Apa Alasanmu Tidak Naik Bis?

Apa alasanmu tidak naik bis? Kalau bagi saya bis merupakan transportasi bus di Indonesia yang dibutuhkan. Setidaknya bagi saya yang pertama kali menginjakkan  kaki di Kota Bandung dengan satus sebagai mahasiswi. Saat itu, Bandung masih menjadi kota yang sangat sejuk dan ramah kepada pendatang baru. Lingkungannya sangat asri dengan pepohonan besar berjajar di sepanjang pinggir jalan. Kendaraan pun tidak sebanyak sekarang, sehingga masih jarang terjadi kemacetan di jalan.

Sebagai mahasiswi dengan bekal dari orangtua yang seadanya, tentu saya mesti pintar mengatur pengeluaran harian, termasuk biaya transportasi sehari-hari. Saya menjadi pelanggan bis Damri yang memang menjadi andalan moda transportasi hemat. Sayangnya, saat itu moda transportasi Damri jumlahnya terbatas sehingga kalau mau naik mesti rebutan dan tidak jarang berdesakan di dalam bis jika tidak kebagian tempat duduk. Namun, demi penghematan biaya sehari-hari, nggak apa-apalah jubel-jubelan dalam bis, dengan risiko ada tangan-tangan jail yang suka kelayapan. Pastinya agar aman, saya mesti selalu waspada pada tangan-tangan jail yang sering mengincar isi tas.

Akhir tahun 90-an,  merupakan tahun yang pastinya selalu saya ingat sampai sekarang karena merupakan perjalanan awal kehidupan saya menjadi dewasa. Pada tahun tersebut pula, saya mulai berpisah dari orangtua dan menggantungkan komunikasi pada teknologi telpon nirkabel. Pada tahun tahun 90-an, teknologi telpon nirkabel sangat booming digunakan. Pada masa-masa menjadi mahasiswa akhir, saya sangat menikmati kemudahan telpon nirkabel dengan fitur sms, hingga sempat bengkak jari ber SMS-an, lalu kini mulai bergaul dengan internet yang membuat dunia seperti ada di genggaman. Semua bisa. Mulai dari sekadar mengirim dokumen, sampai urusan tetek bengek seperti cari jodoh.

Awal-awal bekerja di perusahaan penerbitan di tahun 2005-an, saya cukup nyaman internet yang diakses lewat personal computer (PC). Kemudian saya menikmati perkembangan teknologi gawai berupa laptop sehingga bisa internetan di mana pun, tidak harus selalu di kantor. Kini, internet sudah lama hadir melalui telepon selular. Kita bisa menyelami dunia maya di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi apa pun. Tinggal satu kali klik, seluruh informasi bisa di dapat. Tidak perlu kirim berkas, email saja. Tidak perlu SMS lagi, Whatsapp saja. Tak perlu telpon, video call saja. Mengabadikan momen berharga bisa di snapgram. Seakan dunia berada dalam genggaman.

Perlahan tapi pasti, percepatan teknologi ini menggiring kita pada budaya serbainstan, cepat, dan tidak merepotkan. Sedikit demi sedikit, kebutuhan akan barang berteknologi tinggi menggiring mindset kita untuk hanya menggunakan parameter material guna menilai banyak hal. Yang baik adalah yang mahal. Yang bagus adalah yang berteknologi tinggi. Yang enak adalah yang cepat dan tidak merepotkan. Hal tersebut masuk ke semua sendi kehidupan.

Suka tidak suka, mau tidak mau, perkembangan teknologi memang berpengaruh pada kehidupan kita. Sejalan dengan perkembangan teknologi, transportasi pun ikut mengimbangi perkembangannya demi kelangsungan hidup orang banyak. Pasalnya, transportasi di Indonesia terus bertransformasi dengan cepat. Pun dengan transformasi umumnya yang semakin baik. Mulai dari fasilitas, pelayanan, transportasi itu sendiri, rute, dan lain sebagainya yang membantu kenyamanan para pengguna transportasi umum.

Namun, kiranya transformasi-transportasi umum ini belum cukup bisa membuat masyarakat mau menggunakan transportasi umum. Masih banyak orang-orang yang lebih suka menggunakan transportasi pribadi. Padahal, mereka yang menggunakan transportasi pribadi lebih banyak mengeluh soal kemacetan, harga bahan bakar naik, boros bayar tol, lelah mengemudi, dan masih banyak lagi. Tapi, tetap saja tidak mau menggunakan transportasi umum yang sudah pasti tidak akan lelah menyetir, boros bayar tol, atau lainnya.

Kondisi ini memang berbanding terbalik dari beberapa daerah di negara maju diluar sana. Di sana, mereka sudah dapat mengandalkan transportasi publik dengan mobilitas yang tinggi. Saat saya dan suami berkesempatan berkunjung ke Singapura tahun 2009 saya dan suami merasakan langsung nyaman dan lancarnya transportasi bus di Singapura. Ke mana-mana, kami menggunakan bis/trem yang bayarnya menggunakan kartu sehingga lebih praktis dan efisien. Saya pun melihat, warga di sana menggunakan bis dengan tertib, tidak pernah rebutan naik atau rebutan tempat duduk. Kursi bagi disabilitas selalu kosong jika tidak ada pengguna yang disabilitas. Para penumpang bisa tidak diperkenankan makan dan minum sehingga bis selalu dalam keadaan bersih. Para penumpang yang akan naik bis, menunggu dengan tertib di setiap halte yang sudah disediakan. Halte-halte bis di sana banyak dan tertata rapi, ada jalan yang lebar terpisah dari jalan utama saat bis masuk halte, jadi penumpang tidak khawatir dengan kendaraan lain yang melintas saat akan naik bis. Di setiap halte disediakan peta dan jalur bis sehinga pengguna bis tidak kebingungan. Apalagi bagi turis yang ingin menjelajahi kota dengan menggunakan bis sangat mudah sekali petunjuknya. Saya pun melihat, banyak pengguna kendaraan pribadi yang memarkirkan mobil di area-area parkir umum yang disediakan pemerintah di sana, lalu mereka menggunakan bis umum. Tentu saja menjadi pemandangan baru bagi saya saat itu. Saya sungguh salut dengan penduduk di sana yang mengandalkan transportasi umum seperti bis dan trem. Pengalaman saya naik bis umum sebelumnya, selalu pengap, bau, dan berdesakan, sementara di sana, para penumpang berpakaian rapi dan wangi, duduk dan berdiri dengan sangat tertib. 

 

 Lalu, beberapa tahun terakhir ini, saya melihat pemerintah kita mulai membenahi sarana transportasi umum. Bis-bis Damri yang diperbaharui dengan bis-bis baru yang layak jalan. Desain interor bis pun lebih nyaman dan menyediakan kursi bagi disabilitas dan ibu hamil. Sayangnya, ternyata pembaharuan ini ternyata tidak membuat warga bisa tertib saaat naik bis, sehingga masih banyak yang enggan menggunakan bis sebagai transportasi utama. Alasannya adalah efisiensi sehingga masih banyak warga ibu kota memilih menggunakan kendaraan pribadi. Kondisi macetnya Jakarta membuat masyarakat berpikir dua kali dalam memilih angkutan umum sebagai jasa transportasi mereka.

Namun seperti teknologi, transportaasi Ibukota pun kian berbenah.  Coba lihat, hampir semua sistem pembayaran sudah cashless, jumlah unit pun ditambah. Dulu busway mungkin tidak sebanyak sekarang, jalurnya pun terbatas. Kini, hampir seluruh pelosok Jakarta telah terhubung dengan moda ini. Begitu juga dengan Commuter Line, kini telah menjadi salah satu kendaraan idola kaum urban apalagi yang rumahnya di daerah-daerah satelit seperti Bogor, Depok dan Tangerang. Ada pun bis Transjabodetabek, yang menjagkau bahkan ke daerah-daerah yang biasanya minim transportasi. Apa lagi, sekarang sudah menggunakan sistem BRT (Bus Rapid Transit), yaitu sebuah sistem bis yang cepat, nyaman, aman, dan tepat waktu dari infrastruktur, kendaraan dan jadwal.

Sudah cukup ? Tentu saja belum. Sudah sempurna ? Juga belum, namun jangan khawatir, Pemerintah terutama Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan terus berbenah demi kenyamanan masyarakat.

Lama-kelamaan masyarakat mungkin mengerti “asiknya” menjadi bagian pengguna transportasi umum. Sejak tahun 2017 akhir, transformasi transportasi semakin baik hingga membuat angka pengguna transportasi umum meningkat.

Yang dulu malas naik transportasi umum karena merasa lebih nyaman naik kendaran pribadi, kini mulai cinta dengan transportasi umum. Yang dulu takut-takut kalau naik bis karena rawan pencopetan, sekarang berkampanye mengajak teman-temannya naik bis karena sudah banyak petugas di dalamnya. Yang dulu malas harus berlari-lari mengejar bis, hari ini rela menunggu bis karena sudah banyak halte dengan kuantitas bis yg berangkat cukup sering.

Jadi, apa lagi alasan kamu tidak naik bis?

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

57 Responses

  1. Lidya says:

    Aku masih naik bis kok mbak, kecuali lokasinya tidak memungkinkan baru naik kereta api atau bawa kendaraan sendiri. Enak naik bis bisa tidur kalua ngantuk 🙂

  2. Gioveny says:

    Naik bis itu rawan kriminal ih mbak, belum lagi kalau hujan kondisi bis disini ngga layak banget. Tetesan hujan merembes ke kursi lewat jendela yang ngga bisa ditutup rapat. Males jadinya naik bis

  3. CatatanRia says:

    kalau dulu saya takut naik bis soalnya kebanyakan supirnya bawa bis udah kayak bawa roller coaster, udah gitu kondisi bisnya memprihatinkan. Tapi sekarang udah gak koq bus udah banyak yang bagus dan nyaman seperti trans jakarta. DI bandung juga bisnya sudah bagus-bagus seperti bis trans jakarta

  4. Hehehe… kalau saya karena busmania, nggak alasan buat nggak cinta naik bus. Apapun dan gimanapun kondisinya. Mau desek-desekan atau busnya error kayak gimana, enjoy aja.

  5. Sekar says:

    Kalo metromini atau kopaja, jujur saya nggak mau karena asap rokok, panas dan sumpek kalau macet, dan supirnya sering ugal-ugalan. Kalau eperti transjakarta, itu oke-oke aja hehe. Cuma ya, sejauh ini saya naik bis itu kalau ke luar provinsi. Dan memang banyak yang udah enak sih pelayanan dan kondisi bisnya.

  6. buat aku sendiri naik kendaraan umum di Jakarta pada jam kerja cukup menyiksa, selain harus menyiapkan mental harus menyiapkan juga hati yang enggak mendeki.
    jadi paling sabtu minggu aku baru beralih ke angkutan umum hihi

  7. Mporatne says:

    Alasan tidak naik bis karena jarang memberikan bis gratis.

    Cuma ada perayaan besar saja, ada naik bis gratis seperti asian games

  8. charles says:

    Mengapa tidak naik bus? Salah satunya karena kualitas dan pelayanan bus masih terbatas apalagi yang seperti Kopaja di jakarta yang selain tidak nyaman, juga tidak aman.

  9. Iya. Dulu, naik angkutan umum kerasa horror banget. Sekarang, sudah jauh lebih baik. Tentunya, angkutan umum yang resmi.

  10. Mechta says:

    Terus terang aku naik bus hanya kalau terpaksa ..hehe.. itu karena sebagian besar bus masih tidak terlalu nyaman, berdesak-desakan. Mudah2an transportasi umum termasuk bus makin meningkatkan pelayanannya.

  11. Kita juga harus antusias dengan pemakaian transportasi umum ini, percuma kalau pemerintah perbaiki tapi dari kita juga gengsi naik Bis. Sama kayak analogi buang sampah pada tempatnya, yang jadi masalah utama ialah di kitanya sendiri yang seringkali gengsi dan gengsi.

  12. Dulu waktu masih kuliah, bis adalah transportasi andalan untuk mencapai kampus. Meskipun harus berebutan dengan mahasiswa lainnya hihihi
    Sekarang saya pun lebih senang naik bis. Apalagi sekarang Damri lebih nyaman, udah dipasang AC, jadi adeem

  13. Indah Nuria says:

    Dengan model kemacetan di Jakartaaa, aku pecinta transportasi umum mba, terutama Busway. Hanya cuaca aja yang kadang menghalangi

  14. April Hamsa says:

    Soalnya rumahku jauh dr terminal dan lebih nyaman naik KRL mbak hehe.
    Udah jarang juga sih naik bus, lbh sering naiknya kereta api kalau bawa anak2 krn ada toilet dan kalau perjalanan panjang anak2 bisa jalan2 di lorong.
    Kalau naik bus malah pas aku msh kecil dulu. Klau skrng blm ada alasan naik bus lagi. Tapi aku suka sih kalau naik, asal ada kesempatan dan mungkin pas anak2 dah gede 😀

  15. KAlau diriku biasanya naek bis buat pulang kampung kak. kalau di kotanya sendiri ngga ada bus kota. Biasanya naek bis memakan waktu paling sebentar 6 jam. lumayan juga sih pegalnya hehehe. Tapi seru kok bisa naek bus, ketemu orang baru

  16. Mm apa ya alasannya gak naik bis. Karena macet sih kalo aku. Kalo soal kenyamanan sih relatif ya. Macet berjam-jam ini lho yang bikin pengen bisa terbang wkwk

  17. Zefy says:

    KAlau aku ga naik bis karena di tempatku belum ada bis kota mbak ehheee…yang ada hanya bis untuk kawasan wisata. Padahal kayakany seru kalau naik bis

  18. Ida Tahmidah says:

    Kalau sybmalas naik mobil antar kota krn ada motor yg bs nyelip2 di jalan jd bs lbh cpt. Nah kalau ke luar kota malas naik bis krn ada kereta api yg lebih nyaman..hahaha..

  19. Farida Pane says:

    Kalau aku sih karena anggota keluarga banyak, 10 orang. Jadi sepertinya lebih praktis kalau ke mana2 pakai mobil saja.

  20. Diyanika says:

    Aku malah justru ngenalin ke anakku sejak dini sama transportasi satu ini, Mbak. Dua minggu lalu aku habis naik bus, Mbak. Alhamdulillah dia selalu hepi banget.

  21. Memang revitalisasi armada angkutan umum membuat perjalanan dengan bis jadi lebih aman dan nyaman, harusnya sih ya gak ada alasan untuk gak naik bis hehe

  22. Leyla says:

    Itu lorong di dalam busnya koq kayak di film horor, hehe… Aku juga suka naik bus kalo pas kebetulan di stasiun kereta itu ada bus yang lewat.

  23. Saya sebenarnya suka naik bis mba, cuma kondisi transportasi aja di sini yang membuat saya tidak pernah lagi naik bis. Namun, terkait pertanyaan judul di atas, yang membuat saya gak naik bis itu sebenarnya kalau penumpangnya kurang hahaha pikiran dikit parnoan sih

  24. Rahmah says:

    Bus atau bis ya Mbak? Saya pun suka keliru soal dua kata ini.
    Oiya, tidak alasan untuk tidak naik bus karena armada sekarang sudah banyak

  25. Iya juga sih ya kalau transportasi umumnya baik dan nyaman pasti masyarakat beralih kesana daripada pakai kendaraan pribadi. Saya sendiri jarang banget naik bus sih lebih ke ojek online soale kalau di Jakarta macetnya ga nahan hehe .

  26. Kalo saya pribadi, sih, suka banget naik bis. Walaupun ancaman seperti pencopetan itu besar sekali di bis tetapi saya tidak mempedulikan itu. 😀 Selama kitanya bisa menjaga diri secara maksimal dan tidak terlalu menggunakan pakaian mencolok, aman-aman saja. Dan bis sepertinya salah satu moda transportasi yang cukup terjangkau dari segi harga dan lokasi. AYO NAIK BIS! 🙂

  27. Di Jogja sendiri, busway cukup rame. Namun, ya tetap aja, akunya lebih memilih untuk naik motor. Ya, selain karena memang simpel juga dan mampu menjadi solusi baik untuk mengatasi macet. Juga karena jadwal sih, kadang pagi dan terburu-buru juga. Namun, memulai hari ke kantor gitu dengan naik bis cukup membantu untuk persiapan juga toh. Bisa baca-baca materi atau mengetahui kabar terkini atau update apa kek.

  28. Karena aku gak bisa naik bis. Mual. Hehe. Harap maklum, manja perutku

    Yaa mungkin karena jarak kursinya sangat dekat, ruangnya sempit. Juga ada bus ugal2an itu loh kalo nyetir.

    Tapi kalau busnya kayak bus wisata ya aku oke oke saja sih, hehe

  29. Nabilla DPA says:

    Saya suka naik bis mba, kalau misalnya nggak bisa naik kereta, aya trntu mengambil opsi bis. Bis sekarang udah bagus2 banget. kalau saya lebih suka naik yang eksekutif atau yang bebas asap rokok.

  30. Eni Martini says:

    Alasanku ya itu serem sama sopirnya yang suka ngebut meski keneknya teriak sudah ada yang mau turun atau keneknya main tereak t cepet-cepet, kan bahaya. Ini kalau naik bus umum yang dijalan asal nyetip ya, kalau yang pakai shelter kayak transJakarta sebenarnya aku suka. Tapi macetnya itu yang bikin gak kuat, jadi lebih sreg naik kereta hehehhe

  31. Tuty Queen says:

    Aku di Jakarta masih ngandalin Commuter Line, kadang naik shuttle juga dari Tangerang..kalau bus umum aku nyerah karena macet.

  32. Diah says:

    kalau main ke Jakarta sih enaknya emang naik bis ya Mbak, apalagi tahu sendiri Jakarta itu macetnya minta ampyuuunn..
    naik bis murah meriah udah pake AC pula 😀

  33. Utie adnu says:

    Sekarang bus lbih nyaman kok mba ya,, akupun klo ke Jakarta lbih milih naik bus mba ktimbang yg lain

  34. Ulya says:

    Di kotaku masih banyak angkutan bis, sayangnya belum dikelola pemerintah dg baik. Kalo ada kendaraan lain lebih mending yang lain. Hehe
    Sekarang setelah ada motor, mendingan motoran aja. Hehe

  35. aku biasa naik bis juga kok. malahan perjalanan jauh aku beberapa kali naik bis. buat aku emang bis alternative yg paling bagus selain naik kereta.

  36. Jiah says:

    Aku kalau pergi ke luar kota nyaman pakai bus daripada motoran sendiri. Bisa tidur dll. Kalau malas ngebus di kota sendiri biasanya ngetem lama banget. Kalau darurat aja baru naik soalnya cuma sampai di gang desa. Ke rumah tetep ngangkot atau minta jemput

  37. Nanik Nara says:

    Aku nggak punya alasan untuk tidak naik bis hehehe…
    Kalau malang-surabaya, saya masih lebih suka naik bis.
    Untuk kota lain, kalau ada kereta api, saya lebih pilih naik kereta. Tapi kalau nggak dilewati jalur kereta, maka pilihannya adalah naik bis

  38. aku udah lama ga naik bisa teh kalau dulu pas masih gadis mah anak bis banget hehehe kebetulan juga tempat kerjanya jauhhhh sekali makanya pake bis, aku belum coba nih ajak anak2 naik bis insyaAlloh ajakin ah

  39. lendyagasshi says:

    BRT sama Bussway bedanya apakah, teh?
    Aku jadi ingin naik biiiss…

    Biar bisa nyanyi Tayo-Tayo sama anak-anak.
    Hihii~

  40. sally says:

    IIh..aku mah seneng naik bus teh, hemat . Cuma sebel aja kalau lagi macet dan gak pake ac. insyaAllah bus2 di Jakarta makin bagus kinerjanya. Makin betah deh nge-bus

  41. sally says:

    ish, aku mah suka naik bus, hemat. Cuma sebel aja kalau macet. Semoga bus2 di Jakarta makin bagus pelayanannya. Makin cihuy naik bus

  42. unggulcenter says:

    alasan ngga naik bis.. selama masih bisa naik KRL Jabodetabek hehe.. selain itu, ya naik bis kalau titik2nya pas. Bis macem busway tapi yaa yang nyaman aman

  43. Kalau aku gak suka naik bus karena orangnya mabokan, Mbakkkk.. huhuhu. Apalagi bus ber-AC, natap bentuknya yg tertutup rapat itu aja aku udah parno, mual-mual duluan sebelum naik, hiks.
    Dulu zaman masih sekolah emang naik bus terus, sih, tapi busnya yg AC alami alias semilir angin lewat jendela. Hahaha.
    Eh maaf ya, jadinya untuk saat ini aku lebih milih naik kereta dibanding bus 🙂

  44. Enak sih naik bus umu, apalagi tj, yg adem da murah. Tapi Suka lama teh nunggunya, jadi gak bisa diandelin kalo lagi Buru2

  45. Indira W says:

    Aku gak suka naik bus karena lebih suka naik KRL.
    Terus kalau bus waktu sampainya gak pasti.

  46. Aku termasuk orang yang suka naik bis. Sejak SMA hingga sekarang. Iya sih, banyak copet dan hal gak mengenakkan. Aku bahkan sampe pernah kecopetan. Tapi serunya lebih banyak. Apalagi sekarang makin nyaman. Dulu mah desak-desakan. Tapi sekarang aku terhitung jarang naik bis. Kemacetan bikin lebih sering milih naik kendaraan online. Demi efektivitas. Kalo lagi selow, baru deh naik bis. Macet pun dinikmati aja. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *