Penulis Novel Sejarah Indonesia Versi Saya

Penulis Novel Sejarah Indonesia Versi Saya. Hati saya berdesir kencang saat membaca halaman pertama buku yang tampak sudah menguning. Jika jantung berdetak kencang, biasanya itu pertanda bahwa buku yang ada di hadapan saya ini isinya luar biasa. Awalnya buku tebal itu teronggok di sudut meja tanpa ada yang memerhatikan. Buku dengan sampul tanpa gambar dan hanya ada tulisan judul “Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer. Sejujurnya nama itulah yang membuat saya tertarik untuk membuka buku tebal yang sepertinya sampulnya saja sudah bukan sampul yang asli. Entah terbitan tahun berapa. Menurut Kak Mita, sang pemilik buku itu, itu buku milik ayah.

Perkenalan pertama saya dengan Pramoedya Ananta Toer saat masih duduk di bangku kuliah. Buku pertama beliau yang saya. baca adalah “Gadis Pantai”. Buku tipis itu cukup membekas di hati saya dan membuat saya penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Menurut saya, Gadis Pantai harusnya ada sambungannya. Namun dari beberapa literatur yang saya baca, tulisan-tulisan Pram banyak yang dibakar saat beliau ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru. Kemungkinan besarnya, beberapa karya Pramoedya tidak sempat diterbitkan karena dibakar. Sayang sekali, khan.

Selain Arus Balik, buku karya Pram yang sangat membekas di hati saya adalah Arok Dedes. Saat membaca kisah Ken Arok dari tulisan Pram, sungguh berbeda dengan buku sejarah yang saya baca saat duduk di bangku sekolah. Tokoh Ken Arok digambarkan sedemikian rupa, sehingga pembaca berhati lemah seperti saya sempat galau, dan bingung menentukan apakah ken Arok itu adalah pahlawan ataukah seorang yang pandai mengambil kesempatan. Apa pun itu, Pram membuat saya bisa menikmati cerita sejarah dan membawa saya ke sebuah waktu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saat novel Bumi Manusia booming, karya-karya Pram sempat berjajar di toko buku besar. Tetralogi Pulau Buru yang terdiri 4 novel yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca juga tampil cantik dengan sampul indah. Tapi entah kenapa, saya belum tertarik membaca tetralogi tersebut. Padahal kisah Nyai Ontosoroh banyak diperbincangkan teman-teman.

Menurut saya pribadi (pendapat subjektif banget) tidak semua buku Pram menggetarkan hati saya. Namun, beberapa bukunya memang mampu menghipnotis saya, bahkan ketebalan halamannya tidak menggetarkan saya untuk menuntaskannya. Ada satu buku karya Pram yang saya jadikan bahan skripsi yaitu yang berjudul Korupsi. Buku itu tidak sampai menggetarkan hati saya, tapi topik yang dipilihnya cukup menggelitik dan menggambarkan bagaimana korupsi dilakukan oleh seorang pegawai negeri sipil yang awalnya bekerja dengan jujur. Godaan korupsi memang bisa membuat siapa saja hilang akal. Sekali melakukan korupsi kecil akan menyeret ke perbuatan korupsi yang lebih besar.

Masih banyak buku Pramoedya yang belum saya baca. Banyak yang memandang miring sosoknya. Suatu ketika, saya pernah membuat status tentang kekaguman saya dengan sosok Pramoedya di media sosial. Seorang teman menegur saya dan mengatakan bahwa saya tidak pantas mengungkapkan kekaguman pada sosok Pram yang dianggap sosok kiri yang memusuhi Islam. Entahlah, apakah dia yang protes itu sudah membaca karya-karya Pramoedya. Saya yang plegmatis tidak suka berdebat, hanya tersenyum mengiyakan. Namun, di hati saya, tulisan-tulisan Pramedya menggetarkan hati saya. Bahkan, jika masih berjodoh, saya ingin mengulang kembali membaca buku-buku Pram. Menurut saya, Pram merupakan salah seorang penulis novel sejarah Indonesia yang mampu menyajikan deskripsi sejarah dengan rasa yang luar biasa.

Pernah saya diceritai seorang sahabat yang pernah datang ke suatu acara yang mengundang Pramoedya sebagai pembicara. Saat itu, Pram sudah sepuh dan duduk di kursi roda. Namun, kehadiran Pram yang didorong di kursi roda tersebut, membuat siapa pun yang hadir di ruangan itu terdiam dan hanya memerhatikan dirinya. Saya belum pernah berkesempatan bertemu dengan sosoknya. Namun, saya membayangkan, jika seseorang yang memiliki aura wibawa yang begitu hebat hanya dengan kehadirannya, bukankah dia sosok yang hebat?

Berkenalan dengan tulisan Pram, membuat saya jatuh cinta dengan novel sejarah dan penulis novel sejarah Indonesia lainnya. Satu lagi penulis yang membuat saya bergetar begitu membaca novelnya. Dialah Romo Mangunwijaya, atau lebih dikenal dengan nama YB.Mangunwijaya. Semua tahu tentang novel Burung-Burung Manyar karya Romo Mangun. Namun, bukunya yang malah sangat menggetarkan saya adalah Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa. Buku berlatar belakang sejarah invasi para pedagang asing seperti Portugis, Spanyol, Inggris yang mengeruk kekayaan alam penduduk Halmahera. Buku ini membuat saya ingin menginjakkan kaki ke tanah Maluku, bertemu dengan para pelaut yang memiliki jiwa patriotik. Bahkan, saya begitu membayangkan keindahan tanah Ternate dan Tidore.

Banyak karya Romo Mangun yang belum saya baca, di antaranya Rara Mendut¸ Durga Umayi, Genduk Duku, Lusi Lindri. Saya hanya berharap- novel-novel tersebut masih ada dan menjadi bacaan wajib bagi pelajar. Membaca novel sejarah membuat kita bisa lebih mencintai tanah air ini dengan rasa yang berbeda. Bukan sekadar buku teks sejarah yang mewajibkan hapalan tanggal dan tahun sejarah. Namun, membuka kisah di balik sejarah yang ada di nusantara. Bagi, saya Romo Mangun adalah satu penulis yang belum ada penggantinya.

Ahmad Tohari mungkin dikenal karena novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang pernah difilmkan. Namun, bagi saya yang mencintai kata, kadang lebih lebih hanyut dalam cerita melalui rangkaian diksi indah yang dirangkai oleh penulis. Ahmad Tohari melalui Ronggeng Dukuh Paruk mampu membawa saya menyelami jiwa Srintil yang menjadi ronggeng di era kejayaan Partai Komunis Indonesia. Para seniman pada zaman itu memang banyak dimanfaatkan oleh partai politik sebagai corong yang membawa symbol-simbol politik tanpa sang seniman tahu apa yang dibawanya. Begitu pula dengan Srintil yang sejak belia harus kehilangan kedua orangtuanya karena keracunan tempe bongkrek. Membaca Ronggeng Dukuh Paruk membuat saya menghayati filosofi hidup, bagaimana makna hidup dari seorang ronggeng yang pada akhir hayatnya harus menanggung beban sebagai antek PKI dan dianggap pengkhianat.

Saya yakin, banyak penulis hebat saat ini. Bahkan, banyak beberapa penulis sastra yang memang karyanya mampu menyedot perhatian, seperti Ayu Utami. Namun, entahlah, menurut pendapat pribadi saya (sekali lagi sangat subjektif dan bisa jadi saya salah karena kurangnya pengetahuan tentang penulis di Indonesia) belum ada penulis zaman sekarang yang kedalaman karya dan maknanya sama dengan para penulis yang saya sebutkan di atas. Saya rindu dengan karya-karya indah seperti karya Pramoedya Ananta Toer, Romo Mangun, dan Ahmad Tohari. Mungkin tantangan hidup yang berbeda dan zaman yang serbainstan membuat kedalaman karya yang berbeda. Salah satu penulis novel sejarah Indonesia yang menarik perhatian saya yaitu E.S ITO dengan karyanya Rahasia Mede. Buku ini cukup menarik membuka cikal bakal negara ini dengan segala intrik yang hadir.

Penulis memang harus bisa mewakili zamannya. Zaman sekarang memang sangat berbeda dengan zaman dulu. Namun, jika ada penulis yang mampu menyajikan sejarah dengan sangat indah dan mampu membawa pembaca seperti menjadi bagian dari sejarah dengan kedalaman rasa yang sama tentunya akan menjadi karya yang luar biasa. Penulis sekarang banyak yang bagus namun bagi saya yang pelupa, agak sulit menghapal penulis muda. Balik lagi mungkin karena kekurangan pengetahuan saya di bidang literasi termasuk pengetahuan tentang para penulis zaman sekrang yang karyanya banyak bertebaran di platform media online.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

23 Responses

  1. Buku karya Pramoedya Ananta Toer rata2 berbobot mbak isinya, saya pun penggemar beliau..

  2. Cindy Vania says:

    Aku suka bukunya Pramoedya Ananta Toer dan pernah juga baca karya Romo Mangun gara2 dikasih tahu sama Romo di gerejaku.

  3. Damarojat says:

    Setiap penulis mewakili zamannya. Zaman sekarang siapa? Hmmm…mungkin menunggu masa beringsut baru ketahuan.

  4. Mechta says:

    Sampai sekarang saya belum pernah membaca buku Pramudya AT dan membaca post ini jadi makin penasaran deh… Thx infonya mba..

  5. Pramoedya Ananta Toer ini salah satu penulis fav aku karena bukunya bagus2 dan isinya dalem banget

  6. Pramoedya adalah salah satu novelis favorit aku lho, aku baca karya beliau sejak masih SMP.karna kebetulan ibu aku guru bahasa dan sastra

  7. Saya belum pernah membaca buku karya Pramudya AT nih, mbak. Setelah baca ulasan ini jadi penasaran sama bukunya

  8. nchie hanie says:

    Nama penulis sekaliber Pramudya Ananta Toer ini emnag legendaris banget ya Ran. Aku sukaa, beberapa bukunya aku punyaa, ceritanya yang ndalem banget.
    Semoga penulis2 sekarang bisa mengikuti jejaknya ga sekedar ngehist seketika di media online saja.

  9. Mugniar says:

    Mereka luar biasa ya, Mbak. Saya hanya kenal satu penulis novel sejarah sekalugus komik sejarah, Mbak. Yaitu Kak Irma Devita. Luar biasa menuliskan kisah perjuangan kakeknya. Risetnya sampai mendatangi daerah2 yang pernah dinapaktilasi kakeknya fahulu juga sempai ke luar negeri.

  10. Novitania says:

    Aku belom baca yg arus balik mba.. Baca postingan mba jadi merasa tertampar nih masih banyak buku buku yg punya nilai sastra tinggi yang belum aku baca huhuhu

  11. Baca ini, terus mikir.. saya pernah baca nover sejarah Indonesia apa ya? jangan-jangan belum pernah nih. wkwkwk.. keseringan baca yang ringanringan sepertinya. Hadeuhh~

  12. Tuty Queen says:

    Aku sampai sekarang suka baca buku Pramoedya, soalnya suami suka beli buku-buku sastra jadinya aku nimbrung baca

  13. lendyagasshi says:

    Ini yang membuat anak-anak tumbuh sesuai zamannya juga yaa, teh…
    Dipengaruhi oleh bacaan dan tontonan. Aku harap, banyak juga pecinta sastra yang masih bertahan di era millenials kini…

  14. Aku cuma kenal sekilas aja nih sama Pramoedya huhu belum sempat baca jarya-karyanya. Katanya sih banyak yang bilang bagus ya.

  15. Gioveny says:

    Pramoedya ni penulis favorit nya paksu tapi jujur aku belom pernah baca sama sekali hasil karya beliau pun walau sudah di filmkan. Termasuk anak jaman sekarang nih aku yg lebih seneng baca gadget & nulis di hape hehehe

  16. Ida Tahmidah says:

    Aku agak sebel sama Pramudiya Ananta Toer itu karena ia yang menfitnah Buya Hamka memplagiat tulisan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dari Penulis Alvonso Care dari Prancis berbulan bulan dia menyerang Buya di koran. Buya Hamka juga dipenjara gara2 di fitnah atas tuduhan subversif merencanakan pembunuhan Presiden Sukarno salah satunya oleh Pramudiya ..gara2 berbeda aliran politik dia berbuat sekeji itu. Tapi pada akhirnya dia menyesal dengan menyuruh anak dan calon mantunya belajar agama kepada Buya Hamka…

  17. Mba, Pram itu bukan penulis sejarah deh kayaknya. Tulisannya lebih menyuarakan pada kritik terhadap sistem yang sedang berlaku saat itu. Emang sih settingnya tentu disesuaikan dengan saat dia hidup pada masanya itu.

    Bumi manusia bagus novelnya, tapi tidak dengan filmnya. Banyak kritik yang tidak sampai ketika diangkat menjadi film.

  18. Mba Rannnnnn, aku malah belum baca lho weheheh soalnya tebal-tebal banget novelnya misalnya yang Mbah Pram itu tebel. Tapi salut sama beliau-beliau, yang lebih dulu menulis novel sejarah luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *