Pengertian Alat Pembayaran dan Perkembangannya

Pengertian Alat Pembayaran dan Perkembagannya

Pengertian alat pembayaran dan perkembangannya merupakan bahasan yang sedikit rumit namun ternyata pentingnya dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Karena walaubagaimanapun, aktivitas bertransaksi merupakan kegiatan sehari-hari yang acapkali dilakukan oleh orang dewasa dan disaksikan oleh anak kecil. Jika kita memahamkan pengertian alat pembayaran kepada si kecil, anak pun akan lebih memahami manfaat dan fungsi alat pembayaran.

“Bunda, Fathan mau uang,” pinta si sulung yang usianya baru 3,5 tahun.

“Buat apa, Nak?”

“Buat beli mainan,”

“Memangnya Fathan mau berapa?”

“Mau yang banyak, segini,” ucapnya sambil mengacungkan sepuluh jarinya.

Saya hanya senyum melihat bocah yang sudah mengerti uang sebagai alat pembayaran. Ternyata memang tidak terlalu sulit memberi tahu anak-anak tentang uang dan fungsinya. Bahkan, si anak sudah tahu bahwa untuk membeli sesuatu harus menggunakan uang yang sedikit atau banyak. Walaupun dia belum tahu pecahan-pecahan rupiah dan jumlahnya. Namun, sedikitnya dia sudah tahu kalau uang kertas berwarna merah dan biru artinya nilainya besar dans kalau uang logamnya  nilainya kecil.

Situasi lain saat membayar belanjaan di supermarket, saya mengeluarkan kartu debit. Fathan langsung nyeletuk…

“Bunda, kok bayarnya pakai kartu nggak pakai uang?”

“Iyah, ini namanya kartu debit, di dalamnya ada uangnya?”

“Mana uangnya, Bunda?” tanya Fathan lagi.

Haduuh, si Bunda salah menjawab.

“Uangnya disimpan di Bank, lalu Bank mencatat jumlah uang Bunda dan datanya ada di kartu debit, kartu ini kalau dipakai belanja, jumlah uang Bunda yang ada di Bank berkurang,” saya mencoba menjelaskan. Fathan hanya menatap Bunda, entah dia mengerti atau nggak, yang pasti Fathan sudah tahu kalau kartu yang dipegang Bunda bisa dipakai belanja.

Pengertian alat pembayaran sendiri menurut saya sih sebuah alat yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi pembelian barang. Jika zaman dulu kita mengenal sistem barter atau tukar barang yang berbeda dengan nilai yang setara. Lalu, mulailah dikenal sebuah alat pembayaran sejenis uang. Zaman dulu biasanya menggunakan emas, perak, dan perungu sebagai alat pembayaran. Alat pembayaran terus berkembang dan mulailah dikenal istilah uang. Saat ini setiap negara memiliki mata uang sebagai alat pembayaran. Nilai mata uang setiap negara berbeda-beda dan bisa berubah-ubah tergantung kondisi perekenomian negara tersebut dan kondisi perekonomian dunia.  Dalam perkembangannya, alat pembayaran tidak hanya berupa uang tunai namun sudah muncul beberapa jenis alat pembayaran seperti uang kartal, cheque, bilyet giro, wesel, dan lain-lain. Dari hal tersebut dapat disimpulkan pengertian alat pembayaran adalah alat untuk memindahkan hak atas nilai antara pembeli dan pihak penjual dan terjadi perpindahan juga hak atas barang atau jasa secara berlawanan.

Dari pengertian alat pembayaran tersebut ternyata alat pembayaran terus berkembang dan bentuknya pun terus berkembang. Tidak hanya uang tunai bisa dijadikan alat pembayaran namun alat pembayaran sudah berkembang dalam banyak bentuk. Tinggal bagaimana saya memilih alat pembayaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi saya. Selain itu, saya harus mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan saat menggunakan alat pembayaran tersebut.

Alat pembayaran yang sudah umum kita kenal adalah uang. Pada mulanya uang adalah komoditi yang kemudian berubah dalam bentuk mata uang kertas, logam, dan cek. Agar uang bisa dijadikan alat pembayaran, ada syarat yang harus dipenuhi oleh uag yaitu harus dapat memuaskan keinginan orang yang memilikinya dan secara fisik uang harus tahan lama, nilainya stabul, mudah dibawa ke mana pun pergi, dapat dipecahkan, dan jumlahnya dapat mendukung semua transaksi pembayaran.

Terus terang, saat ini saya lebih suka menggunakan kartu debit sebagai alat pembayaran. Saya agak riskan jika harus ke mana-mana membawa uang tunai. Selain kartu debit, saya juga menggunakan internet banking untuk alat pembayaran lebih praktis untuk saya yang sulit bepergian karena kerepotan membawa anak-anak. Jika ada alat pembayaran yang lebih praktis mungkin saya juga akan menggunakannya.

Sewaktu kecil saya pernah membaca sebuah cerita untuk anak-anak, judulnya Bantal Ajaib Jim. Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa di masa depan, orang-orang sudah tidak menggunakan uang tunai saat bertransaksi. Orang-orang sudah menggunakan semacam chip yang isinya nominal uang. Kita tinggal menempelkan chip tersebut saat bertransaksi, misalnya saat naik bis, kita tinggal menempelkan chip tersebut, lalu nominal uang yang ada di dalam chip otomatis berkurang. Pokoknya chip tersebut dapat digunakan dalam setiap transaksi.

Kenyataannya, saat ini sistem pembayaran seperti itu sepertinya sudah terjadi. Di beberapa drama korea yang saya tonton ada adegan orang menempelkan dompet atau tas saat naik bis. Langsung cling si mesin bunyi dan bis pun jalan.

Tahun 2009, saat ke Singapura (hahaha …pertama kali ke luar negeri) saya sempat dibuat takjub dengan sistem pembayaran moda transportasi di sana. Jadi, kalau saya mau lancar pergi ke mana-mana, saya tinggal beli kartu yang diisi oleh uang. Nah, kartu tersebut bisa dipakai untuk moda transportasi selama di sana. Kalau isi uangnya habis tinggal datang ke tempat pengisian. Kita bisa mengisi kartu tersebut berapa pun. Saat akan pulang ke Indonesia, kartu itu bisa ditukar kembali dengan dolar Singapura. Kartu itu mengingatkan saya pada kartu T***Z**e. Soalnya, waktu itu saya belum menemukan yang seperti itu di Indonesia ( khususnya Bandung).

Saya tidak tahu sekarang alat pembayaran moda transportasi di Singapura apakah masih seperti itu atau sudah lebih canggih. Maklum, saya belum berkesempatan ke sana lagi. Padahal sekarang harga tiket khan sudah murah meriah. Ya sudahlaah, mungkin nanti bisa ajak anak-anak ke sana.

Balik lagi ke cerita alat pembayaran, tentunya sekarang makin banyak pilihan alat pembayaran yang bisa digunakan. Kita bisa memilih alat pembayaran yang paling sesuai dengan kondisi kita. Tentunya alat pembayaran yang membuat kita merasa aman dan nyaman. Kalau kita merasa nyaman jika melihat uang tunai ada di dompet atau tas kita, mungkin pilihannya ke mana pun kita pergi membawa uang tunai. Namun, jika lebih nyaman menggunakan alat pembayaran lain, bisa menggunakan alat pembayaran lain yang lebih praktis dan efisien.

 

 

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

8 Responses

  1. Heni Puspita says:

    Ga lengkap rasanya kalau nggak ada internet banking sekarang. Dulu pas kerja dan belum daftar internet banking mesti bolak balik ATM buat ngecek transferan gaji sdh masuk atau belum hehe.

  2. Pritahw says:

    rasanya dulu mungkin yg mbak baca di buku anak2 itu masih impian saat buku itu ditulis ya mbak, ga taunya sekarang kejadian. Emejing memang 🙂 Kl di Sing, sebelum Ramadhan kpn hari sy berkesempatan kesana mb, masih kok, satu kartu utk MRT dan bus nya 🙂

    Kl sy sih uang tunai perlu, e-money juga iya, buat jaga2 biar ga boros 🙂

  3. Agung Han says:

    anak-anak selalu penasaran
    saya suka dg cara menjelaskan bunda ttg kartu debit 🙂
    salam sehat dan semangat

  4. Ida Tahmidah says:

    Kalau soal uang, biasanya anak2 juga cepet ya… inget wkt kecil kalau belajar matematika dikaitkan dengan uang pasti cepat hahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *