Mencintai Sepatu, Menjadi Salah Satu Cara Mencintai Diri Sendiri

Mencintai Sepatu, Menjadi Salah Satu Cara Mencintai Diri Sendiri

Mencintai Sepatu, Menjadi Salah Satu Cara Mencintai Diri Sendiri. Itu yang saya rasakan sekarang mengingat pernah mengalami pengalaman kurang mengenakkan tentang sepatu. Masih tergambar jelas peristiwa puluhan tahun lalu, dan terngiang ucapan yang melemahkan persepsi saya terhadap sepatu.

“Sepatu cuma buat kaki, buat apa mahal-mahal, khan buat diinjek.” Masih terngiang kalimat seseorang tentang sepatu alias alas kaki. Kalimat tersebut ditujukan pada bapak yang akan membelikan saya sepatu baru. Sepatu lama sudah usang sehingga bapak pun berinisiatif membelikan sepasang sepatu yang lebih menawan untuk pergi ke sekolah. Saya tahu, bapak hanya seorang pegawai negeri yang gajinya tipis tentunya tidak akan mampu membelikan saya sepasang sepatu yang mahal. Namun pastinya bapak tidak tega melihat anak sulungnya memakai sepatu usang yang jika dipakai saat hari hujan, kaki terasa basah.

Sebagai seorang anak, tentunya hati ini begitu gembira saat dibawa ke sebuah toko sepatu. Rasanya dada ini mau pecah saking gembiranya. Angan-angan sudah melayang dan berharap keesokan harinya akan menjelma menjadi seorang putri begitu memakai sepatu baru. Lalu, angan-angan itu terhempas begitu mendengar saran dari seseorang kenalan bapak yang kebetulan berpapasan di toko sepatu.

Bapak seorang yang bersikap demokratis. Bapak akan menawarkan saya beberapa pilihan dan membiarkan saya memilih sepatu yang suka. Tentunya jika harganya diluar budget, saya akan diberi pilihan lain. Namun, mendengar bisikan tersebut, tiba-tiba bapak membawa saya keluar dari toko sepatu incaran dan mengajak saya ke toko sepatu lain yang tentunya harganya jauh lebih murah dan pilihan modelnya terbatas. Harapan dan angan-angan saya langsung terhempas. Saya patah hati. Tidak ada lagi binar kecerian di mata saya yang ada hanya kekecewaan karena tidak jadi memiliki sepatu impian.

Saya tidak menyalahkan bapak yang tidak jadi membelikan sepatu impian saya. Saya pun memaklumi pilihan bapak tidak jadi membelikan sepatu sesuai keinginan. Tentu saja di sela gaji pns yang minim, bapak harus berpikir realistis. Jika ada harga sepatu yang jauh lebih murah khan sisa uangnya bisa dibelikan kebutuhan yang lain. Daripada hanya untuk membeli sepasang sepatu.

Tanpa sadar, kekecewaan saya tersebut mungkin membekas sampai dewasa. Hingga saya menjelma menjadi seseorang yang kurang menghargai sepatu. Bagi saya, sepatu hanyalah alas kaki. Mau mahal atau murah, sama saja, toh untuk diinjak. Sehingga saya sering kurang memperhatikan sepatu. Saya menjadi seseorang yang asal dalam memilih sepatu. Asal kaki ini beralas dan tidak nyeker. Asal jari-jari kaki yang segede jahe ini tertutup dan tidak terlihat.  Saya pun menjadi pribadi yang kurang menghargai sepatu. Sepatu mahal atau pun murah biar saja, sama-sama diinjak, sehingga saya kurang merawat sepatu. Sepatu bukanlah fashion. Sepatu bukanlah kebanggaan. Sepatu hanya alas kaki. Titik.

Jadi bukan cerita aneh jika saya punya sepatu yang hanya tahan paling lama tiga bulan. Kalau kata orang Sunda  kakinya  jabrah alias suka merusak sepatu. Sehingga saya jarang memikirkan apakah sepatu itu harus nyaman di kaki, apakah sepatu itu harus sesuai dengan kondisi, apakah sepatu itu harus terlihat cantik. Saya tidak peduli. Sepatu adalah alas kaki. Oh saya, sungguh tidak adil terhadap kaki ini. Kenapa saya memandang rendah kaki ini. Padahal, kaki inilah yang sudah membawa saya ke tempat-tempat penting untuk mendapatkan ilmu. Padahal kaki inilah yang sudah membawa saya ke negeri jauh untuk melihat dan mendapat pengalaman baru. Padahal kaki ini yang sudah membawa saya menghadiri acara penting sehingga saya tampak berarti.

Sikap tidak adil saya terhadap kaki kurang lebih didasari oleh kekecewaan yang mengendap saat kecil. Kekecewaan yang tidak terucapkan dan terpendam dalam diam. Tanpa sadar menjadikan saya sosok yang kurang menghargai diri sendiri. Ya, akhirnya saya tersadar bahwa kaki adalah bagian diri saya sendiri dan saya patut mengapresiasinya dengan baik. Kaki saya layak mendapatkan yang terbaik. Yang terbaik itu tidak harus mahal tapi nyaman, pas, dan sesuai dengan kaki saya.

Saat berjalan di mal, mata saya selalu melirik alas kaki yang berharga mahal. Namun saya diam karena saya tahu, saya kurang menghargainya. Bagaimana nasibnya nanti jika sudah jadi milik saya. Apakah nasibnya akan sama dengan sepatu-sepatu yang saya miliki sebelumnya yang hanya jadi sarang tikus karena tidak terurus. Atau hanya memenuhi rak dengan kotoran dan debu hingga akhirnya dibuang. Oh sepatu, begitu jahatnya diriku.

Tanpa sadar, saya sudah menyia-nyiakan puluhan pasang sepatu yang pernah menjadi milik saya. Saya pernah menelantarkan mereka sehingga hanya menjadi seonggok benda tidak berharga. Saya ingat betul pernah membeli sepatu karena sedang diskon tapi saya tidak sekali pun memakainya. Saya geletakkan begitu saja di rak sepatu. Setelah beberapa tahun saya baru ngeh memiliki sepatu itu. Sayangnya  sudah tidak bisa dipakai karena kekejaman saya kepadanya.

Memang benar, sepasang sepatu bisa membawa pemakainya ke negeri yang jauh. Itu pula yang saya alami beberapa tahun lalu. Saat berkesempatan menghadiri konferensi penulis buku cerita anak di Singapura, saya ke sana dengan menggunakan sepatu olahraga. Ya, sepatu olahraga dengan setelan pakaian resmi.Untung tidak ada yang ngeh. Hahaha…alasannya, karena saya hanya punya satu sepatu itu.Untungnya sepatu itu sangat membantu saya saat harus keliling Singapura. Sepatu olahraga sangat menolong saat saya harus berjalan jauh. Lumayan kaki tidak terlalu pegal dan tidak lecet juga.

Berkaca dari pengalaman tersebut, saya tersadar bahwa saya sebaiknya lebih menghargai diri saya dan semua bagiannya, termasuk kaki. Ya, sedikitnya saya jadi mencari tahu lebih banyak tentang sepatu agar saya bisa pergi ke tempat yang menarik dengan sepatu yang tepat. Akhirnya saya jadi tahu jenis-jenis sepatu perempuan dan ada beberapa yang saya punya dan ada yang tidak dengan berbagai alasan. Ini dia beberapa jenis sepatu yang saya tahu tapi tidak semua saya punya.

Pump Shoes

Lucu ya, namanya pump shoes. Sepatu ini memang bagian depannya bulat seperto labu makanya disebut pump shoes. Pump shoes memiliki model yang sederhana dan tanpa hak. Pump shoes juga dikenal dengan sebutan sepatu balet. Sepatu jenis ini bisa digunakan ke acara resmi dan acara santai tergantung bahannya.Untuk acara resmi,biasanya sepatu jenis ini menggunakan bahan satin atau velvet dengan hiasan pita atau batu-batuan. Sementara untuk acara santai, sepatu jenis ini biasanya berbahan plastik. Model sepatu pump shoes dari bahan plastik saya punya, hehehe..lumayan buat pergi ke warung.

pump shoes

Pumpshoes dengan hak setinggi ini, angkat tangan, deh

Angkle Strap

Nah, kalau mau ke acara resmi,coba deh pakai sepatu jenis ini, cocok banget. Sepatu jenis ini memiliki bagian depan yang terbuka dn tali di bagian mata kaki. Model sepatu ini cocok dipadankan dengan rok atau celana panjang. Model begini saya enggak punya, hahaha..maklum si kaki mudah pegal kalau pakai sepatu yang haknya tinggi.Lagipula kurang suka dengan sepatu dengan bagian depannya terbuka, malu sama kuku jempol kaki yang segede gaban.

kalau kakinya kece pastinya cantik banget pake sepatu model begini

kalau kakinya kece pastinya cantik banget pake sepatu model begini

 

Slingback Shoes

Model sepatu ini perpaduan antara pump dan mole. Bagian depannya tertutup tapi memiliki kaki pengikat di bagian belakang kaki. Sepatu ini juga dikenal sebagai sepatu sandal. Kalau pakai sepatu model begini memberi kesan feminin. Sayangnya, sisi feminim saya agak kurang jadi sering skip deh kalau liat sepatu model begini. Haknya itu lho, enggak tahan.

haknya, wow, keren

haknya, wow, keren

Boot

Entah kenapa saya selalu ngiler dengan sepatu model boot. Entah karena modelnya yang tertutup atau gimana ya. Saya punya tiga sepatu model boot. Salah satunya angkle boot.Untuk sepatu angkle boot jarang saya pakai karena haknya lumayan tinggi. Bikin kaki pegel dan pastinya enggak bisa gendong bocil.

Sepatu boot model docmart kesukaan berwarna merah

Sepatu boot model docmart kesukaan berwarna merah

sepatu model boot warna hitam kesayangan

tampil seru dengan sepatu model boot warna hitam kesayangan

Stiletto

Jujur, saya tidak pernah melirik sepatu model begini. Hahaha … itu lho, haknya menjulang tinggi. Sekalinya pernah pakai punya adik ipar, terjerembab beberapa kali. Yo wess, bukan jodoh. Sepatu stiletto memang keren banget kalau dipakai ke acara resmi, memiliki bagian depan yang lancip dengan sol tipis dan tumit yang tinggi. Kalau pakai sepatu model begini dijamin nambah cantik 50%,badan terlihat lebih tinggi dan jenjang. Risikonya, encok di pinggang. Hahaha …

si cantik stiletto shoes bikin badan terlihat jenjang

si cantik stiletto shoes bikin badan terlihat jenjang

Flat Shoes

Nah kalau ini sepatu model ini favorit banget. Rasanya setiap beli sepatu pastinya model flat shoes. Kekurangannya adalah sepatu flat shoes mudah rusak dipakai emak-emak jabrah kayak saya. Apalagi saya pengguna sepeda motor. Duuh, cepet banget rusaknya kalau sepatu model flat shoes gini.

si flat shoes yang bikin kaki hepi

si flat shoes yang bikin kaki hepi

Wedges

Nah, berhubung saya kurang berjodoh dengan sepatu hak tinggi yang kecil dan bikin badan goyah tapi saya teteup pengen terlihat tinggi, pilihannya jatuh pada sepatu model wedges. Ya, model wedges favorit banget, deh. Saya punya dua sepatu model wedges begini. Lumayan kalau naik motor haknya yang tebal dan tinggi membantu sekali. Kalau pergi ke kondangan, si wedges ini jadi andalan. Walaupun bikin badan terlihat tinggi, tapi kaki tidak terlalu pegal dan masih bisa gendong-gendong bocil.

sepatu yang bikin badan jenjang namun ramah di kaki

sepatu yang bikin badan jenjang namun ramah di kaki

Sneaker

Duh, ini sepatu favorit banget, deh. Saya suka sneaker karena asli nyaman banget di kaki. Apalagi kalau dipakai jalan-jalan keliling kota, kaki enggak pegal sama sekali. Hahaha…untuk sneaker, koleksi saya cukup tiga. Sebenarnya masih pengen nambah, hihihi …soalnya memang enak banget makenya. Tapi berhubung harga sneaker biasanya lebih mahal, ya, kekepin ATM dulu deh, atau nunggu sale.

sneaker jadi andalan saat hangout

sneaker jadi andalan saat hangout

Oxford

Sudah lama pengen banget sepatu model oxford. Tapi belum kesampaian. Hahaha..belum jodoh kali ya. Model sepatu beginian pernah ngehits banget. Sayangnya, waktu itu saya belum hobi sama sepatu. Sepatu yang dipilih masih model flat shoes gitu. Ya nasib.

Sepatu Sandal

Nah, kalau untuk acara santai, sekarang saya lagi suka sama sepatu sandal model flat gitu.  Pakainya ringkes banget, apalagi buat saya yang harus gendong-gendong bocil, butuh banget sepatu yang gampang dimasukin sama kaki. Kalau pakai boot kadang susah makenya,pakai sneaker harus ribet sama tali sepatunya, pakai flat shoes sayang suka cepat rusak. Ya, jadi pilihannya jatuh pada sepatu sandal model begini.

sepatu-murah-2

Nah, saya nemu nih brand lokal untuk sepatu sandal yang modelnya kece-kece banget tapi enggak bikin kantong bolong. Brand Dian Footware mungkin baru dikenal namun produknya kece-kece banget, lho. Pantas saja tagline-nya aja elegan, comfy, simple. Setiap bulan selalu ada model baru, lho dengan warna berbeda yaitu putih, tosca, hitam, pink, gold, dan cokelat. Variasi ukuran mulai no. 36 sampai dengna ukuran 41. Ini salah satu sepatu sandal produk Dian Footware yang saya pakai untuk acara santai. Kalau mau lihat-lihat koleksinya bisa pantengin IG @dianfootware_official dan @sepatuhandmade_bandung. Lagi ada promo juga lho beli dua sepatu gratis satu. Wow, asyiiik, khan. Saya pun jadi pengen nambah koleksi, nih. Mumpung lagi ada promo.

Oh iya, Dian Footware juga mau launching produknya lho tanggal 6 Februari 2017. Banyak promo kece, lho. Bagi 20 pembeli pertama ada gift special, dan promo beli 2 pasang dapat tambahan diskon. Yuk, pantengin aja IG-nya terus, yaaa.

promo dian footware

Berhubung sekarang saya sudah mulai menyayangi dan menghargai diri sendiri, saya pun jadi rajin mantengin brand-brand sepatu, termasuk Dian Footware. Bagi saya,mencintai sepatu menjadi salah satu cara saya menghargai diri sendiri.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

5 Responses

  1. Kang Alee says:

    Mau dunk yang hak-nya tinggi buat nambah tinggi badan, hehehe

  2. April Hamsa says:

    Iya sih selama ini jarang merhatiin penampilan kaki .
    Btw aku naksir bootnya hehe. Pengen beli boot blm sempet2 hehe TFS

  3. beuh, keren-keren sepatunya. Tp sekarangnya yg brand lokal juga bagus2 ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *