Makanan Ramah Iklim untuk Mengatasi Krisis Lingkungan

Apa Itu Makanan Ramah Iklim?

Tanpa terasa pandemi covid 19 sudah berjalan selama satu tahun lebih. Selama masa pandemi ini, terjadi perubahan besar dalam kehidupan umat manusia umumnya. Pada awal-awal pandemi, pemerintah memberikan kebijakan kepada masyarakat untuk melakukan PSBB atau sekarang sudah diganti dengan istilah PPKM. Kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan aktivitas masyarakat. Dihimbau, masyarakat untuk melakukan kegiatan di rumah, seperti bekerja dari rumah, belajar dari rumah atau dikenal dengan istilah pembelajaran jarak jauh.

Kebijakan pemerintah kepada masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dan melakukan pembatasan aktivitas membuat perubahan pola hidup manusia. Setiap negara membuat kebijakan yang berbeda untuk bisa menanggulangi krisis yang terjadi akibat pandemi. Tidak hanya krisis kesehatan yang banyak mengambil korban jiwa, juga terjadi krisis ekonomi. Begitu pun dengan pemerintah Indonesia yang melakukan upaya-upaya penanggulangan krisis.

Salah satu hal yang menjadi sorotan dunia internasional maupun pemerintah Indonesia adalah terjadinya perubahan iklim yang mesti ditangani segera. Perubahan iklim tersebut tentunya membuat banyak negara yang mulai memikirkan beragam upaya untuk membuat kebijakan yang lebih ramah iklim, seperti penggunaan energi terbarukan untuk menggantik energi dari fosil yang selama ini menjadi tersangka utama dalam pencemaran iklim. Tidak ketinggalan, di bidang pangan pun diupayakan untuk mulai mengubah pola perilaku masyarakat untuk mengolah dan mengonsumsi makanan yang ramah iklim.

Pola konsumsi masyarakat zaman sekarang memang sudah berubah. Makanan instan dan pengemasan makanan instan disinyalir dapat berpengaruh pada perubahan iklim. Kemasan makanan seperti plastik dan stereofoam memang tidak bisa didaur ulang, dan tidak bisa dihancurkan oleh bumi. Selain itu, beragam makanan zaman sekarang yang bahan makanannya diolah secara instan juga berpengaruh pada kesehatan manusia dan berpengaruh pada perubahan iklim.

Saya baru menyadari hal tersebut setelah mengikuti acara Talkshow Makanan Ramah Iklim dan Peluncuran E-Book  yang diadakan pada hari Minggu 14 Februari 2021 pukul 14.00-16.00 WIB, dengan para narsumber yang memiliki pengalaman di bidang kuliner, seperti Ibu Amanda Katili (Climate Reality Indonesia), William Wongso (Chef, Pakar Kuliner), Zahra Khan, Pelaku UMKM dan Penulis, Nicky Ria Azizman (Ketua Sobat Budaya), Ihsan Averroes Wumu (Olamita Resto) Pengusaha Makanan Gorontalo di Jakarta. Hadir juga Sektretaris Omar Niode, Terzian Ayuba Niode, dan Host: Noni Zara.

Dalam sambutannya, Terzian menjelaskan bahwa sistem pangan berkontribusi besar terhadap krisis iklim. Sistem pangan saat ini menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan menyebabkan sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim. Beliau menuturkan bahwa pengurangan konsumsi daging serta makanan yang diproses berubah dan mengarah pada makanan berbasis nabati membuat makanan lebih ramah iklim.

Menurut Terzian, Indonesia kaya dengan beragam makanan tradisional yang memiliki cita rasa yang unik dan menarik, serta diolah dengan cara yang lebih ramah iklim.

Makanan Sebagai Solusi Menanggulangi Perubahan Iklim

Ibu Amanda menjelaskan bahwa pangan dari hulu ke hilir itu menjadi salah satu penyebab krisis iklim yang sedang terjadi sekarang. Dampaknya berbagai bencana yang kita lihat akhir-akhir ini. Akan tetapi pangan juga menjadi solusi pada krisis saat ini. Bagaimana kita memproduksi makan bisa berpengaruh pada krisis iklim. Di Indonesia, selama tahun 2021 terdapat 2900an bencana, seperti bencana banjir, kekeringan, dan angin puting beliung yang diakibatkan produksi pangan, distribusi pangan, penebangan hutan dan pembakaran hutan untuk membuka ladang dan perkebunan.

Narasumber selanjutnya Nicky Ria yang menjelaskan tentang kekerabatan makanan. Sebagai periset, beliau memaparkan pemetaan makanan yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Menurut beliau, kekerabatan dari satu kuliner ke kuliner lainnya  saling berkait satu sama lain. Satu jenis makanan saja memiliki banyak kekerabatan, contohnya rasa pedas masakan Padang berbeda dengan masakan pedas di Aceh, padahal masih dalam satu pulau. Pastinya rasa pedasnya jauh berbeda dengan daerah yang berbeda pulau, seperti Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, dan pulau lainnya. Rasa pedasnya itu berbeda namun memiliki kekerabatan yang sangat erat.

Aneka Ragam Makanan Lokal Sebagai Makanan Ramah Iklim

Acara Talkshow semakin menarik saat Om William Wongso menjelaskan dan memamerkan beragam makanan tradisional yang ditata begitu cantik, sehingga sayang sekali untuk disuapkan ke mulut tapi lapar mata. Sepanjang acara talkshow, saya merasa dimanjakan dengan beragam foto makanan yang begitu cantik, saya pun jadi mendapat pengetahuan tentang makanan tradisional seperti sup kenikir, asinan Jakarta dengan Kepiting Soka, Gowu atau Lobster ala Maluku dengan paduan Anggur Laut.

Dari acara talkshow ini, saya mendapat banyak insight mengenai betapa pentingnya kita mengikuti pola makan ramah iklim. Perubahan kecil yang kita lakukan bisa berdampak besar pada lingkungan. Memilih jenis pangan lokal yang bisa menaikkan taraf hidup para petani, memilih pangan nabati daripada hewani, juga memilih pangan yang ada di sekitar kita. Begitu pun dalam proses pengolahan makanan yang lebih memanfaatkan alat-alat memasak yang ramah lingkungan. Untuk ketahanan pangan, setiap keluarga bisa mulai menanam sayuran di halaman rumah dengan menggunakan pot-pot. Agar lebih beragam, sebaiknya kita juga memilih sayuran dan buah-buahan lokal yang diproduksi oleh petani yang ada di sekitar kita sehingga mengurangi gas emisi yang diakibatkan oleh sistem distribusi pangan. Selain itu, para petani lokal akan meningkatkan produksi pangannya karena adanya permintaan dari masyarakat sekitar.

Jangan khawatir kita akan kehabisan ide dalam pengolahan makanan karena saat ini semakin banyak info-info kuliner yang lebih ramah iklim yang bisa akses, salah satunya ebook berjudul Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo karya Amanda Katili Niode dari Climate Reality Indonesia bersama Ahli Teknologi Pangan, Zahra Khan. Kita juga bisa mulai menggali resep makanan tradisional dengan bahan makanan yang mudah diperoleh dan ada di sekitar kita.

Menu Masakan Lokal di Rumah

Saya sendiri memang lebih suka menyajikan masakan lokal untuk sajian pangan keluarga. Salah satu masakan lokal yang menjadi andalan saya adalah urap sayuran. Bahan-bahannya sayuran yang mudah saya temukan di halaman ruman, seperti daun beluntas, kembang turi, daun randan midang atau saya menyebutnya daun lamidang. Saya baru tahu ternyata daun lamidang ini ternyata kaya dengan manfaat seperti bisa untuk mengobati maag, obat lemah jantung, dan bahkan obat kanker. Om William Wongso bahkan membuat hidangan lezat dari daun randa midang atau beliau menyebutnya kenikir.

Selain itu, untuk kudapan anak-anak, saya sangat suka membuat keripik daun bayam. Tanaman bayam cukup mudah ditanam di halaman rumah dan setelah daunnya dipetik biasanya muncul daun-daun baru lebih banyak. Kudapan lainnya yang disuka anak-anak dalah olahan singkong seperti kolak singkong, combro dan misro yang bahan utamanya dari singkong. Pastinya masih banyak masakan lokal yang bisa saya sajikan di rumah dan masakan itu ramah iklim.

Saya senang sekali bisa mengikuti acara talkshow ini karena mendapat banyak pengetahuan mengenai makanan ramah iklim. Ternyata makanan yang kita sajikan di rumah bisa membantu melakukan perbaikan iklim di masa depan. Bahkan, saya mendapat ebook Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo, karya Amanda Katili dan Zahra Khan. Pastinya memperkaya wawasan saya dalam dunia kuliner.

Kenalan dengan Omar Niode Foundation

Dalam acara talkshow ini saya juga jadi berkenalan dengan Omar Niode Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, citra budaya, dan kuliner nusantara, khususnya Gorontalo, meluncurkan ebook berjudul Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo karya Amanda Katili Niode dari Climate Reality Indonesia bersama Ahli Teknologi Pangan, Zahra Khan.Omar Niode Foundation sudah menerbitkan 15 judul buku, di antaranya Traiiling the Taste of Gorontalo yang meraih Gourmand World Cookboook Award, Best of the Best 1995-220 Kategori Food Heritage dan menjadi contributor Bab Indonesia pada buku At the Table, Food and Family around the World, yang juga memperoleh Gourmand Award.

Omar Niode Foundation aktif melakukan banyak kegiatan yang terkait dengan dunia kuliner dan bekerja sama dengan banyak organisasi dan individu baik dari dalam dan luar negeri. Omar Niode Foundation aktif dalam organisasi Food Bloggers Nasional maupun Internasional, juga di Future Food Institute, Indonesia Bergizi, Jamie Oliver Food Revolutiion Day, Show Food International, dan World Food Travel Association.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *