Internet Masuk Desa di ASADESA

IMG_20150707_170048

Sekarang udah zamannya internet.
Semua serbainternet.
Internet tidak hanya di perkotaan.
Internet sudah masuk desa.
Internet juga meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Sepertinya itulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh film dokumenter ASADESA dari RTIK. Film ini diputar pada acara nobar bareng yang diadakan oleh RTIK dan ICTWatch pada hari Selasa, 7 Juli 2014, bertempat di TreeHouse Café, Jl. Hasanudin.

Acara yang diselenggarakan oleh Qwords.com ini mengundang sejumlah blogger dan beberapa komunitas untuk acara Bukber KURMA alias kumpul rame-rame di bulan Ramadhan. Acara ini cukup meriah karena sekitar 20 orang blogger Bandung hadir untuk meramaikan acara. Alhamdulillah, saya menjadi salah satu peserta dari Blogger Bandung yang bisa hadir.

Di jadwal, acara dimulai pukul 16.00, akan tetapi pada prakteknya acara baru mulai pukul 17.00 wib. Berhubung, pemateri yang akan hadir yaitu Bapak Indrayatno Banyumurti, selaku ketua RTIK dan Blogger Kuliner belum hadir karena macet, jadi acara dimulai dengan nonton bareng film ASADESA.

Menurut saya, film documenter ini sangat menarik karena menggambarkan peranan internet terhadap masyarakat di pedesaan Indonesia. Kalau ngomongin internet di perkotaan udah biasa. Hampir setiap orang yang pegang gawai pasti terhubung dengan internet. Entah sekadar untuk bermedia soslal atau juga untuk berbisnis. Nah, ternyata masyarakat di pedesaan juga sudah melek internet. Bahkan, mereka memanfaatkan internet untuk meningkatkan perekonomian mereka.

Film itu berisi semacam testimoni dari sejumlah pengusaha kecil, petani, nelayan, dan peternak di pedesaan yang menceritakan pengalaman mereka berinternet. Pada awal film, diceritakan para petani di Ciamis yang sudah merasakan manfaat internet. Bahkan, mereka sudah terbiasa memegang gawai untuk internetan sambil bekerja di sawah. Ada yang pegang smartphone, tablet, dll. Mereka rupanya menggunakan internet untuk mempromosikan dan menjual hasil taninya.

Selain itu, ada juga pengusaha mebel yang sudah melakukan eksport ke luar negeri karena internet. Dia bisa menjual hasil karyanya dengan harga tinggi dan jumlahnya yang banyak ke luar negeri karena peranan media sosial. Bahkan, dia sudah bisa memiliki sejumlah karyawan yang memiliki keahlian khusus di bidang mebel.

Data internet masuk desa

Data internet masuk desa

Di dalam film dokumenter ini juga disajikan data mengenai internet masuk desa yaitu jumlah desa yang sudah memiliki domain aktif. Ini dia datanya:

Jumlah desa yang memakai domain aktif
2013 463 desa
2014 1336 desa
2015 1976 desa (sampai bulan Maret)
2,04% dari 74.093 desa di Indonesia

Wow, ternyata, setiap tahun mengalami peningkatan. Itu tandanya, masyarakat pedesaan sudah melek dengan teknologi internet dan sudah bisa memanfaatkannya dengan baik untuk meningkatkan perekonomian mereka.

Menu berbuka puasa

Menu berbuka puasa

Tanpa terasa, adzan maghrib berkumandang. Waktunya berbuka pasa. Makanan pun sudah tersaji di meja. Sayangnya, saya tidak bisa mengikuti materi dari Bapak Indrayatno Banyumurti karena terjadi sedikit musibah. Hiks..sedih juga, tapi memang kondisinya darurat saat itu. So, mudah-mudahan jika ada acara serupa, semoga ke depannya saya bisa mengikuti seluruh rangkaian acaranya.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

6 Responses

  1. Kang Sukman says:

    Wah kebetulan nich, saya sebagai orang desa cukup bangga dengan adanya internet masuk desa. Kebetulan juga desa saya sudah punya website…

    Saatnya desa mengenal IT..

    Salam Mbak Rani??

  2. Semoga kedepannya dengan akses internet yang lancar, komunikasi semakin dapat ditingkatkan lebih lagi. TIdak ada jarak antara desa dan kota.

  3. Sandi Iswahyudi says:

    Semoga dengan masuknya internet ke desa. Juga diimbangi dengan kesadaran untuk memanfaatkan secara positif. Karena jika gak diimbangi, dampak negatif internet akan merusak generasi muda di desa tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *