Mitos VS Teknologi di hadirkan dalam Film Serdadu Kumbang

 


Di dalam sebuah film, seringkali muncul pesan-pesan yang dapat dengan mudah diterima oleh penonton. Bahkan, film juga menghadirkan pesan yang mempengaruhi penonton secara langsung Film yang menghadirkan kehidupan hedonism tentunya akan mempengaruhi penonton untuk memgikuti gaya hidup seperti yang disajikan di dalam film. Padahal sesungguhnya, realitas yang terjadi di dalam layar belum tentu sama dengan realitas yang sebenarnya. Seringkali juga dimunculkan realitas yang paradoks yang tampak terlihat sebagai bentuk pertentangan. Kemungkinannya, hal itu untuk membuat penonton berpikir lebih jernih mengenai realitas yang ada di dalam masyarakat dan dihadirkan di dalam layar kaca.

Film Serdadu Kumbang karya rumah produksi Alenia Pictures menghadirkan bentuk realitas dari masyarakat Sumbawa. Masyarakat pedesaan yang jauh dari hiruk pikuknya kehidupan metropolitan. Film ini menghadirkan keluguan dari masyarakat yang sangat memahami akarnya dengan cara mendalam. Namun, di lain sisi ada kebutuhan yang sangat mendesak yang harus mereka perjuangankan yaitu masalah pendidikan dan pengetahuan. Film ini menghadirkan tokoh-tokoh anak-anak yang begitu lugu namun memiliki keinginan kuat untuk mencapai cita-cita.

Di dalam film Serdadu Kumbang, mitos muncul sebagai pembuka film. Penonton disuguhi adegan Papin –sebutan kakek bagi masyarakat Sumbawayang sedang berkumpul bersama anak-anak. Papin bercerita dan bertanya jawab mengenai mitos Gunung Tambora. Rupanya, bagi masyarakat Sumbawa, mito Gunung Tambora sangat melekat kuat. Nama tambora berasal dari dua suku kata yaitu ta dan mbora yang artinya mengajak menghilang.

Nama yang sesuai dengan mitos yang berkembang di dalam masyarakat sekitar gunung. Masyarakat percaya bahwa ada sekitar 4.500 pendaki, pemburu, dan penjelajah yang hilang di gunung tersebut. Selain itu, mitos Gunung Tambora juga berkaitan erat dengan peristiwa meletusnya Gunung Tambora yang sudah melenyapkan ribuan manusia, baik yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung.

Adegan pembuka di dalam film Serdadu Kumbang memperlihatkan betawa mitos masih sangat kuat mempengaruhi cara berpikir masyarakat. Namun, mitos juga sudah menjadi keseharian pada masyarakat. (cari pengaruh mitos pada masyarakat)

Mitos Gunung Tambora kembali muncul dalam percakapan antara Umbe, Acan, dan Umek saat mereka sedang berkumpul. Mereka membahas asal muasal munculnya Gunung Tambora. Dialog yang cukup berat bagi anak-anak usia SD karena membahas dengan gaya yang begitu filosofis. Namun, di sisi lain juga memperlihatkan betapa mitos sudah menjadi keseharian bagi masyarakat, bahkan sampai kepada anak-anak.

Selain mitos yang ada pada masyarakat, film ini juga menghadirkan mitos di dalam dunia pendidikan. Mitos tersebut bahwa pendidikan terhadap anak-anak akan berhasil jika dilakukan dengan keras dan penuh hukuman. Hal ini digambarkan dengan cukup apik oleh peran antagonis Pak Alim, seorang guru muda yang selalu menghukum keras murid-muridnya yang dianggap nakal.

Pak Alim kerap menghukum murid-muridnya yang datang terlambat. Hampir setiap hari Pak Alim menjemur anak-anak di lapangan serta menghukumnya dengan sangat keras. Sampai suatu ketika salah seorang murid yang dihukum jatuh pingsan. Namun, Pak Alim tetap mempertahankan mitosnya tersebutnya. Baginya, mendidik itu dengan kekerasan. Mitos tersebut pun diamini oleh Kepala Sekolah yang membiarkan tindakan kekerasan terjadi di sekolahnya. Mitos tersebut coba didobrak oleh Bu Guru Imbok. Dia mengajar anak-anak dengan penuh cinta kasih dan pengertian. Baginya mendidik itu harus dengan ketulusan dari hati bukan dengan kekerasan. Namun, ternyata usaha Guru Imbok untuk mendobrak hal tersebut membentur tembok. Guru Imbok pun mengundurkan diri menjadi guru ketika Pak Alim dengan keras menghukum Amek. Guru Imbok ingin membuktikan bahwa mengajar dengan cinta kasih lebih dapat diterima oleh manusia. Guru Imbok mengajar anak-anak selepas waktu sekolah di kolong rumah. Selain itu, Guru Imbok berhasil mengajar membaca pada masyarakat yang buta huruf.

Dari film ini tampak sekali, mitos mempengaruhi pola pikir masyarakatnya. Saat mitos Gunung Tambora muncul pada adegan pembuka film, penonton bertanya-tanya kenapa mitos ini yang muncul? Apa kaitan mitos ini dengan keseluruhan cerita. Jika dirunut lagi, dalam dialog adegan pembuka muncul arti tambora yaitu mengajak menghilang. Kepercayaan ini begitu kuat di dalam masyarakat Sumbawa. Secara keseluruhan, film ini bercerita tentang cita-cita yang ingin diraih oleh anak-anak pelosok Sumbawa. Mereka menuliskan cita-cita di atas secarik kertas dan memasukkannya ke dalam botol. Kemudian, botol itu digantungkan di pohon besar yang kemudian dinamakan pohon cita-cita. Cita-cita itu harus diraih dengan usaha keras, bahkan dengan berbagai cara. Saat akan UN, anak-anak sudah diwanti-wanti untuk bisa lulus UN. Namun, saat pengumuman UN, seluruh murid sekolah tidak lulus UN. Hal itu tentu membuat frustrasi anak-anak bahkan orang tua. Salah satunya, Minun, kakak Amek yang terkenal pintar dan berprestasi. Minun pergi ke pohon cita-cita dan terjatuh dari pohon itu.

Namun, sepertinya film ini juga ingin menyampaikan pesan betapa mitos itu dapat diubah dengan keyakinan akan mencapai cita-cita. Pada adegan akhir film, muncul kecerian dari anak-anak yang berlompatan di sekitar pohon cita-cita. Mereka tidak ikut menghilang seperti nama tambora tapi mereka tetap muncul menjadi benih-benih yang akan terus tumbuh mencapai cita-cita mereka.

Mitos muncul sebagai bagian dari penghalang mencapai cita-cita namun sebaliknya muncul teknologi yang menjadi bagian kehidupan masyarakat. Teknologi bisa menjadi alat pendukung untuk mencapai keinginan. Hal itu digambarkan dengan apik oleh film ini.

Teknologi komunikasi sudah semakin canggih dan bisa dinikmati oleh masyarakat. Namun, bagi masyarakat pedesaan masih sulit untuk menikmati teknologi. Bukan karena tidak mampu membeli namun karena memang banyaknya keterbatasan. Hal itu digambarkan dengan apik melalui adegan seorang pedagang yang harus naik ke pohon dan berbicara menggunakan HP sambil duduk di atas pohon. Adegan yang menggelikan tapi cukup menggelitik karena membuktikan bahwa belum meratanya teknologi yang dapat dinikmati masyarakat.

Amek sangat ingin sekali menelpon ayahnya yang bekerja di Malaysia. Dia pun membeli HP dengan cara menukar HP dengan anak kambing miliknya. Muncul masalah lain, dia harus membeli Simcard. Dia pun pergi bersama ketiga temannya ke pasar untuk membeli nomor perdana. Terjadi dialog menggelitik antara Amek dengan pedagang saat membeli nomor perdana. Pedagang bertanya memangnya di desa Amek ada sinyal sehingga bisa menelpon dengan HP. Dengan polos Amek menanggapi dengan ucapan polos, Pak sekalian saya beli sinyalnya, sambil menyodorkan uang.

Namun, Amek tidak putus asa. Dengan dibantu para tetangganya, Amek memasang antena televise dan menyambungkan kabel dari antena ke HP. Hasilnya, ada sinyal tapi tetap saja Amek tidak dapat menghubungi ayahnya karena pulsanya tidak cukup. Lalu, tetangganya menggunakan HP-nya dan berhasil tersambung namun kebingungan saat dijawab oleh mesin penjawab. Hanya Minun yang mengerti karena memang Minun anak yang cerdas. Di sini terlihat betapa pentingnya pengetahuan. Seseorang yang memiliki pengetahuan akan dapat dengan cerpat menyerap informasi dan dengan santai menghadapi teknologi baru.

Film ini seakan-akan ingin menggambarkan betapa seringkali masyarakat mengalami gagap teknologi. Bukan karena tidak mampu memiliki teknologi atau menggunakan teknologi tapi seringkali karena kurangya sarana serta kurangnya pengetahuan.

Lalu, apa apakah benar mitos merupakan penghalang berkembangnya teknologi? Hal ini bisa betul juga bisa salah. Dikatakan betul karena manusia tidak pernah bisa benar-benar lepas dari mitos. Seringkali manusia juga menciptakan mitos-mitos baru untuk terus dikembangkan. Dalam teorinya mitos sering dihubungkan dengan kejadian pada masa lalu, namun sesungguhnya seperti halnya teknologi, manusia terus menciptakan mitos untuk menguatkan prinsip-prinsipnya.

Sesunggunya teknologi dan mitos tidak harus dipertentangkan karena keduanya bisa berjalan beriringan. Mitos Gunung Tambora pun disajikan dengan begitu riang melalui dialog Papin bersama anak-anak. Padahal Gunung Tambora memiliki mitos yang cukup menakutkan yaitu mengajak menghilang. Apalagi Gunung besar ini pernah meletus dengan sangat dahsyat dan mengakibatkan bencana yang sangat dahsyat bagi umat manusia. Namun, masyarakat menanggapainya dengan riang dan menganggap hal itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, teknologi pun ditanggapi dengan penuh suka cita. Teknologi dianggap sebagai penunjang untuk mencapai cita-cita dan keinginan. Teknologi komunikasi dianggap dapat memperlancar hubungan antarmanusia yang saling berjauhan. Teknologi juga menggambarkan suatu harapan, harapan untuk berkomunikasi bahkan bertemu dengan orang-orang yang disayangi. Teknologi juga berhubungan dengan pengetahuan sehingga sangat penting untuk memiliki pengetahuan agar dapat menggunakan teknologi tanpa adanya kegagapan.

 

Bahan Bacaan

Ahimsa-Putra, Heddy Shri, 2001. Strukturalisme Lvi Strauss Mitos dan Karya Sastra. Galang Press: Yogyakarta.

Andrea Gronomeyer, Film Crash Course Series (New York, Barrons Educational Series, Inc., 1998), hal. 11 et seqq.

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. 1 November 2011

    […] saya pun ingin menulis riview tentang film. Alhamdulillah sudah ada satu tulisan tentang film serdadu kumbang. Saya pun suka membaca, selain bacaan anak, saya pun suka membaca genre lain, di antaranya novel […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *