Kearifan Lokal di Festival Siti Nurbaya 2016

kearifan-lokal-di-festival-siti-nurbaya-2016

Kearifan Lokal di Festival SIti Nurbaya 2016. Novel Siti Nurbaya yang baru selesai dibaca. Novel yang bertahun-tahun lalu pernah dibaca saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, saat itu pikiran belum kritis hingga yang menempel di benak adalah kisah cinta antara Syamsul Bachri dan Siti Nurbaya. Lalu, muncul sinetronnya yang diperankan secara apik oleh Novia Kolopaking dan Gusti Randa. Kisah cinta itu  yang didengung-dengungkan sehingga melupakan esensi dari novel tersebut. Kisah percintaan yang disandingkan dengan kisah percintaan Rome ad Julietnya William Shakespeare. Namun hanya sebatas itukah novel Siti Nurbaya? Adakah pesan lain yang ingin disampaikan oleh penulis?

Setelah dewasa dan kuliah di jurusan sastra, saya kembali membaca novel tersebut dan mendapati pemahaman baru. Novel Siti Nurbaya diterbitkan oleh Balai Pustaka yang saat itu merupakan penerbit milik pemerintah Belanda yang tentunya isinya harus sejalan dengan misi pemerintah Belanda. Sehingga yang menonjol adalah sisi percintaan dua insan, padahal di dalamnya ada sisi perjuangan. Siapakah Syamsul Bachri? Syamsul Bachri karena putus cinta memilih menjadi tentara Belanda dan memerangi para pemberontak yang tidak lain adalah pejuang bangsa ini. Siapakah pejuang itu? Dialah Datuk Meringgih, si tokoh antagonis yang memisahkan cinta antara Siti Nurbaya dan Syamsul Bachri.

Terlepas dari pemahaman baru tersebut, saya harus mengakui bahwa novel Siti Nurbaya begitu melegenda di masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Minang Kabau. Tokoh novel tersebut yaitu Siti Nurbaya bahkan dipercaya hidup dan ada kuburannya. Membuat saya wow, angkat topi untuk Marah Rusli, sang penulis novel yang berhasil membuat novel yang ceritanya begitu melegenda. Saking melegendanya, pemerintah Kota Padang sampai membuat event khusus yaitu Festival Siti Nurbaya 2016. Nah, seperti apakah festival ini? Yang pastinya seru untuk disimak kegiatannya.

Festival Siti Nurbaya ini merupakan event tahunan Kota Padang. Namun, tahun ini ada yang berbeda dengan Festival Siti Nurbaya. Tentunya lebih seru dan heboh dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Festival Siti Nurbaya 2016 (FSN) diadakan dari tanggal 7 September –  10 Septe,ber 2016. Event yang dibuka langsung oleh wakil walikot Padang yaitu Bapak Emzalmi ini diadakan di Pantai Muaro Lasak, pada 7 September 2016. Festival kali ini lebih banyak melibatkan anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Diharapkan dengan melibatkan para anak muda ini akan menumbuhkan rasa cinta terhadap akar budaya bangsa. Festival SIti Nurbaya ini merupakan ikon event budaya Padang.

Rangkaian kegiatan Festival SIti Nurbaya 2016 sangat menarik untuk diikuti. Berbagai kegiatan yang memiliki nilai budaya yang kuat digelar. Di antaranya gathering komunitas Kota Padang, berbagai lomba budaya seperti lomba membuat teh talua, lomba maelo pukek, selaju sampan, dan panjat pinang.

Karnaval Festival Siti Nurbaya 2016

Karnaval Festival Siti Nurbaya 2016

Dalam event ini diadakan karnaval budaya yang menghadirkan berbagai ragam budaya khas Minang. Knarnaval ini diikuti ole berbagai instansi pemerintah Kota Padang, sekolah, dan umum. Pada karnaval ini juga hadir sosok Datuk Meringgih dan Siti Nurbaya yang menghebohkan pengunjung festival. Sosok Datuk Meringgih yang dibenci ternyata begitu lekat di benak masyarakat sehingga kehadirannya pun ditunggu.

teh talua

teh talua

Acara lomba yang menarik diikuti yaitu Lomba Membuat Teh Talua. Teh ini merupakan minuman khas Minang. Biasanya teh telur ibu disajikan di warung-warung sebagai peneman menu sarapan. The ini dibuat dari campuran kuning telur dan gula yang dikocok hingga berbusa kemudian ditambahkan air the dan susu kental. Rasanya sangat nikmat. Namun, jika tidak ahli dala.m membuat bisa-bisa baunya anyir karena adanya campuran kuning telur.

Lomba selanjutnya yang diadakan adalah lomba maelo pukek atau lomba menarik jala. Padang merupakan kota pesisir yang kaya dengan budaya nelayan. Sehingga  maelo pukek merupakan cara tradisional nelayan minang saat menangkap ikan di pinggir pantai. Maelo pukek mengajarkan kerja sama tim karena memang tidak bisa dilakukan sendirian. Kerja sama tim yang solid menentukan kemenangan atau kesuksesan saat menjala ikan.

Maelo pukek

Maelo pukek

Sebagai kota Pantai, Padang memang lekat dengan budaya pesisir. Sehingga tidaklah heran jika beberapa adat kebudayaannya memang berhubungan dengan pantai. Selain Maelo Pukek, ada acara yang tidak kalah seru yaitu Selaju Sampan atau balap dayung sampan. Budaya minang memiliki kebiasaan yang dilakukan sejak dulu secara turun temuurn yaitu melakukan silaturahim dengan cara perlombaan selaju sampan.

Panjat Pinang

Panjat Pinang

Ini bukan merayakan HUT RI, tapi ini adalah event Festival Siti Nurbaya 2016. Kenapa di event ini ada lomba Panjat pinang yang biasa dilakukan saat 17 Agustusan? Rupanya tujuan diadakan lomba ini adalah untuk meningkatkan daya juang pemuda Kota Padang. Perlombaan panjat pinang ini diikuti oleh pemuda sekecamatan kota Padang . Wow, seru sekali melihat para pemuda berlomba memanjat pinang-pinang yang sudah dilumuri oleh pelumas. Pihak panitia menyediakan hadiah total jutaan rupiah untuk lomba ini. Tidak tanggung-tanggung, pihak panitia menyediakan 10 pohon pinang untuk dipanjat para peserta.

Manggiliang Lado

Manggiliang Lado

Festival Siti Nurbaya 2016 ini juga diramaikan oleh kehadiran para wisatawan asing yang ikut berpartisipasi. Rupanya event budaya ini sangat menarik minat wisatawan asing. Mereka merasa dengan mengikuti kegiatan ini, mereka lebih mengenal budaya minang. Bahkan, ada wisatawan asing yang tidak ragu ikut manggiling lado. Wah, orang asing khan tidak suka pedas, kira-kira mereka kuat enggak ya kalau disuruh menikmaiti masakan khas minang yang terkenal pedas nikmat itu.

Tentu saja, dari rangkaian acara tersebut, bisa dilihat banyak makna yang tersirat, di antaranya bagaimana mengajarkan kearifan lokal melalui kegiatan budaya. Banyak kearifan lokal yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda karena dirasa sudah ketinggalan zaman. Namun, ternyata kearifan lokal tersebut malah disukai oleh orang asing yang bahkan ikut terlibat dalam kegiatan Festival Siti Nurbaya 2016.

Festival Siti Nurbaya 2016 telah berhasil menjadi ikon event budaya Padang karena telah berhasil menarik minat seluruh lapisan masyarakat. Baik itu masyarakat Kota Padang, luar Kota Padang, bahkan wisatawan asing.

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

2 Responses

  1. ahmad andriana says:

    woow..meriah ya! Tahun depan kita liputan lagi ke sana. Eh Muaro Laksa atau Muaro Lakso?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *