Pilihan Tetap Menjadi Ibu Bekerja Demi Menjaga Kewarasan

pilihan-tetap-menjadi-ibu-bekerja-demi-menjaga-kewarasan

Pilihan Tetap Menjadi Ibu Bekerja Demi Menjaga Kewarasan. Kalimat tersebut terlihat sangatlah egois bagi sebagian orang. Apalagi bagi penggagas ibu kembali ke rumah. Percayalah, saya pun pernah punya impian untuk berada di rumah bersama anak-anak, mendampingi tumbuh kembang mereka. Percayalah, saya pun pernah impian bisa menjaga anak-anak di rumah sambil menghasilkan uang. Saya tidak pernah bermimpi menjadi wanita karier dan menitipkan anak-anak di rumah orang tua, saya juga tidak pernah memaksakan berkarier dan beraktivitas di luar rumah hingga harus menitipkan anak-anak di daycare.

Saat melihat para ibu melakukan kegiatan bersama anak-anaknya di rumah, percayalah saya iri luar biasa. Saat melihat para ibu memasak dan menyajikan menu favorit sehat dan lezat untuk anak, percayalah saya sudah mengumpulkan beragam resep masakan untuk anak-anak. Saat melihat seorang ibu yang melakukan pendidikan di rumah, percayalah saya merasa kagum luar biasa. Bahkan tiga tahun yang lalu, saya pernah menulis surat pengunduran diri yang entah kenapa tidak pernah saya sampaikan kepada perusahaan.

Saya sampai berpikir, apakah impian saya untuk bekerja di rumah itu kurang kuat. Entah kenapa selalu saja ada halangan. Padahal saya sudah ikhtiar dengan mencoba dengan merintis bisnisonline dengan harapan bisa menjadi pegangan saat nanti berada di rumah. Awalnya melesat, lalu tiba-tiba melambat dan tidak bersemangat. Entahlah …

Ternyata memang Allah Swt. menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan jawaban yang sangat indah. Jangan harap bisa mendapat jawaban atas doa langsung seketika. Namun, Allah Swt. memberikan jawaban melalui hikmah.

Baca Juga: Tips Mengatasi Hal Menyakitkan dalam Hidup

Melalui beberapa ‘penderitaan’ (hahahaha … itu menurut versi saya, kalau menurut orang lain mungkin lebay) akhirnya saya bisa menemukan jawaban. Selama ini saya tidak pernah mencari jawaban, selama ini saya selalu terlena dengan segala kemudahan. Memiliki anak dengan jarak cukup dekat membuat saya mulai berpikir karena adanya kesulitan. Ya, saya kesulitan membagi waktu, saya kelelahan, saya merasa tidak berdaya. Posisi saya yang masih menjadi ibu bekerja selalu saya jadikan kambing hitam. Astagfirullah…betapa egoisnya saya. Tanpa saya sadar bahwa selama ini kewarasan saya masih terjaga karena saya masih tetap bekerja.

Kenapa saya bilang begitu? Saat awal-awal anak-anak ada di Bandung bersama saya (sebelumnya si kecil dititip ke Mama) saya mengalami stress. Gimana enggak stress, saat si kecil masih butuh perhatian, ternyata si sulung lebih menuntut perhatian. Bahkan, tuntutannya lebih. Contohnya gini, saat pulang kerja, si kecil udah nangis-nangis saja enggak mau ditinggal shalat, eh yang besar minta dibikinin ini itu. Mamaknya yang mau shalat sampai keder berat. Awal-awalnya berat banget, bahkan saya sering kecapean hingga mengakhirkan shalat Isya. Hikss… untungnya setelah beberapa waktu berjalan, kami bertiga mulai bisa menyesuaikan. Si kecil sudah tidak terlalu rewel saat ditinggal shalat asalkan megang camilan. Hihihih … si sulung yang berusia 3,5 tahun pun sedikit-sedikit sudah bisa dikasih pengertian. Walaupun sesungguhnya lebih berat menghadapi si sulung karena sikapnya yang lebih keras. Hiksss …

Jujur, kondisi tersebut sempat membuat saya stress berat, emosi tidak terkendali, kelelahan. Akhir pekan pun sudah tidak menjadi hal menyenangkan. Saya merasa lebih capek daripada hari kerja. Kenapa? Karena saya seharian bersama dua bocah yang sudah enggak mau diam. Cucian menggunung di sudut kamar, setrikaan bergulung-gulung di jolang, dan mainan bertebaran di lantai. Rumah tidak pernah rapi, lantai selalu licin bekas tumpahan minuman dan remah makanan yang berjatuhan. Baru saja disapu, sudah bertebaran lagi remah-remah makanan, baru saja dipel sudah lengket lagi si lantai. Whuaaa… pengen jambak rambut rasanya.

Setiap pagi berangkat kerja tidak pernah meninggalkan rumah dalam keadaan rapi jali. Saat pulang ke rumah selalu dihadapkan dengan keadaan yang berantakkan. Padahal kurang apa coba, setiap dua malam sekali sudah begadang demi mengurangi gundukan setrikaan, setiap habis Subuh sudah sibuk di depan mesin cuci sambil menggendong bayi. Si kecil ini punya tabiat, emak bangun, dia ikut bangun. Whuaaaa … pengen guling-guling di lantai. Belum lagi kalau si sulung ikut bangun dan menambah kericuhan pagi hari. Hayati lelah, Baaaang….

Ya. Itulah pernik kehidupan yang sedang saya jalani. Untungnya (Alhamdulillah ya Allah), saya masih bisa waras menghadapi semuanya. Kenapa saya masih tetap waras, karena saya menghadapi semua itu hanya pagi dan malam hari selama lima hari, baru saat akhir pekan (Sabtu-Minggu) saya seharian bersama mereka.

Kini, Bunda lebih hepi dengan dua buah hati

Kini, Bunda lebih hepi dengan dua buah hati

Tahukah?  Ternyata saat berada di kantor dan bekerja, saya bisa menjaga kewarasan saya. Saya bisa fokus dengan diri saya, saya pun punya kesempatan untuk berpikir dan merenung semua yang saya alami. Saat berada di kantor, seminggu sekali saya masih bisa makan dan nongkrong bareng bersama teman. Saat berada di kantor, saya masih bisa menonton drama korea kesayangan, waktu istirahat. Saat berada di kantor, sesekali saya bisa membaca buku kesayangan. Saya masih bisa bermedia sosial, ketawa-ketawa saat ada yang kirim meme lucu di grup, cekikikan saat mendapat bully-an, hahaha hihihi ngobrol bareng rekan kerja. Saat di kantor, saya masih bisa dapet info-info menarik seputar dunia blogging, dan kepenulisan. Ya, saya harusnya bersyukur dengan semua itu.

Saya sadar betul, jika saya berada di posisi sebaliknya, saya menjadi FTM (Full Time Mother) dan seharian bersama anak-anak, saya belum tentu bisa bertahan. Apalagi saya termasuk orang yang moody, kurang sabaran, mudah bereaksi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan emosi. Pokoknya rentan banget dengan masalah stress.

Saat membaca artikel yang memuat berita tentang seorang ibu yang menganiaya bayi (bahkan memutilasi), batin saya sangat tersentak. Apalagi diberitakan bahwa ibu tersebut mengalami depresi berat. Fakta yang membuat batin menjerit adalah si ibu memiliki dua orang anak yang jaraknya berdekatan, anak pertama 3 tahun dan anak kedua berusia satu tahun. Kembali batin saya meringis karena jaraknya anak-anaknya hampir sama dengan anak-anak saya.

Memang sungguh berat memiliki anak-anak dengan usia berdekatan apalagi jika merasa ‘sendirian’ dalam menghadapinya. I know that. Ini bukan kejadian yang pertama. Dulu, saat saya belum punya anak, pernah ada berita yang hampir serupa. Seorang ibu menenggelamkan anak-anaknya ke dalam bathtub karena depresi. Dulu reaksi saya seperti reaksi orang kebanyakan, “Tega benar ya seorang ibu menghilangkan nyawa anak-anaknya,”. Sekarang setelah saya memiliki anak-anak. Sedikitnya saya bisa memahami kenapa mereka bisa begitu.

Sungguh jika sebelumnya saya merasa menjadi orang paling menderita (kembali deh drama), sekarang saya merasa menjadi ibu yang sangat beruntung. Allah Swt. tetap menjaga kewarasan saya sehingga saya tetap sadar bahwa mereka itu adalah anak-anak titipan Allah Swt, yang harus saya jaga. Walaupun pada waktuwaktu tertentu saya pernah kehilangan kesadaran dan bertindak keras sama mereka (hiks…maafkan mamakmu yang sering membentak, ya, Nak). Setidaknya saya diberi rasa menyesal dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Jika dulu, saat merasa kecewa pada sesuatu dan ingin diam lalu diganggu oleh kerewelan anak-anak, saya merasa emosi. Kenapa sih enggak punya sedikit pun waktu untuk diam dan merenung? Pikir saya. Sekarang, saya merasa bersyukur dengan kerewelan mereka. Kenapa? Karena saat saya termenung, kerewelan merekalah yang mengembalikan kesadaran saya. Sehingga saya bisa merasakan kejadian saat itu, bukan luka masa lalu atau kekhawatiran masa depan. Terima kasih, anak-anak.

Jika dulu saya berpikir bahwa saya masih bertahan bekerja untuk anak-anak, sekarang saya sadar bahwa saya bertahan bekerja untuk diri saya sendiri, untuk menjaga kewarasan saya, agar saya masih tetap bahagia, dan menjadi ibu yang menyenangkan untuk mereka. Alhamdulillah  ya Allah, saya masih diberi kesempatan untuk mendapatkan hikmah dari setiap kejadian. Hingga saya bisa bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada diri dan kehidupan . Saya tidak lagi menyalahkan keterbatasan saya sebagai seorang ibu yang masih tetap bekerja, malah sebaliknya, saya mensyukurinya.

Begitulah, sebuah perjalanan memang tidak selalu menyenangkan. Tidak selalu jalan lurus yang datar namun kadang ditemukan jalanan terjal dan menanjak. Namun, apa pun jalan yang kita hadapi, jalanlah dengan lurus, selalu lihat marka (penanda dan pertanda) jalan dan carilah jawabannya.  Dan jawaban yang saya temukan saat ini adalah Pilihan Tetap Menjadi Ibu Bekerja Demi Menjaga Kewarasan. Entah nanti.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. Leyla says:

    Wah saya pernah juga berada di posisi ini dgn usia 2 anak yg jeda setahun. Memang stresnya minta ampun. Apalagi saya di rumah terus. Tapi Alhamdulillah, bisa terlewati dgn support suami, yaitu dikasih pembantu rumah tangga hihihi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *