Perempuan dan Hi-Tech

Gambar diambil dari http://budiwiyono.com

Jika mendengar kata Hi-Tech, yang terbayang adalah barisan orang serius yang sedang mengotak-atik sebuah mesin yang superrumit. Rata-rata, barisan orang-orang serius itu berjenis kelamin laki-laki. lalu, di mana perempuannya? Jika ada tokoh perempuan pun biasanya dia akan memiliki kecerdasan yang super –selain wajahnya yang supercantik juga, hehehe ;op– Lalu, di mana keberadaan perempuan-perempuan ‘biasa’ (berwajah biasa aja dan ber-IQ rata-rata-rata) seperti kita-kita ini?

Teknologi biasanya identik dengan jenis kelamin laki-laki. Hal tersebut wajar adanya karena stigma bahwa penemu teknologi adalah laki-laki sudah tumbuh sejak lama. Sejarah mencatat para penemu kebanyakan berjenis kelamin laki-laki, seperti Archimedes, Thomas Alfa Edison, Einstein, Alfred Nobel, dan lain-lain. Dari deretan nama penemu teknologi hanya ada segelintir nama perempuan. Namun, hal tersebut sangat wajar karena pada zaman tersebut ‘kesempatan’ perempuan untuk berkarya sangatlah terbatas.

Lalu, bagaimana dengan masa hi-end ini, apakah perempuan masih ada di baris belakang dalam hal teknologi? Saat ini, kesempatan perempuan dan laki-laki sama dalam mengenyam pendidikan dan memanfaatkan teknologi. Tidak ada pembatasan penggunaan teknologi dan pemanfaatannya bagi perempuan. Sudah tidak aneh jika melihat banyak perempuan menenteng gadget-gadget. Namun, apakah hanya sebatas itu?

Saat ini, teknologi sudah sangat ‘ramah’ dengan perempuan. Gadget-gadget dengan beragam aplikasinya sudah disediakan. Tinggal ‘klik’ kita bisa buka beragam aplikasi dan teknologi yang mudah digunakan mampu meningkatkan kualitas kehidupan.

Saya sendiri bukanlah termasuk orang yang cepat dalam ‘mencerna’, ‘meresapi’, dan memanfaatkan teknologi. Saya termasuk ke dalam golongan gatek alias gagap teknologi. Saat teman-teman lainnya beramai-ramai menggunakan smartphone yang canggih, saya masih bertahan dengan hp ‘sejuta umat’ yang cuma dipakai telpon dan sms, paling banter bisa buka facebook.

Namun, dengan seiring berjalannya waktu, saya menyadari suatu keadaan bahwa sekarang saya berada di era yang sudah ‘berbeda’. Segala sesuatu sudah tersedia dan mudah. Saya tidak bisa terus-menerus berpikir ‘seadanya’ atau secukupnya. Sebagai orang yang tergolong rata-rata (baik penampilan fisik maupun kecerdasan otak) saya tidak ingin berada di tempat yang rata-rata pula. Oleh karena itu, saya mencoba untuk berakrab ria dengan teknologi. Ternyata memang tidak serumit dan sesulit yang dibayangkan. Walaupun tetap mesti memiliki ‘mentor’ sebagai tempat bertanya. Namun, setidaknya saya dapat memanfaatkan teknologi untuk menunjang semua aktivitas saya.

Teknologi internet beserta beragam aplikasinya sangat membantu seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Ibu Rumah Tangga dapat dengan mudah menemukan resep-resep lezat yang dapat dihidangkan di meja makan keluarganya. Selain itu, dengan adanya internet para ibu rumah tangga dapat bekerja di rumah dengan tetap mengawasi putra-putrinya, misalnya seorang ibu rumah tangga sekaligus penulis dan freelancer.

So, manfaatkan teknologi yang sudah tersedia untuk meningkatkan kualitas kehidupan, kualitas hubungan sosial, dan peningkatan pengetahuan. Teknologi itu untuk siapa saja dan bukan sesuatu yang menakutkan dan menambah rumit keadaan. Sebaliknya, teknologi membantu memudahkan dan memperlancar segala aktivitas kita. Asalkan kita bijak dalam menggunakannya.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *