Reportase Ala Blogger

IMG_20151218_134742

Reportase ala blogger. Itu materi yang disampaikan oleh Syaifuddin Sayuti atau biasa dipanggil Bang Udin. Materi ini disampaikan dalam rangkaian cara #KelasBlogger #KudoBox bareng KUDO dengan materi-materi di antaranya yaitu: 1. Menulis Reportase Ala Blogger oleh Syaifuddin Sayuti, 2. Menulis Riview di Blogger oleh Kang Arul, dan 3. Belanja Online untuk Semua Orang. Acara ini diadakan di kantor perwakilan KUDO Bandung, Jl. Setiabudi No.112. Lokasinya strategis di pinggir jalan, walaupun kantornya tidak terlalu besar tapi ruangannya bisa menampung sekitar 30 blogger yang ikut acara.
Bagi saya yang awam dengan dunia jurnalistik, tentunya senang sekali mendapatkan materi ilmu mengenai reportase. Bagi saya yang menulis suka-suka, menulis reportase terasa seperti sesuatu yang nunjauh di sana. Saya tahu menulis reportase ada peraturannya. Selain itu, menulis untuk bisa menulis reportase yang bagus tentunya harus banyak latihan. Apalagi, tulisan reportase sepertinya merupakan hak paten seorang jurnalis. Kalau blogger apakah bisa menulis reportase sebagus jurnalis?
Pengalaman Bang Udin bekerja sebagai reporter di beberapa media massa membuat Bang Udin lihai menulis reportase. Namun, apakah tulisan reportase bisa digunakan untuk ngeblog. Jawabannya tentu bisa, bahkan memberikan nilai lebih pada tulisan di blog. Lalu, munculah ulasan reportase ala blogger. Lalu, sebenarnya apa itu reportase. Tulisan reportase merupakan tulisan laporan berdasarkan fakta yang aktual dan akurat. Oleh karena itu, tulisan reportase harus berdarakan fakta yang ada, misalnya saya berada di sebuah acara pada hari H di gedung B, dengan pengisi acara si C. Semuanya harus aktual dan akurat yaitu tidak boleh salah menuliskan nama tempat, nama orang, juga peristiwa yang terjadi. Tulisan reportase lebih lugas sementara itu, seorang blogger lebih personal tulisannya. Lalu, apakah tulisan reportase ala blogger menggabungkan tulisan laporan dengan lebih personal? Mari lanjut kita kupas bahasan berikutnya.
Bang Udin menjelaskan bahwa tulisan reportase memiliki sifat berbeda dengan tulisan lainnya. tulisan reportase itu nyata, tentunya berbeda dengan tulisan fiksi. Tulisan reportase juga bersifat unik dan baru, maksudnya yaitu dalam tulisan harus jelas tujuannya, siapa narasumbernya, apa yang membedakan acara ini dengan acara lainnya. Tentunya hal itu bisa disebutkan dalam tulisan yang bersifat reportase. Selain itu tulisan pun harus baru alias selalu update. Dalam tulisan reportase harus jelas tempat kejadiannya di mana, jam berapa, dll.
Dalam ilmu jurnalistik dasar dikenal dengan jurus 5 W + 1 H (5W=what, when, where, who, why) (1 H= how). Jurus dasar ini merupakan jurus dasar dalam penulisan reportase yang bisa juga digunakan blogger saat mengikuti sebuah acara dan menuliskannya dengan gaya reportase. Tentu saja disesuaikan dengan gaya penulisan blogger yang lebih personal. Yang membedakan tulisan blogger dengan karya jurnalistik yaitu tulisan seorang blogger lebih personal, ada yang menggunakan kata ganti pertama aku, saya, gue. Ada yang menyapa para pembacanya dengan sapaan bro, bray, sist, dll. Tulisan seorang blogger juga memiliki sudut pandang yang berbeda dengan blogger lainnya. Contohnya ada 10 orang blogger yang hadir dalam acara KUDO, tentunya setiap blogger memiliki sudut pandang yang berbeda, ada yang lebih spesifik menulis mengenai narasumber, mengenai bangunan, mengenai acara, mengenai makanannya, dsb.
Bang Udin mencontohkan saat dirinya diundang makan malam bersama presiden RI, blogger lain banyak yang menulis mengenai pesan Jokowi untuk blogger. Bang Udin memilih sudut pandang berbeda, Bang Udin menulis mengenai seorang blogger yang berjuang menuju istana untuk bertemu dengan presiden. Tentunya dengan judul dan sudut pandang yang berbeda membuat tulisannya lebih unik. Seorang blogger juga memiliki style atau gaya penulisan yang berbeda satu sama lain. Gaya tulisannya tersebut bisa menjadi ciri khas seorang blogger. Satu lagi, seorang blogger biasanya menyertakan foto dalam artikelnya. Foto yang disertakan biasanya lebih personal, bisa foto narsis dengan latar belakang tempat kejadian, atau foto selfie dengan berbagai ekspresi. Tentunya foto-foto seperti itu tidak diperkenankan di media massa.
Menurut saya pribadi saat mendengar ulasan dari Bang Udin, menulis reportase ala blogger lebih menyenangkan karena seorang blogger bisa menuliskan tulisan reportase dengan gaya yang lebih personal. Tulisan reportase bisa ditulis oleh seorang blogger yang notabene tidak memiliki pengalaman jurnalistik. Tentunya dengan banyak berlatih, seorang blogger juga bisa membuat tulisan reportase yang berkualitas dengan sentuhan personal dan style yang unik. Heuumm… masih harus banyak belajar lagi agar bisa membuat tulisan reportase yang berkualitas namun tidak meninggalkan gaya penulisan yang personal.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

5 Responses

  1. Yati Rachmat says:

    Mbak Rani, sebagai pembaca Bunda rasa alangkah baiknya andai Rani memisahkan kalimat-kalimat yang panjang dalam bentuk paragrap.

  2. Rosanna Simanjuntak says:

    Setuju Mbak Yati
    Biar lebih sedaaap yaa di baca
    Kalau terlalu rapat, mata mudah sepat
    Betul apa betul?

  1. 24 December 2015

    […] Kudo saya semangat mendaftar. Apalagi materi yang akan disampaikan sungguh menarik minat yaitu; 1. Menulis Reportase Ala Blogger oleh Syaifuddin Sayuti, 2. Menulis Riview di Blogger oleh Kang Arul, dan 3. Belanja Online untuk Semua […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *