“Why Me?”

Why Me?”

Seringkali, lontaran itu keluar begitu saja saat ada sesuatu yang tidak kita inginkan atau ketika merasa depresi atas suatu keadaan. Lalu, bagaimana jika ucapan itu terlontar saat seseorang terpilih atau diajak melakukan sesuatu yang dia harapkan? Rasanya ‘lontaran’ tersebut perlu dipertanyakan.

Semalam, saya menonton film yang berjudul ‘Green Lantern‘. Di film tersebut, ada seorang tokoh yang bernama Hector Hammond. Dia seorang ilmuwan yang agak ‘aneh’. Hector menjadi sosok dengan kepribadian aneh karena perilaku dari ayahnya yang cenderung menganggap rendah kepada Hector. Ayahnya menganggap Hector bukan apa-apa† tanpa dirinya yang popular dan seorang senator.

Nah, suatu malam, si Hector diculik oleh orang yang nggak dikenal. Saat, penutup kepalanya dibuka, ternyata dia dibawa ke sebuah laboratorium penelitian alien. Dia pun mendapat penjelasan dari seorang pejabat laboratorium bernama Amanda Walter. Percaya atau tidak, respon yang dia ucapkan saat mendengar bahwa dia mendapat kehormatan untuk meneliti sang alien adalah ‘why me?’. Tampak sekali bahwa dia sama sekali tidak percaya, kenapa dirinya yang dipilih untuk menjadi peneliti alien tersebut. Kepribadian Hector memang agak ‘bermasalah’ apalagi dia berada di bawah bayang-bayang ayahnya yang orang penting dan Hal– teman sekaligus rivalnya sejak kecil — (Hal:tokoh protagonis sekaligus sang hero). Usut punya usut ternyata terpilihnya Hector menjadi peneliti alien karena ada campur tangan dari ayahnya yang senator.

Dalam kehidupan nyata, ternyata saya menemukan ‘kasus’ yang hampir mirip. Ada lontaran ‘Why me?’ saat saya mengajak seseorang untuk berpartisipasi dalam sebuah kegiatan yang saya tahu, pastinya dia suka. Kemiripan itu mungkin hanya dalam mengeluarkan ‘statement’, wallahu alam. Sangat disayangkan sekali, jika ada potensi-potensi kebaikan harus terhalang oleh adanya ‘rasa’ yang diri yang negatif. Hal itu akan menghambat dirinya untuk memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya, juga memperlihatkan ketidakpercayadirian dirinya.

‘Seseorang’ pernah berkata pada saya bahwa lontaran spontan itu berasal dari bawah alam sadar. Dan itulah yang sebenarnya, bukan ralat dan alasan-alasan selanjutnya. Yang spontan itu keluar tanpa dipikir terlebih dahulu dan memang itu ‘asli’ apa yang dipikirkan dan ada di dalam diri. Sedangkan ‘ralat’ atau alibi merupakan sesuatu yang sudah dipikirkan. So, what u say is what u are? Betul, tidaaak?

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *