Saya Ingin Bahagia Karena Bahagia Itu Diciptakan

saya-ingin-bahagia-karena-bahagia-itu-diciptakan

Saya Ingin Bahagia Karena Bahagia Itu Diciptakan. – Tiga hari lalu, saya menulis sebuah status di sosial media yang cukup menarik perhatian orang-orang yang mengenal saya. Sampai hari ini pun status saya tersebut masih banyak yang ‘Like’ dan menuai banyak komentar. Sebuah prestasi untuk sebuah status yang saya tulis karena biasanya status yang saya tulis hanya berbuah beberapa like dan satu dua komentar. Tapi, jujur, saya tidak berani membaca dan membalas semua komentar tersebut. Status seperti apa yang menarik banyak perhatian?

Sepertinya gosip selebriti di media massa, orang lebih tertarik menguak sisi gelap seseorang. Jika berita bahagia, prestasi, orang akan mengapresiasi namun tidak terlalu membekas di sanubari. Berbeda dengan berita gosip yang menguak sisi kehidupan pribadi seseorang tentunya akan menarik minat banyak orang. Entah sekadar ingin tahu atau ada kepentingan lain yang terkait bisnis atau lainnya. Sudahlaaah …

Status yang saya tulis tersebut memang dilandasi oleh emosi namun saya tulis dengan kesadaran. Sehingga saya sama sekali tidak berniat menghapusnya. Jika suatu saat saya sudah dalam kondisi tenang dan stabil, saya akan membaca status tersebut dan melihatnya sebagai satu bagian dari kehidupan saya. Saya tidak ingin menghapusnya karena saya ingin suatu saat saya sadar bahwa saya pernah mengalami sesuatu yang tidak enak hingga menyebabkan saya emosional dan menuangkannya dalam sebuah status di media sosial. Bahwa saya pernah melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang biasa saya lakukan dan inilah saya yang sebenarnya. Saya hanya ingin saya sadar bahwa kehidupan saya ‘tidak baik-baik saja’ bahwa ada hal lain yang mengganggu jiwa dan pikiran saya, sehingga saya bisa meledak di sosial media. Ledakan tersebut tentunya tidak akan terjadi begitu saja. Ledakan itu terjadi karena ada endapan-endapan emosi yang sebelumnya tersimpan dan akhirnya meledak karena terpicu oleh suatu hal.

Baca Juga: Tips Mengatasi Hal Menyakitkan dalam Hidup

Saya tidak akan membahas kenapa saya menulis status tersebut. Karena itu jika ada yang merasa dirugikan karena status saya tersebut, sebenarnya orang yang lebih rugi adalah saya sendiri. Dengan menulis status seperti itu, saya sudah mencoreng muka saya sendiri dengan arang.  Orang yang mengenal saya lama mungkin akan tertegun dengan status saya tersebut, kok bisa saya menulis sebuah status negatif yang membuka aib sendiri.

Namun, seperti saya katakan sebelumnya bahwa ini merupakan bagian dari episode kehidupan saya dan saya tidak tahu akan berakhir di mana, mungkin di masa depan akan ada saatnya saya mengenang ini sebagai kejadian yang kurang menyenangkan.

Seperti judul di atas, saya ingin bahagia karena bahagia itu diciptakan. Saya mendengar kalimat ‘bahagia itu diciptakan’ dari dua orang. Yang pertama oleh teman sekantor saya. Saya sempat sharing tentang beberapa hal lalu keluarlah kalimat tersebut. Saya tertegun dengan kalimat tersebut dan kalimat tersebut begitu meresap dalam diri saya. Sehingga saya bertekad untuk menciptakan kebahagiaan sendiri. Kenapa kebahagiaan harus tergantung orang lain. Toh, kebahagiaan bisa saya ciptakan sendiri. Lalu, yang kedua saya membaca status seorang teman di sosial media yang kurang lebih merasa terganggu dengan komentar orang-orang tentang kondisinya yang belum dikaruniai anak. Beliau mengungkapkan bahwa dirinya merasa bahagia dengan kondisi apa pun karena bahagia itu diciptakan. Iniiiih … pikir saya. Sepertinya Allah mempertemukan saya dengan kalimat tersebut dua kali bukan kebetulan. Namun, saya disuruh untuk memaknainya lebih dalam.

Pada kenyataanya, kalimat tersebut tidak semudah diucapkan atau ditulis. Sangat sulit bagi saya untuk menciptakan kebahagiaan. Beberapa metode sudah saya lakukan untuk menciptakan kebahagiaan. Namun, saya selalu gagal. Saya selalu diliputi oleh emosi negatif. Saat saya sudah merasa tenang, tiba-tiba ada pemicu yang membuat saya emosi. Kondisi emosional saya sangat buruk hingga saya bisa menulis status yang tidak baik. Namun itulah kenyataan yang terjadi. Setelah menulis status tersebut, saya diliputi rasa takut. Saya takut dengan reaksi orang-orang yang  kenal dengan saya, saudara saya, teman, dan lain-lain. Saya tidak siap mendapatkan simpati apalagi caci maki. Inbox-inbox yang masuk tidak saya balas. Ada inbox yang menyudutkan, ada inbox yang sekadar bertanya, ada juga inbox yang menyampaikan perasaannya. Sungguh, saya tidak berani membacanya. Bahkan, tadi pagi saya membuka salah satu inbox yang isinya menyudutkan, kondisi emosi saya langsung buyar. Perasaan saya langsung tidak enak. Saya hanya bisa terdiam. Saya berusaha sangat keras mengubah perasaan saya. Karena perasaan yang terganggu mengubah mood saya secara tajam.

Setelah tiga hari, saya jadi memahami makna “bahagia itu diciptakan”. Yah, setelah kejadian yang menakutkan secara emosi bagi saya, saya jadi lebih bisa memahami makna kalimat tersebut. Kalimat tersebut bukan sekadar kalimat namun memang harus ada usaha lebih dari saya untuk bisa bahagia. Saya tidak boleh fokus pada luka di masa lalu, saya harus melihat apa yang ada di hadapan saya saat ini. Saya tidak boleh mengorbankan anak-anak karena perasaan-perasaan yang mengganggu saya. Kebahagiaan itu harus diciptakan karena saya ingin bahagia. Itulah keinginan terdalam saya. Menciptakan kebahagiaan itu bukan berarti lari dari kenyataan tapi menciptakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahagia bersama orang-orang yang saya sayangi.

Dulu saya sering berpikir, jika punya ini bahagia. Kenyataannya tidak menjamin. Mungkin memiliki sesuatu bisa menyelesaikan satu persoalan hidup tapi tidak menjamin bisa mendatangkan kebahagiaan. Alangkah sesatnya saya dulu yang menganggap kebahagiaan itu jika ini dan itu. Padahal, saya bisa bahagia tanpa jika, saya bisa bahagia sekarang juga tanpa pakai embel-embel jika. Saya bisa bahagia walaupun begini, saya bisa bahagia walaupun begitu. Itu lebih tepatnya.

Saya menulis ini bukan pembelaan diri namun hasil dari renungan saya. Setelah banyak malam yang saya lewati dengan menangis karena saya fokus pada kesedihan. Saya ingin bahagia karena bahagia itu diciptakan. Insya Allah, saya bisa memahaminya sekarang walaupun melewati cara yang menyakitkan.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. retno says:

    setuju mba… bahagia itu diciptakan. kalau kebahagiaan itu terganggu oleh masa lalu maka ciptakan kebahagiaan dengan melepas sama sekali masa lalu. karena kita hidup di masa sekarang bukan masa lalu…. gitu kali ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *