Perjuangan Memberikan ASI untuk Buah Hati

Perjuangan Memberikan ASI untuk Buah Hati

Sebelum memiliki buah hati, saya bercita-cita menjadi ibu yang sempurna. Apalagi lama tidak kunjung dikaruniai anak membuat saya menjadi perempuan idealis yang kelak ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati. Selama masa kosong 7 tahun, saya banyak mengisi waktu membaca buku parenting, ikut seminar parenting. Segala hal berbau anak-anak,saya suka. Saya kumpulkan buku-buku bacaan untuk anak-anak.  Saya pun bercita-cita, kelak bisa memberikan ASI pada anak-anakku.

Doa yang takkunjung berhenti pun didengar oleh Yang Maha Kuasa. Berbekal rasa penasaran, pagi itu saya melakukan testpack. Alhamdulillah, terdapat dua garis merah yang menandakan bahwa saya hamil. Saya pun memulai perjalanan saya menuju cita-cita menjadi ibu yang idealis. Selama masa kehamilan, saya menjaga kehamilan, baik asupan gizi, kesehatan bayi, dan lain-lain. Saya juga mengikuti semua nasihat yang mampir ke telinga, salah satunya mempersiapkan pemberian ASI sejak dini. Bagaimana merawat PD sejak masa kehamilan agar ASI lancar.

Alhamdulillah, bayi yang dinanti lahir dengan berat 4kg melalui operasi sesar.  ASI pun lancar sejak hari pertama si bayi mimik. Saya pun bekerja keras agar ASI tetap keluar dengan lancar. Apalagi, Fathan termasuk bayi yang banyak minum ASI. Untuk bisa memenuhi kebutuhan  ASI untuk saya mencoba berbagai booster ASI. Saya sempat rutin minum jus pare campur melon agar ASI bisa melimpah ruah. Jangan tanya bagaimana rasanya? Wuiiw, pahit dan Pahang.

Saat itu saya masih menjadi ibu idealis yang ingin bisa memberikan segala sesuatu dengan sempurna pada buah hati. Saya berusaha sangat keras dan tidak mencurahkan semuanya untuk anak. Hingga akhirnya, saya harus mendapati kenyataan bahwa saya haru stop memberikan ASI pada Fathan saat Fathan berusia 14 bulan karena dengan terpaksa saya harus berpisah dengannya. Fathan terkena  flek di paru-parunya sehingga harus mendapatkan perawatan selama 6 bulan. Fathan harus berada di lingkungan yang bersih dan bebas polusi. Hingga akhirnya, orangtua sepakat merawat Fathan hingga sembuh.  Berpisah dari anak bukanlah hal yang menyenangkan. Saya menjalani waktu yang cukup berat saat berpisah dengannya. Namun, kenyataan itu telah mengubah persepsi saya tentang menjadi seorang ibu.

Allah pun kembali memberi karunia kepada saya, saat Fathan berusia 2 tahun,saya dinyatakan positif hamil. Alhamdulillah, kehamilan berjalan lancar walaupun saya tidak menjaga pola makan seperti pada kehamilan yang pertama. Saat kehamilan kedua, saya bukan lagi ibu yang idealis. Saya lebih santai dalam menjalani kehamilan. Hingga lahirlah bayi mungil cantik yang diberi nama Fakhira. Alhamdulillah, saat lahir, ASI saya pun langsung keluar. Tidak ada masalah sama sekali.

Masalah timbul saat Fakhira berusia 6 bulan. Saya kembali harus berpisah dengan bayi mungil ini. Rasanya berat harus kembali berpisah dengannya.Apalagi dia masih sangat kecil. Baru selesai ASI eklusif Rasanya sangat tidak tega harus membiarkan bayi mungil yang baru belajar merangkak ini terlepas dari gendongan. Tapi, saya kembali harus merelakan diri berpisah. Saya berusaha ikhlas.Pengalaman pertama kali berpisah dengan Fathan membuat saya lebih tegar.

Setelah berpisah, saya pun berhenti memberikan ASI pada Fakhira. Saya sudah mencoba terus memompa ASI agar ketersediaan ASI tetap terjaga. Namun, ASI sedikit sekali yang keluar hingga saya pun berhenti memompa ASI.

Rasa rindu yang tidak terperi pada buah hati membuat saya tetap tegar menjalani hari. Seminggu sekali bertemu rasanya berat sekali. Tidak melihat perkembangannya rasanya sedih sekali. Tapi saya harus menjalani hal tersebut dengan ikhlas. Akhirnya, saat usia 12 bulan, saya berkumpul lagi dengan Fakhira. Rasanya bahagia sekali. Kami semua bisa berkumpul kembali.

Dalam hati muncul keinginan untuk bisa kembali memberi ASI pada Fakhira. Hingga saya  ikut seminar parenting dan dikenalkan dengan istilah relaktasi. Ah, ternyata relaktasi hanya untuk ibu yang berpisah sebentar dengan anaknya. Kalau saya berpisah selama 6 bulan. Apakah ASI akan kembali keluar? Saya ragu. Tapi saya juga sudah tidak sempat  minum jus pare yang pahit. Bukan karena rasanya yang pahit tapi perlu usaha lebih untuk mempersiapkannya. Sementara saat ini saya repot dengan dua balita yang harus dijaga dan dirawat.

Terus terang, saya sudah tidak punya harapan bisa memberikan ASI pada Fakhira. Namun, Fakhira masih mau karena setiap ketemu pasti minta mimik ke PD. Saya pun tetap membiarkan Fakhira menyusu tanpa tahu apakah ASI-nya ada atau tidak. Saya pun minum  ASI booster  Tea yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Rany Yulianty

ASI Booster Tea merupakan minuman teh pelancar ASI alami pertama di Indonesia yang bisa meningkatkan jumlah ASI hingga 900% hanya dalam waktu 24 Jam.

Keunggulan ASI Booster Tea :
• Melancarkan ASI hingga 900% dalam waktu 24 Jam – 72 jam
• 100% herbal yang aman untuk ibu & bayi
• Lebih ekonomis, tanpa konsumsi susu formula
• Sudah dikonsumsi jutaan ibu menyusui

Saya merasakan manfaat setelah minum ASI Booster Tea, ternyata ASI saya mancer keluar.  Pantesan Fakhira anteng kalau sedang menyusu karena ternyata ASI saya keluar. Saya sadar saat Fakhira memencet PD dan ASI mancer. Alhamdulillah, saya pun jadi semangat minum ASI Booster Tea.

ASI Booster Tea lebih unggul dari pelancar ASI lainnya karena diracik dengan cermat dengan takaran bahan yang tepat. Sehingga manfaatnya terasa oleh ibu menyusui. Alhamdulillah, setelah berhenti menyusui selama 6 bulan, ternyata ASI saya bisa keluar kembali.

ASI Booster Tea

Adapun komposisi Asi Booster Tea sebagai berikut :

ASI booster Tea (walaupun tanpa kandungan daun teh) adalah sebuah suplemen penambah ASI yang terbuat dari bahan alami (herbal) dengan komposisi Fenugreek seed, fenugreek powder, FENNEL SEEDS,Fennel powder, ANISE, cinnam venum, alpinia powder, dan habbatussauda.

Sekarang usia Fakhira menginjak 18 bulan. Dia pun masih tetap menyusu. Berat badannya pun terus bertambah. Saya sangat bahagia bisa melihat pertumbuhan Fakhira yang tumbuh dengan baik. Saya bersyukur bisa kembali memenuhi kebutuhan Fakhira. Bayi mungil yang kini tumbuh menjadi balita cerdas ini masih mendapatkan haknya minum ASI. Menjelang usia dua tahun, saya sangat berharap bisa meemberi ASI pada Fakhira hingga dia genap berusia 2 tahun.

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

4 Responses

  1. ajenangelina says:

    Aduhh adik Fahira montok sekali ketika lahir 4KG.. Wah boleh juga ini Teh Rannnn buat disimpan nanti dipake saat ada anak.. Sekarang inces cari suami dulu hahahaha..
    Selalu sehat yah dede Fahiraa

  2. SYUNAMOM says:

    Asi memang nutrisi terbaik buat buah hati kita, ASI Booster ini katanya ampuh ya buat mendongkrak produksi air susu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *