Komentarmu Harimaumu

Saya pernah menulis tulisan berjudul Mulutmu Harimaumu. Lalu, saya pernah membaca tulisan berjudul Statusmu Harimaumu. Kesemuanya terkait attitude bagaimana berkomunikasi dengan pihak lain.

Di zaman social media ini, setiap orang memanfaatkan social media ini sebagai tempat untuk meningkatkan kompetensi dirinya. Ada yang sekadar narsis dan eksis, ada yang memantapkan jaringan bisnisnya, dan lain-lain.

Suatu sore, saya dicurhati seorang sahabat di BBM. Dia bersama suaminya mengelola sebuah agensi naskah. Dia membuat akun group di facebook sebagai sarana komunikasi dengan penulis. Di halaman group tersebut, dia selalu share beragam informasi yang terkait dengan usahanya tersebut. Suatu saat, dia men-share contoh outline yang dia anggap baik dan bisa dicontoh oleh para penulis lainnya. Lalu tiba-tiba, salah satu anggota grupnya memberikan komentar negatif yang bersifat menyerang. Tentunya, para penghuni grup tersebut tersentak hingga terjadilah perang di halaman grup tersebut. Sahabatnya saya tidak ikut-ikutan berkomentar karena khawatir suasana makin panas. Namun, ternyata keributan semakin meluas dan banyak dibaca orang. Sebagai pengelola grup, tentunya harus ada tindakan agar suasana tidak semakin panas. Akhirnya, suami sahabat tersebut segera menengahi.

Keributan pun terhenti, namun pertengkaran yang sudah terjadi tidak bisa dihapus begitu saja. Selain itu, sang pemberi komentar pedas tersebut pun telah membuat dirinya tidak disukai oleh penghuni grup tersebut.

Jika saya cermati, bergaul di social media itu tidak jauh berbeda dengan pergaulan sehari-hari di lingkungan sekitar. Seseorang yang santun dan ramah biasanya memiliki banyak teman dan dapat berbaur di grup yang sesuai dengan passion-nya. Namun, jika membuat komentar yang pedas dan bahkan terlihat ikut campur dalam urusan orang lain, itu akan menimbulkan kemarahan. Apalagi jika komentar itu ditulis di halaman grup yang dibaca oleh banyak orang. Itu sama halnya seperti berteriak-teriak memarahi orang di depan jalan raya sehingga membuat keributan di jalanan karena banyak yang menonton.

Saya pikir, mengingatkan teman yang mungkin membuat kekeliruan, seperti mengunduh foto yang kurang tepat atau mem-posting sesuatu yang kurang berkenan merupakan hal yang baik. Namun, alangkah baiknya jika masukan atau komentar tersebut disampaikan secara sopan dan baik-baik dan tidak bernada menyudutkan. Bukankah facebook sudah menyediakan fasiilitas inbox dan twitter yang menyediakan fasilitas DM. Sehingga, jika ada sesuatu yang kira-kira disampaikan akan menyinggung orang yang ditegur bisa menggunakan fasilitas tersebut. Bukankah menulis status atau komentar di media sosial sama halnya dengan berbicara di depan umum? Banyak orang yang mendengar dan menyimak. Dan itu bisa menyinggung dan mempermalukan pihak yang diberi teguran.

Bagi pihak yang tersinggung, mudah saja. Di grup, orang tersebut dapat dikeluarkan dari grup. Sementara itu, di twitter bisa di-block. Namun, komentar yang menyudutkan tersebut akan tetap membekas di hati orang yang tersinggung atau bahkan di hati para penghuni social media lainnya. So, bergaul di social media sama halnya bergaul di lingkungan sosial biasa. Sebaiknya menggunakan hati dan rasa agar tidak membuat pihak lain tersinggung dan terluka.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *