Iam Hope The Movie: Antara Impian dan Harapan

para pemain film iamhope

para pemain film iamhope

Entah kenapa saya selalu terharu dan meneteskan air mata saat menonton film yang bertema impian. Seperti saat menonton film Tomorrowland, entah kenapa air mata jatuh begitu saja dan dada penuh sesak oleh perasaan terharu saat Frank, Casey, dan Athena mencari para pemimpi yang tidak pantang menyerah untuk menciptakan dunia yang penuh kedamaian dengan kemajuan teknologi tinggi. Film produksi Walt Disney Pictures ini sebenarnya sama sekali tidak menggambarkan kesedihan, yang ditampilkan adalah Casey Newton yang begitu tertarik dan penasaran dengan Tomorrowland. Anehnya dada ini begitu penuh dengan rasa harus saat menontonnya.

Saya pun tentunya sangat bersemangat saat berkesempatan nonton Iam Hope The Movie bareng KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) Bandung. Film ini sudah saya tunggu sejak sekitar satu bulan yang lalu. Mungkin karena temanya tentang harapan dan memiliki pesan sosial untuk peduli kanker makanya saya begitu menunggu film ini.

Baca juga Harapan

Dimulai dari Dongeng

Film ini dibuka dengan adegan Madina (Febi Febiola) yang sedang membacakan cerita dongeng kepada putri cantiknya Mia. Rupanya dongeng yang bercerita tentang cahaya yang menjelma jadi harapan ini begitu berpengaruh kepada Mia dewasa yang diperankan oleh Tatjana Shapira. Dongeng ibunya yang meninggal karena kanker menumbuhkan semangat di hati Mia untuk bisa hidup dan ‘bernapas’ dengan menggeluti dunia teater yang dicintainya.

“Jika hidupku pendek, aku ingin mati dalam teater,” ucap Mia pada saat sakit dan meminta restu ayahnya untuk membiarkan dirinya tetap berteater.

Maia sang Alter Ego

Alter ego berasal dari bahasa Latin yang artinya aku yang lain. Alter ego bisa disebutkan sebagai diri kedua yang dipercaya berbeda daripada kepribadian yang sebenarnya. Hadirnya Maia sebagai sosok yang selalu mendampingi Mia saya tafsirkan sebagai kepribadian Mia yang lain. Mia yang hadir di dunia nyata digambarkan sebagai seorang perempuan cerdas yang cenderung berkepribadian kalem, sopan dalam berpakaian, santun dalam berbicara, dan tidak agresif. Berbeda dengan Maia yang digambarkan lebih ceria, berani, ekspresif terlihat dari kata-kata, ekspresi wajah dan cara berpakaian yang lebih modis dan terbuka.Kepribadian Maia ini diperankan dengan apik oleh Allesandra Usman.

“Jika kamu merasa bakal mati cepat tentunya nggak akan menyia-nyiakan waktu,” kalimat ajaib Maia yang mampu menghidupkan semangat Mia yang hampir padam karena penyakitnya.

Kepribadian Maia mengingatkan saya pada tokoh Maia dalam novel Cala Ibi karya Nukila Amal. Maia dalam novel tersebut digambarkan sebagai cermin dari kepribadian tokoh Maya yang diceritakan Nukila Amal melalui kata-katanya yang penuh metafora. Maia dalam Cala Ibi pun digambarkan memiliki kepribadian yang berbeda dengan Maya walaupun Maia hanya hadir dalam mimpi Maya.

Jika alter ego selalu dikaitkan dengan pecahan dalam kepribadian ganda, saya melihat tokoh Mia dalam Iam Hope The Movie tidak digambarkan sebagai kepribadian ganda. Dia hanya seorang sosok yang membutuhkan seseorang sebagai penguat dalam hidupnya.

Hubungan Romantis yang Tidak Mengharu Biru

Entahlah, mungkin karena saya penggemar drama korea yang selalu menceritakan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang kompleks dan kadang bikin baper, saya melihat hubungan antara Mia dan David begitu cepat. Perkenalannya pun terkesan biasa. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan David jatuh cinta pada Mia (selain wajah cantik). Karena referensi saya drama korea yang selalu menggambarkan perkenalan dua tokoh utama yang bombastis, entah itu tabrakan di jalan, berantem, salah sangka, dan lain-lain. Perkenalan antara David dan Mia cenderung standard. Yang pasti respon David setelah perkenalan itu begitu dahsyat, selalu memberikan perhatian pada Mia, selalu mendampingi Mia dalam merajut impiannya. Saya acungi jempol deh buat semua perhatian David sama Mia. Siapa sih yang nggak mau didampingi cowok cakep dan perhatian kayak David.

Ayah yang Takut Kehilangan

Ditinggalkan oleh istri yang dicintai karena penyakit kanker tentunya meninggalkan trauma yang dalam. Apalagi digambarkan bahwa Raja Abdinegara (Tio Pakusadewo) dan istrinya Madina adalah pasangan romantis di dunia teateer. Kehidupan mereka begitu indah bagai di negeri dongeng. Sayangnya semua cerita indah itu hancur saat Madina divonis menderita kanker. Madina pun meninggal karena penyakitnya. Kasih sayang Raja pun dicurahkan kepada putri semata wayangnya, Madia.

“Lihatlah, dia begitu cantik seperti ibunya. Dia adalah hartaku yang paling berharga,” itulah gambaran kasih sayang Raja pada Mia.

Apa jadinya jika harta yang paling dicintainya itu divonis kanker, penyakit sama yang telah merenggut nyawa istrinya? Tentunya Raja tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Oleh karena itu Raja coba melarang Mia berteater dan fokus pada penyembuhan penyakitnya. Kekhawatirannya tersebut sempat menimbulkan konflik antara dirinya dengan Mia. Apalagi saat Mia jatuh pingsan di tengah-tengah latihan teater. Raja langsung melarang Mia berteater karena dia trauma dengan teater. Namun, akhirnya dia menyadari kalau teater adalah dunia Mia.

Impian yang Menjadi Nyata

“Ini kayak mimpi,” ucap Mia saat naskahnya diterima oleh Rama Sastra. Kalimat itu beberapa kali diucapkan Mia saat berhasil melalui masa genting melawan penyakitnya. Di situ ada keberanian di sana ada harapan. Harapan milik Mia berhasil membuatnya bisa mencapai impiannya. Bahkan, Mia menjadi tokoh inspiratif yang mampu melewati masa kritis melawan kanker dan berhasil membuat karya teater.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. Raja Lubis says:

    memang selalu menggugah ya film2 yg bertema Human Interest seperti ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *