Koperasi Digital untuk Generasi Milenials

Koperasi dan Generasi Milenials

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata “koperasi”?

Koperasi apa tuh? Tempat simpan pinjam? Udah nggak zaman tuh. Ngapain ke koperasi, sekarang khan udah zaman digital, simpan pinjam bisa secara online, bahkan bank pun sekarang sudah digital transaksinya. Kurang lebih reaksi seperti itu saya dapatkan saat menanyakan pendapat generasi milenials tentang koperasi.

Padahal prinsip koperasi  itu sebenarnya bisa dipakai di segala zaman. Entah itu zaman purba maupun zaman yang katanya modern kayak sekarang. Asalkan orang zaman purba itu sudah mengenal istilah “cooperation” atau kerja sama. Koperasi sendiri memiliki pengertian sebagai organisasi yang dimiliki dan dioperasionalkan oleh sekelompok orang dengan tujuan adanya pencapaian kepentingan bersama.

Berkenalan dengan Koperasi

Saya termasuk generasi Golden Memories yang lahir antara tahun 60an sampai 80an (usia antara 30-50 tahun) dan merasa sangat beruntung berada dalam barisan generasi ini. Generasi yang lahir tahun 1960-70-80an adalah generasi yang paling beruntung karena generasi yang mengalami loncatan teknologi yang mengejutkan abad ini dalam usia yang masih prima. Saya pernah terkantuk-kantuk di depan mesin tik untuk menuangkan ide-ide cerita yang mengalir deras untuk dikirimkan ke media, tapi saya juga sekarang memainkan tuts-tuts keyboard laptop/gadget/smartphone untuk menulis di blog.

Saya pernah menghabiskan masa remaja dengan merekam lagu dari radio dengan menggunakan tape recorder dan sekarang merasakan mudahnya mendengar lagu-lagu kesayangan dari aplikasi musik digital bahkan bisa menyanyi bersama penyanyi kesayangan.

Saat kecil sangat menikmati permainan tradisional seperti petak umpet, lompat tali, gobak sodor dan lain-lain, sekarang saya memainkan game dengan lincah di smartphone.

Saat remaja sering kumpul bareng geng tanpa janjian via sms/telp/wa, sekarang masih asyik ber wkwkwk dengan geng di grup sosmed. Dulu selalu degdegan kalau menunggu hasil foto yang dijepret dan menerima dengan sukacita apa pun yang tercetak, sekarang menikmati kemewahan foto digital yang bisa diedit sesuka hati.

Saya juga pernah mengalami banyak manfaat dan keuntungan dari koperasi. Saat sekolah dulu, saya banyak dibantu oleh koperasi tempat Alm. bapak bekerja. Untuk biaya sekolah, bapak sering meminjam uang dari koperasi. Bahkan, kami sekeluarga bisa menikmati makan bersama di luar rumah jika Alm. Bapak mendapat SHU koperasi setiap akhir tahun.

Lalu, apakah saat ini koperasi masih eksis? Apakah generasi milenials kenal dengan koperasi? Sebelum bicara jauh, buat para generasi milenials yang masih belum kenal dengan koperasi, yuk kita kenalan dulu.

Menurut sejarah perekonomian di Indonesia, koperasi merupakan salah satu tonggak perekonomian Indonesia. Koperasi sudah digagas sejak tahun 1886 saat R. Aria Wiraagmadja, Patih Purwokerto mendirikan Hulp en Spaarbank pada 16 Desember 1886.  Lembaga yang didirikan ini merupakan koperasi kredit Raiffeisen yang dimaksudkan untuk menolong kaum priyayi dari cengkran lintah darat. Ternyata lembaga yang dibentuk ini mendapat dukungan dari kalangan pejabat pemerintah kolonial. Boedi Oetomo mendirikan koperasi rumah tangga tahun 1908 sebagai perkembangan koperasi menjadi gerakan rakyat. Selanjutnya, Syarikat Dagang Islam membangkitkan kehidupan berkoperasi di kalangan pedagang dan pengusaha tekstul bumi putra. Tanun 1927, gerakan koperasi sebagai wahana pendidikan ekonomi rakyat dan nasionalisme dibangkitkan oleh kelompok Studie Club pada 1927. Setelah Indonesia merdeka, digelar Kongres Gerakan Koperasi Pertama di Tasikmalaya tahun 1947 dan berhasil mempersatukan gerakan koperasi yang terpencar-pencar.

Koperasi terus berkembang dari masa ke masa dan terus bersinergi dengan beragam masa pemerintahan yang berganti-ganti. Koperasi tetap menjadi salah satu soko perekomian rakyat di Indonesia.

Dikenal beberapa jenis koperasi di masyarakat seperti koperasi siswa, koperasi pegawai, koperasi unit desa, dan lain-lain. Tidak jarang, saya lihat di daerah-daerah, koperasi masih menjadi andalan masyarakat setempat dalam mendukung perekonomian rakyat.

Koperasi Zaman Now

Generasi milenials yang sehari-harinya sangat akrab dengan gadget dan teknologi digital serta semua kemudahan dan kepraktisannya. Teknologi digital saat ini telah menjadi lompatan besar dalam peradaban manusia. Sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin, dulu yang segalanya lebih ribet dan memerlukan biaya besar menjadi lebih praktis, mudah, efektif, dan efisien.

Seperti saya sebutkan di atas, saya termasuk generasi yang beruntung karena mengalami lompatan luar biasa dan menikmati dua masa yang berbeda. Teknologi digital telah merambah hampir semua lini kehidupan. Hampir semuanya serbadigital. Mulai dari kebutuhan pokok seperti urusan sandang (belanja baju online), pangan (urusan perut), papan (beli rumah online), transportasi, keuangan, hiburan, dan lain-lain.

Namun, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, generasi milenilals masih sering menganggap koperasi menjadi bagian zaman old. Padahal, prinsip koperasi bisa bersinergi dengan semua zaman dan bisa disesuaikan dengan segala kondisi. Bahkan pada zaman now sehingga munculah koperasi digital yang digagas oleh beberapa anak muda yang memiliki ilmu dan pengalaman di dunia digital. Sekarang, ngomongin koperasi bisa sambil nongkrong santai di kafe-kafe, generasi milenials bisa menjalankan koperasi sambil hangout bareng teman. Segalanya bisa dikerjakan secara digital, tidak terhalang tembok besar dan kekakuan.

Koperasi bukan lagi milik zaman old tapi milik semua generasi termasuk generasi milenials yang menyukai kebebasan berekspresi, kepraktisan, kemudahan, dan kecepatan. Oleh karena itu, sudah saatnya koperasi menjadi bagian revolusi industri 4.0 yang setiap pengerjaan implementasi dengan metodologi yang terukur.

Koperasi yang ada saat ini memang masih menggunakan cara manual dalam pengoperasiannya. Sementara itu, generasi milenials membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan kepraktisan dalam segala hal, termasuk dalam kegiatan berkoperasi. Oleh karenanya dibutuhkan solusi yang mampu menjembatani koperasi dan generasi milenials dengan hadirnya koperasi digital. Koperasi digital ini bisa terwujud dengan adanya teknologi digital yang dikembangkan oleh PT Multi Inti Digital berupa Perusahaan Inovasi Sistem Digital Transaksi Indonesia (SDTI). Teknologi Digital dari SDTI bisa menjadi solusi bagi koperasi untuk maju dan mempermudah pengeloa dan anggotanya mrlakukan pencatatan atas segala jenis transaksi yang terjadi. Teknologi Digital dapat memberikan kemudahan fasilitas bagi oara anggotanya dalam hal mengakses akun simpanan dan pinjaman yanh dimiliki dan melakukan transaksi atas simpanan maupun pinjaman mereka.

Produk inovatif yang dihadirkan SDTI adalah produk aplikasi mobile coopRASI yang bisa  menjadi transformasi digital bagi koperasi yang memudahkan anggotanya dapat melihat saldo simpanan, pinjaman, sisa hasil usaha melalui smartphone. Bahkan aplikasi mobile ini bisa memberikan kemudahan para anggotanya untuk melakukan transfer antaranggota koperasi. Dengan semua fitur fasilitas yang memudahkan ini pastinya akan mendukung perkembangan koperasi

Dengan produk cooperasi mobile application maka koperasi yang anda miliki dapat melakukan transformasi digital dimana para anggotanya dapat melihat saldo simpanan,pinjaman,sisa hasil usaha melalui smartphone. Dan tidak hanya itu melalui aplikasi mobile ini para anggota koperasi dapat diberikan kemudahan untuk melakukan transfer antar anggota koperasi.

Anggota koperasi tidak harus datang ke kantor koperasi untuk melakukan aktivitas dan transaksi di koperasi. Semua aktivitas bisa dilakukan dengan cara digital. Sudah bukan mimpi lagi, jika koperasi mampu bersaing di dunia digital dengan semua instrumen kelebihan yang dimilikinya dan tentunya bisa memberikan manfaat yang lebih besar untuk kemajuan ekonomi rakyat.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

9 Responses

  1. Ruli retno says:

    Sekarang semua serba praktis selama ada lembaga keuangan yg mengawasi aku rasa semua akan baik2 aja ya mbak. Koperasi bukan lagi hal yg jadul

  2. Susindra says:

    Bahagia rasanya hidup di zaman milenial dan semua dapat dilakukan secara daring. Dunia digital telah berkembang sedemikian pesat sehingga semua hal konvensional dapat didigitalkan dan dapat dilakukan secara daring. Termasuk koperasi. Ini inovatif. Saya jadi pengen ikutan

  3. Iya kalau mau terus eksis memang koperasi juga harus menyesuaikan diri dengan digitalisasi ya, Mbak. Enak lah kalau gak usah dateng ke kantor untuk semua kegiatan koperasi 🙂

  4. Marfa U says:

    aku pas harkopnas kemarin liat standnya cooPRASI dan tampilannya emang jauh banget dari anggapan-anggapan kuno koperasi, milenial bangetlah hihi. Emang ya, koperasi kudu bangkit dari inersianya dan segera digitaliasi serta kolaborasi 🙂

  5. Memang serba digital ya sekarang, bahkan koperasi pun sekarang harus mengikuti arus ini. Keren, biar nggak ketinggalan zaman dan tetap digunakan generasi apapun. 🙂

  6. Konsep koperasi yang digitalisasi ini sebenernya penting sih. Soalnya menurut aku, koperasi ini bagus banget. Tapi sayangnya aku gatahu apakah konsep ini udah diadaptasi biar ngikutin zaman atau belum hehehe. Mudah mudahan ada contoh nyatanya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *