Lapisan Sub-conscious dan Gelombang Otak Alpha-Theta dan Manfaatnya untuk Pendidikan Anak

Lapisan Sub-conscious dan Gelombang Otak Alpha-Theta dan Manfaatnya untuk Pendidikan Anak

Lapisan Sub-conscious dan Gelombang Otak Alpha-Theta dan Manfaatnya untuk Pendidikan Anak. Kenapa tiba-tiba saya menulis tentang lapisan sub-conscious dan gelombang otak alpha-theta?   Sebenarnya saya tidak  faham betul tentang hal tersebut, namun saya punya ketertarikan tersendiri mengenai lapisan sub-conscious atau sering juga dikenal dengan pikiran bawah   sadar. Hal tersebut dikarenakan peran saya sebagai ibu pada pendidikan anak.

Menurut ilmu psikologi, menusia memiliki dua lapisan pikiran yaitu yang pertama disebut “consious” dan kedua disebut “sub-consious”. Lapisan sub-consious merupakan lapisan yang jauh lebih dalam, lebih halus daripada lapisan consious. Lapisan sub-consious jauh lebih kuat daripada lapisan consious.  Rasio kekuatan antara lapisan consious dan sub-consious adalah 12 %  : 88 %.

Baca Juga: 20 Langkah Salah Mendidik Anak Bag. 1

Lapisan consious dan sub-consious dijembatani oleh sebuah area, yang disebut R.A.S (Reticular Activating System). Area ini memiliki fungsi sebagai filter. Saat sebuah informasi masuk ke lapisan consious (bisa berupa gambar, suara, tulisan atau wujud apa pun) dan masuk ke area R.A.S dan lolos tidak terkena filter. Informasi tersebut akan masuk ke lapisan sub-consious dan mengarahkan tindakan kita.

Jadi selama ini memang tindakan yang saya lakukan itu berdasarkan informasi yang diserap oleh lapisan sub-consious. Entah iu informasi yang baru maupun informasi lama yang sudah mengendap puluhan tahun silam. Oleh karenanya pengalaman masa kecil yang terkubur dalam lapisan sub-consious sebenarnya itu bisa menjadi alasan kenapa kita melakukan tindakan A, tindakan B, dan seterusnya.

Sebagai orangtua tentunya saya merasa pengetahuan ini penting. Apalagi saya seorang ibu yang memiliki dua balita. Apa jadinya jika saat ini saya menanamkan informasi keliru pada kedua buah hati saya, baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja. Informasi keliru tersebut sering secara refleks keluar dari mulut kita karena di lapisan sub-consious kita pun tertanam informasi tersebut  yang diturunkan oleh orangtua.

Baca Juga: 20 Langkah Salah Mendidik Anak Bag. 2

Misalnya:

Saat anak jatuh, secara refleks saya akan bilang, “Tuuuh khan kamu jatuh, Bunda bilag juga apa, blablabla…’ omelan panjang.

Padahal hal yang harusnya kita lakukan sebagai seorang ibu bukanlah menyalahkan tapi bertanya bagaimana keadaannya? Apakah merasa sakit? Kalau sakit diobati….

Namun, yang refleks keluar dari mulut adalah kata-kata menyalahkan. Hal tersebut begitu saja terucap dari mulut dan tertancap di memori anak.

Jangan salahkan anak jika menjadi pribadi yang suka menyalahkan karena memang  ternyata diajarkan oleh ibunya sendiri.

Hal-hal sepert itulah yang mungkin membuat saya tertarik dengan pembahasan lapisan sub-consious karena kepentingannya bagi saya sebagai seorang ibu yang sebaiknya menanamkan informasi tepat untuk anak-anak pada masa perkembangannya.

Baca Juga: Kebahagiaan Seorang Ibu Tatkala Anak Sehat dan Ceria

Namun seperti yang saya ungkapkan di atas bahwa secara tidak sengaja saya sendiri masih selalu refleks melakukan kekeliruan dalam memberikan informasi. Hal tersebut karena warisan informasi yang keliru yang saya dapatkan dulu. Saya ingin memutuskan hal tersebut namun saya mendapatkan kesulitan dan selalu lupa. Akhirnya saya merasa menyesal dan bersalah karena telah melakukan kekeliruan pada pendidikan anak. Lalu saya pun mendapatkan informasi bahwa saya bisa memperbaiki informasi yang sudah terekam di lapisan sub-consius pada saat gelombang Alpha-Theta. Pada keadaan gelombang Alpha-Theta, informasi dengan mudah menembus R.A.S dan masuk ke lapisan sub-conisious kita.

Gelombang Otak Manusia

BETA à 38 Hz à Muncul pada saat sadar penuh

ALPHA à 12 Hz à Saat akan tidur dan setelah bangun tidur, beribadah dengan khusyuk.

THETA à 8 Hz à Tidur bermimpi dan beribadah dengan tingkat khusyuk yang sangat dalam.

DHELTA à 0,5 Hz à Tidur lelap tanpa mimpi

Sebenarnya gelombang otak manusia itu banyak, ada gamma, epsilon, dll. Namun yang dibahas hanya empat gelombang yaitu beta, alpha, theta, dan dhelta. Pada gelombang  Alpha dan Theta, informasi akan mudah masuk ke lapisan sub-consious. Secara alamiah, gelombang otak alpha diakses saat menjelang tidur, dan beberapa saat setelah tidur.

Saya pernah diajari seorang psikolog yang melihat saya kesulitan mengarahkan Fathan. Dia bilang saat Fathan baru tidr beberapa saat, bisikkan kata-kata sugesti positif  kepadanya, misalnya.”Bunda sayang Fathan, Fathan sayang ya sama adik Fakhira,”.

Saat otak masuk ke dalam keadaan alpha, kita akan sangat rileks. Kita juga bisa sengaja membuat gelombang otak menjadi alpha dengan cara tertentu, misalnya mendengarkan musik relaksasi, atau diberikan sugesti-sugesti yang membuat kita rileks.

Sebelum tidur ada ritual berdoa.  Kemungkinan ritual ini memang tujuannya untuk mesugesti diri kita sendiri dalam keadaan otak alpha. Bangun tidur juga demikian. Sehingga sangat tidak direkomedasikan jika sedang mengantuk dan tiduran di kursi sambil menonton televisi. Hal itu karena tayangan yang ditonton saat kita tertidur bisa masuk menjadi informasi ke lapisan sub-consious kita. Kita tidka tahu apakah tayangan tersebut positif atau tidak. Pendidikan anak yang bisa saya lakukan saat ini pada saat kondisi otak anak dalam keadaan alpha adalah membacakan cerita kepada mereka saat menjelang tidur. Harapannya dalam lapisan sub-consious mereka tertanam nilai-nilai positif dari cerita yang saya bacakan.

Begitu juga ibadah shalat malam bagi seorang muslim dianjurkan tidur terlebih dahulu. Karena saat terbangun secara alamiah gelombang otak dalam keadaan alpha. Orang  yang sedang berpuasa pun kondisi otaknya dalam keadaan alpha.

Baca Juga: Merencanakan Masa Depan Anak

Kabar baiknya, informasi keliru yang sudah terlanjur tertanam di lapisan sub-consious dapat diubah, direvisi, bahkan dihapus dengan cara memasukkan informasi baru ke lapisan sub-consious kita. Misalnya dengan mengulang-ulang informasi yang ingin saya tanamkan ke lapisan sub-consious saya pada saat otak dalam keadaan alpha, yaitu saat menjelang tidur atau pada saat bangun 1/3 malam setelah shalat tahajud.

Saat ini saya sedang melakukan proses. Tujuannya agar saya bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi untuk anak-anak. Saya tidak mau menanamkan informasi yang keliru pada anak-anak karena saya tahu selama ini telah banyak melakukan kesalahan kepada mereka. Sebagai ibu tentunya saya ingin bisa memberikan pendidikan anak yang tepat.

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

52 Responses

  1. Fillyawie says:

    Bagus banget mbak infonya . Saya baru tahu kalau saat mau tidur kondisi otak alam keadaan alpha, ternyata bisa jadi saat terbaik untuk memotivasi dan memberikan stimulasi positive pada anak ya. Nice sharing .

  2. informasi baru buat saya nih teh, ternyata ada pengaruhnya juga ya untuk pendidikan anak, nuhun teh Rani informasinya.

  3. Aku baru tau teh ttg sub-consious, ternyata saat berada dibawah alam sadar, kita bisa memberikan informasi yg baru y pada otak.
    Mngkin pola ini bisa aku terapkan dikehidupan sehari-hari

  4. Annafi says:

    Terimakasih infonya mba, walaupun belum berkeluarga tapi informasi ini bermanfaat banget,

  5. Okti Li says:

    Ikut Ikut menyerap ilmunya Teh. Saya ikut belajar jadi ibu yang baik. Banyak yang kesindir nih saya, hahaha…

  6. Evi Fadliah says:

    Ehmmm.. Saya pun juga harus belajar banyak niy, sejauh ini sebisa mungkin tak menyebutkan kata “tidak” ke anak Mba. Nah, kalau ada yg share info seperti ini, jadi seneng dech ilmu saya bisa nambah. TFS Mba Rani

  7. Fenni Bungsu says:

    Dapat pengetahuan baru saya mengenai gelombang otak manusia, karena selama ini pahamnya bahwa ada otak besar, otak kecil, dan sumsum aja.

  8. Natara says:

    Ooo itu toh istilahnya. . Pas bgt buat dicoba ke anak anak dirumah… Makasih sharenya ya kak…

  9. Baca istilah tentang gelombang otak alpha-theta aku jadi inget pelajaran biologi dulu pas duduk di bangku sekolah.

    Eh ya.. Ilmu baru nih, ternyata gelombang otak manusia juga dipengaruhi oleh kondisi kita ya….

  10. terima kasih informasinya mbak. saya akan praktikan juga untuk belajar mensugesti anak dengan afirmasi positif. Menanamkan ulang hal-hal baik yang mungkin terlewati

  11. Pernah denger ini dari seorang dokter waktubtalksow, jadi katanya sering2 dah tuh kita berucap kebaikan saat anak tidur karena sama aja mensugesti gitu.

  12. Elly Nurul says:

    well note infonya ka, tanpa sadar melakukan hal yang kurang telat pada anak huhu dan kabar baiknya bisa diperbaiki ya ka dengan terus menerus melakukan pengulangan pada saat ya tepat, yuk ah be the best mom dengan selalu belajar setiap harinya

  13. Jadi memang memanfaatkan waktu waktu tertentu untuk menanamkan hal baik. Dengan pengulangan terus menerus dan diwaktu yang tepat maka anak akan menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan. Sungguh menarik sekali ini. Cuman waktunya harus sama ya moms?

  14. Hmmm sepertinya aku berdoanya belum khusyuk pas tahajud. Cenderung menuntSkan aja sih. Padahal gelombangnya lagi bagus2nya ya. Wah eman. Kuperbaiki deh

  15. Flo says:

    Masya Allah banget infonya mbak. Btw, teknik ini bisa dipakai juga ke orang dewasa juga kan?
    Untuk merevisi informasi yang keliru

  16. keninglebar says:

    Hooo…jadi agak mengerti saya waktu ada film dengan dialog, “Dia sudah masuk dalam kesadaran tingkat alpha!”

  17. Ohh,,,, alpha theta, agak dalem isi bahasannya mbak, perlu dibaca berulang-ulang dahulu sebelum paham. hahaha

  18. Duh iyaa, kadang suka keceplosan tuh kalo liat anak jatuh atau luka, yang keluar pertama adalah omelan, bukannya langsung mennagani luka si anak 😀
    Thanks infonya ya mbak, jadi dapat pengetahuan baru lagi nih di sini.

  19. Jiah says:

    Sekarang aku juga belajar buat ngomong positif dan tidak nakuti anak2. Ya itu, biar kita gak suka nyalahin kalau terjadi sesuatu. Dan kalau bohong sama anak tuh dibawa sampai gedhe. Aku ngalami itu

  20. ZILQIAH says:

    tiap ibu harus paham hal hal beginian juga ya bund
    saya juga pengen berproses biar makin gede anak makin bisa menyaring informasi benar dan salah

  21. rizka edmanda says:

    makasi banyak sharing nya mba rani saya jadi terfikir kalau bener banget biasanyaa sebelum tidur saya main hp dan scrolling instagram kalau pas liat postingan yang negatif biasanya kebawa mimpi dan mempengaruhi mood saya keesokan hari mulai skarng sy akan lebih hati hati di jam jam krusiak seperti jam sebelum tidur, tengah malam dan bangun tidur deh khawatir nanti sugesti negatif pula yang masuk

  22. Yoanna Fayza says:

    Setiap mau tidur malam selalu berusaha baca buku cerita dan kruntelan sama anak2, becanda ringan dg harapan kehangatan kami itu yg tertanam di bawah sadar anak2 🙂

  23. Saya jadi ingat saat psikolog bilang ketika proses hipnotis itu, kondisi otak berada pada gelombang khusus. Kalo ga salah alpha sehingga kita bisa memberikan dokrin atau apapun . Tapi teryata memang bisa dipraktekkan dalam pola asuh anak ya. Terima kasih infonya ya mb

  24. Mechta says:

    Wah ternyata rumit juga gelombang otak kita ya mba… Jd wawasan baru nih.. TFS mba..

  25. Echi mustika says:

    Saya bacanya agak jelimet mba banyak kata yang nggak ngerti, tapi dibantu google wah paham banget, infonya bermanfaat banget mba terima kasih

  26. Subhanallah.
    Aku banyak belajar lagi hari ini lewat BW.
    Jujur aku sama sekali buta tentang lapisan pikiran ini.
    Mba Rani, you rock!

    Aku juga jadi ingat beberapa adegan film di mana seseorang sering berbisik hal-hal baik kepada pasangan atau buah hati saat menjelang tidur atau bahkan ketika sudah tidur, ternyata itu bersumber dari pemahaman lapisan pikiran seperti di jelaskan atas ya, mba.

  27. indah nuria says:

    Thanks mba..subconsciously kita juga kerap memberi contoh yang tidak baik untuk anak ya. Tapi dengan banyak belajar dan membaca seperti ini semoga kita bisa menjadi orang tua yang lebih baik

  28. Eni Martini says:

    Makasih sharingnya MB, kadang kita menuntut anak lebih baik tapi kita lupa ya kasih contoh nyata. Jadi jleb nih buatku

  29. Juli says:

    Yes mbak. Aku setuju. Aku juga memakai cara ini. Ini tuh “omelan” produktif bagi aku.

  30. Eka Mustika says:

    Ada aku baca ibu yang selalu bacain anaknya juz 30 sebelum tidur akhirnya anaknya hafal sendiri. Mungkin krn dibacakan pas gelombang alpha kali ya

  31. lendyagasshi says:

    Haturnuhun teh Rany.
    Kalau pakai teori NLP atau neuro-parenting, ini memang yang jadi kunci.
    Bahkan kita bisa mrasakan badan sakit, lelah, ngantuk, dll pun atas perintah otak.

    Tapi kinerja otak ini harus spenuhnya dilatih menggunakan pembiasaan.
    Dan pembiasaan ini berarti memutus wiring dari orangtua kita.

    Ini niih…yang masih jadi PR.
    Memutus wiring dan menyembuhkan inner-child.

    Aku lebih memilih ke pendekatan melalui agama, teh..
    Tazkiyatun nafs.
    Lalu yang lainnya mengikuti….in syaa Allah.

  32. Siti hairul says:

    Aku kaadang tanpa sadar nyeletuk aja kalau anakku melakukan sesuatu yg ga pas, hika

  33. Diah says:

    Saya jg masih sering ini Mbak, ngomel klo anak berbuat salah huhuh, refleks gitu. Padahal salah, PR banget ini.
    Sebelum tidur biasanya saya ajak baca buku sebelum ajak baca doa tidur, daripada dia merengek nonton HP mulu. Tapi klo emaknya udah ngantuk banget bujuk dia lain kali aja ya, sekarang baca doa trus bobo. Hihihih.
    Masih PR banget ini dalam ngurusin anak2.
    Makasih sharingnya ya Mbak 🙂

  34. Rahmah says:

    Terus berikan yang terbaik buat anak, Mbak.
    Saya pun belajar dari artikel ini. Semangat.

  35. Parenting jaman sekarang hebat2 yaaa, jaman saya kecil apa mama saya belajar kayak begini jg ya.

  36. Wah, bacanya keknya berat gitu ya bahasannya. Ternyata sub-conscious itu alam bawah sadar toh XD

  37. Lidya says:

    Duh aku juga kadang masih suka bikin kesalahan nih. Untungnya banyak sharing2 kaya gini jadi kaya diingatkan lagi

  38. Heni Puspita says:

    Reminder buat saya nih untuk rajin kasi motivasi positif u anak menjelang tidur

  39. Wah keren nih pagi2 bahasannya makjleb. Betul banget, harus diperbaiki nih kesalahan parenting yg dulu meskipun udah tertanam di otak.

  40. Tuty Queen says:

    Wah jadi nambah wawasan nih aku baru tahu tentang sub conscious jadinya..

  41. Wah aku baru tahu nih. Sebagai ibu jadi harus nahan emosi, harus memperhatikan keadaan anak ya. Praktek ah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *