Jual-Beli (TAKEN)

 

Aktivitas jual-beli merupakan hal yang lumrah di dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan, aktivitas ini sudah dilakukan sejak sangat lama/ Dulu, orang melakukan jual-beli dengan sistem barter, atau menukar barang-barang kebutuhan sehari-hari. Lalu, ditemukanlah uang sebagai alat tukar barang. Jadi, aktivitas jual-beli merupakan aktivitas yang memang biasa kita temukan dalam keseharian kita. Namun, bagaimana jika yang dijual itu adalah manusia?

Hari minggu pagi, saya disuguhi berita mengenai meningkatnya penjualan perempuan muda. Disebutkan bahwa di beberapa daerah di Indonesia menjadi daerah subur penjualan perempuan muda. Belum lagi kasus jual beli bayi. Masya Allah

Semalam pun saya menonton film dengan tema yang sama. TAKEN judul film itu. Film tahun 2008 ini masih sangat layak untuk ditonton. Taken bercerita tentang seorang mantan CIA bernama Bryan yang sengaja pindah ke kota tempat tinggal mantan istri dan putrinya tinggal. Di kota itu, putrinya yang sudah remaja hidup bahagia dengan ibu dan ayah tirinya yang kaya. Bahkan, ayah tirinya menghadiahinya seekor kuda di ulang tahunnya yang ke-17.

Selang beberapa hari setelah pesta ulang tahunnya, putrinya yang bernama Kim datang bersama mantan istrinya. Mereka meminta tanda tangannya agar Kim bisa bepergian ke Paris bersama temannya. Instingnya sebagai ayah dan mantan petugas CIA membuatnya tidak begitu saja memberi izin. Namun, Kim dan mantan istrinya memaksa. Akhirnya, dia pun menandatangani izin tersebut.

Kim dan temannya pun terbang ke Paris. Tiba di sana, mereka disapa oleh seorang pemuda tampan. Pemuda itu bersikap ramah dan ingin berbagi tumpangan taksi dengan mereka. Saat mereka tiba di apartemen tempat mereka menginap, pemuda itu berpura-pura akan mengajak mereka ke pesta dan akan menjemput mereka ke flat. Tidak berapa lama setelah mereka tiba di apartemen, tiba-tiba muncul para penculik. Untungnya, Kim yang sedang di kamar mandi sempat menerima telpon ayahnya. Kim melihat para penculik datang dan menculik Amanda. Dengan panik, Kim menceritakan situasi tersebut kepada ayahnya. Dengan sigap, Bryan langsung memberikan petunjuk sebelum Kim sempat diculik.

Bryan memanfaatkan kemampuan di bidang intelegen untuk melacak keberadaan putrinya yang ternyata diculik oleh sindikat kejahatan penjual narkoba dan perempuan. Bisnis mereka pada mulanya menipu para perempuan dari Eropa Timur yang ingin bekerja. Lalu, mereka akan dijual. Lalu, aktivitas kejahatan mereka berkembang menjadi menculik para gadis muda yang sedang berlibur ke Perancis. Dengan modus pendekatan yang dilakukan oleh laki-laki tampan di Bandara yang berpura-pura untuk berkenalan dan berbagi tumpangan.

Bryan berhasil menemukan komplotan penjahat tersebut. Bryan menemukan banyak perempuan muda yang diculik dan diberi narkoba hingga mereka sekarat. Bahkan, Bryan menemukan Amanda sudah tidak bernyawa. Namun, Kim ternyata sudah dijual ke pihak lain karena Kim masih perawan. Rupanya, para perempuan yang masih perawan diperjual belikan dengan cara lelang. Aktivitas tersebut dilakukan di sebuah tempat rahasia. Saat akan menemukan Kim, Bryan sempat ditangkap para penjaga. Pemimpinnya bertanya kepada Bryan, apa tujuannya menyusup ke tempat itu. Bryan menjawab, Gadis yang terakhir itu adalah putrinya,. Pemimpin itu menjawab dengan sinis bahwa, dia juga seorang ayah dari dua orang putri. Tapi, itu hanya bisnis.

Bryan berhasil meloloskan diri dan mengejar Kim yang sudah dibawa sama pembeli ke kapal pesiar. Dengan heroiknya, Bryan mengejar dan melompat ke kapal pesiar. Dia pun berhasil menerobos masuk ke kapal pesiar dan menyelamatkan Kim. Saat, dia berhasil bertemu dengan dengan putrinya, Kim berkata, Ayah datang untuk aku,. Adegan yang mengharukan. Bagaimana seorang ayah berjuang menyelamatkan putrinya yang hampir jadi korban trafficking.

Beberapa hal yang ada di film yang bisa jadi bahan pemikiran dan pembelajaran, yaitu bagaimana ternyata perdagangan manusia itu ada di sekitar kita dan merupakan bisnis gelap yang menghasilkan uang banyak. Bahkan, di film itu juga muncul adegan bahwa kegiatan komplotan itu mendapat dukungan dari orang pemerintah. Asalkan mereka memberikan setoran sekian persen dari pendapatan mereka. Lalu, bagaimana nasib para gadis yang diperjualbelikan itu akan hilang selamanya dari keluarga dan tidak akan pernah ditemukan lagi. Siapa pun bisa menjadi korban trafficking, tidak hanya perempuan dari dunia ketiga (negara-negara berkembang ). Bahkan, para perempuan dari dengan latar belakang keluarga kaya dan berasal dari negara maju pun bisa menjadi korban. Satu lagi, Kim memiliki ayah yang mantan anggota CIA bagaimana dengan gadis-gadis lain yang menjadi korban dan tidak akan pernah ditemukan lagi. Film ini pun mengajarkan betapa perempuan dan anak-anak tetap menjadi objek yang dapat diperjualbelikan.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. Bang Aswi says:

    Filmnya seru! Dah lama nonton ini tapi masih terbayang adegannya bagaimana seorang ayah berusaha menolong putrinya di belantara negara yang tidak dikenalnya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *