Pembelajaran Toleransi Pada Anak-Anak

Pembelajaran Toleransi Pada Anak

Pembelajaran toleransi pada anak bisa dibilang bukanlah hal yang mudah. Hal itu karena anak-anak lebih bisa menerima pembelajaran praktek daripada sekadar teori. Sementara, sejak kecil saya sendiri tinggal di lingkungan yang homogen. Sehingga, kadang hanya bisa mengajarkan toleransi secara teori seperti halnya di buku-buku pelajaran.

Tinggal di lingkungan homogen membuat saya tidak terlalu mengerti makna toleransi. Kata ini memang sudah diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Namun, itu sebatas teori karena pada prakteknya ternyata memang tidak mudah juga mengamalkan toleransi. Menurut saya pribadi, mengamalkan toleransi itu sama sulitnya dengan mengamalkan ikhlas. Konteksnya mungkin berbeda tapi tingkat kesulitannya berbeda.

Semakin bertambah usia, semakin kita dikenalkan dengan keberagaman. Namun, lagi-lagi beragam ala saya masih dalam tingkatan ‘aman’. Artinya, saya berinteraksi dengan orang dalam lingkungan yang tidak terlalu berbeda.

Saya pernah membaca kisah menarik tentang orang yang tinggal di lingkungan yang berbeda, baik dari perbedaan segi agama, budaya. Kisah tersebut menarik karena dalam lingkungan berbeda itulah, toleransi nyata dipraktekkan. Misalnya seorang keluarga muslim tinggal di lingkungan pecinan akan terbiasa dengan tradisi-tradisi yang berbeda. Biasa mendapat kiriman makanan saat perayaan Gong Xi Fat Cai. Tidak ada rasa curiga, hidup berdampingan dengan penuh toleransi.

Sayangnya, sekat-sekat yang dibuat seringkali membuat toleransi semakin sulit dipraktekkan. Jurang perbedaan semakin diperlebar sehingga selalu menimbulkan prasangka negatif. Lama-lama, kecemburuan sosial pun meningkat dan bisa memicu perselisihan karena toleransi yang sulit dipraktekkan.

Ternyata menurut KBBI, kata toleransi cakupannya tidak hanya penerimaan terhadap perbedaan budaya. Tapi ada beberapa makna, salah satunya penyimpangan yang masih dapat diterima.  Kata toleransi menurut KBBI daring, toleransi/to·le·ran·si/ n 1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh –; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja;

Jika toleransi benar-benar dilaksanakan oleh setiap individu, pastinya perselisihan dan perpecahan akan diminimalisir. Kenyataannya, sampai sekarang kita masih membaca berita perselisihan karena adanya perebedaan yang tidak dapat ditoleransi. Apalagi, seringkali masyarakat tidak bisa menolerir perbedaan sehingga terjadi perselisihan antarsuku, antaragama, dan masih banyak lagi peristiwa kekerasan yang terjadi karena kurangnya rasa toleransi.

Di dunia maya, seringkali saya membaca postingan-postingan nyinyir dan saling sindir dari dua kubu yang berbeda pendapat. Kadang, terjadi perang opini di dunia maya yang membuat suasana memanas. Masing-masing merasa benar dengan pendapatnya dan tidak menolerir perbedaan pendapat.

design by Rani Yulianty

Saya sendiri merasa harus mengajarkan pembelajaran toleransi pada anak-anak sejak dini, sebagai bekal mereka di masa depan. Bukan pembelajaran toleransi secara teori karena itu sudah diajarkan di sekolah beserta contoh-contohnya. Tapi toleransi dalam dunia nyata.

Beberapa hal yang saya lakukan agar anak-anak belajar keberagaman dan toleransi yaitu memilih sekolah negeri. Alasannya sederhana, di sekolah negeri lebih heterogen siswanya, ada dari berbagai kalangan.  Saat si sulung ikut terapi, saya mencari tempat terapi yang menerima anak dengan latar belakang berbeda. Di tempat terapi, banyak anak yang memiliki warna kulit lebih putih dan bermata sipit. Saya berharap, anak-anak bisa menerima perbedaan fisik di antara temannya, saling menghargai perbedaan kebiasaan, dan tidak saling mengejek jika melihat perbedaan.

Ternyata, toleransi lebih bisa dipraktekkan saat berada di lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggal sebelumnya. Sebelumnya, kami tinggal di lingkungan etnis sunda, pastinya dengan kebiasaan-kebiasaan stereotif yang dimiliki. Lalu, sudah dua bulan ini, kami tinggal di lingkungan etnis melayu, tepatnya di Kota Jambi yang pastinya memiliki banyak perbedaan,baik dari bahasa percakapan sehari-hari, kebiasaan, dan lain-lain.

Di tempat baru ini, kami belajar menjadi etnis minoritas yang beradaptasi di lingkungan baru. Memiliki kehidupan bertetangga dengan tetangga yang berbeda etnis pastinya diperlukan rasa toleransi. Kami bersyukur, kami diterima dengan baik di lingkungan baru ini. Para tetangga dapat menoleransi perbedaan kebiasaan kami. Anak-anak pun dapat berinteraksi baik dengan anak-anak seumuran di lingkungan ini. Perbedaan gaya Bahasa, logat, tidak memengaruhi mereka dalam berteman.

Saya senang, melihat Fathan sudah memiliki banyak teman di sini. Sesekali, dia protes jika melihat ada kebiasaan yang berbeda pada temannya. Saya jelaskan, kalau orang sini kebiasaannya gitu, Fathan harus bisa bersikap toleransi dan menerima perbedaan. Fathan pun bisa menerima perbedaan tersebut dan terlihat enjoy memiliki teman baru di sini.

Saya berharap, pengalaman ini bisa menjadi bekal anak-anak di masa depan. Sehingga, kelak saat mereka dewasa, mereka mampu bersikap toleransi di mana pun berbeda. Tidak membawa steorottif daerah dan merasa bangga dengan diri sendiri tanpa harus mengenyampingkan perbedaan dari berbagai pihak.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

31 Responses

  1. Aku pun tinggal di lingkungan homogen. Toleransi ya hanya teori zaman sekolah. Lalu sekolah juga milih lingkungan homogen. Nah pas lulus dan ke masyarakat, aku agak syok dengan agama yang berbeda bahkan agama sama tapi tata cara berbeda juga bikin kaget. Sekarang sama Keponakan tuh lebih banyak ngenalin perbedaan biar dia gak kaget kaya aku

  2. Lidya says:

    Waktu SD anakku diswasta nih mbak, nah SMOnya di negeri dengan lingkungan heterogen jadi bisa belajar banyak hal baru juga di isni, terutama maslah ekonomi yang berbeda jadi lebih bersyukur & saling toleransi

  3. 3835info says:

    Iya benar nih, jika toleransi bisa di aplikasikan dalam kehidupan niscaya keharmonisan tercipta, Wajib di kenalkan sejak dini ke anak. Karena di pundak merekalah keanekaragaman bangsa ini di titipkan

  4. Aku sejak kecil tinggal di lingkungan homogen, tapi sekolah untungnya heterogen. Jadi sudah terbiasa. Bahkan sering dapat sahabat akrab yang latar belakang agama dan sukunya beda.
    Bener sih, mengajarkan toleransi akan lebih mudah dipahami kalau dipraktekkan, alias berada di lingkungan yang berbeda tersebut.

  5. Ruli retno says:

    Bener juga ya mbak, toleransi lebih mudah jika di beri contoh praktik langsung gak sekedar teori dengan cara bertemu orang yang heterogen

  6. nurulrahma says:

    Semogaaaa para ortu di Indonesia bisa menularkn semangat toleransi pd anak2 ya.
    Karena gimanapun kita juga kudu siapkan mereka di global world
    Bismillah.

  7. Iyaa, toleransi itu emang lebih mantep kalo praktik langsung. Paling ampuh mungkin di sekolah memang. Dulu saya 12 tahun sekolah di tempat yg membuat saya jadi minoritas di sana, tapi banyak pelajaran toleransi yg saya pegang sampe sekarang. 🙂

  8. Semoga apa yang mbak ajarkan ke anak bisa diterapkan dengan baik oleh anak sampai seterusnya. Di keadaannya yang bisa dibilang krisis toleransi dan membawa banyak keributan ini udah jadi tanda yang jelas bahwa ke depannya toleransi akan dibutuhkan lebih dari sebelumnya.

  9. Rozi says:

    dengan cara tidak membedakan baik suku, ras, agama si anak akan menajdi pribadi yang dewasa dan sangat memiliki jiwa pancasila pasti sangat bagus tuh

  10. Susindra says:

    KAlau tinggal di lingkungan yang beragam, lebih mudah mengajarkan toleransi. Tapi kalau di lingkungan yang relatif homogen, agak sulit dalam memberikan contoh dan teladan

  11. Retno says:

    Di sisi lain Teh, tinggal di lingkungan heterogen juga nggak menjamin seseorang lebih toleran. Mungkin dari luar terlihat toleran, daripada kenapa-kenapa. Pengalaman menemukan yang seperti itu….

  12. Rahmah says:

    Salah satu alasan kami sekolahkan negeri saat SD nanti adalah toleransi
    Karena kalau sejak kecil ga diajari bakalan susah saat besar nanti

  13. Waktu kecil dulu setiap hari raya kami saling berkunjung.
    Tapi memang beda ya, jaman sekarang ini kan interaksi sudah berkurang, jadi belajar toleransi hanya ditataran teori saja. Ketika bertemu kondisi langsung, jadi bingung dan merasa aneh.
    Gak kayak jaman dulu, tetangga saya naik haji aja, saya juga ikut nganterin, hehehe.
    Juga pas teman tarawih, saya tungguin sampai selesai untuk ngelanjutin main kembang api.

  14. Wuninga.com says:

    Setuju, toleransi memang perlu diajarkan melalui praktek sejak dini ya. Karena memang pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dengan sifat yg tidak sama antara satu sama lain.

  15. Damar Aisyah says:

    Masalah toleransi ini sudah jadi concer kami semenjak anak-anak kecul karena kami sadar hidup dalam lingkungan yg heterogen. Makanya anak saya yg kecil sy masukkan TK Swasta umum yang mana teman-temannya dari berbagai suku, ras dan agama. Benar2 beragam. Sedangnkan Kakanya di SD Negeri yang mana masih mengalami harus berbagi dan bekerja sama dengan teman beda agama. So far, gak ada masalah sih. Malah anak-anak lebih bisa menghargai orang lain. Yang terpenting mereka menganggap berbeda itu biasa. Mereka gak mau memaksa dan tidak mau dipaksa.

  16. Pengalaman berinteraksi dengan banyak perbedaan etnis dan agama sudah saya alami sejak masih SMP ketika ikut kegiatan pramuka, anggotanya hampir lengkap dari semua agama di Indonesia, kami sering diskusi dan berbagi informasi supaya sama-sama terdukasi. lanjut lagi ketika kulaih dan kerja, teman-teman dan rekan kerja cukup heterogen. Bahkan sempat dulu kelola acara siaran agama yang melibatkan pengisi acara dari semua agama, jadi saya kenal para pemuka agama yang ada di kota saya, alhamdulillah, meskipun lingkungan rumah cukup homogen, tapi dapat pelajaran soal toleransi dari dunia aktivitas dan kerja. Sekarang, semangat menjaga toleransi saya tularkan ke anak-anak saya.

  17. Saya jadi ingat pengalaman beberapa tahun lalu suatu pagi sehabis anter wingko ketemu seorang mbak yang kebingungan. Ternyata mau ke Gereja Katedral, ya akhirnya saya arahkan ke lokasi yang dituju meskipun kami beda agama. Toleransi memang makin mahal sekarang, Mbak. Apalagi kalau sudah masuk ranah politik, bisa sangat sengit dan mengerikan. Semoga Fathan makin banyak temannya 🙂

  18. Setuju banget Mba, sebagai Ibu juga saya ingin bisa memberikan pengertian toleransi kepada anak supaya dia bisa menerima perbedaan sebagai sesuatu yang indah plus nggak harus memaksakan keyakinannya kepada orang lain.

  19. umimami says:

    setuju mba, perlu mengenalkan toleransi pada anak baik offline maupun online, apalagi sekarang banyak interaksi via dumay, nahan mulut plus nahan jari ya sekarang hehe

  20. Euisry Noor says:

    Tantangan nih ngajarin toleransi ke anak. Apalagi sekarang ketika nilai2 tsb tampaknya banyak terkikis.
    Dulu aku jg tumbuh di lingkungan homogen. Baru kerasa menikmati lingkungan yang heterogen pas kuliah.

  21. Mengajarkan toleransi itu memang harus sejak dini ya, Mbak. Supaya anak-anak terbiasa dan bisa melakukannya dengan spontan.
    BTW, saya baru tau Mbak Rani sekarang tinggal di Jambi 🙂

  22. Ulya says:

    Makin berumur makin sadar tentang toleransi. Bahkan tak jarang jadi cuek aja dengan apa yang dilakukan orang lain. Tapi sepertinya ini jadi kebablasan sih jatohnya. Hehe

  23. Marfa says:

    Berada d lingkungan yg heterogen memang jd melatih untuk menghargai dan menghormati sih kalau manusia itu bener2 unik, trs jd mindsetnya nggak egosentris. Belajar sejak dini ini selain praktik misal d sekolah itu, jg perlu peran ajaran scra teori untuk pemahaman

  24. Iya mengajarkan toleransi pada anak mustilah sejak dini ya mba. Dan yang paling penting menurut saya ya harus dimulai dengan teladan dan contoh dari orang tua. Jangan sampai orang tua mengajarkan toleransi ee malah omongan kita tidak dijaga di depan anak. Semoga kehidupan damai selalu bertumbuh di masyarakat..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *