“Gayatri Rajapatni” Tokoh Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit

Siapa yang tidak tahu Majapahit? Sebuah kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara. Konon kabarnya, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara saat itu akan gentar jika mendengar nama Majapahit. Di balik kehebatan Majapahit, kita pun mengenal nama besar yang sudah membuat Majapahit menjadi kerajaan besar yang bercita-cita mempersatukan Nusantara yaitu Mahapatih Gajah Mada. Sudah ada beberapa buku fiksi sejarah yang membahas Gajah Mada. Mengungkapkan bagaimana sosok Gajah Mada yang terkenal dengan sumpah palapanya. Sumpah Mahapatih Gajah Mada yang tidak akan meminum air kelapa sampai dia berhasil mempersatukan Nusantara. Ambisi yang sangat besar hingga ambisinya tersebut berujung pada penyesalan.

Akan tetapi, tidak banyak buku yang membahas sosok lain di balik kejayaan Majapahit. Sosok perempuan yang ternyata memiliki andil sangat besar terhadap kebesaran Majapahit. Sosok perempuan yang bahkan bisa mempengaruhi pemikiran Gajah Mada. Dialah Gayatri Rajapatni, istri termuda dari Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana, sang pendiri Kerajaan Majapahit. Sosok Gayatri dibahas dalam buku yang berjudul namanya yaitu Gayatri Rajapatni, karya Earl Drake, mantan Duta Besar Kanada untuk Indonesia.

Gayatri merupakan putri bungsu dari Raja Kertanegara, Raja Singhasari. Semasa mudanya, Gayatri lebih tertarik kepada permasalahan kenegaraan daripada bersolek seperti putri-putri raja lainnya. Saat itu, Kerajaan Singhasari terancam oleh serangan dari Kubilai Khan yang ingin menguasai ierajaan-kerajaan di Nusantara. Kubilai Khan mengirim utusan yang ditolak oleh Raja Kertanegara. Penolakan dari Raja Kertanegara tersebut pun memicu kemarahan Kubilai Khan. Raja Kertanegara pun harus bersiap-siap membuat strategi untuk melawan serangan Mongol, salah satunya bersekutu dengan kerajaan-kerajaan tetangga, seperti Champa. Raja Kertanegara pun mengirimkan pasukannya ke kerajaan-kerajaan tetangga untuk menghalau serangan dari Mongol. Ada fakta menarik yang dilakukan oleh Raja Kertanegara dalam strateginya melawan pasukan Mongol yaitu melakukan ritual Tantra. Ritual yang juga dilakukan oleh Kerajaan Mongol. Ritual yang sifatnya lebih sarkastik menyangkut perbuatan amoral seperti menenggak bergelas-gelas tuak dan berasyikmasyuk bersama para yoginis (istilah yang dipakai oleh penulis).

Ternyata serangan yang nyata berasal dari kerajaan tetangga yaitu Kerajaan Kediri. Pasukan kediri berhasil membunuh keluarga kerajaan Singhasari. Kakak tertua Gayatri (istri dari Raden Wijaya) berhasil melarikan diri. Gayatri berhasil menyamar menjadi putri biasa dan masuk ke kalangan Kerajaan Kediri. seperti sudah banyak dituliskan di bukus ejarah, Raden WIjaya berhasil menghimpun kekuatan dan bekerja sama dengan Madura untuk melakukan serangan ke Kerajaan kediri. aden Wijaya pun berhasil mengalahkan Kediri sekaligus tentara Mongol. Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit, nama yang diambil dari buah bernama Maja yang rasanya pahit. Raden Wijaya pun memperistri Gayatri dan mengangkatnya sebagai ratu. Sayangnya, Raden WIjaya meninggal di usia yang masih cukup muda. Kedudukannya sebagai raja digantikan oleh putranya, Jaya Negara, putra dari Dara Petak, istri  Raden WIjaya yang lain. Gayatri tidak memiliki seorang anak laki-laki sehingga Jaya Negaralah yang menggantikan kedudukan Raden Wijaya.

Gayatri tumbuh menjadi ratu yang memiliki pemikiran mendalam mengenai kerajaan. Dia berhasil mendekati Gajah Mada dan memasukkan pemikiran-pemikirannya ke pemikiran Gajah Mada. Secara tidak langsung, Gayatri dan Gajah Mada lah sosok yang membesarkan Kerajaan Majapahit. Gayatri melalui pemikirannya dan Gajah Mada melalui tindakan dan eksekusinya. Ada fakta lain juga yang disebutkan buku ini bahwa Gayatri berhasil menanamkan pemikiran bahwa Jaya Negara harus disingkirkan karena perilakunya yang tidak sesuai sebagai Raja Majapahit. Selanjutnya, kerajaan dipimpin oleh Tribhuawana Wijayatunggadewi yang kemudian melahirkan seorang pangeran bernama Hayam Wuruk. Tercatat dalam sejarah, Hayam Wuruk yang saat menjadi raja bergelar Rajasanagara ingin menikah dengan seorang putri Sunda yang bernama Dyah Pitaloka. Sayangnya, ambisi Gajah Mada untuk menaklukkan Kerajaan Sunda yang mengakibatkan pernikahan batal dan berubah menjadi pertumpahan darah. Seluruh keluarga kerajaan Sunda yang datang ke Kerajaan Majapahit sebagai rombongan pengantin harus menghadapi kenyataan bahwa Gajah Mada ingin mereka tunduk kepada Majapahir. Keluarga kerajaan Sunda memilih untuk menolak dan berperang melawan Kerajaan Majapahit sehingga terjadilah Perang Bubat. Putri Dyah Pitaloka pun tewas dalam peperangan tersebut. Hayam Wuruk yang terlanjur jatuh cinta kepada Putri Dyah Pitaloka pun menyalahkan Gajah Mada. Di akhir kisah, disebutkan Gajah Mada memilih untuk mengasingkan diri dan menyepi. Demikian kisah umum dari Kerajaan Majapahit dan muncul juga di dalam buku ini.

Adapun hal yang menarik dari buku ini yang tidak disebutkan di dalam buku sejarah. Salah satunya fakta bahwa ada seorang perempuan yang berperan penting dalam kebesaran Kerajaan Majapahit, yaitu Gayatri Rajapatni. Fakta lain adalah adanya ritual Tantra yang dilakukan Raja Kertanegara yang nyatanya tidak berhasil melawan Mongol malah membawa kehancuran bagi kerajaan. Buku ini lebih mengedepankan fakta karena memang buku ini bukanlah buku cerita melainkan sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Earl Drake. Sang penulis memutuskan untuk menyajikannya dalam bentuk cerita karena bertujuan agar cerita dari sumber-sumber kuno yang tidak dikenal dapat diakes oleh pembaca awam dapat lebih diterima. Sayangnya, menurut saya pribadi, sebagai pembaca fiksi, hal yang dilakukannya kurang berhasil. Buku ini belum bisa disebutkan fiksi sejarah karena cara penulisannya masih terasa kaku walaupun hal itu bisa dimaklumi karena Earl Drake sendiri bukanlah seorang penulis fiksi, dia lebih kepada peneliti. Sehingga banyak kelemahan yang muncul jika buku ini masuk ke dalam kategori fiksi. Akan tetapi usaha tersebut patut dihargai sehingga buku yang pada mulanya adalah hasil peneltian ini dapat lebih berterima oleh orang awam. Selain itu, kekuarangan dari buku ini adalah masih banyaknya kesalahan tipografi sehingga mengganggu dan membingungkan pembaca. Namun, walaubagaimana pun pada dasarnya, menurut saya buku ini memiliki peranan penting dalam membuka wawasan kita sebagai penerus bangsa ini untuk bisa menyelami pemikiran para pendahulu kita.

Identitas buku

Judul                : Gayatri Rajapatni – Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit

Penulis             : Earl Drake (Mantan Duta Besar Kanada untuk Indonesia)

Penerbit          : Penerbit ombak

Tahun terbit  : 2012

Jumlah hlm.  : xx + 192 hlm

Ukuran buku : 14,5 x 21 cm

 

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. DoKyungsoo Wife says:

    Terima kasih infonya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *