Representasi Gender dan Transgender dalam Iklan Indomie Goreng Rasa Kuah Versi Telenovela

Representasi Gender dan Transgender dalam Iklan Indomie Goreng Rasa Kuah Versi Telenovel

Representasi Gender dan Transgender dalam Iklan Indomie Goreng Rasa Kuah Versi Telenovela merupakan kajian yang saya tulis dalam artikel ini. Dalam artikel ini, saya menentukan representasi gender dalam Iklan Indomie Goreng Rasa Kuah yang sedang menjadi viral di media sosial Youtube sebagai objek kajian. Iklan Indomie Goreng Rasa Kuah merupakan iklan dari produk  Indomie. Dalam iklan ini terdapat representasi gender dan Transgender, baik secara visual gambar maupun teks.

Iklan yang berdurasi satu menit tiga puluh lima detik ini mengusung gaya telenovela yang pernah hits tahun 1990-an di stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia. Para bintang iklan pun berwajah latin dengan nama-nama menyerupai tokoh dalam telenovela. Iklan ini berhasil menarik perhatian netizen sejak tayang tahun lalu di Youtube dan sudah ditonton 228.721 kali.

Iklan Indomie Goreng Rasa Kuah versi Telenovela

Iklan Indomie Goreng Rasa Kuah versi Telenovela

Dalam iklan ini dikisahkan seorang tokoh laki-laki eksekutif muda berwajah tampan merasa lapar. Lalu bertanya apakah ada makanan pagi-pagi begini. Sang office boy bernama Maman Supratman segera menanggapi keluhan tersebut. Lalu, muncul dua orang perempuan cantik bernama Talita dan Rosalina yang saling berebut perhatian Rudolfo.  Talita akan memikat Rudolfo dengan masakan yang digoreng. Sementara Rosalina akan menyajikan makanan berkuah yang lebih disukai Rudolfo. Namun, ternyata Kang Mamanlah yang mengerti selera Rudolfo. Lalu, Kang Maman membuka lanci kitchen set dan terdapatlah Indomie Goreng Rasa Kuah. Kemunculan tokoh laki-laki yang memakai kaos pink dan bersikap genit merupakan tokoh yang tidak bernama namun merepsentasikan seorang waria atau Transgender.

Transgender sudah lama dikenal di berbagai budaya. Di belahan Timur Asia dapat ditemukan banyak mitos dan istilah untuk menyebut kelompok transgender ini. Dennis Altman dalam “Global Sex“ mencoba untuk menelusuri sebutan-sebutan kelompok transgender male to female di beberapa Negara. Ia menyebutkan bahwa transgender, terutama kelompok male to female (transman) memiliki banyak variasi yang kompleks. Di Indonesia kaum transgender transman identik dengan sebutan “waria” [wanita-pria], “kathoey” di Thailand, “hassas” di Maroko, “kocek” di Turki, “bayot” di Filipina, dan “kitesha” di Luba di sebagian wilayah Congo (Altman, 2002).

Pembahasan

Gender merupakan atribut sosial-kultural yang ditempelkan pada jenis kelamin, di mana laki-laki harus maskulin dan perempuan harus feminin. Sejak kecil manusia sudah diajarkan bagaimana berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya. Semua itu lahir karena ideologi yang sudah merekat kuat dalam ingatan alam bawah sadar seseorang, sehingga menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang natural dan alamiah. Bagaimana perempuan harus selalu feminin, lemah lembut, gemulai, bertutur halus, menjaga bentuk tubuh, duduk dengan kaki rapat dan lain sebagainya. Sedangkan laki-laki dituntut harus selalu jantan, tidak boleh menangis, serta kuat secara fisik dan mental. Padahal, hal tersebut merupakan konstruksi sosial-kultural yang direkatkan pada perbedaan biologis. Sementara, Transgender adalah orang-orang yang melintasi konstruksi sosial-kultural tersebut. Oleh karena itu, transgender merupakan perempuan yang bergender maskulin atau laki-laki yang bergender feminin.

indomie-goreng-rasa-kuah1

Tokoh Rudolfo

 

Tokoh Talita

Tokoh Talita

 

Tokoh Rosalina

Tokoh Rosalina

Rudolfo direspresentasikan sebagai tokoh utama yang menstimulasi tindakan bagi tokoh-tokoh lainnya. Rudolfo digambarkan sebagai sosok yang sangat maskulin, baik dari penampilan maupun sikap dan cara bicaranya. Sementara sosok feminin direpresentasikan oleh kedua tokoh perempuan cantik bernama Talita dan Rosalina. Keduanya saling berebut cinta dari Rudolfo. Representasi gender maskulin dan feminin tampak jelas antara Rudolfo serta Talita dan Rosalina. Hal terebut terlihat dari bahasa tubuh kedua gender tersebut. Representasi feminin yang digambarkan pada tokoh Talita dan Rosalina mendasari adanya pembentukan bahasa tubuh sebagai ritual sosial semacam girling (kewanita-wanitaan) sebagai produksi dari seorang gadis (Livia & Hall, 1997).

Identitas maskulin dan feminin yang direpresentasikan oleh tokoh Rudolfo serta Talita dan Rosalina merupakan identitas yang meurut Butler dibentuk secara performatif, diulang-ulang hingga tercapai “identitas yang asli“ seperti disampaikan dalam bukunya Gender Trouble (Salih, 2002):

Gender is the repeated stylization of the body, a set ofrepeatedacts within a highly rigid regulatory frame that congeal over time to produce the appearance of substace of natural sort of being.“

Butler berpandangan bahwa identitas selalu dikaitkan dengan proses penandaan yang telah diatur oleh suatu hukum yang berlaku universal. Ketika dikatakan subyek merupakan hasil kontruksi berarti bahwa subyek adalah hasil dari aturan-aturan ini. Dengan kata lain, subyek tidak sekadar dibatasi oleh diskursus maupun budaya sosial, melainkan dibentuk oleh budaya. Aturan yang tertanam dan tersebar melalui proses repetisi ini telah tersedia dan kerjanya langsung membatasi dan membentuk identitas seseorang. Aturan ini telah yang tertanam dan tersebar melalui proses repetisi ini telah tersedia, dan kerjanya langsung membatasi dan membentuk identitas seseorang. Aturan ini telah otomatis terbentuk dalam acuan hierarki gender dan mewajibkan suatu gaya hidup heteroseksualitas.

Gender selalu dikaitkan dengan seks yang membentuk pemahaman tentang kewajiban untuk bertindak ‘sebagaimana mestinya’ seperti yang telah ditentukan oleh aturan ideal tersebut yaitu male harus bertindak secara maskulin sementara female harus bertindak feminin.

Dorongan seks tersebutlah yang membuat kedua tokoh feminin yaitu Talita dan Rosalina saling bersaing memperebutkan cinta Rudolfo melalui tindakan yang feminin yaitu memasak. Sudah menjadi pandangan umum bahwa memasak adalah tugas feminin untuk memberikan pelayanan terhadap maskulinitas. Walaupun pada kenyataannya saat ini memasak bukan lagi tugas feminin karena hal tersebut didobrak oleh tokoh Maman Supratman yang bertugas sebagai office boy (OB). Pada kenyataannya, Kang Mamanlah yang mengerti keinginan Rudolfo dengan menyajikan masakan Mie Goreng Rasa Kuah.

Tokoh Kang Maman

Tokoh Kang Maman

Secara identitas Kang Maman representasi dari sosok maskulin melalui penampilan dan sikapnya. Namun, secara tindakan, Kang Maman memperlihatkan sisi feminin melalui aktivitasnya menyajikan masakan bagi Rudolfo. Bahkan Kang Maman menguatkan dengan kalimat “Kalian berdua silakan bersaing sekalian menimbun mudarat, tapi Kang Maman lebih tahu selera Rudolfo, hahaha ….”

Iklan yang menampilkan tagline Indomie Goreng Rasa Kuah Gak Pake Kuah menampilkan sosok tidak bernama (bisa saya sebut X) yang penampilannya merepresentasikan Transgender. Secara penampilan dia memperlihatkan sosok feminin melalui sikap dan tindakannya. Tokoh X terlihat feminin dengan mengenakan kaos ketat berwarna pink. Warna pink merupakan representasi feminitas perempuan seperti yang diungkapkan Yulius (2015), […] persepsi warna merah muda sebagai warna feminin dan biru sebagai warna maskulin dimulai sejak Perang Dunia (1939). Pada masa tersebut, industri kecantikan membidik perempuan sebagai pangsa pasar dengan produk kosmetik dan fashion dengan warna-warna cerah. Saat itulah tren warna merah muda berkembang di kalangan perempuan.

Tokoh X representasi Transgender

Tokoh X representasi Transgender

Tokoh X yang dimunculkan dalam iklan Indomie Goreng Rasa Kuah bisa jadi sebagai salah satu bagian yang ingin ditonjolkan sebagai daya tarik dari iklan tersebut. Seperti kita tahu, kemunculan Transgender atau waria dalam dunia hiburan di Indonesia memiliki warna tersendiri. Bahkan, kemunculan tokoh waria seringkali menjadi pemenarik dari sajian di dunia hiburan.  Kemunculan waria dalam film Warkop DKI kerapkali diperankan salah satu personilnya yaitu Dono. Selain itu, ada juga komedian Tessy yang sering muncul dengan dandanan waria dalam setiap performance-nya. Hal tersebut menjadi fenomena yang tidak terhindarkan dalam budaya visual masyarakat Indonesia. Sampai saat ini, hampir di setiap channel stasiun tv swasta menampilkan sosok waria dalam acara hiburan yang ditampilkan. Guyonan karakter waria menjadi hal yang sangat umum di setiap acara komedi. Kadangkala peran waria dalam sebuah acara bukan dibutuhkan dalam alur cerita maupun komposisi viual melainkan sebagai slaptick yang tidak berdampak penting dalam cerita. Seringkali karakter waria menjadi karakter penghasil tawa yang tidak diperlukan.

Kang Maman menari di jingle Indomie Goreng Rasa Kuah

Kang Maman menari di jingle Indomie Goreng Rasa Kuah

Begitu pula dalam iklan Indomie Goreng Rasa Kuah, tokoh X yang merepresentasikan Transgender tersebut tampak terpaksa ‘nyelip’ karena walaupun tokoh ini ditiadakan tidak mengganggu esensi dari cerita.

Ada hal yang menarik lain yaitu teks jingle dari iklan ini. Jingle yang nadanya selintas mirip soundtrack salah satu telenovela tersebut memiliki lirik yang menggelitik.

Indomie … Indomie goreng rasa kuah, bukan goreng dan juga bukan kuah,rasa ayam dan rasa soto. Indomie goreng rasa kuah ga pake kuah.

Lirik ‘bukan goreng dan juga bukan kuah’ agak menggelitik telinga saya karena seperti merepsentasikan identitas waria. Seperti kita tahu, sosok Transgender atau waria dalam pandangan masyarakat yang dibentuk culture dan diskursus tidak menerima adanya gender selain maskulin atau feminin. Sementara Transgender berada di keduanya. Transgender bisa memiliki kedua identitas tersebut baik maskulin maupun feminin seperti halnya istilah waria yang merupakan singkatan dari wanita-pria. Sosok Transgender memiliki keduanya, maskulinitas maupun feminitas. Hal tersebut sepertinya diperkuat oleh lirik ‘bukan goreng dan juga bukan kuah’karena seperti halnya waria yang tidak teridentifikasi sebagai pria atau pun wanita.

Iklan Indomie Goreng Rasa Kuah seakan ingin mendobrak pandangan yang memisahkan antara feminitas dan maskulinitas, atau bahwa ada dua kutub yang berbeda yaitu goreng dan kuah. Iklan tersebut ingin mendobrak pandangan bahwa kuah dan goreng itu berbeda. Melalui tagline Indomie Goreng Rasa Kuah Gak Pake Kuah seakan ingin menyatakan bahwa antara feminine dan maskulin itu bisa bersatu. Seperti halnya pandangan Butler yaitu identitas tidak berhubungan dengan seks ataupun gender. Identitas diperoleh dari tindakan performatif yang selalu berubah-ubah. Inilah yang disebut Butler sebagai identitas manusia tidak pernah stabil. Sehingga bisa dimengerti pandangan Butler yang melihat bahwa adalah hal biasa jika seseorang memiliki identitas maskulin pada satu waktu dan identitas feminin pada waktu lain, atau bahkan memiliki keduanya dalam waktu bersamaan.

 

 

Kesimpulan

Representasi gender dalam dunia hiburan baik berupa film, komedi, maupun iklan merupakan hal yang sering dimunculkan sebagai daya tarik bagi penonton. Begitu pula dengan kemunculan representasi Transgender merupakan salah satu faktor yang dianggap pemikat dan daya tarik bagi peonton. Walaupun kadangkala kehadirannya sama sekali tidak mempengaruhi jalan cerita.

Begitu pula yang terjadi dengan iklan Indomie Goreng Rasa Kuah yang menghadirkan tokoh X yang merepresentasikan Transgender melalui penampilan dan tindakannya. Kehadirannya tidak mempengaruhi cinta segi empat antara Rudolfo, Talita, Rosalina, dan Kang Maman. Pada akhirnya Kang Mamanlah pemenangnya karena hanya dia yang mengerti selera Rudolfo. Walaupun Kang Maman direpsentasikan sebagai sosok maskulin namun tindakannya terlihat feminin karena berhasil memenangkan hati Rudolfo yang sedang lapar. Kang Mamanlah yang mendapat perhatian dari Rudolfo bahkan dari Talita dan Rosalina. Rudolfo, Talita, dan Rosalina langsung tertarik dengan sajian Indomie Goreng Rasa Kuah.

Representasi gender dalam iklan ini seakan ingin mendobrak pandangan umum mayarakat kita mengenai gender. Seperti diperkuat oleh pandangan Butler yang menyebutkan bahwa identitas bisa berubah-ubah tergantung dari tindakan. Sehingga tidak ada lagi dikotomi atau pemisahan gender yang jelas antara maskulin dan feminin.

Daftar Pustaka

Altman, D. (2002). Global Sex, University of Chicago Press.

Livia. A. and Kira Hall. (1997). It’s a Girl! Bringing Performativity Back To Linguitic. [terhubung berkala] 5 Januari 2009. http://www.colorado.edu./linguistics/faculty/kira-hall/kira hall/articles/L&H1997.

Salih, S. (2002). On Judith Butler and Performativity. Lovaas-5001.qdx 7/8/2006:55. [terhubung berkala] 1 Januari 2009. www.questia.com/library/book/judith-butler-by-

Yulius, H. (2015). Coming out, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

28 Responses

  1. Ahmad says:

    Baru tau kalo ada ikkan indomie seperti ini …. 🙂

  2. Ayu says:

    (((Cinta yang digoreng dan hati yang berkuah))). Ke-Indomie-an sekali, hihihihi

  3. Hahahabahaha ini iklan indomie tohh. Emang kreatif yang bikin.
    Aku ngakakk banget pas nontonnya hahah

  4. Zia says:

    Kebetulan aku udah pernah liat iklannya. Menghibur.

    Wah teh bagus banget ini tulisan ilmiah, banyak pendukung teori juga. Aku jadi fokus ke pembahasannya bukan ke iklannya. Hehehehe Jadi inget skripsi. Hahahaha

  5. Sandra says:

    Belum nonton hehe tfs ya Teh nanti di cek ahh

  6. makin berbobot aja tulisannya. Kenapa ada mr X? karena ini iklan Indomi goreng rasa kuah. Dua hal yang berbeda tapi memiliki kesamaan: ambiguitas! bukan hal yang tidak disengaja mr X dan isu transgender ditampilkan di iklan ini.

  7. Kang Alee says:

    Kajiannya keren Ran

  8. Indomie goreng rasa kuah? Kenapa nggak ada yang nyemek coba #apasih

  9. Baru tau ada iklan indomie versi ini dari postingan teteh.. kok kocak ya, pas bagian nari-narinya apalagi hahahaha

  10. Shona says:

    haha… Ini lucu analoginya pas, tp jd bikin makin jelas klo rasa yg dhadirkan indomie y kyk yg mereka analogiin XD bagi yg mendukung mah fine. tp yg ga? *eh knp jd berat? :p

  11. Keren Teh bahas detail dan teoritis suatu iklan. Baru tahu juga ada iklan ini di youtube 🙂

  12. Teh Rany artikel bedah iklannya bagus.
    Dan sukses juga bikin kepo kepengin nonton iklannya.

  13. heh, baru ngeh kalau iklan indomie ada yang gini. hehe…
    padahal baru kemarin nyobain indomie goreng kuah

  14. aku fokeus sama pembahasannya mba yes nambah lagi ilmu karena belum nonton iklannya (uda ga pernah nonton tv) hahaha akhirnya masih belum bisa pas bayanginnya abis ini cek ah di youtube :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *