Tumbangnya sang Raksasa Film Fotografi [Kodak]

Sewaktu remaja awal (SMP) kalo bisa menenteng kamera Kodak rasanya bangga sekali. Ya, saat itu Kodak masih menjadi kamera yang memiliki nilai kebanggaan tersendiri jika memiliki. Kala itu, saat kamera masih berisi rol film. Bahkan, saya menyebut kamera dengan sebutan Kodak. Lalu, apa kabar Kodak sekarang?

Saat saya membaca artikel mengenai kebangkrutan perusahaan yang sudah 133 tahun ini, hinggap perasaan aneh di dada. Masa sih perusahaan tersebut bisa terjungkal karena tidak mampu bersaing di era digital ini? Tapi itulah kenyataan.

Majalah Marketers mengulas sebab kebangkrutan raksasa film fotografi tersebut. Di artikel tersebut, dituliskan bahwa Kodak gagal menanggapi perubahan zaman. Sebenarnya Kodak sudah berusaha untuk mengikuti perkembangan dengan membuat Photo CD. Kodak berupaya menjadi master digital printing dan membuka aneka kios cetal digital di berbagai tempat. Bahkan, beberapa saat sebelum pailit, Kodak sempat memperkenalkan kamera baru yang mengusung kemampuan nirkabel untuk terhubung dengan printer dan posting foto ke facebook. Sayangnya, produk tersebut dianggap nanggung karena kamera ini tidak terhubung langsung dengan web tanpa perantara ponsel pintar atau koneksi Wi-Fi. Kamera ini pun tidak laku di pasaran. Pasar menuntut sesuatu inovasi yang revolusioner dan bukan setengah-setengah dan sudah jamak dilakukan pemain lainnya.

Kodak pun dianggap kurang bisa membaca tren baru, yaitu media sosial menjadi euphoria untuk penyimpanan sekaligus jejaring berbagai materi digital seperti foto. Di akhir tulisan disebutkan Kodak kurang bisa membangun kultur yang mampu menjembatani lintas zaman.

Hmmm cukup tragis juga kisahnya. Perusahaan yang memiliki sejarah panjang pun akan lunglai dan jatuh saat tidak mampu membaca arah trend an perkembangan zaman yang serba cepat dan instan ini. Sekarang semuanya menginginkan kecepatan. Saat ini nonton Java Jazz, saat itu juga sudah muncul beritanya, lengkap dengan foto, kesan, berita, dan lain-lain. Tidak ada lagi kata Tarsok (Entar Besok) Bagaimana dengan kita?

*Tulisan ini hasil pembacaan artikel yang berjudul KODAK Raksasa yang Terempas Arus Digital dari Sigit Kurniawan.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *