Menjadi Ibu yang Bahagia

Menjadi Ibu Yang Bahagia

Menjadi Ibu yang Bahagia merupakan cita-cita saya saat ini. Kenapa? Karena jika saya tidak bahagia anak-anak pun menjadi korban ketidakbahagiaan ibunya. Sebelum mengenal ‘Menciptakan Kebahagiaan” saya sering sulit merasa bahagia. Saya sering merasa bahwa kebahagiaan ada di luar jangkauan bahkan banyak faktor luar yang membuat saya sedih. Ah, saya memang kurang bersyukur. Padahal sejatinya kebahagiaan ada dalam diri. Bahagia itu diciptakan oleh diri sendiri. Namun, untuk bisa memahami hal tersebut dan mengalaminya memang tidak semudah dikatakan. Perlu  pembuktian dari hal tersebut sehingga saya bisa benar-benarnya memahaminya. Sampai saat ini saya masih mencari formula yang tepat untuk hal tersebut.

Untuk saat ini yang menjadi tolok ukur kebahagiaan saya sebagai seorang ibu adalah keluarga. Dulu, saya kadangkala merasa iri jika mendengar cerita tentang keluarga seseorang. Padahal saya hanya tahu cerita yang tampak di permukaan. Saya tidak tahu yang ada di kedalamannya. Sehingga, saya pun kemudian sadar bahwa setiap orang punya cerita tentang keluarga masing-masing, yang tidak selalu manis, mungkin kadang muncul pahit, asam, dan gurih. Ya, itulah cerita kehidupan.

Kembali ke judul Menjadi Ibu yang  Bahagia, saya sedang menata diri saya untuk senantiasa bahagia. Sungguh saat saya sedang stress, emosi saya sering turun dan yang terjadi kemudian saya sering mengalami gagal fokus. Adakah yang mengalaminya juga? Yayaya…mungkin tampak sepele bagi orang lain tapi bagi saya ibu dari dua balita yang sedang masa aktif-aktifnya, emosi yang turun naik dan kecenderungan gagal fokus berdampak kurang baik bagi anak-anak. Saya membutuhkan cara lain, cara yang lebih tepat dan akurat untuk mengatasi problematika yang saya hadapi.

Tuhan menjawab keresahan saya ketika saya membaca informasi tentang seminar Stress Management Screening. Saya pun membulatkan tekad untuk mengikuti seminar tersebut. Ya, seminar yang diadakan di Lantai 3, Gedung DF Clinic tersebut seperti membuka mata dan pikiran saya bahwa saya harus terlebih mengenal diri saya. Saya bisa dikatagorikan sebagai pribadi yang mengalami stress jika melihat beberapa ciri stress yang saya alami.

Materi lengkap Stres Management Screening akan saya bahas secara detail dalam postingan lain. Secara garis besar, dalam seminar tersebut dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk mengalami stress. Nah, sebaiknya untuk mengatasi stress, kita harus melakukan screening dengan mengetahui cara kerja otak manusia. Ada manusia yang memang sudah bawaannya mudah mengalami stress dan ada yang tidak. Bagaimana cara melakukan screeningnya? Yaitu dengan finger print  test analysis. Kenapa dengan  dengannya finger print test? Karena ternyata cara kerja otak kita sudah tercetak di setiap pola garis yang terdapat dalam sepuluh jari kita. Nah, dengan mengetahui hasil analisis finger test, kita bisa mengetahui pola kerja otak kita. Kita pun bisa melakukan treatment-treatment tertentu.

Mudah-mudahan, ikhtiar yang saya lakukan untuk menjadi Ibu yang Bahagia bisa tercapai sehingga bisa mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anak menjadi manusia sesungguhnya.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. Aamiin, semoga kita bisa menjadi Ibu yang bahagia ya Teh. Kalau sekarang mau ikutan screening finger finger printnya gimana Teh? Tinggal datang saja ke DF atau gimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *