Belajar dari “Pendelegasian”

Saat pertama kali memulai karier di dunia penerbitan, saya melamar sebagai editor. Mulanya, saya melamar sebagai tenaga magang di sebuah penerbit ternama di Bandung. Saat magang itu, saya masih berstatus mahasiswa karena masih dalam tahap penyelesaian skripsi. Selama magang itulah, saya banyak mendapat pekerjaan pendelegasian dari para senior yang saat itu sudah berstatus sebagai editor. Tugas-tugas pendelegasian itu tampak sepele, misalnya saya diminta untuk men-scan beberapa halaman buku yang akan dijadikan sumber tulisan, membaca beberapa buku kemudian mereview-nya, menuliskan judul-judul buku, mengelompokkan materi-materi tulisan, dan lain-lain. Namun, dari pendelegasian tersebutlah, saya belajar hal baru.

Selanjutnya, setelah lulus kuliah, saya pun ikut tes sebagai editor di penerbit tersebut. Alhamdulillah, saya bisa lolos tes editor dan status saya pun beralih dari mahasiswa magang menjadi editor kontrak. Hehehe … sebagai pegawai fresh graduate, tentunya saya kembali banyak mengerjakan pekerjaan ‘delegasi’ dari para senior. Namun, saya menikmatinya karena dari situ saya jadi belajar banyak. Seringkali, pendelegasian yang dianggap sepele malah menjadi ilmu yang sangat berguna. Dari tugas-tugas itulah, saya jadi memiliki insting untuk menilai naskah yang bagus dan layak terbit. Bahkan, saya bisa belajar menjadi seorang penulis. Buku pertama saya juga diterbitkan di penerbit tersebut. Coba tebak, penerbit apa, hayooo? ;op

Dengan modal tugas-tugas ‘kecil’ yang pernah saya kerjakan, saya pun loncat ke penerbit lain dan melamar sebagai editor ‘beneran’. Penerbit ini, saat itu memang tidak sebagus penerbit yang sebelumnya, baik itu dalam hal sistem kerja dan alur kerja. Jadinya, masih agak serabutan. Saya pun kembali banyak mengerjakan tugas ‘pendelegasian’ dari atasan saya. Saat itu, atasan saya seorang penulis yang sudah sangat terkenal dan sangat sibuk. Sehingga beliau banyak melakukan pendelegasian tugas kepada saya. Saya tidak mengeluh, saya malah merasa senang karena saya bisa mendapat tugas dan tanggung jawab lebih daripada sekadar editor. Status sih editor tapi tanggung jawabnya mengelola penerbitan buku, mulai dari cari ide sampai dengan memastikan buku itu siap cetak.

Alhamdulillah, apa yang saya lakukan dan kerjakan pun mendapat perhatian dari perusahaan. Karier saya pun mulai naik dari seorang editor menjadi seorang senior editor ataupun penanggung jawab proses penerbitan buku-buku anak. ‘Latihan’ melalui pendelegasian tugas itulah yang menempa kemampuan saya, baik itu kemampuan teknis maupun kemampuan nonteknis seperti kemampuan mengelola sebuah tim. Hingga, akhirnya saya benar-benar dipercaya untuk bertanggung jawab membawahi sebuah departemen. Saya bertugas untuk mengelola penerbitan buku dan membawahi beberapa tenaga ahli seperti ilustrator, desainer kover, layouter. Tentu saja kemampuan mereka sudah sangat mumpuni.

Berkaca dari pengalaman tersebut, saya belajar untuk bisa mendelegasikan tugas dengan baik. Saya belajar bahwa ‘pendelegasian’ tugas itu akan membawa dampak positif asalkan si penerima tugas tersebut dapat menerima tugas tersebut sebagai tantangan bukan sebagai beban. Saya sangat berharap, setiap individu yang ada di sekitar saya punya semangat untuk bisa memiliki ‘nilai lebih’ dari apa yang sedang dikerjakan. Saya pun sangat berharap, semangat dan passion saya ‘dulu’ tidak padam ataupun hilang oleh hal-hal yang terjadi di sekitar saya.

Sumber gambar: http://wuryanano.wordpress.com

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *