Saat Kanker Merenggut Orang Tersayang

Saat Kanker Merenggut Orang Tersayang

Saat Kanker Merenggut Orang  Tersayang. Siang itu, pekerjaan di kantor cukup padat.Tiba-tiba layar android memperlihatkan permintaan percakapan video call yang dikirim oleh adik laki-laki satu-satunya yang tinggal di Sukabumi.

Ada apa? Tumben Video Call. Tebersit tanya dalam hati. Biasanya dia tidak pernah VC kalau saya di kantor , paling sering kirim pesan  atau telpon via whatsapp. Muncul rasa tidak enak dan kagok juga VC di kantor. Segera saya melipir mencari tempat yang sunyi. Ketika diangkat, tampaklah bapak yang terbaring lemah di kasur rs. Hati saya perih melihat kondisi Bapak. Sosoknya yang gagah tampak layu termakan penyakit yang masih membingungkan.

“Teh, Bapak pengen anak-anaknya kumpul hari ini. Teteh bisa pulang?” tanya adik laki-laki saya.Saya langsung tergugu bingung karena permintaan yang cukup sulit untuk kondisi saya saat itu. Saat itu, suami sedang ada di Cirebon, dan kurang memungkinkan langsung pulang ke Sukabumi membawa dua balita yang saat itu sedang ada di daycare. Ya Allah,apa yang harus saya katakan. Saya utarakan kondisi saya saat itu, Bapak hanya bisa maklum dengan kondisi saya. Namun, hati ini tidak tenang. Saya pun mengirim pesan ke suami dan membicarakan kondisi Bapak yang terus-terusan drop. Suami pun janji pulang sore itu dan langsung ke Sukabumi.

Awal Ramadhan 2017

Ramadhan tahun ini hampir mirip dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya sibuk dengan aktivitas yang padat,baik itu aktivitas di kantor, di rumah, dan di masjid. Ya,bulan Ramadhan memang cukup padat. Namun, awal bulan Ramadhan, saya beserta suami dan anak-anak menyempatkan pulang ke Sukabumi. Saat itu kondisi Bapak masih baik-baik aja walaupun badannya sedikit mengurus tapi itu memang karena sakit diabetes yang dideritanya setahun terakhir ini. Bapak rajin kontrol ke rumah sakit, jadi saya tidak khawatir. Mamah pun selalu memantau pola makannya.

Buka Bersama dengan Bapak yang masih tampak sehat di RM Sari Sunda

Buka Bersama dengan Bapak yang masih tampak sehat di RM Sari Sunda

Awal Ramadhan itu, saya bersama suami ingin mengajak Bapak, Mamah, dan keluarga adik buka bersama.Padahal itu masih hari-hari pertama puasa, jadi belum musim bukber. Namun, entah kenapa saya ingin sekali kami semua buka bersama di luar. Mumpung lagi kumpul, tapi minus adik bungsu yang tinggal di Tangerang. Kebetulan dia belum bisa pulang.  Bapak mengusulkan buka bersama di Rumah Makan Bunut, rumah makan legndaris di Sukabumi. Sayang masih tutup dan beberapa rumah makan lain pun masih tutup. Ternyata, ada satu rumah makan yang buka yaitu rumah makan Sari Sunda. Rupanya ini rumah makan baru. Ini pertama kalinya bapak dan mamah kemari. Kami pun memesan menu buka puasa.Alhamdulllah, bapak danm amah suka, malah bapak tampak puas.Makannya banyak. Kami sempat foto-foto dan saya membeli oleh-oleh bika ambon khas rumah makan tersebut. Sayang bapak tidak bisa makan karena khawatir kadar gulanya naik. Kenangan yang indah.

Pertengahan Ramadhan 2017

Bapak sangat ingin saya membeli tanah di Sukabumi.Kebetulan ada tanah di dekat rumah bapak yang akan dijual. Bapak semangat sekali. Rencana pembelian tanah tersebut membuat komunikasi kami intens lewat whatsaapp. Kata bapak, letak tanah tersebut dekat dengan rumah dan sudah dibenteng jadi bapak mudah mengurusnya. Bahkan, bapak sudah berencana menanam tanaman palawija di sana. Ambil airnya deket karena dekat dengan kolam milik bapak. Saat sedang ngobrol di wa, tiba-tiba bapak bilang kalau harus dirawat di rs. Saya kaget karena mendadak. Bapak menjelaskan bahwa hari itu jadwal bapak kontrol gula darah dan disuruh dirawat karena badan bapak tampak kuning. Dokter memperkirakan bapak terkena hepatitis. Saya pun kaget tapi tidak khawatir berlebih karena sepengetahuan saya,hepatitis penyembuhannya cepat asalkan cukup istirahat dan ditangani dengan baik. Bapak dirawat selama kurang lebih empat hari. Selama bapak dirawat, saya tidak nengok tapi intens video call karena anak-anak pun selalu kangen kakeknya. Bapak tampak senang video call dengan cucu-cucunya.

Hari terakhir dirawat, pihak rs. Hermina menyilakan bapak pulang dan memberi rujukan agar bapak diperiksa di rs umum karena pihak rs. Hermina tidak punya alat ct scan. Sepertinya ada beberapa hal yang harus dipastikan kembali.  Sepulang dr rs. Hermina, bapak istirahat beberapa hari dan kontrol sekaligus periksa ct scan di rs umum sukabumi. Bapak dijadwalkan kembali dirawat di rs umum setelah lebaran dengan rencana operasi karena katanya ada tumor di hatinya. Kondisi bapak tampak mulai menurun saat mengetahui ada tumor di hatinya.Kami sekeluarga membesarkan hati bapak bahwa bapak akan sembuh.

Saya berlebaran di rumah mertua di Tasikmalaya. Dua hari setelah lebaran saya baru ke Sukabumi. Kondisi bapak tampak sangat menurun. Badannya terus mengurus wajahnya pucat dan menguning. Tapi bapak sangat senang saat saya dan anak-anak membeli dua pasang kelinci untuk Fathan dan Fakhira. Bahkan, bapak berencana membuat kandang di tanah yang baru kami beli. Tapi kondisi bapak terus menurun hingga akhirnya, saya dan Dedi—adik kedua—(Yesi, adik ketiga sudah pulang ke Tangerang) memutuskan untuk membawa kembali bapak ke rs. Bapak pun dibawa ke rs dengan kondisi yang sudah sangat lemah. Malam itu juga saya dan Dedi harus donor darah karena ternyata HB bapak rendah sekali. Saya dan Dedi pun donor darah dan ini adalah pengalaman pertama. Saya yang takut darah dan jarum suntik menguatkan diri demi bapak. Sayang saya tidak bisa menemani bapak di rs karena anak-anak tidak bisa masuk ke rs. Saya hanya bisa menyempatkan sebentar masuk ke ruang perawatan.

kanker pankres 7

Bapak saat lebaran Idul Fitri brsama Mamah dan Yesi

Keesokan harinya saya mendapat kabar bahwa bapak harus pindah ruangan karena menderita penyakit dalam. Saya pun harus segera ke Bandung karena liburan udah usai.Sementara anak-anak masih libur. Saya pun ke Bandung bersama suami dan anak-anak.Anak-anak tidak mungkin dititip di Sukabumi. Seminggu kemudian bapak keluar dari rs dan katanya pihak rs tidak bisa melakukan operasi karena tumornya ada di hati. Saya pun kembali ke Sukabumi mengantarkan si sulung Fathan, karena masih ingin liburan di Sukabumi dan pengen main dengan kelincinya. Bapak memutuskan ikhtiar pengobatan alternatif karena katanya pihak rs tidak bisa melakukan tindakan medis apa-apa. Saya pun mendukungnya.Akhirnya,bapak memutuskan mencoba pengobatan alternatif di Bandung karena ada tetangga kami yang sembuh dari stroke. Rencananya bapak ke Bandung sambil mengantarkan Fathan.

Di tempat pengobatan, bapak tidak ditangani seperti yang lain.Bapak sempat heran,kenapa tidak disuntik. Bapak hanya dipijat.Sepulang dari Bandung kondisi bapak semakin drop. Bapak pun memutuskan pengobatan alternatif di Sukabumi. Paket pengobatan cukup mahal sekitar 5 juta. Tapi demi kesembuhan, bapak setuju melakukan pengobatan. Setelah pengobatan alternatif tersebut, kondisi bapak tidak membaik malah terus merosot. Hingga Dedi pun membawa bapak kembali ke rs. Barulah kami mendapat berita bahwa bapak menderita sakit kanker pankreas. Setelah dirawat, pihak rs menyuruh bapak pulang dan bilang tidak bisa melakukan pengobatan apa-apa.Bapak akan mendapat rujukan untuk dirawatdi RS Hasan Sadikin, Bandung. Hari itu, hari Rabu saat bapak disuruh pulang oleh rumah sakit, bapak meminta kami anak-anaknya untuk pulang ke Sukabumi. Hari itu, semua kelinci mati (mungkin karena tidak terurus) dan semua ikan koi milik bapak yang ada di kolam mati. Saat pulang dari rs, katanya semua tetangga sudah menunggu di depan rumah. Saya sendiri bersama suami dan anak-anak baru sampai pukul 12.00 malam. Bapak belum tidur, bapak seakan menunggu kami semua datang.

Kata mamah,malam itu bapak tidak bisa tidur. Bapak baru tidur pukul 04.00 pagi. Pagi hari, bapak minta jemur di depan rumah. Bapak minum jus buah naga yang dibuatkan oleh Yesi. Bahkan bapak mau makan sedikit bubur  yang dibuatkan oleh mamah. Hari itu,bapak tampak baik-baik aja.Bapak bisa komunikasi dengan baik. Bapak mengeluhkan perutnya panas tapi bapak tampak kuat.Hari itu, tiga kali bapak tidak sadar karena badannya lemah.Tapi kami semua masih husnudzon bapak akan sembuh. Besok, hari Jumat,kami akan ke rs untuk meminta rujukan agar bapak dirawat di RS Hasan Sadikin. Sore harinya, kami semua memutuskan akan kembali membawa ke rs agar besok bapak tidak usah antre saat dikontrol dan minta surat rujukan. Kami pun mengantar bapak ke rs, saat itu saya dan adik ipar tidak ikut karena menjaga anak-anak kami yang masih balita.

Pukul 11.00, adik bungsu dan semua yang mengantar pulang ke rumah. Mamah dan Dedi jaga di rs. Pukul 12.00 dapat telpon kalau bapak sesak dan kondisinya drop. Saya pun memboyong anak-anak ke rs. Doa-doa kami panjatkan sepanjang jalan.Kondisi bapak sudah benar-benar drop. Perawat memasukkan obat melalui betisnya untuk menaikkan tekanan darahnya yang melemah. Alat-alat medis dipasang di dadanya. Kami terus bedoa dan membaca surat Al Quran.Tidak henti-hentinya kami membisikkan kata-kata penyemangat dan tasbih, tahmid, tahlil ke telinga bapak. Harapannya bapak bisa sadar kembali. Untuk beberapa saat mata bapak tampak merespon bisikan-bisikan kami di telinganya. Sementara kami pun harus menenangkan mamah yang terus-terusan menangis dan drop.

Saat jam-jam terakhir Bapak masih bernapas

Saat jam-jam terakhir Bapak masih bernapas

Pukul 2.00 dini hari, kondisi bapak terus drop.  Akhirnya,pihak rs menyatakan bapak meninggal dunia pukul 02.25 dini hari. Rudi –suami Yesi—cerita bahwa dia memegangi bapak pada detik-detik terakhirnya. Allah swt. mencabut nyawa bapak dengan sangat lembut, tidak ada kesakitan. Bahkan, Dedi pun cerita bahwa sebelum seak,sakit diperut bapak hilang, bahkan bapak minta dibuatkan white coffee. Tentu saja tidak diturut, ternyata itu adalah permintaan terakhir bapak. Padahal semasa sehat,bapak itu tidak pernah minta dibuatkan white coffee.

Tangis berhamburan saat kami tahu bapak telah tiada. Banyak penyesalan yang saya rasakan. Sebagai anak tertua, banyak yang belum bisa saya lakukan.Saya belum bisa membahagiakan bapak. Bahkan, cita-cita bapa untuk naik haji pun belum tercapai.Padahal bapak dan mamah sudah daftar haji dan mendapat kursi. Keinginan bapa untuik berkebun di tanah kami belum terlaksana. Keinginan bapak untuk jalan-jalan berdua dengan mamah seusai pensiun belum dilakukan. Ya, bapak meninggal beberapa bulan setelah pensiun. Di usianya yang masih 59 tahun,bapak meninggalkan kami semua. Bapak belum sempat melihat cucu-cucunya tumbuh besar.

Bapak saat masih sehat dan jalan-jalan bersama cucu-cucunya

Bapak saat masih sehat dan jalan-jalan bersama cucu-cucunya

Saat masih sakit, bapak pernah bilang kalau sekarang sudah tenang karena anak-anaknya sudah mandiri. Bapak bisa pensiun dengan hati tenang dan katanya ingin istirahat di masa pensiunnya.Tanpa kami sangka bahwa istirahat yang dimaksud adalah istirahat untuk selamanya. Semasa hidupnya bapak memang seorang pekerja keras yang sangat rajin. Bapak selalu rajin ke masjid. Waktu subuh tidak pernah dilewatkan untuk shalat Subuh di masjid. Bahkan saat masih sakit pun, bapak selalu ke masjid. Sepulang dari masjid bapak langsung mencuci baju (bapak selalu ingin meringankan tugas mamah), bapak pun membetulkan letak air di kolam, membereskan tanaman, dan membersihkan halaman rumah. Pukul 06.00 pagi bapak sudah siap berangkat ke kantor. Sepulang dari kantor, bapak tidak pernah langsung istirahat melainkan melakukan banyak pekerjaan dan kesukaannya membereskan kolam-kolam di rumah. Ya Allah, sedikitpun saya tidak bisa meniru kerja kerasnya.

Bapak memang sosok yang tampak keras di luar. Tapi hatinya sangat sangat lembut dan baik hati. Bapak sering menangis jika melihat tontonan menyedihkan di televisi. Bapak sering pulang membawa barang-barang yang tidak dibutuhkan , bapak membeli karena kasihan pada si penjual. Bapak tidak pernah pelit untuk berbagi pada saudara-saudara dan tetangganya. Bapak tidak pernah hitungan jika melakukan perbuatan baik. Bapak selalu memaafkan kesalahan anak-anaknya. Dan saya anak yang sering mengecewakannya.

Rasanya begitu cepat bapak pergi bersama sakit kanker yang dideritanya. Kenapa kami baru tahu bapak menderita kanker pankreas. Kenapa bapak tidak pernah menunjukkan sakit. Bahkan, selama ini bapak tampak sehat.Tidak pernah sakit parah. Sehingga antara percaya dan tidak percaya bapak pergi begitu cepat. Sangat menyedihkan saat kanker merenggut orang tersayang. Namun kami sebaiknya menerimanya dengan lapang dada dan keikhlasan.

Para pengantar jenazah yang mengantarkan bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya

Para pengantar jenazah yang mengantarkan bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya

Ya Allah, banyak kenangan indah bersama bapak. Walaupun ada juga kenangan menyakitkan tapi semuanya adalah pelajaran yang kami rasakan bersama. Sungguh, rasa penyesalan memang tidak pernah diawal. Kini saya pun harus menerima kenyataan bahwa bapak sudah tidak ada,bapak yang selalu sigap saat diminta bantuan, bapak yang rajin menjemput cucu-cucunya ke Bandung jika saya sedang repot dan sekolah libur, bapak yang rajin menengok cucu-cucunya. Untuk sesaat saya merasa sendirian, saya merasa tidak adalagi tempat berlindung. Akhirnya saya sadar bahwa kini tempat terbaik bapak di sana. Bapak sudah tidak punya beban apa-apa lagi.  Saat ini saya bersama adik-adik hanya bisa mendoakan yang terbaik kepada bapak. Semoga semua amalan dan kebaikannya diterima Allah Swt. Satu hal yang membuat kami berbahagia, bapak dipanggil oleh-Nya di hari yang berkah yaitu malam Jumat dan waktu yang berkah yaitu penghujung sepertiga malam. Semoga bapak mendapat tempat terbaik di sana di sisi-Nya.Aamiin.

NB.: Saya menuliskan ini dengan perasaan campur aduk dan cucuran air mata.Mohon maaf jika tidak beraturan. Ini Jumat ketiga setelah Bapak meninggal.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

7 Responses

  1. Khairiah says:

    Innalillahi rojiun turut berduka cita semiga bapak diberikan tempat terbaik

  2. Lia Djabir says:

    Innalillahi rojiun… Smoga bapak mba husnul khotimah dan keluarga yg ditinggalkan diberi kesabaran.
    Ayahku juga meninggal karena kanker hati mba. Yg sabar yaa mba

  3. Zia says:

    Innalillahi wainnailaihi rojiun. Semoga bapak mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

    Saya pun campur aduk rasanya, teh. Semoga semua keluarga yang ditinggalkan selalu diberi kelapangan hati. Aamiin.

  4. Armita says:

    Innalilahi :((
    Insya Allah Bapak ada di tempat terbaiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *