Review Novel Islami Ranu: Saat Hati Menemukan Cintanya

Review Novel Islami Ranu_ Saat Hati Menemukan Cintanya

Review Novel Islami Ranu: Saat Hati Menemukan Cintanya. Sudah lama saya tidak membaca buku fiksi (setelah trilogi Dilan) sehingga kekangenan itu muncul saat melihat ada sebuah judul novel fiksi yang belum saya baca berbaris rapi di rak perpustakaan kantor. Sungguh saya bukan penggemar novel Islami, tapi beberapa novel Islami pernah mengetuk hati saya seperti novel fiksi Islami karya Habbiburrahman Ar Syirazi yang begitu fenomenal hingga diangkat ke layar kaca Ayat-Ayat Cinta. Mungkin hanya satu judul fiksi Islami yang saya baca dari sekian ratus judul fiksi Islami yang pernah menjamur di rak-rak Islamic Book Fair. Balik lagi ke Novel Ranu, sungguh saya tidak melihat keistimewaan dari segi sampul buku. Hanya saja untuk sebuah fiksi Islami, foto/gambar pada sampul buku sedikit berbeda. Sedikit ya, saya bilang karena untuk penggunaan font, warna masih kental dengan ciri sampul buku fiksi Islami yang gemar menggunakan font melingker-lingker  dan nuansa warna hijau yang tampak menyejukkan. Oke, secara garis besar, sampul buku ini kurang menarik perhatian saya, namun saya merasa akan ada yang berbeda dengan isi buku ini.

Sampul novel Ranu

Sampul novel Ranu

Judul                           : Ranu – Saat Hati Menemukan Cinta

Penulis                        : Ifa Avianty & Azzura Dayana

Penerbit                     : quanta – PT Elex Media Komputindo

ISBN                            :978-602-02-1267-8

Cetakan                      : 1

Tahun Terbit             : 2013

Jumlah Halaman        : 301 +ix

Harga                          : Tidak tahu (buku ini ditemukan di rak buku perpustakaan kantor)

 

Ada pun bulrb atau sinopsis sampul belakang buku ini cukup menjanjikan untuk say abaca isinya karena tidak menyiratkan sebuah cerita fiksi Islami yang biasa. Baiklah, seperti ini bulrb-nya.

 

Ranu. Manajer muda. Fotografer.High-cost traveler.Hidup dalam kenangan masa lalu yang pahit disebabkan beberapa kehilangan. Atas ide sohibnya yang kocak, gokil, dan backpacker abis bernama Dios, ia sepakat mengangkat kehidupan pedalaman di Pegunungan Baduy ke dalam sebuah film semidokumenter budaya.

 

Ide itu menyeretnya pada perjumpaan dengan sosok Ayuni. Fotografer kebanggaa Dios untuk proyelk Baduy. Pendaki gunung yang tangguh namun pemurung dan cenderung ketus. Tapi Ranu justru berhasil menemukan sisi lain pada dirinya. Sebuah kelembutan bak bunga edelweiss dan kedamaian bak danau Rau Kumbolo.

 

Clue, apakah yag sebenarnya menghubungkan antara Ranu dan Ayuni? Bagaimana pula dengan Irene, sosok Princess yang ada di hati Ranu maupun Ayuni? Benarkah jalan kehidupan mereka akan berubah?

 

Kisah dimulai saat Ayuni yang biasa disapa Ay bertualang ke Baduy bersama kelompok pendaki gunungnya. Ay yang dikenal sebagai salah satu perempuan pecinta gunung melakukan petualangan ke Baduy ata ajakan Dios, teman sekaligus lawan berantemnya selama perjalanan. Sebagai fotografer, Ay diajak  Dios membuat proyek documenter perempuan Baduy. Proyek ini disponsori  Ranu, sahabat Dios. Sementara di luar petualangan tersebut, Ranu bertemu dengan Irene yang memiliki nama sapaan Ai, seorang single parent yang mengingatkannya pada cinta sejatinya, Ai. Sekembalinya Ayuni dan Dios dari Baduy, Ranu mengajak bertemu untuk membicarakan proyek tersebut. Ranu pun menggandeng Irene yang bekerja sebagai pimpinan redaksi sebuah majalah perempuan, dalam proyek itu. Mereka berempat menjalin kerja sama hingga akhirnya Irene memutuskan untuk mundur dari proyek itu dan mendelegasikannya pada stafnya yang bernama Santi. Irene sendiri memilih pindah ke Singapura. Kepergian Irene sempat membuat Ranu galau. Hingga akhirnya, Ranu sadar bahwa dia tertarik pada kecantikan mata Ayuni.

Nanggung. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika selesai membaca novel ini. Saya yag terbiasa menonton drama Korea yang selalu apik menjalin alur cerita berbuah konflik, rasanya tidak mendapatkan ketegangan apa-apa , bahkan saya tidak mendapatkan konflik.Padahal saya lihat, penulis sudah berusaha menggambarkan konflik batin antarpemain, namun rasanya saya tidak mendapatkan klimaksnya. Konflik batin yang terjadi pada Ranu karena kehilangan mama dan Aida, rasanya terasa hambar.

Penokohan Ranu dalam novel ini kurang kuat dan menggigit, sehingga bagi saya, sosok Ranu tidaklah istimewa. Berbeda saat saya menonton drama korea yang penokohannya cederung kuat dan memberi kesan pada penontonnya (maaf kalau membandingkan dengan drakor, karena itu referensinya saat ini). Dalam drama korea, saya terbiasa menonton first lead male yang memiliki karakter kuat karena latar belakang tertentu. Sepertinya hal itu yang berusaha diangkat oleh penulis, karakter Ranu yang pendiam, suka menyendiri, namun berkarakter memiliki masa lalu gelap yang membuatnya seperti terkurung dalam labirin. Namun, saya merasa karakter Ranu kurang kuat.Tidak ada kesan mendalam yang membuat saya sebagai jatuh cinta pada karakternya.

Berbeda dengan karakter Wang So (dalam drama Scarlet Goryeo: 2016) yang gelap karea latar belakangnya sebagai pangeran yang dilukai wajahnya oleh ibunya sendiri yang permaisuri hingga dia diasingkan dan menjadi tawanan keluarga bangasawan lain. Karakter Wang So yang gelap sangat terasa, apalagi dia mendapat perlakuan dikriminatif dari saudara-saudara lainnya karena luka di wajahnya. Bahkan, Wang So tidak diakui oleh ibunya sendiri. See … latar belakang kelam membuat Wang So memiliki kepribadian gelap. Saya tidak mendapatkan gambaran seperti itu pada diri Ranu. Bahkan, saat Ranu membuka hatinya pada Ayuni. Saya tidak menemukan twist  yang berkesan antara keduanya. Bahkan, penulis seakan menjaga jarak keduanya. Jika memang ada jarak, kenapa tiba-tiba keduanya bisa saling tertarik.

Saya mencoba menelusuri benang merah dalam novel ini yang ada dasarnya kisah pencarian seorang tokoh utama terhadap cinta, bukan semata cinta kepada sesama manusia tapi cinta kepada Sang Pencipta. Sayangnya, perjalanan spiritual yang dialami oleh para tokoh kembali terasa nanggung. Ranu tiba-tiba merasa menemukan cinta ketika melakukan ibadah umrah. Irene tiba-tiba menggunakan hijab saat teringat kenangan dengan suaminya. Kenapa tidak dari dulu Irene berhijab? Kenapa setelah berselang tiga tahun dari kematian suaminya? Alasan perubahan itu terasa lemah.

Dari segi penceritaan, penulis berusaha menceritakan kisah, rasa dari para tokoh dengan teknik puzzle. Jadi kembali si pembaca yang harus cerdas merunutkan urutan peristiwa yang terjadi. Teknik seperti ini bisa menjadi poin istimewa bisa juga jadi boomerang. Menurut saya, penulis kurang berhasil karena bukannya saya merasa terkesan dengan setiap peristiwa yang lompat-lompat, saya harus berusaha merunutkan, kapan peristiwa ini terjadi, apakah sebelum berangkat ke Baduy atau sesudahnya. Pokoknya, saya agak pening dengan hal yang menurut saya kurang penting. Selain itu, walaupun penggunaan kata ganti berbeda, misalnya penggunaan, saya, aku, tapi saya tidak merasakan ‘taste’ yang berbeda, bahkan saya tidak tahu apakah ini yang bicara Ayuni, Ranu, ataukah Irene?

Malah, menurut saya tokoh yang cukup kuat digambarkan adalah Dios. Ya, walaupun Dios tidak pernah mengungkapkan konflik batin, keinginanya, kegundahannya, tapi karakter dia yang digambarkan melalui dialog cukup menempel di benak saya.

Hal lain yang membuat saya agak terganggu adalah banyaknya lirik lagu dalam novel ini. Okelah lirik lagu ini untuk menggambarkan perasaan dan konflik batin para tokoh. Tapi, heyyy… ini bukan buku lagu, saya pun tidak tahu lagu-lagu itu, dan mungkin banyak pembaca lain yang kurang familiar (atau hanya saya yang katrok).

Buat saya yang memang bukanlah fans Novel Islami, novel ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Sebabnya adalah, saya tidak harus terpaksa memamah doktrin-doktrin keagamaan yang terbungkus bahasa pop. Saya juga tidak harus menelan ayat-ayat dan dalil-dalil yang berusaha dikemas bahasa fiksi. Saya tidak harus melihat adegan, akhwat dan ikhwan yang berusaha menjaga pandangan dan menjaga hati. Saya tidak harus merasa enek dengan tokoh perempuan berhijab namun punya rasa suka dengan lawan jenis. Dan menurut saya ini adalah keberhasilan penulis mengemas sebuah fiksi Islami tanpa doktrin, tanpa penggambaran perempuan berhijab lebar, atau ikhwan santun yang tidak mau memandang lawan jenis. Saya tidaklah anti dengan hal-hal seperti itu, hanya saja merasa aka lebih menyenangkan membaca novel fiksi yang apa adanya.

Kelebihan lain dari novel ini adalah penggambaran Baduy yang cukup menarik. Membuat saya yang belumm pernah menjejakkan kaki ke Baduy, ingin ikut bereksplorasi. Dialog-dialog yang hidup di antara para tokoh cukup membuat saya tetap bertahan membaca buku ini.

“Nu.” Suara jelek Dio mengagetkanku. Huh.

“Apa?”

“Ntar lu balik dari Mekah, giliran gue cuti, ya?”

“Cuti?” Lu kata lu karyawan gue apa?”

“Serius, Nu,gue mau cuti.”

“Mo kawin ya lu?” Santi yang duluan bertanya.

Dengan genit, Dios mengedipkan sebelah matanya yang disambut cibiran Santi. “Ada deeeh. Gue mau pergi ke suatu tempat. Yang lu enggak bisa tebak deh tempatnya.:

“Timbuktu!” tebak Santi cepat.

“Emang gue Donald Duck!”

“Ke mana lu? Wakatobi?” tanyaku, penasaram juga. (Avianty, 2013:217)

 

Itu sepotong dialog asyik yang berhasil disajikan penulis dengan sangat baik. Dialog-dialog ringan tersebut yang membuat saya betah membaca novel Islami ini. Secara tersirat buku ini memang berisi perjalanan dan penemuan dari tokoh-tokohnya. Perjalanan menemukan cinta yang sesungguhnya dari para tokoh yang selama ini tidak terlalu dekat dengan masalah religius. Menurut saya, buku ini cocok dibaca oleh pembaca usia dewasa muda. Penggambaran para tokoh dan latar tempat dan peristiwa cocok dengan segmentasi usia tersebut. Kalau saya punya rating 1 sampai 5, saya beri angka 3, deh. Hehehehe…jadi cukuplah.

Penulis novel Islami ini sebenarnya bukanlah pendatang baru di dunia kepenulisan. Beliau adalah Mba Ifa Avianty, namanya sudah cukup dikenal di antara pembaca dan penulis fiksi Islami. Begitu pula dengan Azzura Dayana, seorang penulis muda yang karyanya sudah banyak diterbitkan.  Menurut saya, kedua penulis ini sudah berhasil menggambarkan novel fiksi Islami yang enak dibaca, bisa diterima semua kalangan, dan terhindar dari doktrin yang membosankan.

Demikianlah Review Novel Islami Ranu: Saat Hati Menemukan Cintanya. Semua yang saya tuangkan dalam review ini sangatlah subjektif berdasarkan apa yang saya rasakan saat membacanya. Semoga, apa yang saya sampaikan ini menambah wawasan saya dalam mengolah sebuah bacaan dan menyajikannya menjadi opini yang bermanfaat.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

8 Responses

  1. Ida Tahmidah says:

    Duh dah lama ga baca novel, jadi pengen baca 😀

  2. Kang Alee says:

    Kapan ya terakhir baca novel …

  3. Diah indri says:

    mbak ifa bukunya memang bagus2

  4. Ratusya says:

    Aku suka buku Ifa. Btw dia blogger jg ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *