Ungkapkan Cinta Ibu dengan Tempra Syrup

Ungkapkan Cinta Ibu dengan Tempra Syrup

Ungkapkan Cinta Ibu. Perjalanan menjadi seorang ibu bagi setiap perempuan berbeda-beda. Ada yang mulus dan lurus, ada juga yang harus menempuh jalan berliku untuk menyandang status sebagai seorang ibu. Mungkin saya adalah salah satu ibu yang mesti melalui jalan yang cukup panjang untuk menyandang status sebagai ibu. Tatkala perempuan lain yang langsung menyandang status ‘ibu’ beberapa saat setelah menikah, sementara saya melalui perjalanan yang menakjubkan, yang akan selalu saya kenang seumur hidup.

Usia 25 tahun, saya menerima lamaran dari seorang laki-laki yang saya percayakan hidup saya kepadanya. Setelah menikah, status saya langsung berubah menjadi seorang istri. Status menjadi seorang istri tentunya membuat tanggung jawab pun berubah. Saya bukan lagi gadis muda yang bebas ke mana pun ingin pergi. Namun, setelah menikah, saya masih ingin bisa berkarya sehingga saya memutuskan untuk tetap bekerja. Suami pun mengizinkan. Hari-hari saya sebagai seorang istri saya lalui, ada beragam tantangan, apalagi menyatukan dua orang dengan latar keluarga berbeda bukanlah pekerjaan mudah. Perjalanan menikah sendiri bukanlah hal mudah, sehingga jauh dalam lubuk hati kecil saya mungkin ada ‘rasa’ belum siap untuk memiliki anak dan menyandang status sebagai ibu. Walaupun, saya suka anak kecil tapi entahlah, memiliki anak adalah hal lain. Padahal mungkin di sisi lain, saya pun sama seperti perempuan lain yang ingin mengungkapkan cinta ibu pada anak-anaknya. Namun, saya belum dipercaya melakukannya.

Baca Juga: Efek Emosi Positif dan Negatif Terhadap Kesehatan

Untuk mengungkapkan cinta ibu, saya tidak menggunakan alat kontrasepsi. Saya biarkan semuanya berjalan begitu saja. Hingga hari berganti hari, hingga menginjak tahun keempat pernikahan, kami belum dikaruniai anak. Saya masih santai dengan kondisi tersebut, begitu pun dengan suami, orang tua kedua belah pihak pun tidak masalah. Padahal, saya dan suami sama-sama anak sulung dan tentunya saya  ingin juga ungkapkan cinta ibu kepada anak. Namun, saya masih belum dipercaya untuk memiliki buah hati dan orangtua kami tidak ada yang menuntut kehadiran cucu. Pertanyaan-pertanyaan mengganggu malah datang dari orang lain, seperti kenalan, tetangga, dan lain-lain. Para ibu yang sudah memiliki cucu kerap bertanya  setiap bertemu.

“Kok belum isi? Coba minum ini, coba minum itu,”.

Mula-mula saya menanggapi semua ‘perhatian’ itu dengan santai. Tapi karena keseringan, lama-lama jadi ‘gerah’ juga. Saya pun mencoba mengikuti semua ‘perhatian’ dan ‘saran’ tersebut. Mulai dari minum segelas jamu yang harganya seratus ribu, menemui paraji dan peranakkannya ‘dibenerin’ (duh sakit banget, deh) hingga saya pun mendatangi dokter kandungan terkenal yang katanya selalu berhasil menangani pasangan yang ingin memiliki anak. Demi ‘menyenangkan’pihak-pihak lain tersebut, saya pun menjalankan program kehamilan. Setiap 2x dalam seminggu saya kontrol ke dokter tersebut. Padahal, saya tahu antrean di dokter tersebut sangat panjang, hingga saya terpaksa pulang pukul 11 malam setiap jadwal kontrol. Saya pun mengeluarkan biaya program yang cukup menguras kantong. Belum lagi menjalani tes-tes yang cukup membuat tidak nyaman. Beruntunglah wahai para perempuan yang bisa mudah hamil tanpa harus menjalani semua tes panjang tersebut. Karena selain tidak nyaman dan mengeluarkan biaya besar, juga kadang terasa sakit. Hmm… apalagi yang sampai melakukan program bayi tabung yah, tentunya perjuangannya lebih luar biasa.

Saat menjalani program tersebut, saya pun berpikir, apa tujuan saya melakukan ini? Apa sekadar ingin menyandang status ibu? Atau bosan mendengar pertanyaan dari orang-orang? Ataukah saya benar-benar menginginkan buah hati dan ungkapkan cinta ibu? Setelah memikirkan hal tersebut lebih mendalam, saya pun merasa kalau saya melakukan itu bukanlah murni dorongan ingin memiliki buah hati. Saya sekadar ingin memuaskan orang-orang dengan status ‘ibu’. Saya pun menghentikan program kehamilan tersebut dan saya memutuskan untuk kuliah lagi. Mungkin, belum saatnya saya untuk ungkapkan cinta ibu.

Baca Juga: Hadiah Akhir Tahun untuk Orang Tersayang

Saat memutuskan untuk menghentikan program hamil dan kuliah lagi, saya langsung mendengar banyak komentar miring. Ada yang menyebut  saya tidak benar-benar ingin punya anak, ada juga ucapan seperti ini,”Katanya ingin punya anak, kok malah kuliah lagi, makin capek dong, kapan punya anaknya?” Saya pun belajar menutup kuping dan bertemu dengan teman-teman baru di kampus. Ternyata teman-teman sekampus adalah anak-anak yang baru lulus S1. Akhirnya saya pun bergaul dengan para remaja matang yang  gaul-gaul. Saat-saat itu sungguh menyenangkan.  Bekerja, kuliah, mengerjakan tugas di kafe, nongkrong bareng. Ah, rasanya sangat menyenangkan bergaul dengan orang muda. Pikiran-pikiran negatif pun lenyap, omongan-omongan miring tentang momongan pun sudah tidak mengganggu pikiran. Saya fokus pada proses kuliah yang menyenangkan.

Hingga, tanpa disangka rezeki tidak ternilai itu datang saat saya ‘melupakannya’ saat saya sibuk menyelesaikan penelitian tesis. Saat itu, saya sedang benar-benar menikmati hari-hari saya sebagai mahasiswa yang sibuk menyelesaikan tesis, pergi hangout bersama teman, jalan-jalan sama suami, dan lain-lain. Saya pun tidak sadar kalau sudah telat beberapa minggu. Hingga saya menyadari ada yang berubah dengan tubuh saya. Saya merasa lebih gemuk dan mudah lapar. Pagi itu, saya pun iseng membeli tespack dan hasilnya positif. Setelah tujuh tahun pernikahan, akhirnya saya dipercaya untuk hamil. Percaya atau tidak, saya hamil saat saya tidak ikut program apa pun, saat saya tidak memikirkannya bahkan ‘melupakannya’. Alhamdulillah, kehamilan saya sangat lancar, saya bisa menjalankan aktivitas seperti biasa, bahkan saya menyelesaikan tesis saya. Saat usia kandungan 8 bulan, saya pun mengikuti wisuda.

Satu-satunya wisudawan dengan perut besar.

Satu-satunya wisudawan dengan perut besar.

Bulan Januari 2015, tepatnya tanggal 13, saya resmi menyandang status sebagai ibu dan bisa ungkapkan cinta ibu,  setelah melalui proses melahirkan yang panjang dan melelahkan. Saya mengalami fase pembukaan yang cukup panjang, sampai 5 hari, setelah pembukaan 9 dan si bayi yang seharusnya sudah keluar, malah sulit keluar. Berat badan bayi yang besar dan jalan lahir yang sempit menjadi persoalannya hingga saya dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi sesar.

Status menjadi seorang ibu, membuat saya merasa bisa ungkapkan cinta ibu dengan merawatnya dengan baik. Namun, menjadi seorang ibu bukanlah perkara mudah dan merupakan perjalanan baru yang harus saya tempuh. Dengan bekal pengetahuan yang minim, saya pun berusaha menjaga dan merawat dia yang sudah Allah titipkan. Ada saatnya saya merasa ‘gagal’ menjadi seorang ibu karena tidak mampu menjaganya dengan benar. Apalagi jika dia sakit, satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah ungkapkan cinta ibu dengan memeluknya, merawatnya, hingga memberikan Tempra Syrup saat panas.

Fathan dn Fakhira baru lahir

Fathan dn Fakhira baru lahir

Ternyata, Allah tidak hanya memercayakan satu buah hati kepada saya. Dua tahun berselang, saya pun kembali dipercaya untuk hamil lagi. Hingga, saya pun memiliki sepasang balita yang lucu, menggemaskan, namun kadang menjengkelkan. Menjaga dua balita bukanlah perkara mudah, apalagi keduanya sangat membutuhkan perhatian. Lebih kacau lagi kalau kakaknya sakit, adiknya pun kadang ikutan sakit. Begitu pun sebaliknya. Keduanya kadang bertengkar, kadang juga kompak membuat ibunya ini senewen setengah mati.

Ceria foto keluarga

Ceria foto keluarga

Apabila keduanya kompak sakit, duh saya pun panik setengah mati. Rasanya sedih melihat dua bocah yang biasanya ceria bermain bersama tiba-tiba pada lemah karena sakit. Apalagi jika suhu tubuhnya sudah tinggi.  Yang saya tahu, panas tinggi pada anak-anak bisa membahayakan jiwanya. Apalagi Fathan punya riwayat kenal infeksi hingga badannya pernah panas tinggi. Begitu pun adiknya, Fakhira, yang pernah panas tinggi sampai 40 ˚C. Walaupun begitu, untuk mengungkapkan cinta ibu, saya harus tetap tenang saat menghadapi berbagai situasi, termasuk saat mereka panas.

  1. Selalu siap Termometer

Termometer menjadi barang wajib yang saya miliki sejak saya menyandang status sebagai ibu. Jika anak-anak sudah terlihat murung dan suhu badannya meningkat, saya segera mengukur suhunya dengan thermometer. Selama sakit pun, saya terus memantau suhu tubuhnya. Saya tidak mau kecolongan, hingga tidak tahu berapa tinggi panas mereka saat sakit. Suhu yang paling tinggi yang pernah saya ukur adalah 40 ̊C. Jika sudah setinggi itu, biasanya saya langsung membawanya ke dokter untuk diberi pengobatan lebih lanjut.

  1. Memberikan Obat Penurun Panas

Obat penurun panas harus selalu sedia. Saya nggak mau membiarkan anak panas hingga telat ditangani. Penyebabnya adalah kejadian pada tetangga yang telat menangani anak yang demam panas hingga si anak step. Saat dibawa ke rumah sakit, sudah telat penanganannya. Pilihan saya adalah Tempra Syrup karena aman di lambung anak-anak karena mengandung parasetamol. Parasetamol merupakan obat yang paling aman untuk anak dan efek sampingnya minimal. Parasetamol mampu menurunkan demam juga mengurangi rasa sakit. Parasetamol juga aman digunakan pada bayi asalkan dosisnya tepat. Parasetamol yang terkandung di dalam Tempra Syrup dosisnya tepat sehingga tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis.

Sedia Tempra Syrup di mana pun

Sedia Tempra Syrup di mana pun

Parasetamol yang terkandung di dalam Tempa Syrup juga sangat tepat diberikan pada anak demam yang disebabkan oleh penyakit tertentu seperti demam berdarah. Memang, pemberian parasetamol yang terkandung dalam Tempra Syrup lebih lama reaksi lamanya namun lebih aman di lambung. Hal ini disebabkan parasetamol tidak mengandung asam yang bisa menyebabkan iritasi lambung dan menurunkan trombosit.

Adik ipar seorang bidan memberikan saran kepada saya untuk selalu menyediakan obat penurun panas Tempra Syrup. Dia menyarankan kepada saya untuk memberikan Tempra Syrup kepada anak-anak setiap saya mengajak anak-anak bepergian ke luar kota. Obat penurun panas juga diberikan setiap habis mengajak mereka main outdoor atau berenang. Katanya sih untuk mencegah anak-anak sakit.

Setelah berenang sering kurang enak badan

Setelah berenang sering kurang enak badan

Cara memberikan Tempra Syrup juga mudah, tidak perlu dikocok terlebih dahulu karena sudah 100% larut. Sehingga, saat anak panas, saya bisa langsung memberikannya pada anak tanpa perlu repot mengocoknya terlebih dahulu. Selain itu, anak-anak juga suka rasa anggur pada Tempra Syrup. Malah Fakhira sering nagih pengen minum obat kalau lagi demam.

  1. Mengompres

Agar anak-anak merasa nyaman, dan suhu badannya cepat turun, saya pun mengompres badan mereka. Area yang saya kompres biasanya ketiak. Saya menggunakan air hangat untuk mengompresnya. Namun, kadang anak-anak tidak nyaman dikompres. Saya pun menggunakan cara lain.

4. Membalur dengan ramuan bawang merah

Cara lainnya untuk menurunkan panas demam pada anak-anak, biasanya saya membalur badan mereka dengan ramuan bawang merah. Saya membaca di sebuah artikel bahwa bawang merah memgandung minyak atsiri, sikloailin, metilailin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin yang efektif menurunkan suhu tubuh. Bawang merah juga mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antiradang, antibakteri, dan mampu menurunkan panas.

Cara membuat ramuan ini mudah banget, cukup ambil 3 sampai 5 siung bawang merah yang dikupas. Saya biasanya memarutnya hingga halus lalu menambahkannya dengan minyak telon secukupnya. Setelah itu, ramuan ini dibalurkan ke ubun-ubun, punggung, dada, perut, lipatan paha, lengan, dan telapak tangan. Untung anak-anak suka dengan cara ini, mungkin langsung terasa enakan di badan setelah dibalur bawang merah.

Banyak cara ungkapkan cinta ibu kepada anak-anak, tidak han ya saat mereka sakit tapi tentunya setiap saat. Sebagai seorang ibu yang harus melalui perjalanan panjang untuk menyandang status ibu, saya sering spontan mengungkapkan rasa cinta tersebut. Secara spontan, saat mereka bangun tidur, saya sering memeluk mereka sambil berbisik di telinga mereka, “I love you, Fathan,” . Berhubung bicaranya sudah fasih, sering dia membalas dengan ucapan yang jelas dan benar. Bikin luluh hati, deh. Paling lucu kalau mendengar jawaban dari Fakhira yang masih belum jelas, balasannya akan seperti ini, “Alopiyuu budaaaa,” dengan ekspresi wajah menggemaskan.

Bahagia saat mereka berdua sehat dan bermain bersama

Bahagia saat mereka berdua sehat dan bermain bersama

Sebenarnya ungkapkan cinta ibu tidak hanya melalui kata-kata manis dan pelukan. Rasa marah juga bisa jadi ungkapan cinta jika marah itu memang untuk menjaga mereka dari hal-hal yang bisa mencelakakan mereka. Begitu juga dengan rasa cemas yang sering diungkapkan ibu sebagai ungkapan cinta karena merasa cemas atas keselamatan mereka, kesehatan mereka, dan hal-hal lainnya.

Fathan asyik bermain setelah panasnya reda

Fathan asyik bermain setelah panasnya reda

Bagi saya, Tempra Syrup sudah membantu saya untuk ungkapkan cinta ibu karena dengan Tempra saya merasa aman saat mereka sakit, bahkan bisa kembali ceria bermain. Melihat anak-anak bisa bermain dengan bahagia tentunya kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Tempra Syrup banner

 

Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

44 Responses

  1. Indri Noor says:

    Ungkapan cinta ke anak itu banyak jenisnya ya mba.. termasuk saat kita tegas saat sedang mengingatkan kesalahan anak.

    Sehat sehat terus buat buah hatinya ya mba

  2. Susan says:

    Yess… a mother’s love is undefine…
    Semoga semua diberi kesehatan selalu ya kitaaa mba…

  3. ina says:

    marah juga bentuk cinta ya mba
    tapi anak sy baperan
    kita sibuk aja dia udah baper
    bilang mau dijual aja ke orang lain biar bisa diperhatikan hahaha
    jd ga bisa marah ke dia
    paling ngomel aja

  4. Ulu says:

    Hah aslinya 7 tahun kosong, teeeeh? Kalo udah waktunya mah geuning dikasi berturut-turut dua anak ya 🙂

  5. Cerita pengalamannya yang luar biasa teteh, semoga putra putrinya tumbuh sehat dan jadi anak anak yg sholeh dan sholehah

  6. Sandra says:

    Wah lucunya baby girl n boy, btw termometer emang wajib banget ya Teh, gudlak lomba nya:)

  7. Nchie Hanie says:

    Aah..so sweet pisan baca ceritanya, ungkapan kasih sayang ibu ke anaknya emang ya selalu mengharukan. Dan pertama mengenal rani pun pas hamil anak 1, alhamdulillah yaa,semoga bisa menjaga titipanNya sebaik mungkin.
    Love Rani dengan segala perjuangannya, semangat..

  8. y allah Mbak hebat euy perjuangan nya. Aku anak kedua mirip nih, giliran lanjut kuliah lagi eh malah hamil, hehe. Udah pasrah lah ibaratnya pas itu

  9. Masa paling sulit dilalui seorang ibu jika anaknya sakit ya?

    Timbul rasa takut, sedih, bingung.

    Untung ibu2 sekarang semakin smart, ada tempra yg bisa diandelin

  10. Nunung Yuni says:

    Wah baru tau kalau obat penurun panas diberikan setelah acara outdoor untuk mencegah sakit. Saya kasih kalau pas mereka demam saja soalnya Mbak

  11. ivonie says:

    Baca perjuangannya buat hamil, luaar biasa mbak. Allah justru memberinya di saat sudah pasrah ya. Sama dengan saya mbk, sudah sepasang nih. Kalau lagi sehat kdang ngeselin, kalau pas sakit gak tega melihatnya terutama pas demam.

  12. Indah nuria says:

    Alhamdulillaaaah rezeki ngga kemana yaaa mba. Aku pun di rumah selalu sediaaa 🙂

  13. Julia Amrih says:

    Alhamdulilllah, sekarang sudah punya dua buah hati ya Mba’, ibu memang punya banyak cara mengungkapkan cintanya ya Mba’, sukses lombanya. 🙂

  14. lia djabir says:

    benar mba…kadang rasa marah itu diperlukan anak juga biar dia lebih kenal dunia ini

  15. Yati Rachmat says:

    Iisshh…kerem banget nih untaian kata dlm setiap kalimatnya. Mbak Rani mah emang jago nulis, euy. Bunda jd iri ( gakpapa, kan iri yg positip). Kayaknya ini nih ug kudu ada di list Pemenang Lomba. Pelukkin your precious things Fathan n Fahira for me, ya.

  16. April Hamsa says:

    Wah samaan kita, saya pun wisuda dalam kondisi hamil 8 bulan dan didampingi suami. nikmat mana yang kita dustakan ya mbak 😀
    Malah sekarang sudah ada dua ya mbak? 😀
    Anak2 emang berharga, mereka mengajarkan banyak hal buat kita, tentang sykur, sabar dll TFS

  17. Ida Tahmidah says:

    Teh Rani memang keren …:)

  18. Wah perjuangan menjadi Ibu emang luar biasa, salut buat Teh Rani, eeh alhamdullilah sekarang udah lengkap euy

  19. Ivonie says:

    Allah akan memberi di waktu yang gak disangka2 ya mbak. Saat diri sudah pasrah, justru disitulah Allah mengabulkannyan.

  20. April Tupai says:

    Sama bun aku jg slalu sedia tempra. Andalan ibu2 bgt deh klo anak demam. Mampir ke blogku jg yuk bun

  21. Pernah ngerasain bgt. Anakku hanya jarak 17 bulan. Tak terkata lelahnya saat mrk balita. Tapi habis itu enjoy aja. Apalagi skrg udah pada geday. Haha…

  22. Luar biasa ya Mbak perjuangannya.. salut deh, semoga anak-anak selalu sehat.. salam kenal Mbak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *