Jaga Kelestarian Hutan dengan HSCA Toolkit Versi 2.0 Sebagai Warisan Anak Cucu

Jaga Kelestarian Hutan dengan HSCA Toolkit Sebagai Warisan Anak Cucu

“Bunda… nanti kalau ke rumah Mamih, kita lewat hutan, ya,” pinta Fathan, jagoan Bunda yang menginjak usia 4,5 tahun. Fathan sangat suka bertualang. Baginya, sebidang tanah yang ditanami pohon jabon alias jati kebon itu merupakan hutan yang harus dilaluinya saat menuju rumah neneknya. Mungkin dalam bayangannya, dia bagai seorang pahlawan yang bertualang melalui hutan untuk tiba ke istana impiannya. Aaah, Fathan seandainya kamu tahu kalau itu bukan hutan yang sesungguhnya, walaupun sesekali suka muncul rakun melompati dahan-dahan pohon jabon. Saat petualangan berlangsung, Fathan biasanya akan berlari dengan penuh semangat, sesekali dia akan berseru girang jika melihat kupu-kupu.

Seringkali saya merasa miris jika melihat kebahagiaan Fathan. Apalagi mengingat sekarang luas hutan di Indonesia sudah semakin mengecil akibat adanya penebangan liar dan pembangunan. Seringkali saya berpikir, apakah anak cucu saya nanti masih akan menjumpai hutan? Hutan seperti apakah yang ada dalam imajinasi mereka. Padahal seperti kita tahu, hutan memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Seandainya di masa depan nanti sudah tidak ada lagi hutan, habitat tempat tinggal bagi para hewan liar. Kelak, apakah masih bisa anak cucu kita tahu dan kenal beragam jenis pepohonan yang ada di hutan Indonesia. Apakah anak cucu kita masih bisa melihat wujud asli para penghuni habitat hutan. Sebuah pertanyaan besar bagi saya mengingat saat ini, kota sudah dipenuhi oleh hutan beton yang gersang.

Sambil berjalan menyusuri jalan setapak, saya sering bercerita pada Fathan betapa hutan memiliki fungsi yang luar biasa bagi kehidupan. Jika hutan benar-benar musnah, pastinya akan menjadi bencana besar bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, sedikit-sedikit saya coba ajarkan kepada Fathan untuk mencintai hutan. Caranya dengan tidak mengganggu tumbuhan yang ada di dalamnya. Tidak mencabut sembarangan rerumputan yang ada di sana. Tidak asal menginjak tanah. Yang terpenting tidak membuang bungkus makanan sembarangan. Sesekali, Fathan juga saya ajak untuk melihat penanaman pohon jati di sekitar rumah Mamah. Ya, saya tahu, saya belum bisa mengajak Fathan ke hutan yang sesungguhnya, tapi saya ingin Fathan mencintai bumi dan segala isinya, termasuk hutan.

Saya selalu bilang kepada Fathan bahwa dengan adanya hutan, kita masih bisa memiliki sumber air bersih. Jika tidak ada pepohonan, maka udara akan semakin panas dan gersang. Lapisan atmosfer yang menipis akan membuat sinar matahari merusak bumi ini. Belum lagi ancaman bencana banjir saat musim penghujan datang. Udara segar pun akan menghilang. Ya, udara di sekitar rumah Mamah memang masih sangat segar karena di sana masih banyak pepohonan. Sehingga Fathan pun lebih suka tinggal di sana daripada di Bandung yang sudah terasa sumpek dan panas.

Kekhawatiran saya akan musnahnya hutan bukanlah tanpa alasan. Karena dalam sebuah artikel yang saya baca, luas hutan Indonesia terus berkurang. Bahkan dalam 60 tahun terus berkurang sebanyak 60%. Bahkan dalam sebuah artikel di media online Kompas.com, setiap tahunnya sekitar 684.000 hektar hutan hilag di Indonesia dikarenakan pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan, dan alih fungsi hutan. Bahkan, disebutkan Indonesia merupakan egara kedua setelah Brasil yang memiliki angka tertinggi kehilangan hutan. Padahal negara kita ini merupakan negara yang memiliki hutan terluas dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia.

Ternyata saya tidak sendirian. Banyak orang yang peduli dengan kepedulian hutan bahkan membuat langkah nyata penyelamatan hutan. Di antaranya yaitu HCS Approach Steering Group yang mleuncurkan HCS Approach Toolkit Versi 2.0 yang berfungsi sebagai sebuah metodologi global tunggal untuk menerapkan praktek ‘No-Deforestasi.” Sebuah angina segar bagi saya yang sangat ingin anak cucu saya masih bisa melihat hutan.

Peluncuran High Carbon Stock Approach Toolkit Versi 2.0 di Bali. Sumber: Twitter @highcarbonstock

Peluncuran High Carbon Stock Approach Toolkit Versi 2.0 di Bali. Sumber: Twitter @highcarbonstock

Sebelum lebih jauh membahas HCS Approach Toolkit 2.0, alangkah lebih bagusnya mengenal HCS Approach Steering Group terlebih dahulu. HCS Approach Steering Group adalah organisasi yang dibentuk pada tahun 2014 dengan tujuan untuk mengelola HCS Approach. Steering Group (SG) sendiri dibentuk dalam upaya pengawasan pengembangan selanjutnya dari metodologi HCS Approach Toolkit seperti penyempurnaan definisi, objektif dan hubungan degan pendekatan implementasinya, serta untuk berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan yang menjalakan pengelolaan model tersebut.HCSA sendiri singkata dari High Carbon Stock Approach.

logo hcsa

Metodologi HCSA Toolkit Versi 2.0 sendiri baru diluncurkan pada 3 Mei 2017 di Le Meridien Hotel Jimbaran Badung, Bali. HCSA Toolkit Versi 2.0 merupakan metodologi gabungan yang berlaku secara global untuk melindungi hutan alam dan mendefinisikan lahan-lahan yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas secara bertanggung jawab. Metode ini melibatkan berbagai pihak seperti organisasi nonpemerintah di berbagai negara, perusahaan-perusahaan, dan lain-lain. Metode ini sudah digunakan di 6 negara sejak tahun 2014. Metode ini telah mengidentifikasi hutan konservasi sebanyak 10 juta hektar. Dalam acara peluncuran tersebut hadir 4 perwakilan HCSA Steering yaitu di antaranya Perpetua George, Wilmar International, Petra Meekers, Musim Mas, Grant Rosonan, Co-Chair HCSA Steering Group, dan Patrick Anderson, Forest People Programme.

Metodologi HCS Approach bekerja dengan cara membedakan antara area-area hutan yang perlu dilindungi dengan lahan-lahan yang memiliki kadar karbon dan keekaragaman hayati yang rendah sehingga dapat diolah. Pendekatannya dengan mengelompokkan vegetasi di area darat menjadi 6 kelas yang berbeda dengan menggunakan analisis data satelit dan pengukuran survei darat. Keenam kelas tersebut adalah High Density Forest, Medium Density Forest, Low Density Forest, Young Regenerating Forest, Scrub, and Cleared/Open Land. Keempat kelas pertama dianggap memiliki potensi sebagai hutan berkarbon tinggi.

Pengklasifikasian Hutan Berdasarkan Tingkat Kepadatan & Ketersedian Karbon Areal Hutan. Sumber Foto : www.highcarbonstock.org

Pengklasifikasian Hutan Berdasarkan Tingkat Kepadatan & Ketersedian Karbon Areal Hutan. Sumber Foto : www.highcarbonstock.org

Tahun 2015 sudah diluncurkan versi pertama, kini kembali diluncurkan versi terbaru dengan berbagai pembaharuan sehingga bisa bekerja lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran. Versi terbaru ini mencakup penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja. Dalam versi ini ada penyempurnaan serta penambahan pada metodologinya sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi para perani kecil.

Saya pribadi sebagai orang awam tentunya menyambut baik metodologi ini karena memang cara kerjanya yang dapat menyelamatkan hutan Indonesia. Apalagi keingina saya agar kelak, Fathan dan keturunannya nanti masih bisa melihat hutan, menjaganya, dan mewariskannya kembali kepada keturunannya. Saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah langkah sederhana yaitu menanamkan rasa cinta  alam dan lingkungan kepada Fathan. Harapannya kelak, Fathan dan generasinya bisa menjaga hutan ini dengan lebih baik.

Oh iya, bagi siapa pun yang tertarik dengan HCSA Toolkit Versi 2.0 bisa mengunjungi lamannya yaitu:

Web: htt://www.highcarbonstock.org

Twitter: HCS Approach @Highcarbonstock

Youtube: High Carbon Stock Approach

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. Dian Ravi says:

    Semoga dengan adanya HCSA toolkit ini hutan akan selalu terjaga kelestariannya. Ngeri ngebayanganin kalau hutan sampai habis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *