Komunikasi dan BBM

Ada seseorang yang minta saya mendengarkan curhatnya. Dia curhat sambil menangis dan berderai air mata. Tiba-tiba di tengah adegan haru biru tersebut, si pecurhat tersebut mengeluarkan Blackberry-nya dan asyik bbm-an. Saya cuma bengong. Lho, ini siapa yang butuh ya.

Ada kejadian lain, seorang staff akan menghadap atasannya untuk mengkonfirmasikan pekerjaannya. Namun, sang staff tersebut merasa segan karena atasannya tampak sedang sibuk bbm-an. Saat, staff menghadap pun, si atasan kembali bilang, sebentar, ya dan kembali asyik ber-bbm ria dan si staff dicuekin.

Kejadian seperti itu sepertinya biasa aja. Namun menurut saya cukup mengganggu dalam berkomunikasi. Apalagi jika hal itu sering terjadi. Saya tidak antibbm, saya pun menggunakan smart phone tersebut untuk mendukung aktivitas. Saya pun sering ber-bbm ria jika sedang berkumpul dengan teman-teman. Saya sendiri belum bisa membagi konsentrasi dengan baik saat harus ber-bbm dan berinteraksi dengan teman-teman yang ada di depan mata. Namun, saya usahakan jika sedang berkomunikasi dua arah, saya simpan BB saya dulu. Jika, kumpul rame-rame saya masih ber-bbm karena saat itu komunikasi tidak fokus pada saya. Saya masih bisa asyik ber-bbm sambil menyimak pembicaraan teman-teman lainnya.

Lain halnya jika komunikasi dilakukan dua arah. Sangat tidak mengenakkan, jika kita sudah konsentrasi menyimak lawan bicara kita, eh dia malah cuekin kita. Secara pribadi, saya merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. Walaupun saya tidak mempelajari ilmu komunikasi namun secara personal saya merasa komunikasi seperti itu kurang baik. Rasanya seperti tidak menghargai lawan bicara kita.

Menurut teori yang pernah saya baca, komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia, baik individu mapun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak disadari komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri, paling tidak sejak ia dilahirkan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya. Gerak dan tangis yang pertama pada saat ia dilahirkan adalah tanda komunikasi (Widjaja, 1986).

Entahlah, saya pun tidak mempelajari ilmu komunikasi. Namun, rasanya sebagai manusia yang memang secara fitrah dari sejak bayi sudah berkomunikasi melalui gerak dan tangisnya rasanya saling menghargai dan memperhatikan menjadi sesuatu yang penting. Smart phone seperti BB itu hadir untuk mempermudah komunikasi antarmanusia. Mendekatkan yang berjauhan, tetap berkomunikasi walaupun tidak bersitatap. Namun, jika mengabaikan yang bersitatap dan membuat lawan bicara dicuekin rasanya menjadi sebuah kemunduran komunikasi, bukan? Ada yang punya teori atau pemahaman yang lebih mendalam mengenai ilmu komunikasi, share yaaa

Sumber foto: http://eu.techcrunch.com

Sumber referensi:

Widjaja, A.W.. 2000. Ilmu Komunikasi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Follow: @raniyulianty

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *