah, namun tdk bisa dipungkiri kebutuhan akan transportasi yg menyebabkan polusi itu menjadikannya alat yg primer. Yuuk, sama berharap, smg proyek Langit Biru mampu mengurabgi bahkan meniadakan polusi bagi anak2 bangsa di masa depan. Aamiin

  6. semoga transporatasi Indonesia makin bagus 🙂 agar udara yang didapat bersih

  7. Echaimutenan says:

    Buat yang selalu pakai motor kemana2 itu udara bersih perlu banget ya mba. Ampun kalau pada pake bahan bakar yang asapnya bikin ngepul hitam kitanya yang naik motor juga ga enak . Polusi bangey

  8. Anggi Putri says:

    Luar biasa keren perjuangannya. Semoga di negara lebih bagus transportasi dan juga lebih menghormati sesama pengguna jalan ya mbak…

  9. Ngakak liat meme-nya, bener kalau ketemu bu-ibu model begitu mending jaga jarak 10 km, atau salip sekalian 100 km *lebay hahahaha

  10. ahahaha, eta meme na uy eu kuat…. Ran, ini bisa juga diikutin ke lomba nulisnya Astra, loh….

  11. semenjak tinggal di bandung aku gak pernah naik motor sendiri, biasanya jalan kaki atau naik angkot mak. Kalau lagi males baru deh diantar suami. Tapi sebersih-bersihnya udara bandung.. tetep aja di jam2 padat kendaraan, polusi pasti ada. Apalagi kami yang tinggal di pinggir jalan Veteran.. hufff. Semoga kita bisa lebih menjaga lingkungan dari lingkungan terdekat kita ya mak

  12. Yasinta says:

    Aku selalu suka langit biru, kalau lagi pulkam ke ibu senang rasanya bisa liat langit biru

  13. Sandra says:

    Woaaa, semoga kita kembali ke alam ya karena bagian suannah rosul juga 😉 tfs Teh

  14. Pas banget ya,Mak. Pas ada program dari Pertamina,pas punya pengalaman ttg polusi udara. Semoga adek sehat selalu

  15. ya allah Mbak Rani, saya juga ngalamin nih panas ujan anak kena karena motoran. Sekarang anak kedua alhamdulillah ada go car. hehe. udara bersih memang kunci

  16. Ulu says:

    Laki-laki & perempuan kalo nyetirnya salah ya salah aja ya, gak ada gender2an di situ.

    Sepupu saya juga ada yg kasusnya kayak teh rani. Kena flek paru2 si anaknya. Mana masi kecil waktu itu, balita. Kata dokter sebabnya polusi karena anaknya sering dibawa naik motor. Duh sedih dengernya…

    Di kampung halaman saya langitnya biru. Tapi cuacanya duileee panas, mirip kayak Cilacap 😀

  17. Julia Amrih says:

    Penting banget ya Mba’ udara segar ini, apalagi untuk orang2 tercinta. Semoga bisa benar2 terwujudkan langit birunya. 🙂

  18. Eni Rahayu says:

    Setuju sekali, kita sebagai GenLangitBiru harus bisa mendukung niat baik pertamina ya mbak, tentunya akan berimbas langsung kepada anak cucu kita

  19. April Hamsa says:

    Wah Cilacap. Kalau gak salah suami pernah ke kilangnya Mbak. Klaau tak salah satu klien perusahaannya.
    Semoga makin banyak perusahaan kyk Pertamina yg peduli lingkungan. Jd anak2 enggak sakit lagi krn polusi udara yaa TFS sharingnya

  20. Mildaini says:

    maafkan, aku ni yg gendong anak sambil motoran

  21. Artha Amalia says:

    Ya Allah…kasihan si kecil. Pembelajaran buaat saya nih…kalau bisa anak gak sering2 diajak motoran. Polusi di mana2. Iya kalau semua pakai pertamax? Iya gak?

  22. Mari menanam pohon 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *