Mengenang Tsunami Aceh dengan Hafalan Shalat Delisa

Berita mengenai gempa di Aceh sekitar sepekan yang lalu tentunya membuat panik kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di Aceh. Bencana tsunami tahun 2004 masih menyisakan duka dan trauma bagi para korban yang selamat. Saat gempa yang dikabarkan berpotensi tsunami itu mengguncang tanah rencong, kita semua berdoa agar bencana besar itu tidak terjadi lagi. Alhamdulillahpuji syukur kepada Allah Swt. Yang masih melindungi saudara-saudara kita di Aceh.

Berita gempa itu juga mengingatkan saya pada sebuah buku yang sudah lama tersimpan di laci meja. Buku yang ingin sekali say abaca tapi selalu ada keraguan, apa saya sanggup membaca sebuah novel mengenai tragedi tsunami. Novel best seller ini sudah difilmkan. Akan tetapi, saya tetap menolak untuk membacanya. Akhirnya, keberanian itu datang.

Saat membaca kalimat pertama di novel ini, sama sekali tidak ada kesedihan. Yang ada malah keceriaan kehidupan Delisa yang tinggal bersama Ummi dan keempat kakaknya di Lhok Nga. Delisa yang sulit dibangunkan saat shalat Subuh. Delisa yang sedang giat-giatnya menghafal bacaan shalat. Delisa yang selalu diganggu kakaknya Aisyah yang lebih tua 6 tahun darinya. Delisa yang sering heran melihat kakak sulungnya Fatimah yang selalu membaca buku. Delisa yang sering membuat kesal kakaknya Zahra (kembaran Aisyah) karena mengacak-acak isi lemari saat mencari seragam TPA. Delisa yang sering membuat gemas Ummi dengan pertanyaan-pertanyaannya. Delisa yang sering membaca hadiah dari Ustadz Rahman. Delisa yang membuat Ummi menangis haru saat berbisik, Delisa cinta Ummi karena Allah, (subhanallah..membaca kalimat ini, saya menangis haru). Delisa yang tidak sabar dengan kalung hadiah dari Ummi jika Delisa bisa menyelesaikan bacaan shalatnya dengan baik. Kalung dengan huruf D untuk Delisa yang sempat membuat Aisyah cemburu.

Bencana tsunami itu datang saat Delisa sedang dites bacaan shalat. Tsunami menghantam Lhok Nga saat Delisa berusaha menyelesaikan bacaan shalatnya. Air menghantam tubuh Delisa saat Delisa berusaha membaca dengan benar bacaan shalatnya. Saat Delisa pingsan, Bu Guru Nur sempat mengikat Delisa di atas papan dengan kerudungnya. Delisa pingsan selama sepekan. Saat sadar, semuanya sudah hancur. Kota yang dicintainya hancur, temannya, Tiur, mayatnya berada di dekatnya. Delisa tidak bergerak hanya bisa diam. Tubuh Delisa kehujanan dan terpanggang sinar matahari sampai akhirnya ditemukan oleh salah seorang tentara Amerika yang sedang menyisir Kota Lhok Nga untuk mencari korban-korban tsunami. (Saat membaca peristiwa ini, air mata bercucuran tanpa bisa ditahan).

Delisa yang tetap ceria walaupun kehilangan salah satu kakinya. Delisa yang berusaha tidak bertanya kepada Abi tentang Ummi karena tidak mau melihat Abi bersedih. Delisa yang ikhlas kehilangan kakak-kakaknya dan membuat nisan di kuburan massal. Delisa yang berusaha menjadi anak baik dan tetap berusaha untuk menghafal bacaan shalatnya. Namun, api kecemburuan datang saat dia mendapat kabar bahwa Ummi-nya Umam (temannya yang terkenal nakal) ditemukan. Lalu, di mana Ummi Delisa? Kenapa Umam yang mendapat Ummi sedangkan dia tidak. Delisa sakit. Api cemburu membakar hatinya. Allah Swt, Maha Baik menyembuhkan Delisa dari api cemburu serta menyembuhkan sakitnya hingga Abi dan orang-orang yang menyayangi Delisa dapat bernapas lega.

Ending novel ini sungguh membuat hati pilu saat Delisa menemukan kalung kalung indah dengan huruf D tergantung di sebuah tangan yang sudah menjadi kerangka. (Fiuuhnyesek banget bacanya). Harus saya akui, novel ini begitu indah dengan kesedrhanaannya. Tema yang tampak sederhana namun sungguh tidak sederhana. Kisah cantik mengenai si cantik Delisa dengan segala kepolosan. Walaupun, ada yang membingungkan saat pencerita yang terkadang berlaku sebagai orang ketiga yang berada di luar para tokoh dan berperan menjadi si maha tahu tapi terkadang juga si pencerita yang seperti mengaku-kan Delisa sebagai pencerita. Mungkin ini gaya dari penulisnya. Yang jelas, novel ini membuat saya tersentak, saat saya merasa shalat itus udah menjadi kegiatan sehari-hari yang sudah berjalan begitu saja (autorun) ternyata memiliki makna yang dalam bagi seorang anak bernama Delisa. Membuat saya malu dan ingin memperbaiki shalat saya.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *