Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfidz Menyatu

Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfidz Menyatu

Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfidz Menyatu. Rasanya menjadi seorang yang hapal Al Quran merupakan impian yang sangat jauh untuk dijangkau oleh saya. Sadar diri usia sudah di atas kepala 3, rasanya sangat sulit mempertahankan hapalan. Hapalnya sedikit lupanya banyak. Padahal yah selama 12 tahun ini saya bekerja di perusahaan penerbit Al Quran tapi hapalan nggak pernah bertambah. Ah, mungkin memang ada yang salah dengan saya.

Selepasnya dari perusahaan penerbitan Al Quran, saya malah mendapatkan informasi mengenai metode menghapal Al Quran yang bernama Metode TES. Jadi penasaran sama metodenya? Gimana yah caraya bisa hapal Al Quran. Berbekal rasa penasaran dan keinginan untuk bisa menghapal Al Quran, saya pun mengikuti workshop Metode TES yang diadakan pada 25 Februari 2018 di Hotel Ultima Horison, Bandung.  Pelatihan ini ditujukan bagi para pengajar yang ingin memiliki teknik dan skill dalam megajarkan Al Quran sekaligus menjawab permasalahan dalam berinteraksi dengan Al Quran.  Begitulah yang tertera di brosur. Dengan investasi 500 K, peserta sudah bisa mendapatkan ilmu mengajarkan Al Quran dan bisa menjadi huffadz juga. Hmm, saya pun mengikuti workshop yang diadakan mulai pukul 08.00 pagi sampai pukul 16.00 sore tersebut. Kenyataannya, workshop sampai pukul 17.00 sore, lho.  Para peserta masih sangat antusias mengikuti pelatihan ini.

Brosur yang membuat saya tertarik ikutan workshop Metode TES

Brosur yang membuat saya tertarik ikutan workshop Metode TES

Dengan diantar suami, saya pun menuju hotel Horison. Rasa malas yang biasanya menyelimuti saat akhir pekan coba disingkar dulu, demi bisa mendapat ilmu mengenai cara menghapal Al Quran. Tiba di sana, langsung menuju lantai dua dan mengisi form registrasi. Sudah banyak peserta lain yang hadir dan rata-rata memang memiliki tujuan yang sama dengan saya yaitu ingin bisa menghapal Al Quran. Walaupun dari penampilannya, saya lihat para peserta lain memang sudah biasa menghapal Al Quran.

Bang Jemmi Gumilar, ST

Bang Jemmi Gumilar, ST

Setelah proses registrasi selesai, acara pun dibuka. Kemudian, Bang Jemmi Gumilar, ST (Bang Jemmi) selaku trainer langsung memberikan penjelasan mengenai Metode TES. Menurut beliau, Metode TES merupakan salah satu metode yang memperbaiki interaksi kita dengan Al Quran. Gimana mau hapal Al Quran, kalau interaksi dengan Al Quran itu jarang sekali. Hikss…jadi malu banget, nih. Kalau berkaca pada pengalaman sendiri, memang interaksi saya dengan Al Quran itu jarang banget. Kebanyakan membaca Al Quran itu kalau inget, kalau mood, atau kalau senggang. Padahal seharusnya berinteraksi dengan Al Quran itu khan sesering mungkin dan nggak menunggu mood, senggang, dan lain-lain. Baiklah, di pembukaan saja sudah kesentil banget, nih.

Bang Jemmi sendiri selaku trainer Metode TES juga menulis buku Metode TES agar semakin banyak orang yang bisa mempelajari Metode TES. Produk-produk Metode TES sendiri ada beberapa yaitu Quantum Tilawah Metode TES, Quantum Tahfidz Metode TES, dan Rumah Tahfidz TES. Metode TES sendiri telah berjalan lebih dari 2 tahun dan diaplikasikan oleh lebih dari 2000 orang.  Metode TES sendiri bukan hanya sekadar metode menghapal Al Quran melainkan metode yang bertujuab agar peserta mengalami perubahan pola fikir dan pola interaksi dengan Al Quran. Peserta tidak hanya diajak memperbaharui pemahamannya tentang tilawah dan menghapal Al Quran namun juga dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas tilawah serta tahfidz Al Quran.

Buku Metode TES

Buku Metode TES

Lalu apa saja langkah yang dilakukan untuk memperbaiki interaksi kita dengan Al Quran?

Membaca Al Quran

Tilawah/membaca Al Quran merupakan tingkatan terendah interaksi kita dengan AL Quran. Akan tetapi, interaksi kita dengan tilawah Al Quran merupakan perintah yang banyak disebutkan dalam Al Quran. Faktanya, kebanyakan dari kita (termasuk saya) masih belum menjadikan tilawah sebagai kebiasaan yang terus dilaksanakan siang dan malam, seperti kebiasaan Rasulullah dan para sahabat. Akibatnya, kita pun enggan meningkatkan kualitas dan kuantitas tilawah Al Quran dengan berbagai alasan.

“Dan bacalah Al Quran itu secara tartil (perlahan-lahan),” (QS Al Muzzamil:4)

Dari ayat di atas tampak perintah Allah Swt. Untuk senantiasa membaca Al Quran. Perintah membaca Al Quran karena ternyata struktur tubuh manusia memang sudah disesuaikan dengan Bahasa yang ada dalam Al Quran dan pengaruh dari membacanya. Makanya Al Quran disebut asy syifa. Sehingga, orang yang senantiasa membaca Al Quran akan senantiasa terlihat menjadi orang yang sehat jasmaninya. Al Quran juga mampu menjadi obat bagi penyakit-penyakit rohani yang dampaknya juga berpengaruh terhadap jasmani. Penyakit-penyakit seperti sombong, tamak, munafik, dan sebagainya akan mampu ditundukkan jika rutin membaca Al Quran. Setiap huruf yang dibaca mampu menggetarkan jiwa-jiwa yang kosong dari pemaknaan hidup.

Peningkatan kualitas interaksi berarti meningkatkan kemampuan tilawah Al Quran dari mulai memahami huruf-huruf Al Quran berkenaan dengan makhraj dan shifatul huruf, hukum-hukum bacaan Al Quran seperti ikhfa dan ayat-ayat Gharib. Senantiasa perintah Allah dalam Al Quran untuk senantiasa membacanya dengan tartil. Peningkatan kualitas Al Quran akan mempermudah peningkatan kuantitas tilawahnya.

Hal yang penting dalam peningkatan bacaan Al Quran adalah dengan bertatap muka langsung dengan guru tahsin Al Quran atau yang disebut dengan Talaqqi. Metode Talaqqi dalam memperbaki kualitas tilawah Al Quran dengan cara mengoreksi secara langsung setiap bacaan Al Quran kita.

Peningkatan kuantitas bacaan Al Quran berupa pengkhataman tilawah dalam sebulan sekali hingga tiga hari sekali. Beberapa ulama ada yang khatam sehari sekali seperti Imam Syafii. Pengertian khatam Al Quran yaitu membaca Al Quran dari Al Fatihah, Al Baqarah, Ali Imran hingga surat An Naas secara berurutan, bukan sekadar 30 juz.

Para peserta workshop Metode TES serius mengikuti materi

Para peserta workshop Metode TES serius mengikuti materi

Menghapal Al Quran

Interaksi selanjutnya dengan Al Quran setelah tilawah adalah menghafal Al Quran.  Menghafal Al Quran ini memang tingkatan yang masih jarang dilakukan, terbukti sampai sekarang pun saya tidak menghapal Al Quran. Ternyata saya tidak sendiri, menurut survei, persentase penghapal Al Quran di Indonesia masih kurang dari 0,1%. Lho kok bangga? Ya nggak, dong. Yang ada malah miris. Sampai seusia begini, sebagai muslim kok hapalan surat Al Quran nggak nambah-nambah.

Kelalaian kita menghapal Al Quran sebenarnya dimulai dengan menurunnya kualitas dan kuantitas tilawah Al Quran. Ketidakmampuan tilawah Al Quran dengan kaidah tahsin ditambah dengan jarangnya tilawah Al Quran menyebabkan aktivitas tahfidz Al Quran menjadi sulit. Menurut Bang Jemmi, ada 3 faktor penyebab kelalaian dalam berinteraksi dengan Al Quran yang disebut 3K, yaitu.

  1. Kemalasan

Kemasalan dalam pengertiannya adalah suatu sifat tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Dalam Al Quran sifat malas ini digambarkan sebagai manisfestas dari sifat riya yang beramal hanya ketika dilihat oleh manusia. Kemalsan berinteraksi dengan Al Quran juga karena adanya siat terburu-buru dalam memetic hasil perjuangan berinteraksi dengan Al Quran. Keengganan untuk melalui proses dan keinginann untuk segera mendapatkan hasil meningkatkan kemalasan saat kenyataan tidak sesuai dengan keinginan. Ketika kemalasan datang, ada dua cara yang bisa dilakukan yaitu sadarilah bahwa sesungguhnya kitalah yang membutuhkan interaksi dengan Al Quran. Keengganan tilawah dan menghapal Al Quran tidak akan merugikan Al Quran. Cara yang kedua dengan mulai belajar bisa meikmati proses perbaikan interaksi kita dengan Al Quran. Hal ini dimulai dengan membuat perencanaan dan target yang matang, yaitu rencana tentang kapan saja kita tilawah dan target sesuai dengan perencanaan.

  1. Kemegahan

Bermegah-megahan merupakan sifat buruk yang akan merugikan kita. Bermegah-megahan dalam artian perbuatan yang membesarkan, membanggakan, dan menyombongkan diri. Dalam memperbaiki sifat bermegah0megahan ini, kita harus sadar bahwa tingkat kemuliaan seseorang di hadapan Allah Swt. Ditentukan oleh ketakwaannya bukan materi yang dimiliki. Lalu kita pun sebaiknya menyadari bahwa duni ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan.

  1. Kemaksiatan

Kemaksiatan itu ibarat kegelapan d hati seseorang. Kemaksiatan akan menghalangi perbuatan baik yang hendak dilakukan. Berinteraksi dengan Al Quran, baik dalam bentuk tilawah atau menghapal ditentukan juga kadar keimanan seseorang.

Pemberian materi awal mengenai perbaikan interaksi dengan AL Quran membuat saya dan para peserta lainnya bertekad untuk memperbaiki interaksi dengan Al Quran. Selama workshop pun, para peserta langsung praktek menghapalkan Al Quran. Ajaib, dengan metode TES, saya berhasil menghapal beberapa ayat Al Quran yang selama ini saya anggap sangat sulit.

Para peserta lain pun sangat antusias dengan Metode TES yang diajarkan oleh Bang Jemmi. Saya bersama peserta lain pun langsung menyusun jadwal rapi mengenai rencana perbaikan interaksi dengan Al Quran.

Workshop ini memang ditujukan untuk para pengajar yang ingin juga mengajarkan bagaimana mengajarkan Al Quran, oleh karenanya kami mendapat ilmu bagaimana mengajarkan Al Quran. Berhubung saya bukanlah pengajar dan masih belajar, target saya sih memperbaiki interaksi saya dengan Al Qurandan coba menularkannya kepada anak-anak.

Sepulang dari wokshop, saya pun menyusun jadwal. Sungguh ternyata memang tidak semudah yang dibayangkan. Banyak sekali tantangan dna hambatannya yang sering membuat saya putus asa dan emosi. Apalagi saat saya ingin menularkan kebiasaan kepada anak-anak. Saya membuat jadwal murajaah dengan anak-anak, apa yang terjadi? Sungguh menguras emosi karena anak-anak sering rewel, tidak fokus dan mengganggu fokus saya juga, dan mereka pun bosan. Aaargg…rasanya putus asa sekali. Tapi itulah tantangannya. Saya baru praktek selama dua minggu dan memang saya rasakan sekali mood dan semangat naik turun. Namun, saat semangat saya turun, saya ingat lagi pesan Bang Jemmi untuk bisa istiqomah melakukan metode TES ini selama 6 bulan dan lihat hasilnya. Bismillah, semoga semangat saya bisa terus tumbuh dan kemalasan pun hilang.

 

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

38 Responses

  1. zefy says:

    Semoga aku bisa menggunakan metode ini juga mbak, aku juga mau lho jadi penghapal Al Quran, mungkin selama ini memng keinginannya saja yang belum kuat.

    *maap curcol mbak hehe

  2. Widi Utami says:

    Aku kalau lagi hafalan, suka kebolak-balik. Sedih rasanya.

    Dan memang, kemaksiatan bikin susah menghafal. Istighfar terus-menerus. Ya Rabb.

  3. lendyagasshi says:

    Tabarakallahu, teh Rani…
    Aku selalu ingat pesan Bang Jemmi bahwa “Perbaiki dulu interaksi dengan Al-Qur’an, agar hapalannya menjadi mudah.”

    Semoga kita dimudahkan mentadabburi Al-Qur’an selalu yaa, teh…
    Karena bekal hidup di dunia dan akhirat kelak.

  4. Hmm,,, workshop yang sangat bermanfaat dan benar-benar perlu diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Manfaatnya besar, dan semoga berguna untuk orang lain juga tentunya. Semoga disini juga ada event sejenis ya mbak.

  5. Timo says:

    Training for teachers/trainers emang penting sih ya, karena punya kewajiban tinggi untuk mengajari murid2nya di kemudian hari 🙂

  6. Marfa says:

    Bismillah semoga lancar selanjutnya mbak. Saya juga yah baca Qur’an masih minim banget, sekedar baca doang ngga mengkaji isinya astafirullah. Kudu mulai pendekatan lagi nih.

  7. workshopnya cukup menarik. Kemalasan memang sifat manusia yang kadang sulit untuk dihilangkan ya mba, apalagi klo kemalasan untuk sholat dan baca alquran

  8. masirwin says:

    sepertinya menarik,,, beberapa minggu lalu juga saya ikut workshop hapal Juz 30 ,, metodenya hampir mirip-mirip metode ini 😀

    semoga dengan sering membaca dan bisa menghapal Al-Qur’an, kita diberikan iman yang istiqomah. Amin

  9. April Hamsa says:

    Postingan yang bikin makjleb. Saya juga kurang interaksinya dengan Al Quran. Tdk setiap hari bisa baca 🙁
    Kudu lebih disiplin lagi utk baca Al Quran. Sbnrnya ikutan ngaji via WA tapi saya suka ketinggalan ngerjain target2nya 🙁
    TFS mbak, info workshop-nya menarik…

  10. Wah keren nih, semoga ilmunya bisa ditularkan ke banyak orang sehingga semakin banyak yang disipilin membaca Al Quran. keren banget deh

  11. Masya Allah.. salut dengan usaha Mbak Rani untuk berinteraksi dengan baik dengan Al Quran, dan ingin menularkannya pada anak-anak. Saya sendiri juga masih sangat buruk interaksinya dengan Al Quran. Ingin mencontoh mbak Rani.
    Semoga kita bisa istiqomah ya, Mbak..

  12. Tulisan Mbak Rany makjleb, deh. Iya ya, kalau sudah berumur, agak susah menghapal Al- Quran. Beda dengan anak-anak. Seperti anak saya yang keliatannya mudah sekali menghapal Al Quran.
    Semoga kita bisa terus istiqomah untuk menghapal Al Qur’an.. Aamiin

  13. Sally Fauzi says:

    Mbak Rani, bikin makjleb sharingnya. Mesti lebih dekat lagi dengan AlQuran

  14. unggulcenter says:

    Wah ternyata memang ga sekedar suara bagus n bisa ngaji ya. Ada metodenya.

  15. Ajen says:

    Semoga belajarnya membawa berkah yah Mbak Raniii..
    Aminn

  16. ruziana says:

    Semoga anak nya istiqomah ya mba
    Moga bisa sukses jg belajar nya

  17. Ikhsan says:

    Investasi demi mengejar ilmu akhirat benar2 memiliki tantangan ya. Subhanallah. Apalagi materi yg dicari berbentuk hapalan Al Qur’an. Semoga berkah dunia-akhirat. Aamiien!

  18. Aku mengakui juga teh lemot kalau sekrang hafalin alquran beda waktu kecil bisa mudah hafalnya. tapi karena anakku sekolah suka ada hafalan mau ga mau akunjadi ikut hafalin juga meski kadang suka lupa2. keren y teh workshopnya jadi pgn ikutan

  19. Bang Jemmi says:

    Barakallah Bu Rani. Semoga bisa mengaplikasikan Metode TES ini dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *