Makin Cinta dengan Produk Keuangan Syariah

Aku dan produk syariah: tabungan dan tabungan pensiun

Aku dan produk syariah: tabungan dan tabungan pensiun

“Heey, dari mana? Nggak ngantor?” Sapa Tante Riri, tetangga depan rumah.
“Eh, Tante Riri. Ke kantor kok, Tan, ini mampir dulu ke Bank Syariah, ada yang perlu diurusin,” jawabku santai.
“Oh gitu, kamu nggak kapok urusan dengan Bank Syariah?” tanya Tante Riri tajam.
“Oh kenapa harus kapok Tante?” tanyaku bingung.
“Iyah, kalau Tante udah males urusan sama Bank Syariah. Pelayanannya kurang profesional, lambat, terus mesin ATM-nya susah dicari. Makanya, males deh buka rekening lagi di Bank Syariah,”
“Oh gitu ya Tante. Kalau saya gaji bulanan memang lewat Bank Syariah. Awal-awal sih memang gitu, saya sempat kecewa juga dengan pelayanannya, tapi sekarang sudah banyak perbaikan kok. Mesin ATM-nya sudah banyak di mana-mana, mau transaksi debet juga mudah, kok,”jawabku jujur.
“Iyah, sih Tante lihat sekarang mesin ATM-nya udah mulai banyak. Tapi, Tante trauma tuh, uang tante pernah kedebet tapi uangnya nggak keluar, ngurusinnya lama banget, banyak prosedur. Sebel, pokoknya,” timpal Tante Riri lagi.
“Iya, tapi uangnya kembali khan, Tan?” tanyaku.
“Iya sih kembali, tapi prosedurnya lama banget,” keluhnya.
“Iyah sih Tante, tapi kalau saya merasa lebih aman memakai Produk Keuangan Syariah dan melakukan transakasi melalui Bank Syariah. Malahan sekarang saya ikut asuransi syariah. Tadinya, saya malas ikut asuransi karena saya anggap cuma menguntungkan agen asuransi dan investasinya nggak jelas halal-haramnya. Tapi, setelah ada produk asuransi syariah, saya jadi mau ikut asuransi karena tujuan asuransi memang untuk proteksi saya dan keluarga. Produk asuransi syariah ini membuat saya lebih merasa aman karena ketenangan secara batin karena dana dikelola secara syariah,” jelasku panjang lebar.
“Heum, iya, sih, betul juga pendapat kamu,” ucap Tante Riri sambil mengangguk-angguk kepalanya.
“Lagipula, sebagai seorang muslim, alangkah baiknya lho kita mendorong perekonomian melalui syariah. Sistem yang kurang bagus pelan-pelan diperbaiki dan terus menuju perbaikan. Tinggal bagaimana sebagai seorang muslim kita mendukungnya dengan cara selalu memakai produk keuangan syariah,” ucapku lagi.
“Betul juga ya,” ucap Tante Riri.
“Oh iya Tante, saya mau ke kantor lagi. Nanti kita sambung lagi ya obrolannya,” pamitku segera karena jam menunjukkan waktunya aku segera kembali ke kantor.

***
Alhamdulillah, saya bersyukur selama ini sudah menggunakan produk keuangan syariah. Memang sih, pada awalnya saya menggunakan produk keuangan syariah karena memang perusahaan tempat saya bekerja sangat istiqomah menjalankan bisnis secara syariah sehingga kami para karyawan pun ikut istiqomah menggunakan produk syariah.
Seperti yang dikeluhkan oleh Tante Riri tadi, saya pun pernah mengalami kekecewaan saat menggunakan produk syariah. Kekecewaan yang hampir sama dengan yang dirasakan Tante Riri. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya merasakan banyak perbaikan sistem dan pelayanan produk keuangan Bank Syariah. Produk-produk dan fitur-fitur fasilitas pun makin beragam. Yuk, mari kita telusuri sejarah hadirnya Bank Syariah di Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran bank syariah yang pertama kali di Indonesia dipelopori oleh berdirinya Bank Muamalat. Bank inilah juga yang sekarang saya gunakan untuk transaksi sehari-hari. Bank Muamalat yang merupakan buah kerja tim perbankan MUI ini sudah lahir sejak tahun 1991 dan beroperasi setahun kemudian. (sumber : http://tipsserbaserbi.blogspot.com/2014/03/sejarah-bank-syariah-di-indonesia.html)
Sebenarnya apa sih fungsi Bank itu sebenarnya?
Sebenarnya fungsi Bank itu ada 3 yaitu untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan memberikan jasa pengiriman.Pada perkembangannya, Bank memiliki sistem pelayanan yang lebih banyak, di antaranya bisa menerima deposito, menyalurkan dana, dan melakukan transfer dana.
Apakah Bank sudah ada sejak zaman Rasulullah?
Ya, sejak zaman Rasulullah sudah ada praktek-praktek keuangan yang mirip dengan Bank. Pada zaman Rasulullah sudah ada praktek menitipkan harta, menitipkan harta untuk keperluan konsumsi dan bisnis, serta praktek pengiriman uang. Contohnya yaitu saat Rasulullah menerima simpanan harta dari para sahabat. Lalu Zubair bin Awwam yang memilih tidak menerima titipan harta tapi lebih suka menerima dalam bentuk pinjaman. Pada zaman Nabi pun sudah ada praktek penggunaan cek yang dicontohkan oleh Umar Bin Khattab yang menggunakan cek untuk membayar kepada mereka yang berhak. Dengan menggunakan cek, mereka mengambil gandum di Baitul Mal yang ketika itu diimpor dari Mesir. Khalifah Umar juga menginvestasikan uang anak yatim kepada para saudagar yang berdagang di jalur perdagangan antara Madinah dan Irak. Kemitraan bisnis berdasarkan sistem bagi hasil sederhana.
Nah, praktek-praktek penitipan seperti inilah yang merupakan cikal bakal Bank Syariah. Praktek penitipan ini dikenal juga dengan istilah Wadi’ah berasal dari kata wada’a yang artinya meninggalkan atau menitipkan. Secara terminology, wadi’ah bisa berarti sebagai titipan murni dri satu pihak ke pihak lain, baik secara perorangan maupun organisasi berbadan hukum, titipan tersebut harus dijaga dan dikembalikan saat si penitip menghendakinya. (sumber: ttps://ayieffathurrahman.wordpress.com/2011/06/03/telaah-terhadap-praktek-akad-wadi’ah-di-perbankan-syariah/)
Adapun akad wadi’ah sendiri terdiri atas beberapa jenis di antaranya yang pertama adalah wadiah yad amanah yang merupakan penitipan berupa uang/barang yang bentuk prakteknya si penerima titipan tidak dperbolehkan untuk menggunakan titipan tersebut. Si penerima titipan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan uang atau barang titipan yang bukan dikarenakan kelalaian si penerima titipan. Kedia adalah wadiah yad dhamanah yang artinya bentuk penitipan barang atau uang dengan akada si penerima titipan dapat menggunakan uang atau barang yang dititipkan baik seizing ataupun tidak si penitip barang atau uang. Si penerima titipan harus bertanggung jawab atas kerusakan atau hilangnya barang titipan tersebut. (sumber: ttps://ayieffathurrahman.wordpress.com/2011/06/03/telaah-terhadap-praktek-akad-wadi’ah-di-perbankan-syariah/)
Setelah mencari-cari informasi dan mendapat penjelasan yang lengkap mengenai konsep Bank Syariah, saya menjadi lebih yakin dalam menggunakan produk keuangan syariah. Seperti saya ceritakan pada Tante Riri di atas, sekarang saya tidak hanya menggunakan produk keuangan syariah berupa simpanan atau tabungan biasa, saya juga sudah menggunakan produk keuangan syariah berupa asuransi syariah, dan tabungan pensiun syarah. Kenapa saya memilih asuransi syariah? Karena secara batin saya merasa lebih tenang bahwa dana yang saya setorkan untuk dihimpun diinvestasikan oleh pihak pengelola dengan cara syariah. Akad antara saya dan pihak pengelola pun secara syariah sehingga terhindar dari praktek riba. Sebagai seorang muslim, saya ingin perlahan-lahan menjauhi praktek-praktek riba yang dilarang oleh Allah SWT. Bank Syariah dan penglola syariah sudah memberikan fasilitas syariah dengan dengan segala fitur keuangan yang modern sehingga tidak kalah dengan Bank Konvesional pada umumnya.
***

Produk tabungan haji dari Bank Syariah

Produk tabungan haji dari Bank Syariah

Sore itu, saya sedang merapikan halaman depan. Tampak Tante Riri dengan wajah ceria masuk ke halaman rumah.
“Assalamualaikum,” sapanya ramah.
“Waalaikum salam, Tante, mari masuk,” sambutku.
“Eh, Ran, sejak hari itu Tante mikirin kata-katamu tentang produk keuangan syariah. Lalu, Tante cobain lagi buka rekening di Bank Syariah. Bener kata kamu, sekarang pelayanannya bagus banget, cepat, dan memuaskan,” ucap Tante Riri dengan wajah berbinar.
“Wah, alhamdulullah, saya ikut senang, Tante.”
“Oh iya, Tante juga buka tabungan haji, lho. Insya Allah, dengan tabungan haji ini, cita-cita Tante untuk bisa menjadi tamu Allah akan terwujud,” ucap Tante Riri lagi.
“Waah, berita bagus, Tante. Saya beneran ikut senang,” ucapku sambil menggenggam tangannya.

Alhamdulillah, produk keuangan syariah sudah memberikan fasilitas kepada kami untuk mewujudkan berbagai cita-cita kami dan keluarga. Makin cinta deh dengan produk keuangan syariah.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

11 Responses

  1. kania says:

    saya pake BSM 🙂

  2. ummi says:

    bermaafaat sekali ya rani.. makin PD, met ngontes..

  3. Ceritaeka says:

    Aku belom ikut yang asuransi atau tabungan syariah.. Tapi kalo resakdana ada yang syariah 🙂
    Sukses mak

  4. Hai Irly, coba buka lagi yuk, sekarang pelayanannya udah mulai membaik, kok

  5. Ibrahim Aji says:

    Keren artikelnya, kalo ada orang Muamalat liat artikel ini, pasti bangga…:D

  6. mas aji says:

    Smoga ke depannya jasa keuangan syariah di Indonesia semakin bermanfaat dan lebih baik lagi melayani umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *