Label Negatif

 

Bila seorang anak hidup dengan kritik,ia akan belajar menghukum.Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan. Bila seorang anak hidup dengan olokan,ia belajar menjadi malu. Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah. Bila seorang anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Bila seorang anak hidup dengan keadilan,ia belajar menjalankan keadilan. Bila seorang anak hidup dengan ketentraman, ia belajar tentang iman. Bila seorang anak hidup dengan dukungan,ia belajar menyukai dirinya sendiri. Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan , ia belajar untuk mencintai dunia.
? Dorothy Law Nolte, Children Learn What They Live
Dari quotes di atas, terlihat jelas bagaimana karakter seseorang di masa depan sangat terpengaruh oleh pengalaman masa kecilnya. Seringkali tanpa disadari, orang tua memberikan pelabelan negatif kepada anak. Apalagi jika si anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh orang tua. Sebagai contoh, orang tua mungkin punya harapan sempurna terhadap seorang anak. Jika si anak melanggar standar tersebut, maka secara refleks akan keluar ucapan negatif yang dilabelkan kepada si anak.
Sebagai contoh, orang tua memaki, “Anak Pemalas!” saat si anak tidak mengerjakan tugas-tugas yang diperintahkan orang tuanya. Jika terus-terusan label negatif tersebut disandangkan pada si anak, dari alam bawah sadarnya si anak akan mengatakan, “Iya, saya memang anak pemalas.”
Label negatif seringkali tidak secara sadar disebutkan pada anak atau subjek tertentu yang tidak sesuai dengan standar semupurna. Pada awalnya, memang si subjek akan menolak label tersebut. Namun, jika label tersebut terus-terusan diucapkan pada saat si subjek melakukan kesalahan, si subjek pun akan meyerah, “Iya, saya memang seperti itu.”
Tidak hanya anak kecil yang tidak suka dengan label negatif. Orang dewasa pun tidak suka dengan label negatif yang disandangkan. Apalagi jika label negatif tersebut diucapkan oleh orang yang terdekatnya. Tentunya terasa tidak enak. Apalagi jika label negatif tersebut seperti sudah mutlak dan tidak terbantahkan.
Ternyata, tidak hanya anak-anak yang bisa menyerah dengan label negatif. Orang dewasa pun bisa runtuh pertahanannya. Setiap orang punya batas pertahanan masing-masing. Ada yang kuat dan bisa bertahan dengan label negatif tersebut. Ada juga yang menyerah kalah dan menerima label negatif tersebut.

rani yulianty

Dulu sempat menulis buku anak dan sudah menerbitkan sekitar 100an buku anak. Sekarang masih menulis satu dua buku anak dalam setahun. Lagi asyik ngeblog dan menikmati kegiatan ngeblognya, mau diundang event hayu, dikasih job review oke, nulis review tanpa embel-embel pesanan dari brand juga suka, kok karena merasa puas dengan produk yang dipakai. Suka jalan, suka jajan, suka anak-anak. Blog tentang anaknya ada di www.ceritaanakbunda.com

You may also like...

1 Response

  1. 27 November 2011

    […] dewasa pun tidak suka dengan label negatif yang disandangkan. Apalagi jika label Baca Selengkapnya: http://raniyulianty.com/2011/11/label-negatif/ ← Tenda Store Jual Macam2 Alat Keselamatan Iklan Baris […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *