Kreativitas di ‘Perusahaan Kreatif

Siapa yang tidak kenal Google? Setiap pengguna internet pastilah mengenal Google, karena Google merupakan perusahaan yang menyediakan layanan mesin pencari yang paling populer

Melihat video tentang Google Office Tour membuka mata saya bahwa ternyata suasana dan tempat kerja disana sangat-sangat mendukung untuk kerja-kerja kreatif karyawannya. Bahkan segala fasilitas pendukung dibangun sedemikian rupa untuk menunjang lahirnya ide-ide kreatif. Karyawan dibuai dengan segala kemudahan dan kenyamanan dalam berkarya sehingga mereka benar-benar lupa waktu yang ada hanyalah bekerja-bekerja dan menghasilkan karya-karya kreatif.

 

Beda halnya dengan sebagian besar perusahaan yang ada di Indonesia yang masih menerapkan model kerja berdasarkan time limit. Karyawan diharuskan masuk kerja dengan pola nine to five, bahkan ada yang masuk jam 7:45 pagi dan baru keluar kantor jam 5 sore.

Pertanyaannya, apakah penerapan ini berlaku bagi perusahaan yang bergerak di industri kreatif? Kreativitas itu harus muncul berdasarkan model time limit tadi, bukan berdasarkan work limit (hasil).

Apakah kreativitas yang dihasilkan tadi dapat berkualitas? Atau bahkan kreativitas itu dipaksakan untuk ada yang pada akhirnya karyanya tidak memiliki ‘ruh’. Dan orang-orangnya pun merasa sebagai buruh pabrik.

Seorang pimpinan kantor saya, kemarin pagi memberikan pencerahan kepada kami tentang budaya kerja yang dibangun beberapa perusahaan kreatif. Ada sebuah perusahaan di industri kreatif yang membebaskan karyawannya untuk melakukan aktivitas ‘apa saja’ dalam satu hari. Bahkan karyawannya dibebaskan menggunakan akses internet sebebas-bebasnya. Juga soal cara berpakaian. Cara berpakaian diukur dari kerapihan bukan dari dimasukan atau dikeluarkannya kemeja bagi karyawan laki-laki.

Beliau juga menambahkan, ada perusahaan yang karyawan-karyawannya menggunakan otopad untuk melakukan mobilitas di lingkungan kerja. Wwuuiihhh keren yaaa... ;o)

Kerja itu muamalah karena berhubungan dengan makhluk. Tapi jauh dari itu semua, kerja juga bernilai ibadah karena berhubungan langsung dengan Allah SWT. (baca: halal haram).

Dalam bekerja kita tidak bisa sendirian, diperlukan kerja sama. Kerja sama tidak selalu harus dilakukan secara bersama-sama. Saling percaya dan mendukung sesama di lingkungan kerja sudah merupakan bentuk kerja sama. Pada dasarnya bukan pribadi yang tampil, tapi kolektivitas dalam sebuah perusahaan.

Rivalitas yang dibangun adalah berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Bukan iri, dengki dan cemburu akan kesuksesan rekan kerja maupun departemen lainnya dalam perusahaan itu. Semangat yang terbangun pun adalah semangat memberikan manfaat untuk orang banyak, bukan semangat untuk saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya.

Naah, bagaimana kondisi tempat kerja teman-teman sekalian? Apakah budaya kerja yang ada membangun kretifitas berkarya teman-teman? Share doongg… ;o)

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *