Sistem Pendidikan Seperti Apa Yang Baik Untuk Anak?

Sistem pendidikan

Sistem Pendidikan Seperti Apa Yang Baik Untuk Anak? Setelah ramainya perbincangan tentang zonasi sekolah yang membuat pro dan kontra, saya sadar betul bahwa sekolah sangat berkaitan dengan anak. Oleh karenanya, menjelang Hari Anak, saya ingin sedikit mencurahkan kegelisahan saya sebagai orangtua yang seringkali bingung dengan sistem pendidikan saat ini.

Anak saya yang pertama baru lulus PAUD dan akan masuk ke jenjang berikutnya yaitu Sekolah Dasar. Usianya belum 7 tahun, tapi baru 6,5 tahun. Pertimbangan saya memasukkan si sulung ke SD karen dia sudah lukjs PAUD dan jika dia menunggu setahun lagi, usianya sudah 7,5 tahun. Dia sendiri pun sudah merasa siap masuk SD.

Setahun yang lalu, saat si sulung baru naik kelas B, saya masih santai melihat dia belum bisa membaca dan berhitung. Jangankan menulis, memegang pensil pun tidak. Saat orang tua lain berlomba membanggakan anak-anaknya yang sudah memiliki kemampuan kognisi seperti membaca, berhitung, dan menulis, saya masih santai karena setahu saya, usia anak dini tidak diharuskan belajar membaca. Di sekolahnya pun memang anak tidak diajarkan membaca dan menulis.

Tapi keyakinan saya pudar saat saya melihat secara langsung peer anak tetangga yang kelas satu SD, tingkat kesulitannya sudah seperti anak kelas 3 SD. Tuntutannya, anak kelas satu SD harus sudah membaca. Soal-soal yang mesti diselesaikan memang mengharuskan kemampuan membaca. Saya pun akhirnya mengikuti saran seorang teman untuk memasukkan si sulung les calistung di BIMBA a i u e o. Saya pun memasukkan Fathan les sebagai persiapan masuk SD. Alhamdulillah, dalam beberapa bulan sudah terlihat hasil yang positif. Cara belajar yang fokus dan guru yang sabar dan menyenangkan membuat si sulung semangat belajar di BIMBA.

Dari momen tersebut, saya melihat gap antara pendidikan di tingkat pendidikan anak usia dini dan tingkat sekolah dasar. Di pendidikan usia dini, ditekankan anak untuk tidak belajar membaca, sementara di tingkat SD, kurikulum pendidikan menuntut anak sudah bisa membaca dan menulis. Sebagai orangtua kadang bingung dengan kondisi tersebut dan mesti membuat solusi sendiri, agar kebutuhan anak bermain di usia dini terpenuhi dan saat masuk SD, anak siap untuk mengikuti materi pembelajaran yang lebih sulit dan kompleks. Sehingga terlintas pertanyaan di benak saya, sistem pendidikan seperti apa yang baik dan menyenangkan untuk anak sehingga mampu melejitkan kemampuan anak?

Jangan bicarakan kurikulum dari negeri A,B,C yang terkenal berkualitas, karena kurikulum-kurikulum tersebut biasanya diadopsi oleh sekolah-sekolah swasta yang tentunya biayanya cukup mahal dan tidak setiap orangtua mampu menyekolahkan anak ke sekolah swasta dengan kurikulum mumpuni.

Sistem Zonasi Sekolah

Anak saya memang baru mau masuk SD. Banyak yang bilang, santai aja, anaknya baru mau masuk SD, mungkin pas nanti masuk SMP, sistem pendidikan sudah berubah dan tidak zonasi lagi, atau pun masih zonasi tapi dengan kualitas sekolah yang merata di setiap daerah.

Menanggapi pernyataan tersebut, saya teringat perbincangan dengan orangtua dari teman anak saya. Profesinya guru di sebuah sekolah dasar negeri di kampung. Dia bercerita kalau kualitas sekolahnya memang kurang bagus, dan sekolahnya sering kekurangan murid. Orangtua yang memiliki biaya, lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang memiliki kualitas dan fasilitas lebih bagus. Sebagai seorang guru, dia menyayangkan hal tersebut karena menurutnya kenapa mereka tidak menyekolahkan anak ke sekolah di dekat rumah demi menghargai sekolah tersebut.

Sebagai orangtua, saya punya pemikiran sendiri. Menurut saya, setiap orangtua berhak memberikan lingkungan pendidikan yang dianggap kondusif untuk perkembangan anaknya, baik perkembangan kognisi maupun mental. Jika sekolah dekat rumah dianggap kurang bisa memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak, kenapa tidak boleh memilih sekolah yang dianggap lebih baik? Kenapa sistem zonasi seakan membatasi pilihan orangtua untuk memberikan lingkungan belajar yang kondusif untuk anak? Saat ini saya masih berpendapat lingkungan belajar yang kondusif akan berpengaruh pada perkembangan anak. Entah apakah nanti pendapat saya bisa berubah.

Kondisi tersebut sebenarnya peer bersama. Orangtua tentunya tidak akan ragu menyekolahkan anaknya ke sekolah yang lokasinya dekat dengan rumah jika kualitasnya sama bagusnya dengan sekolah lain. Sehingga ketika ada sistem zonasi sekolah tidak masalah, anak mau sekolah di mana saja. Sehingga memang pemerataan kualitas dan fasilitas sekolah ditingkatkan.

Sebagai orangtua, saya masih berharap, sistem pendidikan di negara kita akan lebih baik lagi, bisa mengoptimalkan kecerdasan anak. Saya tidak tahu sistem pendidikan apa yang baik untuk anak karena saya bukan ahli pendidikan. Tapi saya berharap sistem pendidikan yang juga menyenangkan untuk anak juga.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

19 Responses

  1. Bener-bener banget dah mbak. Bahkan kalau liat pengalaman tetangga sekaligus kelarga aku, anaknya sampai mendapatkan les tambahan di luar jam sekolah saat akan kelas 1 SD untuk belajar membaca dan menulis. Kira-kira saat aku dah punya anak, apakah udah ada atau nggak ada sistem Zonasi ini yah, eahhh wkwkkwkkw
    Konklusinya oke banget mbak, (y)
    Makasih sharingnya mbak Rani

  2. Ruli retno says:

    Setuju banget mba. Andai semua sekolah sama fasilitas dan kualitasnya, zonasi sama sekali gak masalah ya. Kita malah seneng banget kalo bisa sekolah yg gak jauj dari rumah, anak juga ga capek

  3. Kang Alee says:

    Susah-susah gampang ya, ngedidik anak sekarang, apa karena jamannya udah beda ya? Anak-anak bimbelnya kelas 3 aja kemarin karena biar Pede

  4. April says:

    Nah itulah mbak makanya aku galau nyekolahin Maxy khawatir dia gak siap, akhirnya aku ikutin bimba aja. Persoalan tahun depan sekolah atau HS kita liat aja ntr hehe. Emang kasian beban sekolah anak skrng, makanya mau cari sekolah yg gk terlalu nuntut anaknya harus bisa semua hal

  5. Kadang saya merasa sistem pendidikan yang bagus di sekolah -sekolah swasta atau negeri favorit yang hanya bisa dijangkau keluarga berduit. Sementara mereka yang isi kantongnya ngepas banget bahkan kurang cukup nrimo apa saja yang diberikan karena tidak berdaya secara materi. Memprihatinkan …

  6. Setuju Mbak sama pendapat-pendapatnya. Sebagai ortu aku memang juga bingung, di TK enggak ditekankan bisa calistung, tapi di kelas 1 SD pelajarannya udah kayak gitu. Huhu.
    Trus soal memberikan lingkungan yang kondusif buat pendidikan anak, aku juga setuju tuh. Bismillah ya, Mbak. Semoga kita bisa memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anak kita 🙂

  7. Pendidikan untuk anak memang harus di cari dulu sesuai bakat dan minatnya. Temenku pergi ke psikolog untuk mengukur dan menghitung kinerja otak kiri dan kanan serta perkembangan nalarnya. baru kemudian disarankan beberapa pelajaran yang mungkin diminati serta ekskulk apa saja yang cocok dan diminati

  8. Kalo saya pribadi sih lumayan setuju dengan zonasi, lebih ke penyetaraan, banyak sekolah yang seharusnya bisa balance, tetapi gagal karena banyak yang mengincar sekolah favorit, malah menimbulkan kesenjangan kalau menurut saya. saya masih berpegang teguh pada, orang tua merupakan guru yang paling berpengaruh ke anak. jadi dengan sistem zonasi, orang tua juga jadi “dipaksa” untuk ikut andil dalam support mendidik anak, yang sudah lama terabaikan.

  9. Setiap orang tua pasti menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya ya, Teh
    Sayangnya sekarang sistem pendidikan di sini agak membingungkan. Jadi harus pinter-pinter orang tua untuk memilih sekolah anak.

  10. Eni Martini says:

    Gimana ya dilema juga sih ya. Pemerintah belum bisa menggratiskan sekolah berkualitas. Sehingga yang berkesempatan sekolah di sekolah berkualitas tuh ya yang memiliki budget seperti sekolah islami, sekolah alam rata rata budgetnya besar

  11. Memberikan yang terbaik untuk sang buah hati tercinta dalam hal pendidikan itu cukup susah susah gampang ya kak dan apalagi di indonesia ada sistem zonasi ga enak banget deh

  12. mude says:

    Pendidikan di Indonesia tuh masih timpang bgt, terutama buat masyarakat desa. aku pun berharap sistem pendidikan di indonesia seakin berkembang dan merata di seluruh wilayah.

  13. Eko Prasetyo says:

    Selain peran dari guru di Sekolah, dari orang tua dirumah pun wajib support. Karena guru hanya memiliki batas mengajar.
    Sepenuhnya memakan banyak waktu bersama orang tua, jadi keduanya mempunyai tugas masing-masing.

  14. Eko Prasetyo says:

    Setuju mba,
    Selain peran dari guru di Sekolah, dari orang tua dirumah pun wajib support. Karena guru hanya memiliki batas mengajar.
    Sepenuhnya memakan banyak waktu bersama orang tua, jadi keduanya mempunyai tugas masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *