Inovasi Mahasiswa Buah Dukungan Yayasan yang Didirikan Pendiri RGE

Source: Tanoto Foundation

Source: Tanoto Foundation

Indonesia masih tertinggal dalam jumlah riset yang digelar jika dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga. Namun, kualitas penelitian sejatinya tidak kalah. Hal itu terlihat dari hasil Tanoto Student Research Award (TSRA) 2017 yang digelar oleh Tanoto Foundation. Dalam TSRA, yayasan hasil inisiatif pendiri Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto, tersebut memberi dukungan kepada para mahasiswa yang melakukan riset.

Dukungan diberikan Tanoto Foundation melalui sumbangan dana hibah ke sejumlah perguruan tinggi yang menjadi mitra. Jumlah dana yang disumbangkan oleh yayasan yang dijadikan oleh Chairman RGE itu sebagai sarana menghapus kemiskinan dari Indonesia tersebut mencapai 100 juta per tahun. Adapun perguruan tinggi yang menjadi  mitra adalah Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Indonesia.

Baca Juga: Penanganan Korban Kabut Asap Oleh RGE

Tanoto Foundation mulai menggulirkan TSRA pada 2007. Sejak saat itu hingga Desember 2015, yayasan nirlaba yang digagas pendiri grup dengan nama awal Raja Garuda Mas tersebut sudah mendukung 303 penilitian.

TSRA 2017 digelar tepat satu dekade dari ajang TSRA pertama. Kali ini, Tanoto Foundation menekankan penelitian yang bersifat aplikatif. Para mahasiswa diharapkan melakukan riset yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai solusi beragam problem nyata di masyarakat.

“Dalam TSRA 2017 ini, kita bisa melihat bagaimana mahasiswa-mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan produk inovatif yang berguna bagi masyarakat,” ujar Ketua Pengurus Tanoto Foundation, Sihol Aritonang.

Selain itu, Sihol juga menandaskan pelaksanaan TSRA juga merupakan cara dari Sukanto Tanoto dan istrinya, Tinah Bingei Tanoto, untuk menyebarkan spirit yang mereka bawa untuk sukses. Dulu, keduanya menjalani kehidupan yang keras. Sempat putus sekolah dan harus bekerja dalam usia muda untuk menyambung hidup, Sukanto Tanoto dan istri terbukti mampu memperbaiki hidupnya.

Royal Golden Eagle adalah buktinya. Berkat kerja kerasnya, Sukanto Tanoto berhasil mendirikan korporasi skala internasional yang pada awalnya dinamai Raja Garuda Mas tersebut pada 1973. Kini, dari perusahaan lokal, mereka telah menjadi menjadi bisnis besar dengan aset 15 miliar dollar Amerika Serikat dan mempekerjakan sekitar 50 ribu karyawan.

Namun, Sukanto Tanoto dan istri rupanya masih memiliki ambisi untuk menghapuskan kemiskinan dari Indonesia. Hal itu yang membuat keduanya berinisiatif mendirikan Tanoto Foundation. Lewat Tanoto Foundation pula mereka hendak membagi semangat untuk berjuang kepada pihak lain.

Baca Juga: Momen yang Menentukan Bagi Kemampuan Manajerial Sukanto Tanoto

TSRA merupakan salah satu caranya. Mereka ingin mengajarkan kepada pihak lain supaya mau bekerja keras sembari tak lelah menuntut ilmu dengan beragam cara. Hasilnya terbukti apik. Banyak pihak yang terinspirasi sehingga melahirkan beragam hasil penelitian yang berkualitas.

Apa sajakah itu? Berikut ini beberapa di antaranya.

PEMANFAATAN DRONE UNTUK PERTANIAN

sumber: photopin

sumber: photopin

Teknologi saat ini sudah sedemikian maju. Pesawat nirawak atau drone mudah didapatkan. Hal ini dinilai oleh  Josua Christanto, Rahmi Karmelia, Ahmad Dhiyaaul, M. Luthvan Hood, dan  Mery Astuti dari Universitas Indonesia bisa bermanfaat untuk pertanian di Indonesia

Keempat mahasiswa itu kemudian melakukan riset untuk pemanfaatan drone dalam sistem pertanian presisi. Mereka merancang pesawat terbang tanpa awak tersebut sedemikian rupa supaya bisa digunakan oleh petani atau pelaku industri agrobisnis dalam menganalisis tanaman pada lahan pertanian dengan saraf tiruan dalam kurun waktu yang efektif.

Bukan hanya itu, para mahasiswa UI tersebut juga mendesain drone supaya bisa digunakan untuk menyiram pestisida. Ini akan sangat membantu para petani dalam efektivitas pekerjaan karena penyiraman untuk area luas bakal lebih cepat.

Pemanfaatan teknologi seperti drone dalam pertanian sejatinya bukan hal baru. Banyak pihak terutama di Australia, Selandia Baru, dan Thailand yang memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas pertanian yang mereka kelola.

PELEPAH KELAPA SAWIT DIUBAH MENJADI PAPAN KOMPOSIT

sumber: photopin

sumber: photopin

Selama ini kelapa sawit hanya dimanfaatkan buahnya. Namun, di tangan Indra Hermanto, Dimas Ramdhani, dan Yessy Nurmalasari dari Insititut Pertanian Bogor, ada manfaat lain yang bisa dipetik dari kelapa sawit.

Oleh ketiga mahasiswa tersebut, pelepah kelapa sawit mampu diubah menjadi papan komposit. Seperti papan lain, papan komposit  dari pelepah kelapa sawit dapat dipakai sebagai dinding.

Sebelumnya pelepah kelapa sawit sering hanya dibiarkan begitu saja. Tangkai daun kelapa sawit cuma dibuang di sekitar pohonnya untuk dimanfaatkan sebagai pupuk. Ada juga yang digunakan sebagai pakan ternak. Namun, kejelian mahasiswa yang ikut dalam TSRA 2017 tersebut menghadirkan nilai guna tambahan.

Papan komposit yang dihasilkan mereka bisa berdampak penting bagi pemenuhan suplai kayu dalam negeri yang defisit. Perlu diketahui, kebutuhan kayu solid di Indonesia diketahui mencapai 46 juta m3 per tahun. Produsen lokal belum mampu memenuhinya karena jumlah produksinya hanya mencapai 35,29 juta m3 per tahun. Bisa jadi papan komposit yang lahir dalam ajang TSRA yang digagas yayasan hasil inisiatif pendiri Royal Golden Eagle tersebut menjadi solusi permasalahan tersebut.

JAMUR UNTUK PENDEGRADASIAN PLASTIK

sumber: photopin

sumber: photopin

Sampah plastik merupakan masalah besar bagi Indonesia. Negeri kita merupakan salah satu penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Problem ini tengah dicari solusinya Randi Aritonang, Dhaifina Sabila, dan Dita Isnaini Rambe dari Universitas Sumatera Utara (USU). Ketiganya berupaya mengembangkan cara pendegradasian sampah plastik dengan memanfaatkan jamur.

Dalam ajang TSRA 2017, ketiga mahasiswa tersebut tengah meneliti tentang jamur yang mampu mengurai plastik dengan cepat. Penemuan ini sangat penting. Sebab, plastik merupakan bahan yang membutuhkan waktu hingga ribuan tahun supaya terurai. Kalau bisa dilanjutkan dengan hasil yang efektif, para mahasiswa asal USU tersebut berarti menemukan jawaban atas masalah pelik tentang sampah plastik di Indonesia.

Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih menyebutkan total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton. Dari jumlah itu, 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada diperkirakan merupakan sampah plastik. Ini memaksa solusi masalah sampah plastik harus segera ditemukan.

Baca Juga: Perusahaan Sukanto Tanoto Mendorong Kesetaraan Gender

TES GULA DARAH TANPA RASA SAKIT

Saat ini, diabetes melitus termasuk salah satu penyakit paling mematikan di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, pada 2015, diabetes menduduki tempat ketiga dalam daftar penyakit pembunuh di negeri kita.

Susahnya diabetes tidak bisa disembuhkan. Penderitanya hanya harus mengontrol kadar gula dalam darah dengan menjaga pola makan dan pola hidup yang baik. Namun, penderita wajib terus mengetahui kondisi tubuhnya dengan rutin melakukan cek. Ini yang tidak selalu menyenangkan karena harus disuntik untuk diambil sampel darah.

Yosatria Juanka Sibarani dan Anisha Nurul Hakim dari Universitas Sumatera Utara berusaha menemukan solusi atas permasalahan tersebut. Keduanya mengembangkan tes gula darah dengan memanfaatkan urine pasien.

Metode ini merupakan terobosan penting yang muncul dari TSRA. Pasalnya, hasilnya membuat tes gula darah menjadi lebih murah dan lebih mudah. Selain itu yang tak kalah penting, pasien tidak perlu merasakan rasa sakit lagi saat melakukan cek gula darah.

Inilah beberapa hasil penelitian mahasiswa yang muncul dalam TSRA 2017. Tanoto Foundation berharap hal itu bermanfaat bagi publik seperti yang digariskan oleh pendirinya, Sukanto Tanoto. Chaiman Royal Golden Eagle itu memang berharap baik perusahaannya maupun yayasan yang didirikannya berguna bagi kesejahteraan masyarakat.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

17 Responses

  1. zefy says:

    Bagus ya ada yayasan yang mendukung kegiatan super berbamanfaat seperti ini, sayang baru bekerjasama dengan 5 universitas. Semoga nanti bisa bekerjsamsa dengan seluruh universitas di Indonesia, aamiin.

  2. Rindang says:

    Keren banget program Tanoto Foundation ini. Inovasi2nya juga bermanfaat untuk masyarakat luas. Semoga program2 selanjutnya terus berkembang agar makin banyak riset yang bermanfaat.

  3. mbak ini keren banget! semoga beneran ya itu jamur bisa mengurai sampah plastik indonesia. harus beneran jadi sebuah produk nih. terus yang tes gula darah itu, iya setahu saya pe saat ini ya via darah, ga bisa via urin. beneran bisa via urin kah?

  4. lendyagasshi says:

    Kagum sama researcher yang hidup dengan berjuta inovasi.
    Tapi in syaa Allah Indonesia banyak bibit unggul yang menciptakan banyak inovasi.
    Semoga inovasi tersebut membawa kemajuan teknologi dan kehidupan masyarakat Indonesia bahkan dunia.

  5. April Hamsa says:

    Mahasiswa kita tu sebenarnya banyak yg pinter dan mampu menciptakan hal2 yang kreatif, cuma sayang kadang kurang dukungan.
    Denhan dukungan kayak ginimoga makin banyak invention2 asli dari penemu/ ilmuwan di Indonesia ya mbk TFS

  6. masirwin says:

    keren banget sumpah,,, inovasi dipadukan kemajuan teknologi menjadi segalanya lebih mudah…

    btw, kalo di PC , tulisan pada layarnya terlalu luas,, jadi agak gimana gitu

  7. Dwi Ananta says:

    Wah keren nih
    Sempat ingat keluhan seorang dosen kalau jangankan mahasiswa, dosen Indonesia saja sedikit banget yang melakukan riset atau penelitian apalagi yang menghasilkan karya tulis.

  8. Marfa says:

    Bikin bertanta2 selama ini jadi mahasiswa udah ngapain aja tapi juga seneng udah ada pemfasilitas untuk kontribusi di masyarakat salah satunya alat cek diabetes itu

  9. Timo says:

    Keren2 euy inovasinya. Butuh bgt ya inovasi jamur pengurai plastik, scr kita byk gunain kantong plastik ya.

  10. Senang sekali lihat anak muda yang kreatif. Berbagai masalah yang ada, bisa lebih mudah ditangani dengan penemuan mereka. Apalagi penemuan jamur yang bisa mengurai sampah. Wah bisa menyelamatkan lingkungan di sekitar kita ya …

  11. Nova Violita says:

    Keren banget inovasinya…semoga sukses bisa terlaksana di Indonesia…, Inget sampah..rumah tangga aja..susah buat dicari solusinya..

  12. Bela says:

    Wah keren banget ya penelitiannya. Semoga hasil penelitiannya bisa dimanfaatkan dan segera direalisasikan. Mahasiswa Indonesia pintar” ya

  13. Jiah says:

    Aslinya byk org2 kreatif di negeri ini, tp sayangnya dukungan buat penelitian atau lainnya msh kurang. Bersyukur banget ada Tanoto Foundation yg bisa bantu anak2 berinovasi. Semoga kemiskinan jg terhapuskan dr Indonesia

  14. Aku udah sering denger beasiswa riset ini. temen ku beberapa kali mengajukan namun belum ada yang lolos. mungkin belum tajam dan dan kegunaannya masih belum berspektrum luas

  15. Hellofika says:

    Aiiih penelitiannya bermanfaat semua… Tes gula darah tanpa rasa sakit. Drone untuk Pertanian. Dan jamur untuk degradasi sampah.. woww kece. Bkn cuma takjub tapi beneran ini manfaatnya..

  16. Aku suka banget liyat gambar jamur ny. Semoga penelitianny bermanfaat buat masyarakat umum ya, agar lnh bnyak jg masyarakat yg kreatif tersalurkn.

  17. Wohooo, keren ini mah, jadi RGE turut andil dalam perkembangan anak bangsa. Muantap.. Lanjutkan.. !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *