#Kebersihan

Kebersihan adalah sebagian dari iman

 

Ungkapan tersebut sudah saya lihat tertempel di dinding semenjak di sekolah dasar. Bahkan, setiap hari ada jadwal piket yang ditugaskan kepada para murid untuk membersihkan kelas. Tujuannya untuk menanamkan nilai-nilai kebersihan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, rupanya kebiasaan yang ditanamkan sejak masih di sekolah dasar tersebut tidak terintegrasi pada kehidupan sehari-hari. Mungkin tidak semua tapi sebagian saja. Buktinya, jika ada suatu acara yang didatangi banyak orang, selesai acara, banyak sampah yang berserakan. Biasanya sampah pembungkus makanan.

Saat joging pada Senin pagi, saya menemukan banyak sampah berserakan di Taman Telkom. Sampah-sampah tersebut sisa kegiatan pasar kaget di daerah Gasibu dan Taman Telkom. Sampah yang berserakan tersebut cukup mengganggu indra penglihatan dan indra penciuman. Selain itu, bukankah sampah juga bisa mendatangkan bibit penyakit?

Saya teringat pengalaman saat berkesempatan berkunjung ke negeri Singa. Saat itu, saya berada di daerah pinggiran di sana, yaitu semacam stasiun bis antarnegara. Saat itu, saya akan ke Kuala Lumpur melalui jalan darat. Saat menunggu tiket, saya melihat ada sekelompok orang yang membuka koran. Mereka duduk di trotoar dan membuka bekal makanan berupa kacang dan minuman. Mereka asyik ngobrol sambil makan-makan. Lalu, setelah beberapa lama, mereka membereskan sisa makanan dan melipat koran dengan rapi. Sama sekali tidak ada bekas bahwa tempat itu tadi dipakai sekelompok orang untuk makan-makan. Pemandangan yang cukup menakjubkan bagi saya yang biasa melihat orang begitu saja menggelar koran dan setelah selesai dibiarkan begitu saja.

Aturan mengenai kebersihan di negeri itu memang sangat ketat. Jika ada orang yang membuang sampah sembarangan maka akan mendapat denda yang sangat tinggi. Jadi, sangat wajar jika sangat mengasyikkan jalan kaki di sepanjang trotoar di negeri itu. Walaupun cuaca panas namun udara cukup bersih. Selain itu, saat kita naik transportasi umum seperti bis atau trem, terpasang tulisan tegas pelarangan untuk makan dan minum. Tentunya naik transportasi umum di sana sama nyamannya dengan naik kendaraan pribadi. Tidak ada yang namanya desak-desakkan, sampah berserakan, bau keringat, juga tentu saja aman. Setiap bis akan menaikkan dan menurunkan penumpang di halte yang sudah disediakan. Tidak ada yang namanya menaikkan atau menurunkan penumpang sembarangan di pinggir jalan.

Saat di acara Car Free Day di Dago-Bandung, saya mengapreasi kegiatan yang dilakukan anak-anak. Mereka membawa kantung sampah besar untuk kegiatan ‘sapu bersih’ sampah dengan memunguti sampah-sampah yang ada di sepanjang jalan. Alangkah baiknya, jika tidak hanya anak-anak itu yang membersihkan sampah tapi kita semua juga memperhatiak hal tersebut dengan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Sehingga akan tercipta lingkungan yang sehat. Bukankah kita semua suka dengan tempat yang bersih dan rapi?

 

Foto: http://politikana.com

 

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *